Putus Hubungan

1242 Words
“Kenapa? Orang itu miskin?! Dia nggak bisa kasih sesuatu kayak yang Papa kasih ke Mama?“ “Gimana bisa kamu bicara sepeti itu, Gibran? Mama hamil dengan pria pilihan Mama. Tapi kenapa respon kamu malah tidak baik. Kamu harusnya cukup kasih ucapan selamat ke Mama tanpa harus menjelekkan calon suami Mama.“ Gibran menggenggam erat jemarinya. Dia bahkan tidak pernah dibela sedemikian rupa oleh mamanya. Tapi sekarang dengan sadarnya mamanya malah lebih memilih untuk membela pria itu di depannya. Bukannya memberikan pengertian padanya. “Lagipula apa salahnya Mama memilih buat hidup bahagia lagi setelah berpisah dengan pria itu. Mama juga manusia Gibran. Mama ingin bahagia. Bahagia yang bukan hanya dinilai menggunakan materi. Dan kamu harusnya senang karena kamu bakalan punya adik!“ “Apa Gibran pernah bilang kalau Gibran pingin adik? Jangan mengambil keputusan yang nggak pernah Gibran inginkan. Anak itu hadir karena tindakan kalian. Bukan karena Gibran.“ “Kamu itu bicara apa Gibran?!“ “Apa yang Mama rasakan saat Mama tahu kalau Mama hamil Gibran? Senangkah? Atau malah sedih?“ Tangan Gibran semakin terkepal. Hatinya seolah teremat kencang ketika dia mengatakan hal itu. Nyatanya dia memang masih sangat mengharapkan perhatian dari mamanya yang entah kapan akan tertuju padanya itu. “Kenapa cara bicara kamu mirip sekali sama Papa kamu itu!“ “Mama pasti senang karena Mama dapat saham. Tapi nggak sebahagia sekarang. Benar kan, Ma? Waktu Mama masuk ke sini, Gibran fikir pada akhirnya Gibran bakal dapat perhatian dan kasih sayang Mama lagi karena senyum yang tersunghing di bibir Mama kelihatan tulus. Dan Gibran suka lihatnya.“ “Maafin Mama Gibran. Tapi Mama juga cuma wanita biasa yang pingin bahagia. Apa kamu beneran nggak bisa ucapin selamat buat Mama? Kasih restu buat Mama? Apa memang sesulit itu buat lihat Mama bahagia, Gibran?“ Gibran mendongakkan kepalanya. Senyumnya nampak kecut. Permainan takdir memang sangat menyakitkan. Hanya untuk bahagia sejenak pun, dia tidak bisa. Apa dia memang dilahirkan untuk menjadi manusia yang disia-siakan. Bahkan oleh kedua orangtuanya sendiri. “Jadi Mama jauh-jauh datang ke sini cuma buat minta izin dan restu dari Gibran. Padahal sebetulnya Mama nggak butuhin semua itu karena meski Gibran nggak kasih, Mama bakal tetap menikah. Kalau itu yang Mama mau, Gibran restui Mama. Setelah ini, lebih baik kita nggak usah ketemu lagi.“ Tatapan mata tajam milik Gibran yang tidak pernah dia tunjukkan pada mamanya berhasil membuat wanita itu menciut. “Gibran!“ “Hari dimana kita bisa ketemu lagi, itu bakalan jadi pertemuan di tempat ramai. Bukan lagi duduk berdua dan berbincang karena kita benar-benar bakal jadi orang asing.“ “Kenapa kamu sampai bicara gitu sih Gibran. Kamu masih kecil. Kamu cuma harus ngertiin Mama.“ Terkadang makhluk yang bernama manusia dewasa itu suka mengambil keputusan seenak mereka sendiri. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri tanpa mau mengerti apanyang dirasakan oleh orang lain. Egois yang terkamuflase dengan kata-kata penenang yang slogannya 'ini semua demi kebaikan kamu'. Gibran sudah terlalu muak dengan keadaan yang sudah tidak menguntungkan dia sama sekali. “Sekarang anda sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan saya. Jadi saya harap, jangan lagi kita bertemu.“ “Kamu nggak bisa lakuian hal ini ke Mama Gibran. Kamu nggak bakal sanggup. Sekarang kamu masih emosi dan kondisi kamu nggak stabil. Coba fikirkan lagi baik-baik. Mama ini Mama kandung kamu!“ “Kenapa anda berfikir kalau saya tidak sanggup.“ Nada dingin itu langsung meluncur lancar dari bibirnya. Dia bukan lagi Gibran anak dari wanita itu. *** Dua belas tahun kemudian di tempat yang sama dengan kondisi yang berbeda. Pasangan ibu dan anak itu tengah duduk berdua. Sang ibu merasa canggung sedangkan anaknya, bahkan tidak sedikitpun melirik ke arah dia. Apa yang diucapkan Gibran dua belas tahun yang lalu benar-benar terjadi. Dia tidak pernah lagi menghubungi sang mama dan benar-benar menjadi orang asing dimana pun mereka dipertemukan. Sakit hati karena sudah ditelantarkan membuat Gibran abai. Sudah tidak adalagi cela di relung hatinya untuk manusia yang pernah dia anggap sebagai orang tua itu. “Apa harus sampai sebegitunya sih, Nak?“ Mata wanita itu terbelalak lebar saat Gibran menyodorkan dokumen penyerahan saham Arendra Group padanya. “Dia itu adik kamu juga!“ “Jadi anda memilih untuk tidak menyerahkan sahamnya?“ Tatapan Gibran penuh dengan intimidasi. Tangan yang bersedekap dengan kaki disilangkan menggambarkan kalau dia satu-satunya yang boleh memutuskan. Kini Gibran sudah berusia 28 tahun. Dia juga sudah menjabat sebagai wakil direktur di Arendra Group. Tidak ada yang menyangka kalau pada akhirnya Gibran bisa menjadi manusia yang sesukses ini diusianya yang terbilang masih sangat muda. “Cuma saham ini yang Mama punya, Gibran. Kalau harus diserahkan ke kamu, Mama harus gimana buat biayain hidupnya Gery. Ini satu-satunya penghasilan yang Mama punya untuk masa depan Gery.“ Mata wanita tua itu nampak berkaca-kaca. Sayangnya Gibran sama sekali tidak peduli. Dia sudah tumbuh menjadi sosok yang dingin dan minim belas kasih. “Kalau memang itu keputusan anda. Saya tidak bisa memaksa. Tapi ingat, anak yang anda bangga-banggakan tidak akan bisa keluar dari penjara semudah itu. Dia terlalu pengecut sebagai seorang pria. Bisanya hanya bersembunyi di balik bayangan seseorang.“ “Gibran!“ “Masih ada 5 menit lagi kalau anda benar-benar ingin berfikir. Anda bisa membiarakan putra kesayangan anda membusuk di penjara atau mengeluarkan dia dengan syarat menyerahkan seluruh saham yang anda miliki.“ “Kamu kenapa Gibran? Sekarang kamu sudah sukses. Untuk apalagi saham yang tidak seberapa itu?“ “Saya hanya coba mengambil apa yang seharusnya menjadi milik saya. Kalau anda lupa, saham itu diberikan pada anda untuk menghidupi saya. Bukan untuk menghidupi anak anda dengan pria lain.“ “Tapi..“ Gibran langsung beranjak dari kursinya. “Sudah lima menit dan nampaknya keputusan anda tetap sama.“ Pria itu berbalik dan akan melangkah pergi begitu saja bertepatan dengan wanita itu yang memanggilnya kencang sambil memegangi jas milik Gibran. “Oke! Mama bakal jual saham Mama kalau memang itu yang kamu mau. Mama bakal lakuin itu kalau hal itu bisa bantu kamu.“ Gibran melepaskan dengan kasar pegangan wanita itu sambil menatapnya tajam. “Tolong bicaralah dengan benar. Anda melakukan itu bukan untuk membantu saya. Anda menjual saham milik anda karena anda membutuhkan uang untuk menyelamatkan sampah itu. Seharusnya anda lebih perhatian lagi dengan putra anda. Bagaimana bisa anda yang dilimpahi kasih sayang tumbuh sebagai seorang pembunuh?“ “Kenapa bisa ucapan kamu sejahat itu, Gibran. Kita masih keluarga.“ Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar. “Dimana Mama harus tanda tangan? Apa di sini?“ tanyanya lagi sambil menunjuk tempat yang tertera namanya. Hening untuk sesaat. Selanjutnya yang terjadi di sana hanya kegiatan penyerahan saham dengan wanita itu yang menanda tangani. Gibran memeriksa sebentar sebelum memasukkan kembali file dokumen tersebut ke dalam map. “Kamu kan bisa bicara lebih lembut, Nak. Sebenci apapun kamu sama dia, dia itu tetap anak Mama juga.“ “Kalimat yang anda ucapkan dengan yang diucapkan mantan suami anda sama. Memangnya hanya karena di dalam tubuh kami mengalir darah yang sama kebencian itu bisa dihilangkan? Jangan pernah berfikir saya sudi melakukan hal menjijikan seperti itu.“ Tatapan sendu yang dilayangkan wanita itu perlahan berubah menjadi tatapan yang dipenuhi ketakutan. Dia pernah mendengar kabar soal seorang anak yang dipukuli Gibran sampai kondisinya kritis. Itu adalah saudara tiri dari pihak papanya. Setelah kejadian itu, anak itu dikirim ke luar negri dengan alasan dia takut pada Gibran. “Setelah ini uangnya akan langsung ditransfer ke rekening anda. Dan kita sudah tidak ada urusan lagi setelah ini. Selamat tinggal, Tante.“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD