Hujan rintik-rintik masih membasahi kaca jendela mobil saat Gibran memutar kemudi untuk meninggalkan kompleks tempat tinggal Kyla. Hari baru saja memasuki malam, tapi udara Jakarta terasa dingin setelah kejutan besar yang mereka alami. Kyla duduk bersandar, masih memegang ponselnya dengan jemari yang sedikit bergetar. Pikirannya kacau tentang empat puluh persen saham, tentang tatapan hangat nenek Gibran, dan tentang kenyataan bahwa kehidupannya baru saja berubah. Tidak pernah terpikirkan okehnya sendiri jika dalam semalam dia berubah dari seorang upik abu menjadi seorang manusia yang mendampingin berlian. “Lo keliatan kayak abis ketemu malaikat penagih utang,” ledek Gibran, memecah keheningan. Kyla mendengus kecil. “Nggak lucu, Bran. Gue masih kaget. Gue pikir nenek lo bakal nanyain ribu

