Soundtrack: FT Island - Boy Meets Girl, K.Will feat Tiffany SNSD - A Girl Meets Love
Hari adalah hari yang paling indah bagi yeoja/cewek bernama Shin Ji Ra. Karena hari ini adalah hari pertama ke sekolah. Inilah cita-citanya yang akan segera terwujud hari ini. Betapa senang dan semangatnya ia sampe berlarian datang ke sekolah barunya itu. Kayak anak kecil aja ya? Masa kecil kurang bahagia tuh! Enak aja katanya Ji Ra! Author langsung ditabok gagang sapu supaya diem! Plakkkkk! Dia sudah gak sabar ketemu yang lain. Karena saking semangatnya dia gak lihat ada seorang namja yang kelihatannya siswa di sekolah itu menabraknya. Brukkk!!!
‘’Aigu/aduh, siapa sih yang nabrak aku barusan?’’, pikir Ji Ra sambil berusaha mencari pelakunya. Mereka saling bertatapan. Namja/cowok/lelaki itu menatap Ji Ra dengan tajam. Ji Ra yang kaget karena di tabrak dan juga maksudnya mau marah-marah tadi malah gak jadi karena namja tadi memberinya tatapan maut sehingga dia jadi bisu begitu. Maut, maut emangnya goyangannya inul apa maut? Eh salah, ngebor! Jjjiaaah!
‘’Makanya kalo jalan lihat-lihat dong! Pabo/bodoh!’’, seru namja itu meninggalkan Ji Ra terbengong sendirian. Dia gak menyangka kalo hari pertama ke sekolah itu terjadi hal seperti itu. Ji Ra berusaha berdiri dan membersihkan pakaiannya lalu ke kantor kepala sekolah melaporkan keberadaannya.
Ji Ra Pov:
Aku berjalan keliling sekolah dimana aku akan mewujudkan cita-citaku selama ini. Sekolahnya besar dan bagus banget. Wajar sih sekolah elit. Aku juga gak nyangka bakal masuk ke sekolah ini. Kulihat jam di tanganku. Jam menunjukkan pukul 06:30. Sudah waktunya aku ke kantor kepsek nih. Tapi.... kantor kepsek disini dimana ya? Dasar pabo/bodoh! Ini sih gara-gara sekolahnya besar dan luas banget. Biar pake peta pun gak akan bisa juga deh! Aku kebingungan sampe ada seorang siswa yang menegurku.
‘’Annyeonghaseyo! Wae/kenapa? Ada yang bisa di bantu?’’, tawar siswa ramah itu yang seorang namja. Kalo dilihat sih kayaknya dia seumur denganku. Dia sih masih lebih baik dari namja gak jelas nabrak aku tadi.
‘’Annyeonghaseyo! Begini, aku mau ke kantor kepsek itu dimana ya? Soalnya aku baru disini!’’, kataku.
‘’Oh, itu kalo mau bisa aku antarkan’’, tawarnya. Jelas aku senang banget mendengarnya tapi kan aku gak bisa langsung menerimanya. Takut dia sekedar basa-basi.
‘’Jinca/benarkah? Apa gak apa-apa?’’, tanyaku lagi. Dia tersenyum ramah lalu menjawab.
‘’Ne/ya. Aku senang bisa membantu’’, katanya.
‘’Gamsamnida/terima kasih. Mianeyo/maaf, kalo merepotkan’’, kataku sambil sedikit membungkukkan badan kepadanya.
‘’Gwaenchanayo/gak apa-apa’’, katanya yang gak lepas dari senyumannya.
Lalu kami mulai berjalan ke kantor kepsek. Di tengah perjalanan, dia mengajakku ngobrol.
‘’A, ne siapa namamu? Miane, bukan bermaksud gak sopan hanya sebagai siswa disini aku mau membantumu kalo nanti ada apa-apa!’’, tanyanya ramah.
‘’Gwaenchanayo, gamsamnida! Jonen Shin Ji Ra imnida! Senang bisa mengenalmu Choi Changmin atau bisa di panggil Max!’’, kataku yang membuat dia terkejut karena dia gak pernah merasa menyebutkan namanya.
‘’Kok bisa tau namaku?’’, tanyanya bingung.
‘’Aa, aku tau namamu dari buku kemahasiswaan. Miane kalo aku membuatmu bingung!’’, kataku. Terlihat dari wajahnya dia kaget juga kok bisa aku hafal nama dan wajahnya. Aku kan hebat! Preeet! Pedenya aku! Obrolan dilanjutkan.
‘’A, kamu anak kelas berapa? Aku di kelas 2-1A!’’, katanya.
‘’Eh, itu aku...’’, kataku yang belum sempat menjawab tapi dia sudah melontarkan pertanyaan berikutnya.
‘’Lalu kok kamu gak pake seragam? Seragammu belum jadi ya?’’, tanyanya lagi.
‘’Anu, itu bukan....’’, jelasku tersendat karena gak tau mau jawab apa. Gak lama kami sampe di depan kantor kepsek. Aku mengucapkan terima kasih padanya dan dia juga pamit mau ke kelasnya.
Di dalam kantor kepsek aku di suruh duduk menunggu pak kepsek. Terdengar suara pintu di buka dan betapa terkejutnya aku melihat sosok kepsek yang sebenarnya. Jauh banget dari bayanganku selama ini! Beliau terlihat masih muda dan kelihatan suka main-main.
‘’Annyeong! Oh, jadi kamu ya sonsaengnim/guru baru yang akan mengajar? Wah, masih muda ya?’’, serunya.
‘’Annyeonghaseo pak kepsek Choi Seung Gi! Jonen Shin Ji Ra imnida!’’, kataku sambil memperkenalkan diri.
‘’Ne! Aku sudah tau! Kamu sudah tau kan dimana kamu akan mengajar?’’
‘’Ne! Saya akan berusaha memberikan yang terbaik pak kepsek!’’, kataku semangat.
‘’Johayo/bagus! Itu yang aku cari!’’, katanya sambil mengacungkan jempolnya kepadaku. Lalu pintu ruang kepsek dibuka. Ada seseorang yang masuk. Kelihatannya sih asisten pak kepsek.
‘’Annyeonghaseyo pak kepsek! Ini laporan untuk hari ini!’’, kata yeoja itu sambil menyerahkan berkas kepada pak kepsek.
‘’Ji Ra, karena kamu baru mulai mengajar, Hyo jo akan menemanimu sebagai asistenmu’’, jelas pak kepsek. Aku sih senang-senang aja lagipula kalo dilihat Hyo jo onnie kelihatan baik. Wah, kayaknya bakalan seru nih! Kepsek masih muda, sekolahnya bagus dan aku dapat asisten lagi!
‘’Ne! Gamsamnida pak kepsek!’’
Lalu kami keluar dari ruang kepsek. Hyo jo onnie mulai menjelaskan bagaimana kerjaku di sekolah ini.
‘’Nah, kalo ada yang gak kamu ngerti tanyakan saja kepadaku! A, ne katanya kamu masih 16 tahun ya? Wah, hebat bisa naik tingkat sebanyak itu!’’, katanya takjub.
‘’Ah, tidak seperti yang onnie bayangkan kok! Aku hanya suka menghafal makanya bisa begini!’’, kataku malu. Kucing kali malu!(?)
‘’Jinca? Aku aja gak mungkin bisa sepertimu! A, menurutmu bagaimana siswa-siswi di sini? Setidaknya kamu sudah melihat-lihat sebentar kan?’’
‘’Kelihatannya mereka menyenangkan! Aku sudah gak sabar mengajar mereka! Aku juga sudah hafal semua siswa-siswi di sini lewat buku kemahasiswaan!’’
‘’Jinca/beneran? Wah, sepertinya kamu gak bisa diremehkan ya meski umurmu masih muda?’’, katanya yang masih takjub padaku.
***
Ji Ra berjalan menuju kelas akan diajarnya kali ini. Rasa deg-degan dan gak sabar menghinggapinya. Karena bajunya lain sendiri, otomatis dia jadi pusat perhatian. Dia sih senang-senang aja dan memberi senyum ke setiap siswanya. Sampailah dia di depan pintu kelasnya. Sebelum masuk di ambil nafas, buang nafas berulangkali (asal keluarnya gak dari belakang aja! Jjjiah!) dan ketika sudah merasa cukup dia memasukki ruang kelasnya. Dia memberi salam ke semuanya.
‘’Annyeonghaseyo! Wah, ternyata kelasnya ramai ya?’’, katanya sambil berjalan ke meja gurunya (Rame, rame pasar tuh rame!). Siswa-siswi merasa aneh dengan sikap Ji Ra mulai duduk di bangkunya masing-masing. Pandangan aneh kepadanya juga masih menghinggapinya (artis kali dilihatin!). Mereka merasa gak pernah ada siswa seperti dia di kelas mereka. Karena para siswa itu merasa penasaran mereka menunggu Ji Ra membuka pembicaraan.
‘’Annyeonghaseyo! Jonen Shin Ji Ra imnida! Mulai hari ini aku akan jadi wali kelas kalian!’’, kata Ji Ra yang membuat para siswa itu terkejut dan gak percaya akan apa yang mereka dengar barusan. Hingga ada salah satu siswa menyeletuk.
‘’Chakkaman/tunggu, apa maksudnya ini? Kamu gak bercanda, kan? Soalnya gak lucuuuuu!’’, teriak salah seorang siswa dengan sok imut kayak marmut diikuti sorakan teman-temannya.
‘’Sayangnya gak Seungri!’’, jawab Ji Ra mantab.
Semua tercengang karena Ji Ra langsung tau siapa nama para siswa padahal baru ketemu.
‘’A, siapa ketua kelas di sini?’’, tanya Ji Ra. Berdirilah orang yang dimaksud. Lalu dia memperkenalkan diri.
‘’Annyeonghaseyo Ji Ra! Kita ketemu lagi ya? Aku ketua kelas di sini!’’, seru Changmin.
‘’Changmin? Ne! Annyeonghaseyo. kalo ada yang mau ditanyakan silakah aja ya!’’
‘’Ji Ra, datang darimana?’’, tanya seorang siswa. Baru saja Ji Ra mau menjawab pertanyaan lain datang bertubi-tubi. Ji Ra kewalahan. Misalnya pertanyaan seperti ini.
‘’Ji Ra, kok bisa jadi guru?’’
Atau...
‘’Ji Ra umurnya berapa?’’
Atau..
"Ji Ra sudah punya pacar?"
Dan masih banyak pertanyaan lain yang dilontarkan para siswa itu yang diluar dari pelajaran. Suasana kelas menjadi rame. Ji Ra kebingungan gimana mau menenangkan mereka. Brraaakk!!! Bunyi meja di pukul (wah, bisa-bisa authornya jantungan nih!). Spontan kelas jadi tenang dan mereka menoleh ke arah suara. Ternyata seorang siswa namja yang melakukannya.
‘’YANG BENAR AJA! MANA BISA KITA BELAJAR SAMA ANAK KECIL!!!’’, teriaknya dengan wajah seram (aiish, sakit dibilang anak kecil!).
Ji Ra yang masih ingat sama namja satu itu jadi merasa agak dongkol karena kejadian tadi pagi. Baru aja dia mau menegur, Changmin mendahuluinya.
‘’Tenang dulu, Minho! Dia tetap sonsaengnim kita!’’, kata Changmin. Minho gak memperdulikannya dan malah keluar kelas. Semua hanya bisa diam karena mereka takut sama Minho. Ji Ra yang gak tau harus apa hanya bisa melihat kepergian Minho.
***
Ji Ra Pov:
Hari pertamaku mengajar buruk! Mereka sama sekali gak menyimak apa yang aku ajarkan malah bertanya hal-hal aneh. Semangat Ji Ra! Hwaiting! Aku berjalan gontai ke ruang guru ketika kulihat ada namja nakal yang bernama Minho sedang dikerubungi oleh beberapa siswa di sudut sekolah. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas kulihat namja nakal itu sedang dalam keadaan yang gak baik. Karena penasaran, aku menghampirinya. Dan benar aja dugaanku, dia lagi mau berantem.
‘’Ya! Kamu yang namanya Minho? Jangan sombong!’’, kata salah seorang dari mereka yang berbadan ceking sambil melihat Minho dengan pandangan meremehkan.
‘’Wah, kayaknya dia bisu bos! Enaknya di apain nih anak supaya ngomong?’’, timpal yang berbadan pendek tapi mulutnya gak berhenti nyerocos. Minho masih aja tetap terdiam sambil dikelilingi para bandit itu.
‘’Ya! Kamu punya telinga kan? Kalo ditanya jawab!’’, teriak seorang dari mereka yang di panggil bos. Minho masih berkeras diam.
‘’Kepala batu juga ya! Ya! Kamu tau gara-gara kamu cewek yang ditaksir bos jadi gak mau!’’, kata si pendek ceriwis sambil mendorong Minho.
‘’Aduh, gimana nih? Si namja nakal dalam bahaya! Mana gak ada orang yang lewat lagi!’’, pikirku sambil berusaha menengok ke segala arah mencari bantuan.
‘’Ya! Pukul dia sampe dia bicara!!!!!’’, teriak salah seorang dari mereka yang di panggil bos menyuruh salah seorang dari mereka yang berbadan paling besar dan bersiap mau memukul Minho. Karena panik, aku langsung berlari mencegah mereka saat pukulan mau dilayangkan ke Minho. Berlagak jadi pahlawan nih aku!
‘’ANDWEEEEEE/jangan!!!!’’, teriakku berlari untuk melindungi Minho. Karena takut beneran kena pukul, aku langsung menutup mataku rapat. Siap-siap kena bokem nih karena nekat!!! Tapi.... kok gak terasa sih pukulannya? Padahal kan jelas tadi sudah mau kena! Aku perlahan membuka mataku, penasaran karena kok ada yang aneh! Ya ampun, ternyata Minho menahan pukulan dari mereka yang berbadan besar itu! Selamaaat! Lalu Minho memintir tangan si bandit berbadan besar itu sampe dia gak berdaya. Para bandit tadi langsung lari ketakutan saat tukang pukul mereka gak berdaya lagi tapi mereka tetap mengancam Minho akan buat perhitungan lagi.
Tinggallah aku berdua dengan namja nakal itu. Baru aja aku mau menanyakan keadaannya dia sudah meneriakkiku.
‘’Ya/hey! Kalo tadi sampe kena pukul gimana! Jangan bikin aku repot!’’, teriaknya dengan wajahnya yang kelihatannya marah deh sama aku. Mampus kamu Ji Ra! Paboya/bodohnya!
‘’Mi.... miane! Tapi aku kan mau menolongmu! Aku kan gurumu!’’, belaku. Buukkk!!! Dia memukul tembok saat di sampingku membuatku merapat ke tembok. Sepertinya dia menyuruhku diam. Kelihatan dia marah besar. Dia menatapku tajam kayak monster mau melahap mangsanya.
‘’Jangan lakukan hal yang gak perlu!!!’’, katanya lalu dia membalik badan pergi meninggalkanku yang terduduk lemas.
***
Minho Pov:
Aku berjalan ke arah apartemenku. Aku teringat saat yeoja pabo itu menabrakku saat kami bertemu. Wajahnya benar-benar culun. Dan aku gak mengerti kenapa orang seperti di jadi guru di sekolahku? Lalu saat dia nekat membelaku saat aku berantem dengan bandit-bandit itu. Apa sih yang ada di otaknya sampe nekat begitu? Aku sama sekali gak habis pikir.
Aku sampe di apartemenku. Melemparkan tasku sesukaku dan duduk di sofa. Sejak kelas smp aku sudah tidak tinggal lagi di rumahku itu. Aku benar-benar muak dengan keadaan di sana sampe aku memutuskan tinggal sendiri. Apalagi semenjak kakek membahas masalah pertunangan konyol dan harta warisan. Semuanya jadi seperti buta dan menghalalkan segala cara agar warisan kakek jatuh pada mereka. Dan karena masalah itu aku jadi kena menjadi salah satu kandidat pertunangan itu. Entah kenapa ortuku jadi sangat menyebalkan dan mengaturku agar dapat warisan itu. Setiap hari aku dapat kultum tentang calon tunanganku itu. Aku yang memang gak tertarik dengan semua itu memilih kabur tinggal sendiri sampe sekarang. Kupikir mereka menyerah tapi ternyata gak. Biar pun sudah gak tinggal bersama mereka tetap menyogokku dengan hal yang dulu kurasakan di rumah.
Teet! Teet! Bunyi bel memecahkan lamunanku. Aku membuka pintu tapi gak ada orang. Hanya ada bungkusan dan sebuah pesan. Aku sudah menduganya karena semenjak aku tinggal di sini aku terus-terusan dikirimi. Kulemparkan bungkusan itu karena aku muak dengan pesan di dalamnya. Aku tetap bersikeras gak akan memperdulikannya meski beribu-ribu yang dikirimkan padaku.
Hpku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku membukanya. Dari Changmin. Entah kenapa anak itu gak pernah menyerah menggangguku. Kulempar hpku karena aku sudah pusing dengan isi pesan yang maksudnya sama. Entah sampe kapan aku bisa bertahan seperti ini.
***
Sudah beberapa hari Ji Ra mengajar di kelasnya tapi keadaan tetap sama (kasihan deh Ji Ra!). Mereka masih aja mengajukan pertanyaan di luar pelajaran, ribut tanpa memperdulikan Ji Ra. Para guru lain yang gak tahan melihat Ji Ra diperlakukan begitu menegurnya.
‘’Ji Ra, sebenarnya anda bisa gak sih jadi guru? Masa menenangkan para siswa aja gak bisa?’’, tanya seorang guru yang kelihatannya gak suka dengan Ji Ra. Karena teguran guru itu yang lain juga gak ikutan menegur Ji Ra.
‘’Ne! Mana ada sih guru yang sama umurnya dengan muridnya bahkan dibawah umur muridnya bisa jadi guru?’’, timpal seorang guru lain. Ji Ra yang merasa kalo dia memang salah hanya bisa diam dikritik pedas oleh para guru yang lain.
‘’Sudah, sudah! Kok kalian jadi menyalahkan Ji Ra sih? Lagipula dia baru aja jadi guru! Lebih baik kalian mengajar!’’, bela Hyo jo onnie (datanglah ibu peri!(?)).
‘’Justru karena dia masih muda makanya begitu! Kepsek kita memang aneh!’’, timpal seorang guru lainnya. Setelah Hyo jo onnie datang, mereka lalu bubar. Tinggallah mereka berdua.
‘’Kamu yang sabar ya? Gak usah dengarkan omongan mereka! Meski kamu masih muda tapi kamu gak bisa diremehkan! Mana mungkin kepsek sembarangan pilih orang kan?’’, hibur Hyo jo onnie.
‘’Ne! Gomawo onnie/terima kasih kak!’’, jawab Ji Ra.
‘’A, ne pak kepsek mau ketemu tuh!’’, kata Hyo jo onnie sambil mengantarkan Ji Ra. Terdengar percakapan pak kepsek dengan seseorang. Terlihat sosok Changmin dan kebetulan dia juga mau keluar.
‘’Annyeonghaseyo sonsaengnim!’’, kata Changmin memberi salam sambil membungkukkan badannya ke Ji Ra.
‘’Annyeong Changmin! A, baru dari ketemu kepsek?’’, tanya Ji Ra.
‘’Ne! Sonsaengnim juga mau ketemu ya? sudah waktunya masuk kelas! Aku pamit ya! Kami menunggu sesangnim mengajar!’’, kata Changmin sambil keluar dari ruang kepsek. Ji Ra tersenyum sambil mengangguk.
‘’Kayaknya hanya dia ya yang panggil kamu sonsaengnim?’’, seru Hyo jo onnie.
Ji Ra masuk ke ruang kepsek dan pak kepsek menyambutnya.
‘’Oh, Ji Ra apa kabar? Gimana mengajarnya?’’, seru pak kepsek dengan senyum lebarnya.
‘’Yah, lumayan sih pak! Tapi aku akan berusaha lagi supaya mereka menerimaku!’’, kata Ji Ra.
‘’Bagus! A, ne aku baca riwayat tentangmu ternyata kamu disini tinggal sendiri?’’
‘’Ne! Ortuku ada di luar negeri! Aku ke sini karena mau menjadi guru!’’
‘’Wah, mandiri ya ternyata Ji Ra! Gak gampang lho tinggal sendiri! Lalu gimana dengan para siswa? Apa ada yang membuatmu tertarik?’’
‘’Maksud bapak?’’
‘’Anio/tidak, aku hanya ingin tau aja! A, kalo kamu mau mengajar silahkan mengajar! Miane karena sudah mengganggu jam kerjamu!’’
Ji Ra pamit keluar dari ruang kepsek menuju kelasnya. Setelah Ji Ra pergi, Hyo jo onnie membuka pembicaraan.
‘’Apa yang kau rencanakan?’’, tanya Hyo jo onnie.
‘’Ya, kamu lihat saja nanti!’’, jawab pak kepsek yang hanya tersenyum misterius (Beh, gayanya pak kepsek!).
***
Ji Ra Pov:
Aku berjalan menuju kelasku. Setiap aku melewati kelas, para siswa pasti menyapaku dengan sapaan seperti ke teman mereka. Mereka masih melakukan itu dari awal aku mengajar sampe sekarang. Mungkin aku hanya perlu bersabar sampe mereka memanggilku sonsaengnim. Oh, malangnya nasibku! Preet!
Di kelas, mereka masih aja gak menganggapku. Ada yang ngobrol, ribut dll. Tapi yang paling gak enak itu tatapan si namja nakal yang sama sekali gak ada minat menyimak pelajaranku. Entah apa yang dia lamunkan. (Mending lamunin aku aja! Kayaknya author nih ribut amat ya? Plaaakkkk!)
‘’Coba kalian buka halaman 157 ya!’’, kataku diikuti para siswa membuka buku mereka kecuali si namja nakal itu. Karena gak tahan aku menegurnya.
‘’Minho, mana bukumu?’’, tanyaku berusaha sabar. Namja nakal itu masih cuek. Lalu ada yeoja yang mendekatinya.
‘’Minho, ayo mana bukumu?’’, kata siswa itu mendekati namja nakal itu dengan genitnya.
‘’Yuri kembali ke bangkumu!’’, tegurku diikuti wajah cemberut Yuri tapi dia tetap kembali ke bangkunya. Bukannya malah membuka bukunya, namja nakal itu malah bangkit dari bangkunya.
‘’Mau kemana kamu?’’, tanyaku.
‘’Aku malas belajar sama anak kecil!’’, serunya.
Aku yang sudah sebel banget akhirnya aku menggoreskan kapur yang kupegang ke papan tulis dengan mengeluarkan suara paling sumbang yang memekikan telinga mereka semua. Ciiiiiiiiiiiiiiiitttt!!!! Mereka semua kaget dan menutup rapat telinga mereka (Emang enak kena hukumanku! Hahahaha!).
‘’Aigu, ampun Ji Ra! Hentikan!’’, teriak salah satu dari mereka.
‘’Masih mau?’’, tawarku dengan tampang jahat. Mereka semua menggeleng dan namja nakal yang tadinya mau keluar kembali ke bangku dengan tenang. Kupikir dia masih keras kepala untuk gak ikut pelajaranku. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan untuk menenangkan mereka. Pelajaran di mulai lagi.
Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan keliling sekolah dan mataku tertuju oleh seorang siswa yang gak asing di ingatanku. Ya, ada Taeyang, Lee Teuk, dan Eunhyuk yang sepertinya mendiskusikan sesuatu entah itu apa. Dan... oh ada siswa lain yang sedang memberikan sesuatu ke mereka. Tapi itu apa? Kok pake di bungkus rapat dan diberikan di tempat yang jarang dilewati orang seperti ini? Pasti isinya bukan bom buku kan?(Yaeyalah Ji Ra!) Rasa penasaranku masih kubawa sampe aku mengajar di kelas. Karena gak konsen dengan yang kuajarkan, seorang siswa menegurku.
‘’Ji Ra! Itu bacaannya apa? Aku gak ngerti!’’, teriak Taemin.
Karena ditegur, aku sadar dan melihat papan tulis dan menjawab pertanyaannya.
‘’Aaa, miane! Ini tulisan Indonesia!’’, jawabku yang membuat mereka takjub kayak aku lagi kasih lihat kalo ada sapi bisa terbang aja.
‘’Wah, Ji Ra hebat! Bisa bahasa apa lagi?’’, tanya Daesung. Karena pertanyaannya itu, siswa yang lain jadi ikut-ikutan deh memberiku pertanyaan yang gak ada hubungannya dengan pelajaran.
‘’Ya! Ji Ra sudah punya pacar belum?’’, tanya Seungri.
‘’Ji Ra, ajarin bahasa yang kamu tulis dong!’’, seru Sooyoung.
Dan masih banyak pertanyaan yang membuatku bingung. Itu pasti dan selalu terjadi. Para siswa baru bisa tenang kalo Changmin sudah bicara. Untung bagiku tapi gak mungkin selamanya dia begini kan? Lagipula apa yang dilihatnya tadi masih mengganjal di benakku.
***
Ji Ra Pov:
Aku berjalan dengan loyo saat bel pulang berbunyi. Bukan karena lelah mengajar sih tapi lebih tepatnya lelah menghadapi para siswa yang mungkin memang gak bisa menganggap aku sonsaengnim mereka. Dan lagi ada pikiran yang mengganjal sejak tadi. Apa yang mereka transaksikan di tempat sepi begitu? n*****a? Yang berbau yadong atau apa? Karena terlalu lelahnya sampe Changmin menegurku karena khawatir.
‘’Sam/guru, gwaechanayo/tidak apa-apa? Aku lihat sam lelah’’, seru Changmin.
‘’Gwaenchanayo, gomawo atas perhatianmu!’’, jawabku.
Saat aku ngobrol dengan Changmin, namja nakal itu menatapku dengan tatapannya yang gak enak. Entah kenapa kayaknya dia sensi banget sama aku. Emangnya aku salah apa? Yang pasti gak aku pernah ngumpetin sempak kan?(Ji Ra stress!) Apa dia marah marah soal aku bela dia kemarin? Mungkin! Entahlah! Dia aneh dan misterius meski wajahnya lumayan ganteng. Karena itulah gak ada yeoja yang mendekatinya.
Sesampainya di apartemen, aku dikejutkan oleh kedatangan ortuku yang gak ada bilang kalo mereka mau datang. Aku hanya bisa bengong saat mereka menyambutku. Waduh, gawat kalo gak kembali nih mulut!
‘’Annyeong Ji Ra!!!!! Sudah pulang?’’, seru mereka sambil bertingkah kekanak-kanakan.
‘’Kok kalian gak bilang mau kemari?’’
‘’Miane! Soalnya kami mau kasih kejutan!’’, jawab appaku.
‘’Ayo masuk! Oemma/mama sudah masakan makanan kesukaanmu!’’, kata eomma sambil menarikku kedalam.
Malam ini terasa lain karena kehadiran mereka. Sebenarnya ada apa ya mereka tiba-tiba kemari? Gak biasanya. Entah kenapa aku punya feeling kalo ada yang mereka rencanakan dan mereka inginkan dariku. Karena biasanya begitu. Dan benar aja mereka mengetok pintu kamarku. Mereka masuk saat aku sedang membaca di meja belajarku.
‘’Ji Ra, belum tidur?’’, tanya oemmaku sambil duduk di dekatku.
‘’Ajik/belum, aku masih baca buku. Wae oemma/mama, appa/papa?’’
Mereka saling berpandangan lalu tersenyum dan memandangku.
‘’Ji Ra, kami mau tanya nih, kamu suka gak sama cowok yang kaya dan ganteng?’’, tanya appa.
‘’??? Suka aja sih, wae?’’, jawabku yang masih bingung dengan maksud pertanyaan mereka. Ya sukalah! Kalo gak suka aku gak normal dong! Masa jeruk makan jeruk?
‘’Kalo mereka bisa kamu pilih, maksudnya mereka gak lebih dari satu dan ada yang kamu suka, kamu mau gak?’’, tanya oemma.
Aku terdiam sesaat. Sejujurnya aku gak ngeh apa yang mereka tanyakan tapi kujawab aja.
‘’Ne!’’
‘’Jinca/seriusan? Kalo misalnya bisa ketemu, kamu mau gak?’’, tanya appa.
‘’Kalo bisa kenapa gak!’’, jawabku sekenanya karena aku beneran gak ngeh mereka apa maksudnya tanya gitu. Entah kenapa saat aku jawab begitu wajah mereka langsung berbinar-binar(?) dan menari-nari.
‘’Beneran ya katamu tadi mau?’’, tanya mereka lagi. Aku yang memang malas mikir langsung aja mengangguk dan lagi-lagi mereka bertingkah kekanak-kanakan, menari-nari kayak anak kecil dapat permen. Setelah itu mereka keluar dari kamarku.
Kulihat jam, sudah waktunya tidur. Kuletakkan buku yang masih belum selesai k****a. Aku beranjak ke tempat tidur dan mulai memejamkan mataku lalu tertidur. Lebih tepatnya mencoba tidur karena aku masih penasaran dengan kejadian yang kulihat itu. Aku bertekad pokoknya besok kau harus tau apa yang terjadi sebenarnya.
***
Changmin Pov:
Aku berjalan menyusuri sekolah ke ruang kepsek karena aku seperti biasa berangkat lebih dari yang lain. Lagipula tampaknya yeoja yang jadi sesangnim itu juga belum datang. Kubuka pintu ruang kepsek dan tampaklah kepsek itu. Dia menegurku duluan.
‘’Annyeong Max! Seperti biasa ya?’’
‘’Bisa gak kalo di sekolah jangan panggil aku dengan nama itu, Ahjussi/paman?’’, jawabku sambil tersenyum.
‘’Kamu gak berubah ya? A, gimana perkembanganmu dengan ‘dia’?’’
‘’Sejauh ini sih dia gak curiga. Tapi gak akan kubiarkan dia tau yang sebenarnya!’’
‘’Johayo/bagus! Minho gimana? Masih keras kepala ya anak itu?’’
‘’Seperti yang ahjussi bayangkan. Kayaknya gak ada yang membuatnya tertarik selain yeoja/cewek yang ‘itu’ ’’
‘’Jinca/beneran? Tapi kulihat dia bersikap lain ke Ji Ra’’
‘’Yang kutau dia kelihatan gak tertarik kan? Berarti aku aman’’, kataku pede.
‘’Belum tentu. Kamu lupa hyungmu?’’, kata Ahjussi mengingatkan.
‘’Memang kalo soal lain aku bisa mengalah sama hyung/kakak cowok, tapi yang ini gak bisa’’, jawabku mantab.
‘’A, pertemuannya sebentar lagi kan? Apa kamu mau langsung mengaku? Gak seru kan?’’
‘’Anio/gak! Kalo mendapatkan sesuatu yang langka harus pelan-pelan’’
‘’Kakek juga mungkin akan langsung memilihmu kalo tau kamu yang jelas paling unggul dari lainnya’’
‘’Tentu saja!’’, jawabku pede.
Jam pelajaran sudah hampir dimulai. Aku pamit dan ke kelasku. Gak lama, yeoja itu muncul dengan wajahnya yang ceria dan lugu. Entah kenapa menurutku itu menarik. Kulihat Minho saat menatapnya. Dia memandang Ji Ra seperti tersembunyi sesuatu perasaan lain. Baru kali ini aku lihat Minho menatap seseorang seperti itu. Terbesit sedikit kekhawatiran. Jujur aku gak mau itu terjadi. Kalo terpaksa, aku mau gak mau memakai cara ‘itu’ supaya Minho gak begitu lagi. Lagipula katanya dia gak berminat kan? A, tapi apa Minho tau siapa Ji Ra sebenarnya? Entahlah, yang jelas aku selangkah di depannya.
***
Ji Ra Pov:
Bel istirahat berbunyi. Aku berjalan ke ruang guru dan seperti biasa saat aku disapa oleh murid-muridku dengan sapaan ke teman mereka. Bahkan ada yang mengajak bermain di luar. Aih, mungkinkah ini nasibku sebagai guru muda? Ngayal lagi dah! Semangat Ji Ra, hwaiting!
Sesampenya aku di ruang guru, di sana para guru sedang membahas sesuatu. Karena penasaran, aku bergabung.
‘’A, katanya dalang kerusuhan dan pencurian soal ujian di sekolah ini adalah salah satu dari siswa kita lho!’’, seru guru yang berkacamata.
‘’Jinca/ohya? Lalu sudah ketahuan siapa?’’, tanya guru yang berambut pendek.
‘’Ajik/belum, kayaknya siswa itu juga siswa yang punya pengaruh besar di sekolah ini a.k.a mungkin ada hubungan saudara sama kepsek!’’, jelas guru yang duduk. Perdebatan mereka masih terus berlangsung. Aku berjalan ke bangkuku. Muncullah Hyo jo onnie. Dia menghampiriku karena seperti dia sadar kalo wajahku menampakkan kebingungan akan suatu hal.
‘’Annyeong, Ji Ra! Wae/kenapa?’’, tanya Hyo jo onnie duduk di sebelahku.
‘’Itu, aku dengar katanya ada dalang kerusuhan dan pencurian soal ujian di sekolah ya?’’, tanyaku.
‘’Oh, itu... ya seperti yang kamu dengar pelakunya belum tertangkap! Wae? Kayaknya ada hal lain yang membuatmu bingung’’
Aku ragu untuk bilang apa yang kulihat. Bukan karena apa-apa tapi takut dikira menuduh sembarangan.
‘’Wae/kenapa? Bilang aja! Gini-gini aku bisa dipercaya lho!’’, seru Hyo jo onnie.
‘’Aku bingung juga mau bilang dengan cara seperti apa soalnya aku masih gak yakin dengan apa yang kulihat sih!’’
‘’Yaudah, kalo kamu masih ragu jangan dipaksakan! Tapi kalo ada apa-apa bilang aja!’’
‘’Ne/ya! Gomawo onnie/terimakasih kak!’’
Fuh! Akhirnya aku gak jadi bilang. Mungkin seharusnya aku selidiki dulu. Aku berjalan keluar kelas menuju kelasku. Aku bertemu dengan seorang siswa yang sepertinya kelas 1 tapi wajahnya mirip sekali dengan murid di kelasku. Tapi... eh kok ada si namja nakal itu? Dia gak bergabung dengan yeoja itu tapi hanya memandangnya dari kejauhan. Dan lagi ada yang aneh dengannya. Tatapannya saat menatap yeoja itu kok rasanya lain ya? Perasaanku sajakah? Baru kali ini aku melihatnya begitu. Biasanya dia kan garang apalagi sama aku. Kasihan deh aku! Tapi kali ini gak. Matanya begitu lembut saat memandang yeoja itu. Wah, curang! Kalo aku aja kayak singa ketemu mangsanya aja!
Karena gak mau aku dikira pengintip atau apa, aku pergi dari sana. Aku juga gak mengerti kenapa badanku refleks pengen pergi dari sana. Kali ini aku yang aneh. Saat di tengah jalan, aku baru sadar kalo kakiku sudah melangkah ke tempat kemarin dimana aku menyaksikan transaksi barang mencurigakan. Kali ini aku hanya melihat Taeyang bersama... Changmin? Ngapain dia disana? Dan, dan kok.... lho kenapa Changmin memberi Taeyang uang? Ngomongin apa? Karena tempatku berada agak jauh dari mereka suara mereka jadi gak kedengaran.
Selesai mereka ngobrol, aku mendatangi Taeyang. Dia nampak terkejut aku disana tapi wajahnya kembali biasa.
‘’Annyeong/hallo Taeyang! Baru darimana?’’, tegurku.
‘’Eh, Ji Ra! Gak dari mana-mana kok!’’
Aku hanya memandangnya karena aku juga masih ragu dengan apa yang aku lihat. Semua kemungkinan bisa terjadi kan? Bisa aja Changmin meminjamkan Taeyang uang kan? Tapi menurutku masih aja ganjil karena kulihat jumlah uang yang diberikan terlalu besar. Kebingunganku masih aja kubawa sampe aku mengajarkan. Dan lagi-lagi aku melakukan kesalahan yang sama. Susah sih orang pintar! Preeet!
‘’Ya! Ji Ra itu tulisannya apa?’’, tanya Key.
‘’Ne/ya! Jangan bikin kami bingung dong!’’, seru Lee Teuk garuk-garuk gak ngerti.
‘’Aaa, miane/maaf! Ini tulisan arab!’’, jawabku yang segera ku ganti tulisannya.
‘’Waow, Ji Ra hebat! Bisa bahasa apa lagi?’’, seru Shindong. Karena kesalahanku, lagi-lagi mereka ribut dan mulai menanyakan pertanyaan di luar pelajaran lagi kecuali satu orang. Ya, namja nakal itu diam seperti biasa. Dasar batu! Aku teringat lagi kejadian tadi. Entah kenapa aku jadi gak suka teringat itu dan berusaha menghilangkannya dari ingatanku.
Bel pulang berbunyi. Saat mau keluar kelas aku berpapasan dengan namja nakal itu.
‘’!!!! Aigu/aduh, kenapa sih saat aku lagi malas melihatnya kami malah bertemu?’’, pikirku.
Dia juga sepertinya kaget. Terdiam menatapku sesaat dan pergi begitu saja. Aku juga terdiam di tempatku memandang kepergiannya. Changmin menghampiriku.
‘’Sam/guru, wae?’’, tanya Changmin menyadarkanku.
‘’Aaa, Changmin! Anio, gwaenchanayo!’’, seruku.
Melihat Changmin aku jadi ingat kejadian dia dan Taeyang. Timbul berbagai pikiran saat melihatnya. Aku juga gak mau menyangkanya yang bukan-bukan dan membuatku gak jadi bertanya. Tapi aku penasaran! Ottoke?
Karena salahku yang gak mau bertanya kepastian akan semua kejadian yang aku lihat, akhirnya aku jadi menyesalinya. Tapi aku juga bingung karena takut kalo tanya mereka jadi mengiraku menuduh jadi ya gak deh. Terdengar dari kejauhan ada suara kucing yang sedang kesusahan. Dan... oh kasihannya kucing itu! Dia hampir dihanyutkan arus sungai kecil itu! Aigu, ottoke? Ottoke/gimana? Mana gak ada orang lagi yang lewat untuk dimintai bantuan! Aigu... kayaknya terpaksa deh! Gaya batu deh! Byyuuurrrr! Tanpa pikir panjang aku melompat begitu aja untuk menyelamatkan kucing malang itu. Gak seperti yang kukira, arus sungainya memang deras banget. Aku kesulitan mencapai tempat kucing itu berada. Saat kucing itu sudah bersamaku, sekarang aku yang kesulitan bergerak karena aku merasa kakiku tiba-tiba keram. Arus sungai yang deras menerpa kami. Karena sudah lelah, kesadaranku mulai menghilang. Kurasakan tubuhku yang masuk kedalam air. Rasanya tenang dan melayang. Mataku mulai menutup seluruhnya. Aigu, apa aku harus mati dengan cara seperti ini? Tragisnya hidupku!
Aku berada di suatu tempat yang kukenal. Aku merasa rindu dengan tempat itu dan... ada seorang anak lelaki yang gak asing untukku. Aku berlari ke arahnya karena penasaran dengan wajahnya. Kuletakkan tanganku dipundaknya lalu anak lelaki itu menoleh dan...... Minho????!!!!!
Aku membuka mataku dan sadar kalo aku sedang di gendong seseorang. Melihat keadaan sekitar dan ternyata sudah malam.
‘’Aaa, Minho!!! Kenapa kamu yang mengendongku?’’, tanyaku kaget tau-tau namja nakal itu sudah menggendongku.
‘’Kamu sudah sadar?’’, tanya Minho yang masih meneruskan jalannya.
‘’Aaa... ne/ya! A, gimana sama kucing tadi?’’, tanyaku yang tiba-tiba teringat kucing yang mau kuselamatkan tadi. Padahal nyawa kucing kan lebih banyak daripada aku tapi aku kok nekat!
‘’Oh, dia gak apa-apa kok’’
Hening. Rasanya aneh. Kok aku merasa nyaman ya saat di gendong namja nakal ini? Dan... ini kan blazernya? Saat kulihat blazer itu sudah menyelimutiku. Aigu, gak boleh geer deh Ji Ra!
‘’Minho kok bisa kamu yang mengendongku sih?’’, tanyaku tiba-tiba membuatnya tiba-tiba menoleh ke arahku yang membuatku hampir terjungkal ke belakang.
‘’Aaa, miane/maaf!’’, seru Minho saat melihat posisiku.
..Gwaen... chanayo/tak apa-apa!’’, kataku yang masih berusaha bertahan. Untung aku pernah belajar silat! (?)
Sesampenya di depan apartemen, aku menyuruhnya menurunkanku.
‘’Anu, Minho turunkan aja aku disini!’’
Minho menurunkanku dan kami bertatapan. Entah kenapa kok tiba-tiba aku salting.
‘’Eh.. eng... gamsahamnida/terimakasih Minho!’’
‘’Ne/ya!’’
‘’A, kamu tinggal dimana?’’
‘’Aku di apartemen ini juga. Di 360!’’
‘’Jinca/beneran? Aku di 361!’’, seruku gak percaya kami tetanggaan. Tiba-tiba aku bersin. Minho menarik blazernya yang kupake dan memindahkannya untuk menyelimuti seluruh kepalaku. Dia hanya diam memandangku. Baru kali ini aku lihat dia memandangku lain dari yang biasa. Apa karena sekarang sudah malam jadinya aku salah lihat? Wah, gawat aku jadi rabun!
To be continues....