Setelah sampai dan memarkirkan mobil di parkiran dalam mall.
Angel segera turun dan menutup kembali pintunya. Lalu, berjalan terlebih dahulu ke dalam mall tersebut.
Melihat itu, Xavier segera mengikuti istrinya itu dari belakang.
“Hei! Tunggu dong Angel!”
“Om-om ini bisa nggak usah teriak-teriak,” gerutunya.
Dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Sekilas dirinya memutarkan bola matanya.
“Lama banget sih Om. Angel keburu lapar,” kata Angel dengan wajah tak berdosa.
“Sabar sedikit bisa? Nanti siapa yang bayarin kamu kalau tidak ada saya, heum?”
Angel menghembuskan napas kasar. Dia merasakan ada yang menyentuh tangannya.
Setelah dilihat ternyata pria itu mengaitkan jari ke jari-jemarinya. Demi apapun, perut Angel merasa tergelitik.
“O-om?” Angel terlihat berbisik-bisik sambil mengkode Xavier. Sesekali melihat ke sana ke mari.
Xavier hanya menatapnya santai. “Cuma sekali saja. Biar dikira kita sudah menikah itu saja,” kata pria itu.
“Ya, Angel juga nggak mau kalau mereka tau. Nanti kalau temen aku lihat aku sama Om gimana, hah?!” kata Angel dengan nada tidak terima.
“Bilang saja yang kamu mau,” jawab Xavier dengan santai.
Angel menghela napas pelan. Dia tidak mau menghabiskan tenaganya.
“Yasudah. Yuk, Sayang.”
Angel hanya pasrah dengan apa yang barusan di katakan oleh pria itu.
Xavier dan Angel akhirnya berjalan ke dalam sana seperti sepasang kekasih. Bahkan banyak orang yang memandang mereka kagum.
Angel melihat ke kanan-kiri untuk memastikan tidak ada temannya di sekitar sini.
“Kenapa sih kamu?”
Gadis itu menoleh ke Xavier dan menggelengkan kepala cepat. “Mau mastiin saja nggak ada teman aku di sini,” ucapnya pelan.
“Bukannya bagus kalian ketemu di sini?”
“Bagus gimana? Kan berabe kalau mereka tau,” gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya kesal.
Xavier hanya diam dan memilih untuk menaiki eskalator di sana.
“Inget ya Om, kalau kita cuma kontrak.”
Xavier menoleh ke samping, sembari mengerutkan keningnya. “Tapi kita beneran menikah kan Angel?”
“Ya sama saja. Intinya jangan sampai mereka tau. Kalau mereka tanya aku tinggal di mana sekarang, Om bilang saja nggak tau.”
Lagi-lagi Xavier hanya menghembuskan napasnya kasar.
Sesampai lantai tiga, mereka melanjutkan jalannya untuk mencari makanan yang pas untuk Angel.
“Mau ramen?” tawar Xavier.
Angel menggelengkan kepala cepat. “Yang lain saja. Aku nggak mau makan mie dulu,” katanya sembari memainkan ponselnya.
“Bisa tidak sih kamu tidak memainkan ponselmu dulu?”
Angel menghentikan langkahnya dan menoleh ke samping. “Kan hak-hak Angel. Kenapa Om yang sewot sih?” desisnya.
“Bukan sewot Angel. Nanti kamu nabrak orang, apalagi kamu dari tadi tidak fokus jalan.”
Angel menghembuskan napas kasar, mau-tidak mau dia memasukkan ponselnya ke tas selempangnya. “Sudah.”
“Baguslah, kamu jalan duluan. Cari makanan yang kamu mau.”
Angel menggembungkan pipinya. Dengan rasa kesalnya, dia berjalan terlebih dahulu dan Xavier mengikuti dari belakang.
“Aku kau sushi. Kalau Om nggak suka jangan ikuti aku,” ucapnya, kemudian masuk ke dalam restoran tersebut.
“Saya ikut kamu. Tidak usah khawatir, saya suka makanan apapun.”
Angel melirik ke samping dengan sinis. Dia menduduki salah satu kursi yang masih belum bertuan.
“Nanti aku aja yang bayar. Om bayar makanan Om sendiri saja,” ucapnya sembari membuka menunya.
Xavier duduk di hadapan Angel. Keningnya mengkerut heran. “Biar saya saja yang membayarnya. Kamu pesan saja semau kamu.”
“Oke, semau Angel ya?”
Xavier mengangguk kecil.
Angel membuka-buka menunya. Dan setelah tau apa yang diinginkannya, dia segera mengangkat tangan untuk memanggil karyawannya untuk memesan pesanannya. “Mbak.”
“Mau pesan apa, Mbak?”
Angel menunjuk beberapa menu yang berada di sana untuk di makan oleh mereka. “Itu saja, lalu minumannya saya jus lemon saja. Om mau apa?” tanya Angel.
“Samakan saja,” jawab Xavier.
Angel mendesis kecil. “Dua jus lemon saja ya Mbak.”
Karyawan itu hanya mengangguk kecil. “Mohon ditunggu ya,” ucap karyawan itu sebelum pergi dari hadapan mereka.
“Nanti kita sharing saja. Lagian Angel nggak mungkin menghabiskan makanan segitu banyaknya.”
“Saya mengerti.”
Angel melirik ke samping. Terlihat Xavier nampak lebih diam dari biasanya. “Kenapa sih Om?”
“Kenapa apanya?” kening Xavier mengkerut.
“Ya ... Om beda banget sekarang.”
“Terus kemarin saya bagaimana?”
Angel mengangkat bahunya. “Nggak tau.”
Xavier meringis kecil. “Saya tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir.”
“Bukan khawatir aku itu Om. Cuma aneh saja,” ucap Angel.
Tak lama kemudian, makanan mereka sudah siap dihidangkan di mejanya sendiri. Seperti biasa, Angel mengambil beberapa gambar untuk diabadikan ke i********:.
“Sudah, makan saja dulu Om.”
Xavier tidak berbicara sama sekali. Pria itu mengambil minuman untuk diminum.
Sedangkan Angel fokus dengan ponselnya. “Banyak banget yang dm.”
“Memangnya mereka dm kamu apa?”
“Katanya tumben.” Angel meletakkan ponselnya di meja dan memakan sushi yang sudah disajikan di meja.
Xavier tertawa kecil mendengarkan ucapan gadis itu. “Tumben? Seperti mereka tidak pernah lihat kamu keluar.”
“Ya, memang aku jarang keluar. Kalau keluar pasti sama teman-temenku dulu. Nggak sendirian. Ada yang tanya juga, sama siapa ke sini? Dah kesel banget kalau ditanya-tanyain seperti itu.”
“Bukannya kamu suka kalau diperhatiin seperti itu?” tanya Xavier sembari meracik saus untuk dimakan bersamaan dengan sushinya.
Angelpun ikut meracik dan memakan sushinya kembali. “Itu mah nggak perhatian Om. Lebih ke mau nitip aja atau nggak spill tempat. Kadang ada yang iri juga, jadi males banget nanggepinnya,” katanya disela-sela makan.
Xavier menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. “Itu hal yang wajar sih. Saya juga sering dibilang seperti itu, bahkan lebih.”
“Emang iya? Paling Om teledor doang? Nggak lebih?”
Xavier angkat bahu. “Tidak.”
“Terus?”
“Loh? Angel?”
Baru saja Xavier ingin menjawabnya. Tiba-tiba saja ada yang memotong pembicaraan mereka.
Mereka menoleh ke sumber suara. Mata Angel sontak membulat dan juga mulutnya. Betapa terkejutnya saat melihat crushnya datang ke sini dan menyapanya.
Akan tetapi tidak untuk Xavier. Justru pria itu bingung dengan tatapan istrinya saat ini.
“E–elang? Kamu di sini juga?”
“Iya ... Aku di sini sama keluargaku. Dan ....” Elang melirik ke arah Xavier. “Dia siapa kamu?”
Angel sempat gugup, dia melirik ke Xavier. “Eng ... D–dia ... Om aku. Tadi aku nebeng keluar sama Omku. I ... Iya kan Om?”
Angel mencubit pinggang Xavier, sehingga membuat pria itu meringis kecil.
“Ahssh ... Kamu ini iseng banget sih?!” Xavier menoleh ke Elang dan tersenyum lembut. “Iya saya Om dia,” jawab pria itu dengan terpaksa.
“Om? Serius? Astaga, kenapa masih muda banget dia?”
Angel tersenyum kikuk. “Ya ... biasalah. Kan sekarang jaman tuh operasi plastik.”
“Saya tidak pernah operasi ya, Angel.”
“Yasudah, aku duluan ya. Kapan-kapan kita jalan ya, kalau ada waktu,” kata Elang mengkode sebelum pergi dari hadapan mereka.
Angel terdiam sejenak, dia menghela napas kasar dan memegang dadanya yang terdengar detak jantungnya yang tak bisa berhenti. “Astaga, jantungku.”
“Tidak usah berlebihan, ada suamimu di sini,” ucap pria yang berada di sampingnya dengan wajah ditekuk.