Bab 4. Menabrak Tiang

1183 Words
Angel melirik sinis Xavier. Sekilas dia memutarkan bolamatanya. “Sudahlah lanjut makan. Nggak usah banyak omong.” Angel melanjutkan makanannya tanpa berbicara sama sekali. “Tadi siapa kamu? Cuma teman kan?” tanya Xavier disela-sela makannya. “Teman, iya teman. Bukan teman sih, lebih tepatnya crush aku. Seperti yang aku bilang tadi,” jawab Angel sembari mengunyah makanannya. “Tidak ada crush-crush-an lagi. Kamu sudah mempunyai suami. Jadi, kamu tidak usah keluar lagi sama dia, ya?” Angel menoleh ke depan, menatap Xavier dengan tajam. “Lah? Kan aku menikah sama Om juga paksaan kan?” “Pernikahan itu tidak sebercanda itu Angel. Kalaupun kamu menutupi semuanya, sedikit demi sedikit juga mereka akan tau yang sebenarnya.” Angel berdehem pelan. “Mereka nggak akan tau semuanya Om. Kalau kita nggak publish. Lagian sekarang rumah aku pindah, jadi mereka nggak tau semuanya tentang aku.” Xavier hanya berdehem kecil. “Saya sudah kenyang. Habiskan saja sushinya, biar kamu tidak sakit.” Angel sempat terdiam melihat pria itu. Kemudian mengangguk kecil dan melanjutkan makan tanpa berbicara lagi. Setelah selesai makan. Angel menunggu Xavier yang sedang membayar di kasir. Dia terus memandangi punggung pria itu. “Kalau dilihat-lihat Om Xavier memang seperti masih muda sih. Tapi kan dia memang umur tiga puluh.” Xavier menyadari akan hal itu. Dia segera mendekati ke Angel. “Berhenti melihat saya seperti itu. Nanti kamu suka sama saya.” Angel mengerjapkan matanya sekilas saat menyadari pria itu sudah berada di hadapannya. “Sudah Om?” kata Angel mengalihkan semuanya. “Menurut kamu? Ayo kita balik. Nanti kamu dicari sama mama kamu,” kata Xavier berjalan keluar terlebih dahulu. Angelpun mengikuti dari belakang pria itu sembari membenarkan tas selempangnya. “Om mau es dong. Sepertinya enak itu.” Angel menunjuk salah satu kedai. Xavier melirik ke samping. Pria itu hanya mengangguk kecil dan mendekat ke kedai eskrim tersebut. “Mau yang rasa apa?” tanya Xavier. “Sebentar, aku mau lihat-lihat dulu.” “Mbak, coba yang vanilla dong,” ucap Angel sembari menunjuk salah satu eskrim. “Sebentar ya Mbak, bisa dicoba dulu.” Mbak penjaga itu memberikan satu sendok kecil es krim ke Angel untuk mencicipinya. Angel mengambil eskrim itu dan mencici rasanya. “Em … enak. Coba yang coklat dan juga warna biru juga mbak.” “Ini mbak.” Angel mengambilnya kembali dan mencicipi rasa coklat dan juga biru. “Enak, bisa di mix nggak mbak?” “Bisa kok, Mbak.” “Yasudah. Saya mau ketiga rasa ini ya Mbak.” Angel mengembalikan beberapa sendok yang di bawa tadi ke mbaknya. Dan tak lama kemudian Angel mengambil eskrim yang sudah jadi. “Berapa totalnya Mbak?” tanya Xavier. “Semuanya jadi tujuh puluh lima Mas.” Xavier mengambil uang pas untuk dibayar. Kemudian mereka melanjutkan jalannya. “Om nggak beli es krim?” tanya Angel sesekali melirik ke samping sembari memakan eskrimnya itu. “Saya lagi diet, tidak boleh makan eskrim.” “Cuma eskrim aja kok. Nggak makan banyak. Kalau diet itu harus olahraga sama makannya harus dikurangi. Nggak harus nyegah makan ini-itu juga sih.” Xavier tertawa kecil. “Pintar sekali istriku.” Pria itu mengusap rambut Angel sekila. Lantas membuat Angel menghindar begitu saja dan menatap pria itu tajam. “Nggak usah pegang-pegang ya!” Xavier mendesis kecil. “Lagipula itu tidak berlaku buat aku.” “Alasan, lagian Om sudah tua juga kenapa harus diet,” gerutu Angel. Saat sampai diparkiran, Angel menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam mobil. Xavier mengkerutkan kening heran melihat istrinya itu berhenti. “Kenapa?” “Sepertinya aku harus beliin makanan buat mama deh.” Xavier menghela napas pelan. “Yasudah kita masuk ke dalam sebentar beli makanan buat mama kamu.” Angel menggembungkan pipinya sembari memainkan kedua tangannya di bawah sana. “Angel males ke dalam lagi. Bisa belikan Angel kan?” Xavier sempat diam melihat Angel. Kemudian dia mengalihkan pandangannya sendiri. “Oke, kamu tunggu di mobil dan ini kunci mobilnya.” Xavier memberikan kunci ke Angel. Angel mengulas senyuman lebar dan mengambil kunci itu dari tangan Xavier. “Yes! Terimakasih Om!” kata Angel, kemudian membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil itu. Terlihat Xavier hanya tersenyum lembut dan berjalan memasuki mall itu kembali. Sedangkan Angel menghidupkan musik di dalam sana dan memainkan ponselnya sendiri. “Harusnya aku keluar sendiri, abis itu nyenengin diri aku sendiri. Bukan sama om-om tadi,” gumamnya. Angel melihat ke ponselnya terus dan melihat-lihat universitas yang akan dimasukinya nanti. “Apa aku harus ke sini ya? aku mau masuk ke pendidikan seni juga atau nggak musik?” Tak sadar jika Xavier sudah masuk ke dalam sana dan meletakkan bingkisan makanan di belakang. “Lama ya menungguku?” Angel menoleh ke samping, keningnya dikerutkan. “Cepat banget kamu? Jangan bilang Om nyelak orang-orang di sana?” matanya disipitkan seakan tidak percaya jika pria itu memesan makanan yang lumayan cepat. Xavier mengangkat bahunya acuh dan melajukan mobilnya dari sana. Angel menghembuskan napas pelan saat pria itu tidak menjawabnya lagi. “Mau ke mana lagi?” tanya Xavier. Angel melirik ke spion, terlihat jika pria itu sedang memandanginya. Dengan cepat dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Balik lah, ke mana lagi? Kan kita keluar cuma mau lihat rumah Om doang kan aslinya?” “Ya ... mungkin saja mau mampir ke mana lagi gitu. Saya akan mengantarkan kamu.” “Besok-besok saja, kalau Elang mau ngajak kencan Angel,” kata Angel dengan santainya. “Saya tidak suka ya kalau kamu bicara seperti itu di depan saya. Kalau kamu tidak menerima saya, lebih baik kamu menolak lamaran saya dari awal.” “Angel cuma bercanda,” kata Angel kemudian. Xavier hanya berdehem pelan. Setelah itu tak ada pembicaraan apapun di dalam sana, kecuali suara mobil dan juga musik yang tak kunjung henti. Angel menghela napas berkali-kali. “Seharusnya aku nggak bicara seperti itu sama om-om tua ini,” batinnya terus menggerutu di dalam hati. Sesekali melirik ke samping untuk memastikan jika pria itu masih bernapas. Angel merasakan jika mobil itu semakin cepat. Dia menatap ke depan dan membulatkan matanya. “Astaga, Om gila hah!” “Memang gila, kenapa?” “Berhentiin nggak!” kata Angel sambil berteriak. “Tidak.” Angel terpaksa untuk mencoba mengambil alih stir yang dipegang oleh Xavier. “Berhenti Om! atau nggak Angel turun dari sini!” “Lepasin tidak Angel! Nanti kita nabrak orang!” bentak pria itu masih menahan stirnya. “Angel nggak peduli! Lagian siapa yang ngeduluin! Biar Angel yang nyetir, Om!” Mobil yang dipakai mereka berjalan tak beraturan. Akibat mereka gaduh di dalam, tidak sadar jika ada orang yang ingin menyebrang di zebra cross di sana. Mata Angel membulat seketika ketika melihat nenek-nenek yang ingin menyebrang di sana. “Astaga, Nenek!” Xavier menatap ke depan. “Awas Nek!” Spontan pria itu melemparkan setirnya ke lawan arah dan mengerem mendadak. “Argh!” Mobil itu menabrak tiang yang lumayan besar dan untungnya tangan Xavier menahan kepala Angel supaya tidak terbentur ke depan. Angel memejamkan matanya. Rasa nyeri terasa di kening gadis itu. “Apa aku sudah mati?” batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD