Angel meringis kecil sambil memegang keningnya. “A ... awss ....”
“Angel kamu tidak apa-apa hah?”
Suara itu? Angel menoleh ke samping. Penglihatannya samar. “O–om? Kening Om?”
Xavier mengkerutkan keningnya saat Angel menunjuk ke keningnya dan segera memegang keningnya.
“Astaga Om, tahan dulu! Jangan gerak!” Angelpun segera mengambil tisue di tas dan membersihkan darah yang berada di kening Xavier.
“Udah Angel, mending kamu diam di situ. Kita turun dulu, kita lihat kondisi nenek itu dulu.” Xavier melepaskan tangan Angel dan segera keluar dari mobil itu.
Angel sempat diam, kemudian dia mendengus kesal. “Bego banget kamu Angel, kenpaa coba harus khawatir sama om-om nggak jelas itu,” gerutunya. Lalu, dia turun dari mobil itu. Ternyata banyak yang mendekat kearah mobilnya.
Dia berjalan mendekat ke Xabier yang nampak membantu neneknya itu duduk. “Gimana neneknya nggak papa kan Om?”
“Tidak, cuma cuma shock saja. Sudah dibelikan minuman sama orang tadi kok, kamu tidak usah khawatir.”
Angel menghela napas lega, kemudian dia melirik ke Xavier yang nampak menenangkan nenek itu tanpa memperdulikan kondisinya sendiri.
Angel sedikit meringis kecil dan memegang keningnya yang terasa pusing. “Astaga, kepalaku pusing lagi. Pasti gara-gara kejedot tadi,” gumamnya.
“Angel, kita antar nenek ini ke rumahnya dulu ya?”
Angel menoleh ke Xavier. “Rumah nenek? Kan ....” ucapannya tergantung saat melihat mobil pria itu sudah rusak parah. “Mobil Om?”
“Nanti saya suruh orang buat mengambil mobil. Kita bawa taxi dulu, ayo.” Xavier berjalan terlebih dahulu sambil memapah nenek itu.
Angel menghela napas pelan dan mengikuti dari belakang. Meskipun dirinya tidak suka dengan pernikahannya sendiri, dia juga punya hati untuk mengasihani orang lain.
Setelah mereka masuk ke dalam. Angel hanya diam.
“Nak? Maafin nenek ya? Harusnya nenek lihat kanan-kiri.”
Angel menoleh ke samping, kebetulan nenek itu duduk di sampingnya. Dia mengulas senyuman dan menggenggam tangan nenek itu. “Nggak papa kok Nek. Lagian yang salah kita kan Om?”
Angel melirik ke Xavier mengkode supaya mengiyakan ucapannya barusan.
Xavier hanya mengangguk kecil dan tersenyum.
“Tuh kan? Lain kali nenek hati-hati ya? Iya ... kalau orang itu bisa bantu nenek? Kalau nggak gimana? Pasti nenek di marahi kan?”
Nenek itu mengangguk kecil dan mengulas senyuman. “Iya ... kamu benar Nak. Terimakasih ya sekali lagi.”
Angel mengangguk kecil. “Itu sudah tugas kami Nek. Nenek sehat-sehat ya?”
Nenek itu mengangguk kecil dan kembali menatap ke depan.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya sampai di tempatnya. Angel memapah nenek itu ke rumah yang terlihat sederhana, diikuti dengan Xavier. “Nenek di rumah sendiri?”
“Tidak kok Nak. Nenek sama cucu nenek.”
Angel mengangguk kecil.
“Kalian duduk dulu ya. Nenek suruh cucu nenek buatkan minuman dulu,” kata nenek itu berjalan ke arah kamarnya.
Angel mengulas senyuman kikuk, dia melirik Xavier sekilas seakan menyuruhnya duduk terlebih dahulu. Kemudian dia duduk juga.
“Anak nenek tadi ke mana ya? Apa nenek itu ditinggal anak-anaknya?”
Angel mengangkat bahunya. “Mungkin saja. Buktinya sekarang aku tinggal sama mama aku, berarti kebanyakan ninggalin ibunya sendiri daripada tinggal di tempatnya.”
“Semoga salah satu dari anak kita ada yang ikut sama kita,” kata Xavier dengan wajah tak berdosanya.
Mata Angel membuat seketika. “Bisa-bisanya Om berpikiran seperti itu ya? Kalau emang Angel mau punya anak sama Om sih gapapa sih, ini Angel malah ogah tidur sama Om.”
“Bawel banget kamu.”
Tak lama kemudian, ada seorang pria yang keluar dari bilik pintu itu. Keningnya mengkerut seketika ketika melihat seseorang yang tak asing buatnya.
“Lihatnya biasa aja bisa tidak?” kata Xavier.
Angel menoleh ke samping. “Kenapa Om sewot terus sih? Heran deh Angel,” gerutunya.
“Sebentar ya, biar aku buatkan minuman dulu. Baytheway terimakasih sudah membantu nenekku.”
Angel menoleh ke sumber suara. Mulutnya sontak tidak bisa berbicara sepatahpun. “Tuhkan, nggak salah lagi? Dia beneran Elang. Kenapa Elang bisa di sini?” batinnya.
Elang menatap ke arahnya. “Angel? Astaga ... aku kira siapa. Kebetulan banget ya? Atau kita memang jodoh?”
“Engh ... Hehehe ....”
Wajah Angel nampak memerah sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Anak kecil tidak boleh pacaran dulu ya?”
Angel menatap sinis ke Xavier. “Om-om nggak boleh ikut campur urusan anak kecil ya?”
Xavier hanya mendesis pelan.
Elang hanya tertawa kecil di sana. “Kalau begitu aku buatkan minuman buat kalian, tunggu dulu ya,” kata pria itu sebelum pergi dari hadapan mereka.
“Kalau tau begini, mending kita balik saja. Om selalu bikin masalah,” gerutunya tanpa melihat Xavier.
“Memangnya kenapa? Saya tidak mau juga kalau kamu berhubungan dengan pria lain kecuali saya?”
“Ya kan ....” ucapan Angel tertahan saat melihat Xavier menundukkan kepala. “Om?”
Xavier menoleh ke samping, pria itu menjajarkan duduknya kembali. “Kenapa?”
Wajah Angel nampak khawatir. “Om sakit kan? Kepala Om juga belum di obati. Pasti pusing kan?” Gadis itu memegang lengan Xavier, wajah pria itu terlihat pucat.
Xavier menggelengkan kepala. “Tidak kok, kamu santai saja. Kalau kita balik sekarang, tidak enak juga kan?”
“Iya sih,” ringisnya. Angel melihat ke dapur, Elang belum juga kembali.
“Biar Angel izinin ke nenek ya? Dari pada Om pingsan di sini? Siapa yang gendong?”
“Kamu,” jawab Xavier santai.
Angel memutarkan bolamatanya sekilas. “Bisa-bisanya Om bercanda,” desisnya, kemudian dia beranjak.
“Mau kemana Nak?” tanya nenek itu ketika Angel hendak berjalan.
“Eh Nek? I ... ini ... kami mau balik boleh nggak Nek? Angel mau ke klinik buat obatin Om Angel. Takutnya nanti pingsan di sini,” ucap Angel sedikit malu-malu.
“Oh begitu ya?” Nenek itu menatap Xavier kasihan. “Yasudah, kalian balik saja tidak apa-apa, pasti Elang buat makanan buat kalian makanya lama. Kapan-kapan kalian ke sini lagi ya?”
Angel mengangguk kecil. “Baik Nek, kita duluan ya Nek.” Dia bersalaman dengan nenek itu, begitupun dengan Xavier.
“Maaf ya Nek sekali lagi. Nanti kita ke sini lagi, kami duluan Nek.”
“Cepat sembuh ya Nak.”
Angel mengulas senyumannya. Kemudian mereka akhirnya keluar dari rumah itu.
“Astaga lemes banget aku,” gumam Xavier. Pria itu berhenti di samping mobil dan menundukkan kepalanya seperti menahan sesuatu di sana.
“Makanya Om nggak usah sok kuat. Jadi lemes kan? Gimana? Aku cariin taxi ya?”
“Tidak, tidak usah. Biar saya telpon orang buat ke sini.” Xavier berdiri tegak kembali dan menelpon seseorang untuk ke tempat ini.
“Tunggu sebentar, dia mau ke sini.”
“Siapa?”
“Grab, biasanya aku pakai itu soalnya udah kenal juga.”
Angel mengangguk kecil. Dia menatap ke pria itu dan shock bukan main saat Angel melihat darah di tangan Xavier. “O–om? Itu ... darah?”