Bab 6. Klinik

1041 Words
“Om, astaga itu darah di hidung Om?!” Xavier segera memegang hidungnya sekilas. “Ah ya ... sebentar saya ambil tisue dulu.” “Tapi Om ....” Angel terdiam ditempat. Matanya tidak bisa bohong. Dia sangat khawatir saat ini. “Cepat masuk,” suruh Xavier saat mobil itu sudah datang di sana. Angel menghela napas pelan, kemudian dia masuk ke dalam mobil sana. “Serius Om nggak papa?” tanya Angel dengan nada pelan saat melihat pria itu membersihkan hidungnya memakai tisue. “Saya tidak apa-apa. Saya sudah terbiasa, kita lanjut jalan saja.” Xavier mengkode orang itu posisinya saat ini. Lalu, mobil itu dilajukan dengan kecepatan rata-rata. Angel hanya mengangguk kecil, kemudian menatap ke depan. “Angel sih, harusnya tadi diem aja. Lihat, karena kecerobohan kamu sampai membuat Om luka kan?” batinnya. “Kenapa diam?” Angel mengerjapkan matanya dan melirik Xavier dari spion. “Nggak papa Om. Ke ... klinik dulu ya? Sekalian cek kondisi Om.” Xavier tertawa kecil. “Sebenarnya tidak perlu sih. Kan ada kamu, kamu sudah saya anggap sebagai obat.” Angel mendesis kecil. “Bisa-bisanya Om bercanda di dalam keadaan seperti itu?” “Saya tidak mau kalau kamu khawatir,” ucap Xavier dengan percaya dirinya. Angel mendesis pelan. “Om percaya diri banget sih?” “Percaya diri itu perlu. Kalau tidak, saya tidak bisa nikahi kamu kemarin.” “Om, sudahlah. Angel bener-bener sensitif kalau Om bicara soal pernikahan,” kata Angel sembari menyandarkan kepalanya ke sofa. Xavier hanya diam tidak menanggapi ucapan Angel barusan. “Pak, ke klinik terdekat ya.” “Baik, Tuan.” Tak lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah yang sederhana. “Kenapa ke sini?” Angel menoleh ke samping bingung. Xavier ikut menoleh ke gadis itu. “Ke klinik kan?” “Itu klinik?” Xavier mengangguk kecil. “Ya, itu klinik. Saya kenal dekat sama dia,” ucap pria itu sebelum turun dari mobil itu. Angel masih diam di dalam sana. “Kocak, aku kira aku diculik ke tempat yang nggak berpenghuni,” gumamnya, kemudian turun dari mobil itu. Angel mengikuti dari belakang pria itu. Tak lama mereka masuk ke dalam sana. “Silakan tiduran dulu Vier. Kenapa bisa seperti itu astaga, sepertinya itu sangat sakit,” ucap wanita itu seperti ikut kesakitan. Angel memutarkan bolamatanya sembari bersedekap d**a. “Mending langsung obati deh Dok. Gausah banyak bicara,” katanya dengan nada datar. Angel melirik Xavier membenarkan posisi sendiri. “Bisa nggak Om?” “Bisa Kok.” “Itu siapa kamu, Vier? Kenapa terlihat sangat muda?” kata dokter itu mulai membersikan kening Xavier. “Biasa, ponakan,” jawab Xavier dengan meringis pelan. Mata Angel hampir saja keluar. “Bisa-bisanya Om ini bilang aku ponakan? Awas aja ya nanti, bakalan aku tendang ke langit lagi,” batinnya. Melihat itu, Xavier hanya menahan tertawanya. “Bisa suntik mati nggak Dok Omnya?” Dokter itu hanya tertawa kecil dan memberikan kasa dan olaster di dahi Xavier. “Bagaimana bisa? Nanti saya tidak bisa menikahi ommu ini.” Angel menatap sinis ke dokter itu, kemudian melirik ke Xavier yang hanya tertawa. “Sialan, kenapa panas sih? Jangan bilang dokter ini mantannya sih Om?!” batinnya. “Ini hidung Om kamu mimisan juga? Pasti benturannya sangat keras,” kata dokter itu. “Ya, tau sendiri kan Dok,” kata Angel sedikit ketus. “Sudah saya bersihkan. Nanti saya kasih obat buat dia langsung biar tidak ke apotik lagi,” kata dokter itu. ”Makasih ya Alma,” ucap Xavier dengan lembut. “Tuh kan, ucapannya lembut banget, apalagi tatapan Om Xavier? Dih, nggak beres ini,” batinnya. Dokter Alma mengangguk kecil. “Sudah kewajiban saya untuk membantu orang. Sebentar ya, saya ambilkan obat dulu,” kata dokter itu sebelum pergi dari hadapan mereka. Angel melirik punggung Alma yang semakin menghilang dari pandangannya, kemudian dia mendekat kearah Xavier. “Tadi Om jawab apa ke Dokter cantik itu hah?” Xavier melirik ke Angel santai. “Memangnya kenapa? Bukannya kamu tidak mau kalau semuanya terbongkar?” Angel mendesis pelan. Tapi, benar juga yang dikatakan oleh Xavier. “Huft ... ya sudahlah. Lupain aja. Udah cepat bangun! Jangan manja, udah om-om harus mandiri. Berdiri sendiri.” “Saya juga tau,” kata pria itu bangkit dari tidurnya di sana dan turun. “Udha nggak pusing kan?” “Tidak, paling cuma berputar saja.” Wajah Angel seketika menjadi datar ketika mendengarkan jawaban dari Xavier. “Boleh menghilang dari bumi nggak sih?” batinnya. Angel menggelengkan kepala. Dia mengikuti Xavier yang jalan terlebih dahulu. “Biar Angel aja yang bayar, gantian,” katanya. “Buat jajan aja nanti. Jangan mempersulit hidup,” kata Xavier membayar obatnya sendiri. Angel menatap tajam pria itu. Kemudian mengikutinya kembali sampai mobil. Dia tak mau berbicara lagi sama Xavier, yang akhirnya membuat dirinya kesal. Akhirnya dia masuk ke dalam mobil terlebih dahulu. “Cepat Pak supir! Mamaku sudah menunggu di rumah?!” kata Angel sembair melirik ke Xavier. Xavier meringis kecil saat sudah masuk ke dalam mobilnya itu. “Saya bukan supir kamu. Panggil saya dengan sebutan Sayang. Pak, langsung balik saja ya.” Mobil itu berjalan lagi. Angel melirik ke samping dengan sinis. “Minta panggil saja sama dokter tadi? Kenapa harus Angel coba?” “Kan istri aku itu kamu, bukan Alma kan?” “Oh Alma namanya ya, oke. Noted!” Angel memungutkan kepalanya. Kemudian menatap tajam ke samping. “Om suka kan sama Alma-Alma itu?” lanjutnya. Xavier menoleh ke samping sekilas. Lalu, pria itu menghembuskan napas kasar. “Tidak, saya tidak pernah suka sama dia.” “Tapi ... sepertinya dokter tadi suka sama Om?” Angel menatap kembali ke depan sembari mengetuk dagunya. “Angel tidak yakin kalau Om tidak suka. Pasti Om ada hubungan sama dokter tadi, sampai-sampai Om move on sama dokter tadi?” lanjutnya. “Astaga, Angel. Kalau kamu cemburu bilang saja sih. Tidak usah bertanya-tanya yang aneh seperti itu, mengerti?” Angel meringis kecil. “Dih, siapa juga yang cemburu?” “Mending kamu mengaku dari sekarang. Nanti kamu menyesal,” kata Xavier diselingi dengan kekehan kecil. Angel hanya diam sambil menggembungkan pipinya dan memainkan jarinya sendiri di bawah sana. Setelah itu, di dalam mobil itu tidak ada suara apapun kecuali suara mesin mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD