bagian 4(pembulian yang dialami Zilya)

1500 Words
Zada datang lebih awal, hanya untuk menunggu Zilya. Lelaki itu duduk di bangkunya seperti biasa. Sekadar ingin bertanya, kenapa Zilya tak pergi ke kantin. Padahal, sejak tadi dia sudah menunggu.   Di lain sisi.   Gadis cantik masih berjalan kaki menuju sekolah. Hari ini tangan kirinya, seperti mendukung. Karena, tak berulah seperti biasa. Hal itu memudahkan Zilya berangkat lebih pagi.   Berjalan, dan bersenandung kecil. Tapi tiba-tiba...   Bruk.   Zilya terserempet mobil. Gadis itu tersungkur, dan mengaduh. Kakinya terluka.   "Hahaha. Sukurin," ucap seseorang.   Zilya menatap mobil yang menyerempet dirinya. Ternyata, itu adalah mobil Rara. Aurel, dan Vina juga ikut tertawa. Melihat Zilya yang menderita. Namun, tidak disangka. Tangan kiri Zilya tiba-tiba mengambil batu, dan melempar ke kaca mobil Rara.   Pyar.   Kaca mobilnya retak. Rara, dan kedua temannya terkejut, dan segera turun dari mobil.   Rara menjambak rambut Zilya karena tak terima. Vina, dan Aurel menahan tubuh Zilya.   "Lepasin aku. Ini sakit," kata Zilya memohon.   "Berani-beraninya kamu ngerusak mobil aku."   "Harusnya aku yang marah. Kenapa kamu nabrak aku?"   Rara semakin murka dengan Zilya.   "Aku sangat benci kamu, Zil. Pertama, aku gak suka kamu. Kedua, kamu deketin kak Zada, ketiga masalah kemarin harusnya kamu yang dihukum bukan aku, dan yang keempat kamu pecahin kaca mobilku. Bener-bener murahan!" Rara meludahi wajah Zilya. Zilya memejamkan mata. Tubuhnya sangat nyeri, dan merasa jijik. Zilya juga berpikir, kenapa Rara harus marah? Sedangkan dirinya dengan Zada saja tak ada hubungan apapun. Bahkan, Zada saja mengenal Rara hanya sekedar nama. “Apa alasan kamu membenci aku? Emangnya aku salah apa sama kamu?” tanya Zilya. “Kamu itu cacat, aku gak sudi punya temen kaya kamu! Lihat kamu aja rasanya aku enek, dan lagi … udah aku bilang berkali-kali kalau aku gak suka kamu dekat-dekat dengan Kak Zada! Karena itu membuat aku semakin membenci kamu!” jawab Rara.   “Emangnya salah? Kalau aku dekat dengan Kak Zada? Lagipula kamu kan bukan siapa-siapa dia,” kata Zilya dengan wajah berkaca-kaca. Sedangkan Rara … ia merasa darahnya mendidih karena emosi mendengarkan jawaban Zilya.   Rara menyeret Zilya, agar masuk ke mobilnya.   "Kamu mau bawa aku ke mana?"   "Ke suatu tempat yang orang gak akan bisa nemuin kamu."   Rara menutup mata Zilya, dengan menggunakan kain. Kedua tangan Zilya terikat kencang, gadis malang itu meronta meminta untuk dilepaskan, tapi Rara sangat kejam. Sehingga tak mau menuruti keinginan Zilya.   Beberapa menit kemudian.   Di tempat yang tidak diketahui Zilya. Rara membuka penutup mata Zilya. Kemudian menurunkan di tempat yang sepi. Tak hanya itu, Zilya juga mendapatkan kekerasan fisik. Ditampar, dijambak, dan dipukul. Sesekali, Rara melontarkan kata-kata kasar yang sangat tak wajar diucapkan. Zilya menangis, sekujur tubuhnya terasa sakit. Padahal, ia baru saja kecelakaan, karena ulah Rara.   "Stop, Ra. Cukup!" Zilya memohon belas kasihan Rara, dan teman-temannya. Namun, Rara semakin menjadi.   Rara menyeret tubuh Zilya ke dalam kubangan yang berisi lumpur. Hingga, membuat seragam osisnya kotor karena terkena lumpur.   Vina memvideo aksi pembullyan itu. Rara, dan Aurel tertawa terbahak. Ketika melihat Zilya yang memasukan lumpur  itu ke mulutnya. Namun, semua bukan keinginan dirinya. Melainkan, tangan Aliennya yang melakukan. Berulangkali Zilya muntah, namun berulangkali juga tangannya semakin kejam.   Sebisa mungkin, Zilya menghentikan tingkahnya, dan akhirnya berhasil. Zilya menangis terisak. Menatap Rara dan kedua temanya dengan tatapan kebencian.   "Puas kalian?"   "Sangat puas, dan tunggu kelanjutannya setelah ini." Rara, Aurel, dan Vina meninggalkan Zilya yang terlihat kumuh. Sambil tertawa jahat seperti tak memiliki hati.   Zilya menangis histeris. Kenapa, hidupnya sangat semengenaskan ini.    *****   Rara sudah sampai di sekolah, dan melihat Zada yang berdiri di depan kelasnya. Gadis itu langsung menghampiri Zada.   "Hay, kak. Nungguin siapa?" sapanya.   "Nunggu Zilya. Dari tadi kok gak berangkat-berangkat, ya?"   Seketika membuat Rara cemberut.   "Kayaknya dia gak bakal berangkat. Jadi, percuma kakak nunggu Zilya. Dia gak akan muncul. Lagi pula … kakak kenapa sih? Mau aja deketin gadis aneh itu? Yang lebih cantik dari dia banyak. Aku contohnya,” ujar Rara mencoba untuk merayu Zada. Bukanya menyuti perkataan Rara, pemuda itu malah nyelonong dan menghiraukan Rara.   "Kamu sebenarnya kenapa sih, Zil?" batinya bertanya-tanya.   *****   Di bawah guyuran air hujan. Zilya berjalan tertatih. Energinya terkuras habis. Badannya seakan remuk. Ia kedinginan. Namun, sebentar lagi ia akan sampai di rumah. Kurang lebih sekita 30 menit lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Rara sangat kejam, memperlakukan dirinya seperti ini.   Semua orang yang melihat keadaan Zilya, pasti mengira jika gadis itu adalah orang gila. Wajah kusam, seragam kumuh, dan pandangan kosong, serta tangan kirinya selalu menarik androk yang Zilya kenakan.   "Aku udah gak kuat," ucapnya. Kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon. Dengan bibir yang bergetar karena kedinginan.   Namun, mobil Sport berhenti, tepat di hadapan Zilya. Zilya memandang sepasang kaki yang berdiri di hadapannya.   Ternyata itu adalah Zada. Zada langsung berjongkok panik, melihat keadaan Zilya. Dengan, bibir yang bergetar, Zilya langsung memeluk Zada, dan menangis terisak. Zada dengan sifat perhatiannya membalas pelukan Zilya, tak peduli jika nanti seragamnya ikut kotor.   "Kamu kenapa, Zil? Astaga." Zada membopong tubuh Zilya yang lemah menuju mobil. Tak peduli dengan keadaan Zilya yang sekarang.   Di mobil, Zada terus menenangkan Zilya dan mengusap punggung gadis itu. Namun, tak disangka. Tangan kiri Zilya malah memegang kemaluan Zada di balik celana osisnya.   "Maafin, aku. Aku gak sengaja." Zada tersenyum. Pertanda tak masalah.   Di sepanjang perjalanaan, Zilya hanya diam. Zada jadi bingung, harus bagaimana. Karena, Zilya tak menjawab jika ditanya apa yang terjadi pada dirinya.   Kini, mereka telah sampai di rumah Zilya. Zilya hendak turun, namun ditahan oleh Zada.   "Jangan sungkan jika mau bercerita. Aku siap mendengarkan," kata Zada lembut.   Tapi...   Plak.   Zilya malah menampar Zada. Lelaki itu terkejut setengah mati. Menatap Zilya tak percaya.   "Maaf, kak. Itu bukan aku," ucapnya panik. Tapi, Zada hanya diam tak ada niat untuk menjawab. Akhirnya, membuat Zilya pasrah, dan turun dari mobil Zada.   "Sekali lagi aku minta maaf, dan terimakasih atas tumpangannya."   Gadis itu berjalan tertatih, sambil memegang dengkulnya. Sebenarnya, Zada penasaran apa yang sudah terjadi pada Zilya. Tapi, rasa kesal ketika Zilya menamparnya membuat rasa penasaranya sedikit memudar.   Di dalam rumah.   Ada papa, dan juga ada Rara, tak lupa ayah Rara juga ada di sana. Entah, ada masalah apa kali ini. Rara tersenyum licik, saat melihat Zilya. Namun, Zilya membuang muka.   "Dari mana saja kamu? Mau jadi berandalan? Selalu bolos sekolah, dan pulang tak tau aturan," bentak Papa. Untuk kesekian kalinya Zilya malu setengah mati. Dibentak di depan orang lain. Tanpa, tahu apa kesalahannya.   "Apa benar? Kamu melempar batu ke mobil Rara?" tanya Papa Zilya.   Zilya diam. Tak sudi juga jika harus menjawab pertanyaan itu. Hatinya sedang buruk, malah ditambah buruk.   "Jawab!"   "Iya, om. Dia udah lempar batu ke kaca mobil saya. Padahal, saya gak tau apa-apa. Tiba-tiba dia nyerang saya," kata Rara membalikan fakta. Zilya geram mendengar jawaban dari Rara, bisa-bisanya Rara menjadi pihak yang tersakiti.   "Nggak, dia bohong. Dia duluan yang nyerempet Zilya sampe jatuh. Terus, dia nurunin Zilya di tempat sepi, mengeroyok berserta teman-temannya, dan membully," sergah Zilya.   "Nggak, Om. Zil, kamu ngaku aja! Kapan aku kaya gitu ke kamu. Plis, kamu jangan tuduh-tuduh aku kaya gitu, hiks." Rara memulaikan dramanya. Dengan pura-pura menangis.   Cih... Zilya sangat muak.   Kenapa Rara seolah-olah menjadi korban.   "Pa, Zilya gak sengaja ngelakuin itu. Rara duluan yang nabrak Zilya. Apa papa gak bisa lihat? Keadaan Zilya yang sekarang?" Zilya masih mencoba membela diri, berharap Papahnya percaya ketika melihat penampilannya yang berantakan.   "Bohong. Buktinya gak ada tanda-tanda dia kesakitan. Mungkin, itu alasan dia aja. Biar dapat pembelaan," ujar Rara tak mau kalah. Zilya semakin geram.   "Benar yang dikatakan anak saya. Intinya, saya minta ganti rugi. Jika tidak, saya akan mengasuskan masalah ini," ucap ayah Rara.   "Silahkan, Om. Saya gak takut, karena saya gak salah. Anak om yang berulah lebih parah!"   "Diam!" bentak Papa. Zilya terdiam, hatinya nyeri kembali.   "Baik, pak. Saya akan ganti rugi, segala kerusakannya," kata Papa.   Zilya benar-benar membenci Rara. Gadis itu pergi ke kamarnya.   Tanpa sadar, ada seseorang yang tidak sengaja mendengar pertengkaran mereka. Dia adalah Zada, laki-laki yang sedang menahan amarah, sambil mengepalkan tangan.   *****   Malam harinya.   Zilya berbaring dengan hati-hati. Sambil memegang kepalanya yang terasa pusing. Setelah dianiaya oleh Rara dan teman-temannya. Kini, tadi Papa mengamuk, dan mendorong Zilya hingga membuatnya terbentur meja. Zilya merasakan ada seseorang yang masuk ke kamarnya.   Perlahan gadis itu membuka mata, dan duduk bersandar. Ketika melihat siapa yang datang.   "Mama mau bicara," ucapnya dengan nada ketus.   Zilya hanya mengangguk.   "Harusnya kamu itu gak ngelakuin hal seburuk itu. Kamu itu benar-benar beda dengan adikmu. Selalu saja membuat masalah." Zilya tak menjawab, pandangannya kosong.   Walaupun dia membela diripun, tetap dia yang akan dianggap salah.   "Benar-benar menyusahkan."   "Stop, ma. Zilya lelah," ucap Zilya lemas. Akhirnya berbaring membelakangi sang ibu, dan menutupi dirinya dengan menggunakan selimut. “Kamu ini! Kalau orang tua sedang  berbicara itu didengarkan! Dasar pembangkang,” kata Mama. Akhirnya memilih untuk keluar dari kamar Zilya. Tak ingin jika nanti semakin kesal. Karena menurutnya Zilya adalah anak yang nakal, berbeda, dan tak tahu aturan. Padahal mereka tak tahu jika Zilya tak bahagia dengan hidupnya, dan tak tahu … jika di luar sana ia mendapat kekerasan.   Mungkin, ia benar-benar harus meninggalkan rumah yang seperti neraka ini. Batinnya terus tersiksa. Dalam keadaan sakitpun, ia masih mendapat perlakuan tak baik.   *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD