"Maafin aku, kak," ujar Zilya. Yang duduk di samping lelaki, tatapannya dingin. Membuat gadis itu takut memandang wajahnya.
"Aku gak sengaja nampar Kakak. Benar-benar bukan kemauan aku." Zilya menunduk.
Suasana menjadi hening. Hanya suara kipas angin di perpustakaan yang mengiringi keheningan mereka berdua.
"Plis, kak. Ngomong. Jangan diemin aku." Mata Zilya berkaca-kaca. Tapi, Zada masih saja diam.
Zilya kehabisan kata-kata. Apakah ia harus menceritakan tentang penyakitnya? Agar Zada mau mengerti.
"Aku itu sakit, kak," ujar Zilya. Spontan membuat Zada menoleh. Menatap gadis yang sudah berurai air mata itu. Hati Zada jadi tak tega, dan merasa bersalah.
"Sakit apa?"
"Dulu... Aku pernah mengalami kecelakaan waktu kecil. Kepalaku terbentur sesuatu. Terjadi pendarahan, dan ada kerusakan di bagian otak aku. Sekarang, aku mengidap penyakit langka. Namanya Alien Hand Syndrome." Penjelasan Zilya membuat Zada terkejut setengah mati. Zada jelas tahu, penyakit itu. Karena, ia mempunyai sepupu yang mengidap penyakit seperti Zilya. Tapi, lebih parah, sepupu Zada sudah akut. Hingga, menewaskan nyawa sendiri.
Pantas saja, Zilya kadang melakukan hal aneh. Terjadi tanpa diduga. Zada baru tahu, penyebab Zilya diasingkan oleh teman-temannya.
"Karena penyakit ini. Hidup aku jadi berubah. Mama yang tadinya perhatian, Papa yang tadinya penuh kasih sayang. Kini berubah drastis. Mereka semua menganggap aku sebagai bencana, dan kesialan," lanjutnya.
"Aku harus gimana ya, kak? Supaya bisa menahan tangan ini, biar gak mengacaukan situasi." Zilya menunduk lagi. Merasa sedih.
"Udah coba terapi?"
"Mama, dan papa gak ngizini. Mereka bilang, aku gak akan sembuh."
Hati Zada mencelos, ikut merasakan sakit. Membayangkan, betapa sedihnya Zilya melewati masa-masa sulitnya ini.
"Jujur, aku capek. Semua orang cuma bisa nyalahin, aku. Aku juga gak mau, hidup kaya gini. Semua orang pingin hidup normal."
Zada tak bisa berkata-kata. Ternyata, gadis seceria Zilya. Menyimpan begitu banyak beban. Zada bersumpah, ia akan menjaga Zilya, dan selalu membantu gadis itu. Ia tak mau, jika kejadian yang menimpa sepupunya, juga terjadi pada Zilya.
"Udah ah, jangan cerita yang sedih-sedih mulu. Oh, iya. Kakak udah maafin aku, kan?" tanya Zilya sambil mengelap ingusnya. Zada kembali dengan tatapannya yang datar.
"Belum!"
"Kok gitu?"
"Kenapa kamu gak cerita, tentang perlakuan Rara, dan teman-temannya?"
"Kok kakak bisa tau?"
"Bukan urusan kamu!"
"Jadi gimana? Kamu harus ceritain dari awal masalah kemarin. Kalo nggak, aku bakal diemin kamu terus."
Zilya mendesah pasrah, dan terpaksa menceritakan kejadian kemarin. Ketika dirinya ditabrak Rara, dan tidak sengaja melempar batu ke kaca mobil Rara. Kemudian, Rara membawanya ke suatu tempat yang tidak ia ketahui.
"Dia jambak aku, mukulin aku. Pas tanganku kumat, tanganku memasukkan tanah liat ke mulut. Rara vidioin aku, dan gak tau. Vidionya bakal disebar apa nggak."
“Dan ... Satu hal yang perlu kakak tahu. Dia melarang aku untuk dekat dengan kakak,” kata Zilya lagi.
“Dia gak berhak kaya gitu. Lagipula, aku gak kenal siapa Rara. Jujur aja, dengar sifat dia yang kaya gitu aja aku muak, Zil. Apalagi lihat mukanya,” jawab Zada.
“Tetap aja, kak. Rara itu kasar. Kalau aku ngelawan, dia bakal lebih sakit ngebalasnya."
"Tapi ... kamu gak bisa, dong. diam aja di gituin Rara," kata Zada tegas, pemuda itu emosi.
"Ya gimana lagi, aku udah biasah juga, kok."
Zada geram, mendengar pengakuan Zilya. Ingin rasanya mengajak Rara War. Andai saja bukan perempuan, mungkin Rara hanya tinggal nama ketika berhadapan dengan Zada.
"Kamu gak nyoba buat rampas Ponsel dia, dan menghapus vidio kamu? Kamu gak takut kalau vidio itu tersebar?"
"Buat apa aku takut. Aku udah biasa dipermalukan, kak."
Zada menjambak rambutnya frustasi. Kenapa, ada perempuan sepasrah Zilya.
"Jangan bodoh! Itu aib. Harga diri kamu mau ditaruh mana?" Zilya hanya diam.
"Oh, iya. Kemarin kamu jadi ganti rugi? Harusnya kamu gak perlu ngelakuin itu. Rara udah kasar ke kamu. Harusnya kamu berhak nuntut dia."
"Ah... Percuma. Mau sebesar apapun aku membela diri. Tetap, aja gak akan ada yang percaya sama aku."
Zada tambah frustasi, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun. Entah mengapa, ia tak suka jika ada seseorang yang diperlakukan tak baik.
Zada menatap Zilya. Ia baru sadar, jika kening Zilya seperti lebam berwarna ungu.
"Ini kenapa?" Zada menyentuh kening Zilya.
"Papa marah kemarin. Dia ngamuk, sampe dorong aku," jawabnya.
Belum sempat Zada menjawab. Bell jam pelajaran sudah berbunyi.
"Ya udah. Kamu masuk kelas dulu. Nanti pulangnya sama aku. Aku pengen ngajak kamu ke suatu tempat."
"Serius, kak?" Zilya terpekik girang. Hingga membuat Zada menutup telinganya.
Hari ini, Zilya sedikit agak lega. Karena Rara tak berangkat sekolah. Jadi, dia tidak merasa was-was. Karena ada yang menganggunya. Tak hanya itu, Zilya juga sedang muak, melihat wajah Rara.
****
Pulang sekolah.
Sesuai rencana, kini Zada sudah menunggu di depan kelas Zilya. Gadis itu berlari girang. Tangan kirinya berputar melayang. Hal itu terlihat lucu. Zilya sangat terlihat menggemaskan bagi Zada.
"Ayo, kak," ujar Zilya. Zada tersenyum.
"Naik motor kan?"
"Iya, bawel."
Di sepanjang jalan. Zilya tersenyum. Merasa senang, dan bebas. Karena, sudah sangat lama sekali dia tidak menikmati udara bebas. Hidupnya seperti terkurung. Ia tak peduli, jika nanti kedua orang tuanya marah, karena ia pulang terlambat. Yang terpenting, ia bahagia hari ini.
"Makasih ya, kak," ucap Zilya tulus.
"Sama-sama."
Zada menarik tangan kanan Zilya agar memeluk dirinya. Hal itu membuat Zilya terkejut, dan gerogi seketika.
"Peluk, dong."
"Eh... Apa sih, kak? Gak mau, ah!" Zilya cemberut, dan pikirannya jadi macam-macam, ia takut jika Zada melakukan hal tak senonoh, padahal baru kenal.
"Buruan peluk. Atau aku turuni di jalan."
"Jahat banget sih. Aku gak mau, kak," tolak Zilya.
"Buruan, Zil!"
"Ih... Kakak. Kok ngeselin, sih. jangan-jangan kakak mau ngapa-ngapain aku, ya!." Zilya jengkel.
Zada tertawa melihat wajah Zilya cemberut dari kaca sepion.
"Haha, ngambek. Aku cuma bercanda kali. Baperan!" Zilya mencubit lengan Zada, seolah meluapkan rasa kesalnya. sedangkan pemuda itu meringis kesakitan.
beberapa menit kemudian.
Mereka telah sampai di danau.
Zilya tersenyum merekah, melihat pemandangan indah. Semilir angin menerpa di kulit lembut gadis itu. Ia merasa sangat damai saat ini.
"Kamu suka?"
"Suka, kak. Makasih."
"Aku udah lama banget gak ke danau. Hem... Hidupku seperti penjara. Tak bisa bebas ke manapun," lanjutnya.
"Sekarang udah ada aku. Aku bakal bawa kamu ke manapun kamu mau."
"Yang penting, jangan bawa aku kabur ke tempat aneh-aneh, ya?!" kata Zilya sedikit mengancam, tapi ekspreksinya menggemaskan, itu menurut Zada.
Tak terasa, hari begitu cepat berlalu. Sudah dua jam mereka berada di danau. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pulang.
*****
Di rumah.
"Makasih ya, kak." Entah sudah keberapa kalinya Zilya mengucap terimakasih. Karena memang, hatinya sangat bahagia hari ini. Memiliki teman yang super pengertian, dan sebaik Zada. Ia berharap, Zada tak akan pernah meninggalkan dirinya.
Mama, dan papa sudah menunggu di ruang tamu. Namun, Zilya berlalu begitu saja. Tanpa menyapa kedua orang tuanya.
"Bagus! Ngeluyur sana-sini. Mau jadi apa kamu? Sudah papa bilang, kamu bisa membahayakan orang lain. Tapi tetap aja ngeyel."
Zilya berhenti, dan menatap sang ayah.
"Stop, Pa. Berhenti berkata dengan kata-kata seperti itu. Zilya muak."
Papa marah, lelaki paru baya itu menghampiri Zilya, dan menampar pipi gadis itu.
"Sudah berani membantah! Dasar anak gak berguna, pembawa sial. Anak setan!"
Plak.
Dua tamparan sudah mendarat di pipi Zilya. Zilya menangis, padahal baru saja ia merasa senang. Tapi, kebahagiaannya hilang dalam sekejap.
"Bunuh Zilya, Pa! Zilya bukan anak papa, kan? Anak papa cuma Vanya. Anak kebangaan, dan kesayangan papa, mama." Zilya pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Di kamar, ia menangis hingga sesegukan. Rumah bukan lagi tempat ternyaman, baginya rumah adalah neraka yang penuh kesengsaraan.
"Kenapa aku dilahirkan, jika hanya untuk menerima cobaan. Tuhan ... padahal baru aja aku merasa sangat bahagia, tapi dalam sekejap kamu lenyapkan kebahagiaan itu," lirihnya sambil menangis.
*****