bagian 6

1164 Words
Pagi hari, selalu menjadi yang Zilya nanti. Gadis itu tersenyum melihat cerahnya langit. Seperti sangat mendukung moodnya hari ini. Padahal tadi malam ia dihajar habis-habisan oleh sang ayah. tapi, semenjak kehadiran Zada, mood buruknya selalu berubah jadi lebih baik.  Gadis itu sedang mengaca, dan memegang matanya yang terlihat bengkak karena nangis semalaman.                           "Jangan berulah dulu, ya? Moodku sedang baik," katanya. Tangan kirinya mengacungi jempol seakan menjawab.   Hari ini, Zilya berencana untuk pergi bersama Zada. Entah, gadis itu juga tak tahu. Mau dibawa ke mana dia?   Zilya sudah siap. Hari ini ia terlihat sangat cantik. Dengan balutan dress berwarna navy.   Zilya menatap borgol yang biasa ia pakai. Sudah jarang sekali gadis itu memakai borgol. Ia lakukan agar terbiasa, dan agar tak ketergantungan dengan borgol.   "Terimakasih, sudah menemani hari-hariku." Zilya mengusap borgolnya.   Ia menuruni anak tangga. Senyum masih ia pasang.   "Mau ke mana, kak?" tanya Vanya, remaja itu sedang duduk di ruang tamu sambil memakan cemilan.   "Ada janji sama temen, dek."   "Sama cowok yang sering nganterin kakak, ya? Cie." Zilya melotot ketika Vanya berusaha menggoda dirinya.   "Pacar kakak, ya?"   "Mana mungkin, ada laki-laki yang suka sama perempuan seperti kakakmu ini," ujar Papa tetiba datang. Seketika membuat senyum Zilya menyurut.   "Papa jangan ngomong gitu. Kak Zilya itu cantik. Buktinya, kakak selalu dianterin cowok."   "Haha ... Paling cuma kasihan," jawab Papa lagi. Zilya berusaha tegar. Ucapan Papanya selalu membuat Zilya down seketika.   "Mau ke mana kamu?"   "Aku ada janji sama teman, Pa."   "Gak boleh! Kamu harus tetap di rumah."   "Tapi, aku bakal tetap pergi, Pa. Mau sampai kapan Papa kaya gini ke aku?Aku bukan anak kecil lagi."   "Sudah berani menantang?" Papa melayangkan tangannya, bermaksud untuk menampar Zilya. Namun, kali ini Mama menghentikan aksi suaminya.   "Biarkan dia pergi!" perintah Mama.   Zilya tersenyum, melihat sang ibu membelannya.   "Asal dengan syarat. Jangan pernah kembali."   Deg   Zilya tak menyangka, padahal baru beberapa detik ia merasa senang. Tapi, lagi-lagi kedua orang tuanya selalu mematahkan harapannya.   "Kenapa mama bilang gitu? Mama jahat banget," kata Vanya menghampiri, dan memeluk Zilya.   "Mama gak boleh pilih kasih!"   Bukannya menjawab, Mama malah meninggalkan kedua anaknya, serta suaminya. Akhirnya membuat Zilya pasrah, dan kembali ke kamarnya.   Di dalam kamar yang sunyi. Zilya merenung, meratapi nasibnya. Menangis lagi, sambil memeluk kedua kakinya.   "Ya Tuhan. Dosa apa yang pernah aku lakukan? Kenapa nasibku begini terus?"   "Apa tak ada secuil kebahagiaan untukku? Kenapa, kedua orang tuaku sangat membenci diri ini?"   Zilya menangis tanpa suara. Rasanya itu sangat menyakitkan.   "Kak Zada."   Zilya ingat akan sesuatu. Ia harus menelpon Zada, bahwa dirinya tidak bisa keluar.   "Kak, maaf. Hari ini aku gak bisa jalan bareng kakak."   "Kenapa?" jawab Zada di sebrang sana.   "Gak papa, kak."   "Kamu habis nangis?"   "Eh... Nggak, kok." Zilya berbohong.   "Jangan bohong. Bertengkar sama orang tua kamu?" tanya Zada lembut. Akhirnya, meyakinkan  Zilya untuk berkata jujur.   "Hem... Aku gak di bolehin keluar sama mereka."   "Ya sudah, gak papa. Besok aku ke kelas kamu."   Zada memang pembangkit mood Zilya. Ia bisa membuat suasana menjadi menghangat.   Setelah beberapa menit berbincang, dan bercanda. Akhirnya, Zilya memutuskan sambungan telponnya.   *****   Malam harinya.   Zilya teringat, bahwa besok adalah ulang tahun Mamanya. Niatnya, ia ingin membuatkan kejutan, tepat di jam dua belas malam. Semoga, kali ini rencananya berhasil. Ia berharap, semoga dengan cara seperti ini, Mama jadi sayang dengan dirinya.   Zilya membuat Brownis. Susah payah ia bergelut dengan tepung, dan segala macam bahan pembuat brownis. Padahal, membuat brownis adalah hal termudah. Tapi, sulit jika yang melakukan Zilya. Karena, tangan kirinya yang selalu menganggu dirinya ketika ingin melakukan kebaikan. Semoga saja, ia tidak menjadi pengacau malam ini. Karena, melakukan sesuatu di dapur, adalah hal yang membahayakan. Karena, Mama sangat menyayangi dapurnya. Jika, ada satu yang rusak. Maka, semua orang akan kena imbasnya.   "Okey, langkah terakhir sebelum mengukus. Kita harus memoles margarin, pada loyang."   Tangan kirinya malah membuang loyang, hingga menimbulkan suara gaduh. Zilya menutup mulut, berharap keluarganya tak mendengar.   Setelah beberapa menit.   Zilya sudah siap dengan brwonisnya. Gadis itu mengambil piring, dan meletakkan piring di atas meja makan.   Piring dengan balutan warna emas, terlihat sangat elegan. Zilya tahu, itu adalah piring kesayangan Mama, yang beberapa bulan lalu beli di Perancis.   "Pasti mama suka, dan kagum sama aku," katanya.   Zilya bergetar takut. Melihat tangan kirinya waspada. Gadis itu sangat berharap, semoga kali ini tangan kirinya berpihak padanya.   "Plis... Jangan sekarang," katanya.   Zilya mencoba untuk menurunkan piring ke meja lagi.   Tapi, tak disangka. Tangan kiri Zilya berulah lagi, malah membanting hingga membuat kegaduhan.   Di dalam kamar. Mama, dan Papa mendengar suara pecahan piring.   Saat ini, Zilya yakin. Ia akan mendapatkan masalah lagi.   "Ya Tuhan," ucap Zilya dengan bibir bergetar menahan takut. Gadis itu mengumpulkan pecahan piring itu.   Tiba-tiba, mama dan papa muncul, Vanya juga ada.   "Apa-apaan ini?" tanya Mama saat melihat dapur berantakan.   Semua mata tertuju pada Zilya, gadis itu berjongkok sambil ketakutan.   "Astaga," pekik Mama ketika melihat piring kesayangannya hancur berkeping-keping.   "Ya Ampun Zilya! Kenapa kamu ngerusak barang-barang ? Kan mama sudah sering bilang. Jangan pernah masuk ke dapur . Itu hal yang paling mama benci," ucap Mama amarahnya menguap.   "Maafin Zilya. Zilya cuma mau bikin kejutan buat, mama."   "Saya gak butuh kejutan dari anak pengacau seperti kamu! Kamu pikir, saya akan luluh? Nggak akan! Saya muak punya anak seperti kamu."   "Kamu mau tahu? Hal yang membuat saya bahagia?"   "Yaitu, melihat kamu enyah dari hadapan saya," lanjut Mama.   Zilya menggelengkan kepala tak percaya. Wanita yang melahirkan dirinya, ternyata sangat tak menginginkan kehadirannya. Zilya sudah berurai air mata. Sedangkan, Papa menatap Zilya dengan tatapan menusuk.   "Saya juga... Sangat tidak berharap memiliki anak sepertimu, Zil. Pengacau, dan pembawa sial." Kali ini Papa yang bersuara.   "Mama, papa," lirih Zilya tak percaya.   Hatinya hancur lebur.   "Malam ini, kamu tidur di luar!" perintah Papa tak bisa diganggu gugat.   "Papa gak boleh kaya gitu," kata Vanya, menghambur ke pelukan Zilya.   "Jangan sentuh dia. Kalo kamu gak mau ketiba sial," kata Papa menarik lengan Vanya.   Vanya menolak, berusaha membela Zilya. Hingga air matanya ikut berurai. Vanya tak tega, melihat kakak satu-satunya selalu diperlakukan tak adil.   "Cepat keluar! Atau saya pukul," kata Papa sambil mendorong tubuh Zilya. Gadis itu menangis sesegukan. Ia merasa diperlakukan seperti b***k yang sangat nista. Semua yang ia lakukan tak pernah berharga di mata kedua orang tuanya.   Ketika ia mendapat peringkat satu, Mama, dan Papanya bersikap biasa saja.   Lain, jika Vanya mendapatkan peringkat sepuluh besar. Semua yang Vanya inginkan, selalu dikabulkan.   Zilya benar-benar tak tahan dengan hidup ini.   Gadis itu meringkuk di atas lantai keramik yang terasa dingin. Baru beberapa menit saja ia sudah merasa pusing. Karena, cuaca malam ini benar-benar sangat dingin. Menusuk hingga ke tulang. Zilya menangis di malam yang sunyi. Merasa usahanya sia-sia. Ia berpikir Mamanya akan bangga, dan akan memperlakukan dirinya dengan baik, seperti Mama memperlakukan Vanya.   "Mereka semua gak mau aku," lirihnya.   "Mereka semua gak butuh aku. Aku benar-benar pengacau. Anak gak berguna," lirihnya.   Zilya tak tahu, bagaimana ia bisa menghentikan tangisnya. Padahal, kepalanya sudah berat.   "Stop. Jangan bikin aku tambah gakmood," ucap Zilya ketika tangan Aliennya terus mengusap hidung.   Akhirnya, Zilya tertidur, di atas lantai. Tanpa bantal, tanpa selimut. Sangat persis seperti gelandangan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD