bagian 23

992 Words

"Sampai kapan saya harus disuntik, dan terapi seperti ini, Dok?" tanya Zilya pada Dokter Andi.   "Sampai kamu sembuh," jawabnya.   Zilya memutarkan bola matanya.   "Sembuh? Bukannya penyakitku gak bisa sembuh? Semua obat... Terapi... Gak ada gunanya." Zilya meninggikan nada bicaranya.   "Setidaknya semua bisa menetralkan. Penyakitmu bisa kambuh sewaktu-waktu. Apalagi jika hatimu merasa kacau, dan otakmu terasa penuh memikirkan beban," kata Dokter Andi. Zilya terdiam, dan menunduk.   "Saya tau... Semua pasti menyakitkan, tapi setidaknya keadaanmu akan baik-baik saja, jika kamu melakukan ini semua," ujar Dokter Andi lagi.   Mata Zilya berkaca-kaca. Merasa semua tak berguna, dan tak merubah apa-apa.   "Saya lelah." Zilya menunduk, bulir bening menetes di pelupuk netranya.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD