Sudah jam 12 malam, Zilya belum pulang juga. Zada sampai resah menunggu gadisnya, yang beberapa bulan ini ia acuhkan. Semarah-marahnya Zada, ia masih khawatir, walaupun tak dinampakkan. Entah kenapa, ketika ingin bersikap baik ke Zilya. Dirinya merasa gengsi. Padahal, dalam hati ia sangat rindu. Ingin memeluk, mencium, dan menenangkan Zilya. Tapi rasanya tak mudah untuk Zada. Hatinya masih marah, belum bisa menerima kejadian lalu. Gara-gara Zilya, Bundanya belum sadar hingga sekarang. ***** Di lain tempat. Gadis cantik sedang duduk, sambil menyesap minuman berakohol. Dia adalah Zilya. Sambil meracau tak jelas, karena sudah mabuk berat. "Zil, cukup. Kamu sudah terlalu banyak minum ini," kata David. Ia merasa menyesal, karena telah menuruti permintaan Zilya

