6. Benarkah?

1239 Words
Setelah bertemu dengan Rain, Kiara dibawa ke suatu tempat yang dia sendiri juga tidak bisa menebak ini dimana. Katanya Jerka sudah menunggu, jadi mau tidak mau Kiara ikut tanpa memperdulikan hal lainnya yang mungkin saja bisa mengancam nyawanya. Tempat yang didatangi oleh Kiara dan Rain mirip seperti basecamp, atau tempat ini memang dijadikan wilayah untuk mereka berkumpul? Kiara benar-benar bertemu dengan Jerka di dalam, setelah mengantarkan dan mempertemukan dua orang tersebut. Rain pamit dan meninggalkan mereka berdua. Kiara kurang nyaman karena Jerka tidak mengalihkan perhatian dari dirinya sama sekali. "Kenapa seniat itu lo mau ketemu sama gue? Bahkan gue dapat informasi dari Karen dan Gianna, kalau lo cariin gue di kampus dan berakhir ketemu sama Rain." "Gue mau tanya soal kejadian tadi malam, apa yang terjadi sebenarnya? Gue benar-benar gak sadar karena emang lemah banget sama yang namanya alkohol." Jerka mengulum senyum, sebelumnya dia memang sudah menduga tujuan Kiara datang kemari pasti untuk hal itu. Namun, bermain-main dengan orang adalah sebuah keahlian Jerka. Jadi kesempatan bagus seperti ini tidak akan dia sia-siakan. "Menurut lo, apa yang bakalan terjadi saat mabuk dan dua orang berduaan di kamar?" Perkataan Jerka hampir sama dengan kalimat yang diucapkan Karen tadi di kampus. "Gak mungkin lo melakukan hal itu, Jerka. Karena gue gak merasakan apapun." Jerka tertawa, niatnya tidak berhasil rupanya. "Kenapa lo bisa seyakin itu gak ada hal yang terjadi Naomi?" "Gue masih perawan, kalau lo melakukan tindakan itu otomatis gue bakalan merasa sakit karena belum pernah begituan sebelumnya." "Wow, sebuah fakta yang menarik. Semalam emang gak ada hal yang terjadi, karena teman lo duluan datang buat jemput. Kalau enggak, bisa jadi malam tadi merupakan malam yang enggak akan bisa lupakan. Entah itu sebagai malam yang indah, atau malam yang bakalan lo kenang sepanjang masa karena trauma." Mendengarkan penjelasan Jerka barusan, Kiara teringat satu hal yang seharusnya dia tanya sedari tadi. "Saat tadi malam gue mabuk, apa lo yang telepon Reza buat jemput gue?" "Emang itu Reza? Gue gak sempat lihat namanya langsung milih random aja. Terus gue tinggalin lo di kamar dan pergi." Terdengar tidak masuk akal, Kiara menelisik wajah Jerka untuk mencari kebohongan di sana. Sayangnya Kiara tidak bisa menemukan apa-apa, entah dirinya yang bodoh atau memang Jerka pandai berbohong? "Lo gak percaya sama gue? Bisa kita cek CCTV di sana, semalam gak ada hal yang terjadi sama lo. Karena di mata gue lo beda dari cewek-cewek lain, gue gak berani asal main sama lo. Sebelum tau latar belakang lo, gue gak semurahan dan senafsu itu kok jadi cowok." Kiara menghela napas lega, semoga saja apa yang Jerka katakan memang benar. Meskipun sebenarnya Kiara sudah sangat perlu untuk berhati-hati, dia sudah sangat ceroboh sekali. Jangan sampai kesalahan yang sama terulang untuk kedua kalinya. Jika hal tersebut sampai terjadi, bisa dipastikan misi kali ini akan gagal dan Mike akan marah kepadanya. "Makasih buat jawabannya, gue pamit pulang dulu kalau gitu." "Buru-buru banget, jalan dulu sama gue sambil cari makan sore. Gue suka nyemil kalau sore kayak gini." "Ya udah pergi aja sendiri, gue sibuk." Jerka menahan tangan Kiara dengan sorot mata memelas. "Teman-teman gue yang lain lagi pada sibuk, cuma lo doang teman gue yang gak sibuk. Sebentar doang, Nao." Kiara menimbang-nimbang, sepertinya tidak salah jika dia memutuskan menemani Jerka. Siapa tau saat sedang pergi bersama, dia menemukan sebuah fakta yang lain. *** Berkeliling di alun-alun kota dan mampir di pedagang kaki lima yang menjual aneka macam cemilan, ternyata memberikan efek yang luar biasa kepada Jerka. Hal sederhana ternyata bisa membuat cowok itu terlihat amat bahagia dan tidak menghilangkan senyumannya sama sekali. "Gue kira anak orang kaya kayak lo gak level jajan di tempat beginian, biasa orang kaya suka sakit perut kalau makan makanan pinggir jalan yang murah." Jerka melahap makanan yang dia beli dengan rakus, dia kemudian meneguk es doger yang ada di tangannya. "Untung gue bukan bagian dari orang kaya yang banyak gaya, makanan di mana aja asal enak gue pasti beli." "Lo sering jajan di sini?" tanya Kiara penasaran. "Lumayan sering, buktinya tadi lo bisa lihat sendiri kalau bapak dan ibu-ibu yang jualan di sini kayak kenal sama gue 'kan?" "Iya juga sih, mereka juga kelihatan senang pas lo datang." Jerka melirik tangan Kiara yang masih memegang batagor yang dia beli beberapa menit yang lalu. "Kok batagornya gak dimakan? Gue jamin seratus persen rasanya enak pakek banget, apa jangan-jangan malah lo orang yang gak level makan di tempat beginian?" Kiara menggeleng dan langsung memakan batagornya, sedari tadi bukan dia tidak nafsu makan. Hanya saja Kiara terlalu terpesona dengan Jerka dan melupakan makanannya sendiri. "Lo lihat anak-anak di sana?" Kiara melirik anak-anak kecil yang sedang mengamen di jalanan. Ada sekitar lima orang anak, tiga laki-laki dan dua perempuan. "Gue suka jajan di sini karena mereka, gue suka pas mereka sambut kedatangan gue dan menatap gue sebagai orang baik. Rasanya menyenangkan kala dilihat dan dianggap baik sama orang, padahal nyatanya gak gitu." "Lo merasa diri lo jahat?" "Bukan merasa sih, gue cuma menganggap itu dari tatapan mata orang-orang yang melihat gue. Mereka cuma tau gue anak kaya yang banyak gaya, gue bisa berani sama siapapun karena punya backingan keluarga kaya. Padahal nyatanya gak gitu, malah mereka yang membentuk karakter gue seperti itu." Jerka terdiam sebentar dan melanjutkan kalimatnya. "Cuma di sini gue merasa berbeda, Nao. Cuma di sini gue dianggap kayak manusia pada umumnya, pandangan dan cara mereka menatap gue dengan hangat. Bikin gue merasa, bahwa ternyata gue gak seburuk itu. Bahwa gue juga bisa baik dan berguna buat orang lain." Kiara tertegun, tidak menyangka bahwa Jerka akan berbicara panjang lebar seperti ini. Dia kira Jerka memang sangat pendiam dan dingin seperti gosip-gosip yang beredar. Ternyata seorang Jerka tidak seburuk dugaan awalnya. Anak-anak yang semula masih mengamen, berlarian mendekati posisi Jerka dan Kiara. Mereka terlihat senang kala Jerka meminta kelima anak itu untuk membeli makanan yang mereka mau. Semua tindakan dan perlakuan baik Jerka tidak terlepas dari pandangan mata Kiara. "Mereka kelihatan udah akrab banget sama lo dan enggak segan sama sekali." "Cara mereka natap gue, beda banget sama cara anak-anak di kampus natap gue 'kan?" Kiara mengangguk, dia saja merasa seolah melihat Jerka dengan versi lain. "Udah sore, Nao. Gue anter lo pulang ya, takut juga nanti dicariin sama nyokap. Gue gak mau bikin mama lo khawatir karena anak perempuannya telat pulang." Kiara menyetujui, selama perjalanan pulang mereka berdua bercerita banyak hal dan perlahan menjadi tidak canggung lagi. Kiara meminta agar Jerka berhenti di depan sebuah rumah yang dia sendiri tidak tau milik siapa. Karena tidak mungkin jika Jerka mengantarkan dirinya sampai ke depan markas. Itu sama saja dengan menyerahkan diri dengan sukarela kepada harimau yang siap memangsa dirinya. "Gue masuk dulu deh, buat kasih tau orang tua lo. Gak enak juga bawa pulang anak orang hampir magrib tanpa izin tadi." Kiara mengakui bahwa Jerka tipikal cowok yang berani, tapi untuk saat ini sebaiknya Jerka tidak perlu melakukan hal itu. "Gak usah, mama sama papa gue gak ada di rumah." Jerka menatap ke dalam pagar yang menjulang tinggi, rumah di dalam sana sangat sedikit terlihat. Jadi Jerka tidak tau kondisi di dalam sana. "Oh gitu, titip salam deh kalau nanti mereka pulang." "Oke, lo hati-hati ya." "Makasih buat hari ini, Nao." Kiara melambaikan tangannya, saat mobil Jerka menghilang dari pandangannya. Dia langsung berlari menuju markas yang berada tidak terlalu jauh dari rumah tersebut. Padahal tanpa sepengetahuannya, Jerka sudah memutar balik dan memantau pergerakan Kiara. Senyumnya terbit, ternyata gadis itu berbohong kepadanya. Berani sekali rupanya bermain-main dengan sosok Jerka Leonardo Pradipta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD