Jam setengah satu siang saat matahari sedang panas-panasnya, Kiara sudah siap dengan setelan ke kampusnya. Namun sebelum berangkat, dia memutuskan untuk mencari Mike dan menunggu lelaki itu di depan ruangan rapat.
Setelah beberapa menit menunggu, sosok yang diharapkan hadir. Kiara juga membungkuk sambil tersenyum tipis ke arah Jaegar selaku ketua umum dan panglima yang memimpin semua unit di Bentara.
Kiara dan Mike duduk di kursi taman, cowok yang dua tahun lebih tua dibandingkan Kiara itu jelas penasaran tentang apa yang ingin Kiara bahas sekarang.
"Bang, apa gue boleh tau alasan kita selidiki universitas Pradipta? Maksud gue, kenapa lo bisa menyimpulkan bahwa di sana memang terdapat banyak pengedar dan pemakai n*****a?" tanya Kiara, karena dia sendiri sebelumnya sangat cuek dengan kasus ini sebelum Mike memutuskan mengirimkan dirinya untuk menyelidiki ke sana.
"Universitas Pradipta bukan cuma sembunyiin pengedar dan pemakai n*****a. Tapi di sana mereka juga sering menjadikan manusia sebagai uji coba obat-obatan baru dan gak sedikit dari korbannya meninggal. Di sana tersembunyi banyak orang jahat, Ki. Jadi gue harap lo harus hati-hati, apalagi dengan kelima anak yang memiliki pengaruh besar di sana."
Kiara mengerutkan dahinya seolah tau siapa yang baru saja Mike maksud. "Bang, lo kenal kelima anak yang memiliki pengaruh besar di kampus?"
Mike mengangguk, jelas dia tau semuanya. "Hati-hati sama mereka, terutama Rain dan Jerka. Mereka paling punya pengaruh besar dan kelihatan kuat banget."
"Bang, gue kayaknya benar-benar harus mundur dari penyelidikan ini." Sebelum Mike memprotes, Kiara menceritakan semuanya dari awal sampai akhir tentang kejadian yang terjadi malam tadi.
"Ki, lo benar-benar gila ya? Sejak kapan lo teledor dan gak profesional gini? Bukannya dari awal gue udah suruh lo samaHugo buat nyamar sebaik mungkin? Kenapa bisa sampe lupa ganti nama kontak dia di HP lo!"
Kiara sudah menduga bahwa Mike akan sangat murka, lagian memang dia yang salah karena terlalu menganggap sepele kasus ini. Dari awal Kiara diutuskan, dia dengan percaya dirinya mengira bisa menuntaskan kasus ini dalam waktu singkat. Kiara mengira menyelidiki anak-anak kampus jauh lebih mudah, dibandingkan para karyawan yang bekerja di kantoran.
Namun, semua dugaan itu dipatahkan kala Kiara harus bertemu dengan lima orang yang ternyata sangat berbahaya. Bahkan mereka menunjukkan ciri-ciri seolah sudah tau bahwa Kiara menyamar dan mereka memutuskan melanjutkannya, karena menyukai permainan ini.
"Maaf, Bang. Gue benar-benar lupa, makanya gue harap bisa mundur dari penyelidikan ini. Sebelum cuma rasa kecewa yang bisa kalian dapatkan karena gue bakalan gagal."
Mike memegang bahu Kiara dan sedikit meremasnya. "Ki, dari awal gue juga sadar kalau lo cuma terpaksa menerima pekerjaan ini. Tapi lo udah masuk ke dalam sana dan berarti gak bisa keluar. Ingat! Gak akan ada posisi enak setelah lo milih gabung bersama Bentara. Apapun resikonya lo harus tetap lanjutin misi ini, meskipun pada akhirnya lo akan mati di sana."
Mike menepuk bahu Kiara dua kali dan melangkah pergi. Kiara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.Berani gabung bersama Bentara, berarti Kiara juga sudah siap untuk mati. Jadi, dia memang harus menyelesaikan misi ini sampai tuntas. Karena di Bentara, tidak akan pernah ada peran pengganti.
****
Kiara berada di dalam ruang kelas dan merasa sama sekali tidak fokus dengan materi yang diajarkan. Lagian dia juga bukan mahasiswa asli yang wajib mendengarkan pelajaran, demi mendapatkan nilai yang memuaskan.
Kiara hanya sedang memainkan perannya di sini, jadi dia rasa tidak perlu berlebihan untuk melakukan sesuatu. Kiara hanya perlu menjadi biasa saja dan bersikap normal agar tidak mencolok.
Matanya menatap Karen dan Gianna secara bergantian, sejak pertama datang tidak ada keanehan yang ditunjukkan oleh kedua gadis ini. Apa memang benar tidak ada hal yang terjadi malam itu? Selain hanya ketakutan Kiara seperti tempo hari?
Satu buah penghapus papan tulis mendarat dengan sempurna di mejanya. "Kiara, kenapa kamu melamun di kelas saya?"
Kiara meneguk ludahnya kala bertatapan dengan dosen paruh baya itu. "Maaf, Pak. Saya hanya sedikit pusing dan tidak bermaksud untuk melamun."
Pria bernama David itu berusaha memaklumi. "Ya sudah, tolong fokus dan dengarkan materi saya."
Karen menyikut lengan Kiara. "Ternyata lo emang lemah sama alkohol ya." Senyum meledek itu terlihat di wajahnya.
"Tadi malam gimana main sama Jerka, enak gak?" Gianna ikut bertanya dan kedua gadis itu tersenyum lebar menunggu jawaban.
"Main?" Kiara bingung. "Maksud lo berdua sebenarnya apa?"
"Pura-pura polos, main yang kita berdua maksud itu lo sama Jerka tidur bareng. Gimana, Jerka jago gak?"
Kiara hampir saja melotot mendengarkan itu semua, namun seingatnya Jerka sama sekali tidak melakukan hal menggelikan itu. Baru ingin menjawab, namun Kiara mengurungkan niatnya karena dosen tadi kembali menatap ke arahnya. Selain itu, dia juga membiarkan saja Gianna dan Karen menganggap semua dugaan mereka benar.
Seru juga bermain-main dengan dua gadis ini.
****
Selesai perkuliahan Kiara langsung keluar dari kelas dengan langkah terburu-buru. Karen dan Gianna juga tidak mau kalah, mereka masih membutuhkan jawaban kebenaran dari prediksi tentang tadi malam.
Karen menarik tangan Kiara. "Mau kemana sih, buru-buru banget?"
"Gue mau ketemu sama Jerka, lo berdua lihat dia gak?"
"Oh, mau mastiin tentang kejadian tadi malam? Soalnya kayaknya lo benar-benar lupa karena kebanyakan minum alkohol."
"Iya, gue mau tanya soal itu. Jadi, dimana dia sekarang?"
"Jerka cuma ada mata kuliah sampai jam satu siang aja tadi, selebihnya gue gak tau dia dimana. Harusnya lo tau dong, biasanya kalau Jerka udah tidur sama cewek. Dia bakalan menganggap cewek itu spesial, bisa jadi sebentar lagi lo bakalan jadi pacar dia."
"Dia sering tidur sama cewek?" tanya Kiara. Lumayan dia bisa mendapatkan sedikit informasi pribadi tentang Jerka.
"Setiap ada party, pasti bakalan ada cewek yang dibawa ke kamar. Apalagi yang bisa dilakuin saat satu orang cewek dan satu orang cowok berada di kamar? Gue rasa lo udah cukup dewasa buat paham apa maksud gue."
Ternyata Jerka sangat berengsek.
"Kalau Jerka ajakin lo pacaran terima aja, karena kalau lo tolak bakalan bahaya," ucap Karen.
Pacaran dengan Jerka? Kiara sama sekali tidak pernah memasukkan itu ke dalam struktur rencananya.
"Pacaran sama Jerka gak bakalan lama, paling cuma satu bulan. Saran gue lo jangan kebawa perasaan, jatuhnya malah sakit pas dibuang sama dia."
"Kenapa kalian kasih tau gue soal ini? Bukannya Jerka teman kalian, gak seharusnya kalian bongkar rahasia teman sendiri."
Karen merangkul bahu Kiara. "Nao, sejak pertama gue ajak lo berteman itu artinya gue emang tulus. Meskipun kita ini terlahir dari keluarga kaya, cuma kita gak sejahat itu kok. Gue kasih tau supaya lo gak bakalan disakiti sama Jerka."
Kiara semakin bingung. Seolah dirinya memang sedang berada di panggung sebuah drama sekarang. Entah Karen dan Gianna memang betulan tulus, atau mereka sedang berusaha keras memainkan perannya agar Kiara tak curiga?
"Gue sama Gianna duluan." Karen meninggalkan Kiara sendirian.
Kiara memutuskan mencari-cari keberadaan Jerka, siapa tau cowok itu memang masih berkeliaran di lingkungan kampus.Namun sudah mencari kemana saja, tetap tidak menemukan keberadaan cowok tinggi dan tampan itu.
Kiara menyerah, mungkin dia harus bertemu Jerka besok saja. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di tiang pilar depan gedung fakultasnya.
Suara langkah kaki terdengar kian mendekat dan sebuah suara yang Kiara kenal berbicara dalam jarak dekat dengannya."Cariin gue ya?"
Kiara langsung berbalik badan dan berhadapan dengan lelaki itu. "Rain, Jerka dimana?"