Chapter 4: Party

1100 Words
Hugo dan Kiara sampai di sebuah apartemen yang menjadikan tempat Jerka melaksanakan party malam ini. Keduanya masih sangat bingung kenapa juga Jerka mengadakan party sedangkan besok bukanlah hari libur kuliah. Namun Reza sudah berusaha mencari informasi kepada teman-temannya di kampus itu, mereka mengatakan bahwa Jerka sudah sering mengadakan pesta secara tiba-tiba seperti sekarang. Setelah memantau banyaknya tamu yang datang ke tempat ini, akhirnya Hugo dan Kiara turun dari mobil dan ikut masuk ke dalam. Suasana ruangan yang dijadikan tempat party hampir menyerupai suasana klub malam, karena ada tambahan lampu lalu musik DJ dan minuman beralkohol. Kiara menutup hidungnya dengan tangan kala asap rokok hampir memenuhi isi ruangan ini. Dia berpisah dengan Reza akibat terlalu ramai orang, Kiara terus menaikkan tudung hoodie sampai seseorang menarik tangannya dan membawanya masuk lebih dalam ke ruangan ini. "Chris, kita mau ke mana?" Chris tak menjawab apa-apa, selain menunjukkan senyum tipis dan membawa langkah Kiara semakin masuk ke dalam.Keduanya duduk di salah satu sofa, juga dengan kehadiran empat orang lainnya. "Gue gak nyangka lo datang," ucap Jerka. Lalu bangkit dari kursi awalnya dan memilih duduk di sebelah Kiara. "Lo samaReza ada hubungan apa? Kenapa semua orang yang gue kenal seolah dekat sama lo. Sebenarnya apa yang lo sembunyiin?" Kiara meneguk ludahnya sesaat, kemudian kembali mengontrol ekspresi agar tidak ada yang menaruh curiga kepadanya saat ini. "Teman, lo tau sendiri kalau gue sama Reza itu mahasiswa pertukaran dari kampus yang sama? Di kampus itu cuma gue dan dia yang datang dari universitas sama, apa salah kalau gue temenan sama dia?" Kiara merasa sedikit lega karena berhasil membuat Jerka terdiam. Namun seorang Jerka bukanlah sesuatu yang simpel, cowok itu sama sekali belum merasa puas dengan jawaban Kiara barusan. Tangan Jerka meraih satu gelas minuman alkohol dan menyodorkan minuman tersebut kepada Kiara. "Sorry, Jer. Tapi gue gak mengkonsumsi alkohol karena bakalan pusing, parahnya bisa sampe muntah-muntah." "Mau minum sendiri apa gue paksa?" tantang Jerka dengan menaikkan sebelah alisnya. "Minum aja kali, Nao. Anggap aja ini pesta penyambutan lo di pertemanan kami," ucap Karen yang ikut membantu menyodorkan minuman lainnya. "Gue gak terbiasa minum, gue bisa teriak kalau kalian paksa buat minum." Rain dan Chris saling tatap, keduanya sontak tertawa. Rain membuang puntung rokoknya, lalu menatap Kiara dengan tatapan mengejek. "Gak ada yang berani masuk ruangan ini tanpa seizin Jerka." Kiara menggeleng ketika Karen dan Gianna memegang kedua tangannya dan memaksakan dirinya untuk meminum minuman beralkohol tersebut. Sekuat tenaga Kiara menggeleng, dia tetap akan kalah jumlah dengan kelima orang yang menyerangnya saat ini. Kiara merasakan tenggorokannya tercekat, rasa minuman alkohol memang tidak pernah enak. Dan dia bingung kenapa orang-orang sangat menyukai minuman aneh tersebut. "Gak seburuk itu 'kan?" tanya Jerka begitu santai, seolah dia buta dengan ekspresi tidak suka Kiara sekarang. "Dengan ini lo resmi diterima dipertemanan kita." Chris meminta teman-temannya untuk bertos bersama, lalu meminum lagi minuman tersebut. Jerka merangkul bahu Kiara, dia terus memaksa gadis ini minum dengan senyum misterius di wajahnya. Kiara terus berdoa semoga saja dia tidak mati malam ini karena kebanyakan mengkonsumsi alkohol. Kiara juga berharap Hugo akan segera menemuinya di sini, meskipun semuanya terasa begitu mustahil. Kiara masih bisa mendengar suara kelima orang itu bercanda dan tertawa lepas. Dia kesusahan membukakan matanya kala ponselnya berdering, Kiara terlalu pusing dan matanya terasa begitu berat. Dapat dirasakan sebuah tangan masuk ke dalam saku hoodie-nya dan mengambil ponselnya dari dalam sana. Jerka membaca pesan yang dikirimkan oleh kontak bernama Hugo dan tersenyum puas. Ini adalah yang dia cari selama beberapa hari ini, kebenaran tentang Kiara. "Kiara udah mabuk, gue bawa ke kamar dulu." "Yakin lo mau main sama dia?" tanya Chris dengan kalimat sedikit ambigu. Jerka menyeringai. "Kasihan juga udah mabuk gak dimainin." Teman-temannya hanya menyoraki Jerka dengan kalimat godaan, cowok itu sama sekali tidak menggubris dan langsung menggendong tubuh Kiara yang sudah di luar kontrol lalu masuk ke dalam kamar apartemennya. *** Kiara bangun dengan kepala yang terasa begitu sakit, dia melihat ke sekeliling dan bernapas lega karena berada di kamarnya. Meskipun tidak ingat seratus persen apa yang terjadi tadi malam, namun Kiara sadar saat Jerka menggendong dan membawanya ke kamar cowok itu. Kiara mengecek bagian tubuhnya karena takut terjadi apa-apa, untungnya semuanya aman. Tidak ada hal buruk yang terjadi saat dirinya mabuk tadi malam. Matanya menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi, untung saja hari ini dia hanya punya jadwal kelas pada jam setengah dua siang. Kiara memutuskan untuk mandi dan mencari makan karena perutnya yang terasa keroncongan. Saat berjalan kembali dari minimarket, dia melihat Hugo yang baru saja pulang dari kampus. Dengan langkah cepat Kiara berjalan menghampiri cowok itu. "Go, gue mau tanya tentang tadi malam." "Oi, akhirnya lo bangun juga. Gue kira udah mati, karena sebelum ke kampus gue udah usaha bangunin tapi gak ada jawaban." "Gak usah dibahas itu dulu, semalam gue pulang sama lo 'kan?" "Iya sama gue, mau sama siapa lagi emangnya? Kalau pulang sama orang lain, lo gak mungkin ada di kamar dan bisa tidur nyenyak sampe bangun siang kayak sekarang." Benar juga, kawasan Bentara benar-benar tertutup. Semua orang yang datang ke sini harus memiliki surat izin terlebih dahulu, jika mereka bukan bagian dari sini. "Kok lo bisa tau gue dimana? Gue aja pusing banget sampek gak ingat apa yang terjadi." "Oh, semalam setelah gue kirim chat ajak pulang. Lo balas dan bilang lagi pusing karena habis minum banyak, terus gue cari-cari keberadaan lo dan ketemu sama Jerka. Dia tau gue teman lo karena lo cerita sama dia, terus dia bilang kalau lo ada di kamar dan dia pergi gitu aja." "Jerka kasih tau lo?" tanya Kiara lagi memastikan. "Iya, untung aja lo gak kenapa-kenapa. Lagian tadi malam di sana juga gak ada yang aneh, gak ada yang bawa narkoba." Kiara terdiam seolah sedang mengumpulkan cuplikan-cuplikan kejadian tadi malam yang dia lupakan. Hugo menepuk bahunya dan kembali berbicara. "Gue masuk dulu ya, mau tidur karena masih ngantuk banget. Lo kalau ke kampus nanti, bawa aja mobil gue gak usah naik taksi." "Oke, istirahat yang cukup dan makasih karena udah bawa pulang gue dengan selamat tadi malam." "Yoi, kayak sama siapa aja lo pakek makasih segala. Gue pergi dulu, lo jangan lupa makan sebelum pingsan." Kiara bersandar di mobil Hugo sembari terus mengingat, beberapa menit kemudian dia tersadar akan satu hal. Kiara mengambil ponselnya dan mengecek sesuatu di sana. Dia menggigit bibirnya, ketika sadar tentang kesalahannya. Kiara menyimpan kontak Hugo dengan nama asli cowok itu, bukan dengan nama Reza nama samarannya. Kiara juga ingat dia tidak pernah mengetik balasan akan keberadaannya ketika Hugo menanyakan tadi malam. Jadi kesimpulannya hanya satu, Jerka yang membalas pesan Hugo? Lalu cowok itu tau, bahwa Kiara dan Hugo dua orang yang sedang menyamar?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD