Chapter 3: Hampir Saja

1123 Words
Kiara menarik tangan lelaki yang bernama Jayden itu untuk keluar dari kantin. Jika dia membiarkan Jayden berada dalam waktu lama di sana, bisa-bisa penyamarannya akan langsung terbongkar. Kiara melepaskan tangan Jayden setelah mereka berdua berada di jarak yang cukup jauh dari area kantin. Cowok itu malah tersenyum dan hampir memeluk Kiara, jika saja gadis ini tidak langsung memundurkan langkahnya ke belakang. "Ki, ini beneran kamu? Aku senang banget bisa lihat kamu lagi setelah dua tahun kita gak ketemu. Kamu apa kabar, baik-baik aja 'kan?" tanya Jayden bertubi-tubi karena memang tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya sekarang. "Jay, gak usah sok baik. Kamu lupa sama semua kesalahan yang kamu lakuin sebelum kita putus? Harusnya kamu gak perlu samperin aku dan bersikap sok akrab kayak gini, memuakkan tau gak!" ucap Kiara tanpa berniat menatap Jayden. "Kamu bersikap seolah gak pernah melakukan kesalahan apapun." Jayden adalah lelaki yang pernah menjadi pacar Kiara dari kelas satu sampai kelas tiga SMA. Hubungan mereka kandas setelah Jayden ketahuan berselingkuh dengan teman Kiara sendiri. Saat mengetahui semuanya, Kiara tidak tinggal diam dan memutuskan hubungan mereka di hari itu juga. "Aku cuma kangen sama kamu, Ki? Apa itu salah?" Kiara menutupi telinganya dan mundur beberapa langkah. "Stop, gak usah ngomong kayak gitu lagi dan tolong bersikap seolah-olah kamu gak kenal sama aku." "Ki." Jayden menarik tangan Kiara. "Sejak kapan kamu kuliah di sini, kok aku gak pernah ketemu sama kamu?" Kiara harus membungkam Jayden, jika cowok ini terus menemuinya dan memanggil dengan nama aslinya maka semuanya akan kacau. Jadi dengan berat hati Kiara menceritakan semuanya kepada Jayden, untungnya cowok yang memang dasarnya pintar ini sangat mudah mengerti maksud Kiara barusan. "Jadi kamu benar-benar jadi agen? Aku kira kamu cuma bercanda mau gantiin posisinya Kak Lia." "Tolong panggil aku dengan sebutan Naomi mulai hari ini, aku gak mau rencana aku gagal." Jayden tersenyum tipis kemudian berkata. "Boleh, tapi kamu jangan nolak kehadiran aku kayak gini. Aku cuma mau kita jadi teman aja, kamu gak keberatan 'kan?" Sia-sia saja beberapa tahun lalu Kiara menghilang dengan harapan tak pernah lagi bertemu dengan Jayden, kalau pada akhirnya dengan konyol semesta mempertemukan mereka dalam keadaan seperti sekarang. Kiara menatap Jayden dan menganggukkan kepalanya, cowok itu tersenyum begitu bahagia. "Aku bisa bantu kamu buat selidiki semua ini." Kiara menolak, dia tidak perlu melibatkan orang luar. Karena di sini dia bersama Hugo akan mengungkapkan semua rahasia yang tersembunyi. "Gak perlu, ini bahaya dan aku gak mau kamu sampai terlibat." "Ki, kamu tau ini bahaya. Kenapa malah kamu lakuin?" "Jay, ini pekerjaan aku dan tolong hargai." "Kelima orang itu berbahaya, Ki. Kamu kenapa malah dekat-dekat sama mereka?" Jayden terlihat khawatir. "Jay, aku tau dan aku bisa handle semuanya. Sekarang kamu pergi, aku mau balik ke kantin. Tolong jangan menciptakan hal-hal yang membuat orang lain curiga sama aku, itu juga kalau kamu masih anggap aku sebagai teman." Jayden mengikuti kemauan Kiara dan segera pergi. Kiara memutuskan kembali ke kantin sebelum mereka semakin curiga. Tetapi belum juga sampai ke kantin, Jerka muncul dari persimpangan koridor dan menghentikan langkahnya. "Jayden siapa lo?" "Lo kenal Jayden?" "Teman sekelas gue." Sepertinya dunia memang sedang bercanda dengan Kiara sekarang. Apa misinya kali ini akan gagal dan Kiara akan mengecewakan Mike? "Mantan gue pas SMA." Mungkin itu adalah jawaban paling tepat agar Jerka tidak semakin menaruh curiga kepada kedekatannya dengan Jayden. "Terus kenapa dia manggil lo Kiara?" Kiara menggigit bibirnya sendiri, dia segera memutar otak untuk menemukan jawaban yang tepat. "Itu nama masa kecil gue, dan gue sama Jayden udah kenal dari kecil." "Oh, ternyata hanya sebatas alasan klasik. Ya udah ayo kita balik ke kantin." Jerka tersenyum mencurigakan dan merangkul Kiara begitu santai. Kiara hanya bisa diam dengan segala pertanyaan yang bersarang di kepalanya. Jerka tidak mendengarkan pembicaraannya dengan Jayden bukan? *** Seluruh agen Bentara memang tinggal di sebuah gedung yang menyerupai asrama. Kiara keluar dari kamar dengan hoodie abu-abu dan menaikkan tudung untuk menutupi rambutnya. Langkah kakinya mendekat ke arah Mike yang sedang merokok di depan aula. Kiara duduk di sebelah Mike, cowok itu langsung membuang rokok karena tau Kiara sangat membenci asap rokok. "Bang, ada yang mau gue laporkan mengenai misi gue di kampus itu sama Hugo." "Ki, baru dua hari. Gak seharusnya langsung buat laporan buru-buru kayak gini, gue percaya sama lo dan Hugo." "Semuanya gak sesimpel itu, di sana gue ketemu sama Jayden mantan pacar gue." Mike menatap Kiara, meskipun dia juga tidak mengenal sosok Jayden karena belum pernah bertemu secara langsung. Namun dia sering mendengarkan cerita Kiara tentang masa lalunya, termasuk beberapa kali pernah membahas perihal Jayden. "Gue nyerah dari misi ini, sebelum semuanya terlambat dan berakhir gagal. Gue takut Jayden bakalan keceplosan manggil nama gue, tadi aja dia udah gak sengaja. Untung gue punya alasan yang buat mereka paham, meskipun gue sendiri gak yakin mereka percaya." "Apa yang membuat lo gak yakin kalau mereka percaya?" tanya Mike. "Kelima anak itu pintar-pintar, Bang. Gue bisa tau kalau mereka gak bisa dibodohi dan firasat gue mengatakan bahwa mereka udah tau kalau gue sedang menyamar di sana." Mike tersenyum tenang, sama sekali tidak terusik dengan rangkaian cerita Kiara barusan. "Lo cuma terlalu takut, Ki. Makanya muncul argumen-argumen konyol yang kejelasannya belum tentu benar. Dari mana lo bisa menyimpulkan bahwa mereka tau tentang penyamaran ini?" "Jerka kayaknya yang paling tau, dia selalu menunjukkan gerak-gerik ini seolah mengatakan siap ikut masuk dalam permainan ini." "Lo itu orang baru wajar kalau dia sedikit menaruh curiga, yang perlu lo lakukan sekarang hanya meyakinkan mereka bahwa lo hanya mahasiswa biasa di kampus itu." Kiara menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. Percuma saja bercerita kepada Mike, karena dalam kamus cowok ini tidak pernah ada kata mundur kalau sudah masuk ke dalam babak pertempuran. "Soal mantan lo, gue rasa semuanya udah clear. Kalau dia keceplosan sebut nama lo lagi, mereka juga bakalan paham karena udah dijelasin." Kiara mengangguk lemah, benar juga apa yang Mike katakan. Mungkin memang dirinya yang terlalu takut dan was-was. Kedua orang itu sedikit terusik kala mendengarkan teriakan Hugo dari jauh. Cowok dengan kaus oblong dan celana selutut itu menghampiri mereka berdua dengan napas ngos-ngosan. "Kenapa lo lari-larian gak jelas kayak gini?" Hugo tidak langsung menjawab pertanyaan Kiara karena sedang mengatur pernapasannya. "Jerka bikin acara party di rumahnya jam sepuluh malam ini, kita harus ke sana karena pasti bakalan ada banyak hal yang membantu misi kita." "Go, gue sama sekali gak diundang. Gimana gue bisa datang?" "Gue diundang, seluruh anak fakultas teknik disuruh datang. Lo bisa pergi bareng gue dan beralasan sebagai teman gue." "Bukannya itu malah semakin mencurigakan?" "Itu urusan nanti, yang jelas kita harus ke sana karena gak mungkin gue bisa awasi semuanya sendirian." "Iya udah, gue ikut sama lo." Sebelum benar-benar pergi, Mike menahan tangan Kiara dan Hugo dan memberikan nasehat. "Jangan terlalu fokus sama Jerka, karena dia belum tentu peran utama dalam misi ini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD