Hari ini Kiara sudah memutuskan untuk mendekati Gianna dan Karen, dia menyesal karena sudah menolak ajakan pertemanan kedua cewek itu. Setelah mencerna dan membicarakan ini dengan Mike, Kiara setuju bahwa mereka sangat memberikan pengaruh besar untuk pengintaian Kiara.
Baru memasuki kelas, Kiara langsung melemparkan senyuman kepada kedua gadis yang saat ini menatap ke arahnya bingung. Sebenarnya Kiara memiliki gengsi yang sangat tinggi, namun demi kesuksesan rencananya dia terpaksa membuang semua egonya.
Dia duduk di hadapan Karen dan Gianna, kemudian mengulurkan tangannya. "Soal yang kemarin gue minta maaf, gue udah terlalu kasar."
Karen tersenyum licik. "Gue bilang juga apa, Gi. Gue yakin banget kalau dia bakalan minta maaf karena emang udah terlalu arogan sama kita kemarin."
"Jadi dimaafin gak gue?"
Karen menepis uluran tangan Kiara. "Permintaan kita kemarin udah basi, Nao. Gue sama Gianna gak mau jadi teman lo lagi."
Kiara meraih tangan Karena dan mengenggamnya. "Maaf banget, apa gak bisa dimaafin kesalahan gue kemarin?" Kiara menatap Karen lekat-lekat, jika dia gagal masuk ke dalam lingkaran pertemanan mereka. Maka Kiara akan sangat bingung harus memulai dari mana penyelidikan di kampus ini.
"Gimana, Gi?" tanya Karen.
Gianna membisikkan sesuatu yang tidak bisa Kiara dengar, setelah beberapa detik keduanya tersenyum puas. "Gue bisa kabulin permintaan lo, tapi ada syaratnya."
Ingin sekali Kiara berkata kasar, namun dia berusaha keras menahannya. "Apa syaratnya?"
"Jadi pembantu kita selama dua minggu, gimana?"
Kiara menghela napas pasrah, dia sudah menduga bahwa permintaan mereka tidak pernah jauh dari hal itu. Dengan berat hati Kiara mengiyakan dan mendengar kedua sahabat itu tertawa puas.
***
Seperti permintaan mereka bahwa Kiara harus menjadi pembantu, maka saat ini saat mereka berjalan ke kantin setelah mata kuliah usai. Kiara terpaksa membawa dua tas tambahan dengan kedua tangannya. Sedangkan Gianna dan Karen berjalan santai di depannya dan masuk ke dalam kantin.
Kiara tersenyum ramah kepada tiga orang cowok yang memfokuskan pandangannya ke arah dirinya sekarang.
"Guys, kenalin ini Naomi Indira. Mahasiswa pertukaran pelajar di kelas gue."
Ketiga cowok itu mengangguk paham karena awalnya merasa sangat asing dan belum pernah melihat gadis ini, terkecuali satu orang yang menopang dagu. "Lo cewek yang di depan kantin kemarin?"
Kiara menatap Jerka dan menganggukkan kepalanya. Menurut berita yang dia dengar Jerka adalah lelaki yang tertutup dan teramat pendiam, namun fakta tentang Jerka ternyata tidak seburuk itu. Jerka mengulurkan tangannya dan membalas senyuman Kiara. "Nama gue Jerka, salam kenal."
Kiara mulai membuat dirinya nyaman, ketiga cowok ini jauh lebih asik dan menyenangkan dibandingkan Karen dan Gianna.
Lalu, biarkan Kiara mendeskripsikan ketiga cowok yang baru saja dia temui. Jerka Leonardo Pradipta, memiliki kulit yang sangat halus dan pipi yang sedikit berisi. Cowok ini jelas sangat tampan juga manis, dia sering kali tertawa menampakkan deretan giginya yang tertata rapi.
Kedua ada Rain Javier, sama tampannya seperti Jerka. Jika dilihat sekilas, mungkin orang-orang akan menganggap mereka berdua seperti anak kembar. Perbedaannya ialah tubuh Rain yang lebih berotot dan cowok itu juga terlihat suka memamerkan bagian lengannya, dengan memakai baju yang ngepas di badan.
Ketiga Christian Jonathan, yang paling banyak berbicara dan sangat gampang berbaur dengan orang baru. Jika Jerka dikenal sangat kaya, maka Chris berada di atas Jerka. Kakeknya masuk ke dalam posisi 10 orang terkaya di negara ini. Dan fakta itu juga baru Kiara ketahui ketika para temannya menyebut cowok berkulit putih pucat seperti vampir ini, dengan sebutan 'sultan muda.'
"Jadi gimana rasanya berada di kampus ini, lo merasa nyaman atau pengen cepat-cepat balik ke kampus sendiri?" tanya Chris yang masih penasaran.
"Lumayan nyaman, lagian gue juga baru dua hari di sini. Sejauh ini juga baik-baik aja, cuma kalau kangen sama kampus lama pasti iya. Tapi dari awal niat gue daftar pertukaran mahasiswa adalah buat cari pengalaman." Kiara ingin memuji dirinya sendiri yang bisa memberikan alasan masuk akal dan handal mengarang cerita.
"Terus sekarang lo jadi pembantu kedua cewek ini, supaya bisa berteman sama mereka?" Pertanyaan yang terdengar sangat frontal itu keluar begitu saja dari bibir Jerka yang masih terlihat santai.
"Enggak kok, gue gak lagi diperlakukan seperti pembantu."
Jerka tersenyum miring mendengar jawaban Kiara barusan. "Nao, gue udah kenal dua cewek ini dari masih TK. Jadi gue udah sangat hafal sama tabiat mereka, kemarin juga Karen mencak-mencak gak jelas karena lo nolak ajakan dia buat berteman. Terus hari ini, kenapa mendadak pengen jadi teman mereka?"
Kiara meneguk ludah kala ketiga cowok itu menatapnya lekat-lekat. "Gue rasa gak ada salahnya buat temenan sama mereka, lagian gue belum punya teman lain di sini."
Jerka manggut-manggut dan tersenyum penuh arti, kemudian diam dan tak berkata apa-apa lagi. Ini semua terasa tidak nyaman bagi Kiara.
"Wajar sih, Nao. Gak akan ada yang mau ajakin lo berteman lagi, kalau dari hari pertama kedua cewek ini udah incar lo."
Perkataan Rain tadi bukannya membuat Kiara menemukan jawaban, malahan dia harus berpikir keras untuk mencerna semuanya. Kenapa akhir-akhir ini Kiara merasa dirinya semakin bodoh saja.
"Masih gak ngerti?" tanya Chris dan Kiara langsung mengangguk. "Gue dan keempat teman gue yang ini adalah anak-anak orang berpengaruh di kampus ini, kalau mereka lihat Karen dan Gianna ajakin lo berteman. Maka mahasiswa lain langsung menyimpulkan bahwa lo juga berasal dari kalangan yang sama seperti kami."
Chris menghentikan kata-katanya sejenak. "Cuma kalau alasan mereka berdua ajakin lo berteman, gue juga gak paham. Karena baru pertama kali Karen ataupun Gianna, ajakin orang baru buat masuk dalam lingkaran pertemanan ini."
Kiara akhirnya paham dengan penjelasan Chris, meskipun lagi-lagi masih ada sisa pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.
Karen tiba-tiba merangkul pundaknya. "Bukannya gue udah bilang kalau mau berteman sama lo, karena style dan gaya lo keren. Gue rasa lo sangat cocok buat gabung di sini."
Hanya itu, tidak mungkin cuma karena Kiara keren? Jelas saja alasan itu terdengar sangat tidak masuk akal.
"Jadi, kapan gue sama yang lainnya bisa main ke rumah lo?" tanya Gianna.
"Main, ke rumah gue? Mau ngapain emangnya?"
Rain tertawa karena pertanyaan polos Kiara. "Emang gak boleh kalau teman main ke rumah?"
Kiara merasa seolah dirinya yang sedang diselidiki sekarang. Apa jangan-jangan kelima orang ini tau, bahwa dirinya adalah seorang agen yang sedang menyamar? Karena semua hal yang mereka lakukan kepada Kiara terasa begitu aneh dan terkesan sangat tiba-tiba.
"Kok diam, gak boleh?" Giliran Jerka yang bertanya dengan senyuman jahil di wajah tampannya.
"Boleh kok, cuma gue rada gak percaya diri aja karena rumah gue gak bagus dan pastinya gue gak sekaya kalian."
"Oh, cuma karena itu. Gak perlu khawatir kali, karena mulai hari ini lo udah resmi jadi teman kita. Jadi gak usah takut bakalan dikucilkan, kita gak sejahat itu kok. Benar 'kan, kita gak sejahat itu?" Chris membutuhkan jawaban dukungan dari teman-temannya.
Kiara menghilangkan semua pikiran negatifnya, takutnya karena pikiran yang tidak masuk akal gerak-geriknya malah akan diketahui. Menurut pandangan Kiara, kelima orang ini bukanlah manusia-manusia bodoh yang bisa dengan mudah dia kibuli.
Seseorang yang sedari tadi memperhatikan Kiara dari jauh, langsung berjalan mendekat ke arah kerumunan. Dia sudah memastikan bahwa tidak salah melihat, gadis yang duduk dengan para mahasiswa populer itu adalah Kiara.
"Kiara," panggilnya.
Semua orang di sana saling melihat satu sama lain. Kiara membulatkan matanya kala menemukan seseorang yang sangat dia kenal berada di kampus ini.
Sesegera mungkin Kiara menarik tangan lelaki itu dan membawanya pergi dari sini, meninggalkan kelima orang yang menatapnya curiga.