“Aku mencintai kamu.” Setitik air mata jatuh di pipi Humairah. Hati menjadi tenang mendengar ucapan itu. Namun, rasanya itu hanya sekedar ucapan. Rasa takut melanda hatinya. Mulai meragukan apa perkataan itu benar-benar dari hati. Atau hanya di mulut saja. Desak tangis mulai keluar dari mulut Humairah. Ia semakin dalam memendam rasa bingungnya. Ia bingung, apa ia harus kuat untuk bertahan atau pergi saja meninggalkan luka yang baru sembuh namun kembali datang dengan masalah yang berbeda. Menjadi yang pertama saja ia tidak selalu dianggap, apalagi jika ia diduakan. Bukannya ia berpikiran negatif, akan tetapi ia cuma terlalu khawatir. Perempuan memang selalu seperti itu, selalu dilanda rasa khawatir yang berlebihan. Faiz mempererat pelukannya. Tak hanya Humairah yang bersedih. Ia juga sed

