Di perjalanan menuju tempat resepsi. Tepatnya menuju Hotel Sahgufta. Hotel milik papanya Faiz. Faiz duduk di kursi bagian belakang bersama Noah dan Humairah. Noah menjadi penengah diantaranya dengan Humairah. Sesekali Faiz menoleh untuk melihat Noah. Otomatis pandangan matanya tak hanya ke arah anaknya tapi ke Humairah juga.
Noah terlihat sangat lengket bersama Humairah. Anak kecil itu terus memeluk Humairah sepanjang jalan. Dan Faiz heran dengan anaknya itu. Kenapa Noah secepat itu dekat dengan Humairah? Apa memang Humairah dan Noah sudah ada ikatan batin sehingga bisa cepat akrab? Padahalkan Noah baru bertemu dengan wanita itu.
"Pak, sekarang jam berapa?" tanya Faiz pada supirnya.
"Jam 11 Pak," jawab sang supir.
"Ayah," panggil Noah sembari melepaskan pelukannya dari Humairah.
"Apa?" tanya Faiz.
Noah merapikan posisi duduknya. Dia tersenyum kemudian memandangi Faiz. Mata anak itu memancarkan kebahagiaan. Lalu dia gapai tangan Faiz dan Humairah. Dia satukan kedua tangan orang tuanya itu. "Saling sayang ya," pintanya.
Faiz hanya diam tak menanggapi perkataan anaknya. Bagaimana bisa ia menyayangi Humairah. Ia saja tidak ada perasaan apa-apa kepada wanita itu.
Noah sibuk bermain setelah itu. Ia memain-mainkan robot yang selalu ia bawa kemana-mana. Dan kesempatan itu Faiz gunakan untuk melepaskan tangan Humairah.
"Kenapa?" tanya Humairah dalam hati. Kenapa suaminya itu melepaskan tangannya? Apa karena sebenarnya Faiz tidak menginginkannya? Apa keputusan untuk menerima Faiz menjadi suaminya adalah sebuah kesalahan? Apa mungkin Faiz menikahinya hanya karena paksaan dari orang tua? Bukan dari niatnya sendiri.
"Wajah Bunda kok sedih?" tanya Noah tiba-tiba.
Cepat Humairah mengubah mimik wajahnya yang bersedih tadi jadi melukiskan senyuman yang indah. "Gapapa," jawabnya berbohong demi kebaikan.
Mendengar Noah bertanya barusan membuat Faiz menoleh untuk melihat wajah Humairah. Apa benar wanita itu bersedih? Tidak, saat Faiz melihat Humairah ia tidak melihat ada raut kesedihan dari wajah wanita itu. Humairah terlihat baik-baik saja.
***
Setengah jam perjalanan, akhirnya Faiz dan Humairah serta keluarga mereka telah tiba di tempat resepsi. Mereka semua memasuki gedung yang berdiri kokoh dan menjelang tinggi.
Kini mereka telah berada di ballroom hotel Sahgufta. Ruangan itu terlihat megah dan mewah. Faiz dan Humairah pun sudah berdiri di pelaminan. Beberapa waktu berlalu, sebagian para tamu sudah berdatangan dan memberikan ucapan selamat kepada Humairah dan Faiz. Rekan kerja mereka juga menghadiri. Para teman-teman serta sahabat Humairah juga datang dan memberikan selamat serta hadiah.
Teman-teman dan sahabat Humairah banyak yang tidak menyangka dengan pernikahan dadakan teman seperjuangannya itu dari masa SMA sampai saat ini sudah menjadi seorang perawat. Mereka tak habis pikir bagaimana ceritanya Faiz dan Humairah menikah padahal saat di tempat kerja mereka saling cuek. Apa kedua pasangan pengantin itu menutupi hubungan mereka? Jika benar, hebat sekali kedua insan itu. Sampai-sampai berhasil menjalin hubungan dalam kerahasiaan.
"Kalian pacaran sejak kapan sih?" tanya Dinda, sahabat Humairah yang berprofesi sebagai perawat juga.
Faiz dan Humairah saling pandang memandang. Humairah mau menjawab pertanyaan temannya itu tapi ia bingung mau menjawab apa. Ia takut salah menjawab. Kalau ia bilang ia dan Faiz tidak pacaran nanti temannya curiga. Kalau bilang pacaran nanti Faiz mengiranya kepedean. Jadi serba salah.
"Sejak lama," jawab Faiz.
Mendengar jawaban itu, Humairah langsung melirik Faiz. Kenapa suaminya itu mengaku berpacaran dengannya sejak lama? Padahal kan, ia dan Faiz tidak pacaran sama sekali.
"Serius Mai?" tanya Dinda pada Humairah. Ia gak percaya dengan jawaban dari Faiz. Untuk meyakinkan dirinya ia bertanya lagi pada Humairah.
"Emm, iy—iya," jawab Humairah gugup.
"Kok gue gak yakin ya," batin Dinda. Ah sudahlah, nanti dia tanyakan lagi pada Humairah kapan-kapan. Gak enak dia bertanya di sini karena mengganggu para tamu yang mau bersalaman dengan sang pengantin.
"Selamat deh buat kalian, semoga bahagai selalu dan segera dapat momongan," ucap Dinda memberikan selamat.
"Makasih Din," balas Humairah dan Faiz hanya diam saja.
Setelah cepika-cepiki dan bersalaman dengan Humairah, Dinda pun berlalu pergi. Sepeninggalan Dinda giliran teman-teman Faiz yang berombongan naik ke atas pelaminan untuk berfoto serta memberikan ucapan selamat.
"Parah lo Faiz, deketin perawat cantik gak bilang-bilang," kata Boni setelah selesai berfoto-foto.
"Mana langsung dapat kabar udah nikah lagi," tambah Gugun.
"Tau ni si Faiz, gak nganggep kita banget," timbal Putra.
Faiz hanya menghela nafasnya mendengar keluhan-keluhan para teman-temannya yang juga bekerja di tempat yang sama. Boni, seorang dokter umum, Gugun seorang dokter bedah, dan Putra seorang perawat. Bertiga orang itu adalah teman dekat Faiz. Tapi hanya mereka bertiga mendekatkan diri pada Faiz. Sedangkan Faiz biasa saja. Faiz cenderung tertutup dan cuek.
Setelah Boni, Gugun, dan Putra berbicara mereka pun beranjak pergi.
***
8 jam acara berlangsung dengan meriah. Para tamu sangat menikmati hidangan dan hiburannya. Dan kini acara pernikahan Faiz dan Humairah yang terkesan meriah dan mewah pun berakhir. Para tamu undangan yang datang perlahan pergi meninggalkan acara. Sehingga kini yang tersisa hanya keluarga inti saja. Dan mereka akan bermalam di hotel mewah ini.
Saat ini Faiz tengah membuka pintu kamar hotel yang akan ditempatinya bersama Humairah dan Noah juga. Karena Noah saat ini juga bersamanya dan anaknya itu sedang tertidur pulas dalam gendongannya.
Saat sudah berada di dalam kamar. Faiz merebahkan tubuh Noah di atas tempat tidur. Sedangkan Humairah bagian menutup pintu. Tapi Humairah tidak jadi menutup pintu kamar, karena dilihatnya mama Faiz berjalan ke arah kamarnya.
"Ada Noah?" tanya mama mertuanya itu.
"Ada Ma," jawab Humairah. "Noah sedang tidur."
"Boleh mama masuk?"
Humairah mengangguk dan mempersilakan. "Masuk aja Ma."
Khadijah pun melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang bernuansa pengantin baru. Lengkap dengan taburan bunga di atas tempat tidur dan dekorasi ruang yang identik dengan kamar pengantin.
"Faiz," panggil Khadijah.
Faiz yang merasa dipanggil itupun langsung menoleh. "Iya, Ma."
"Sebaiknya Noah tidur sama Mama," ucap Khadijah. Malam ini kan, malam pertama untuk Faiz dan Humairah. Jadi menurut Khadijah sebaiknya cucunya itu tidak tidur dulu bersama Faiz. Karena sebaiknya Faiz menghabiskan malam bersama Humairah.
"Ya udah," kata Faiz pasrah.
Khadijah pun mengangkat tubuh Noah ke dalam gendongannya. Cucunya itu sedikit merengek saat tubuhnya diangkat dan cepat Khadijah mengusap-usap pelan punggung Noah sehingga Noah terdiam dan tertidur lagi.
"Sebaiknya kalian berdua istirahat," ucap Khadijah dan diangguki Faiz dan Humairah. Lalu Khadijah keluar kamar dengan membawa cucunya yang berada dalam gendongannya.
Kini tersisalah Faiz dan Humairah. Faiz pergi menutup pintu kamar. Ia kunci lalu ia berjalan mendekati Humairah yang duduk di pinggir tempat tidur lalu Faiz juga melakukan hal sama. Tapi mereka duduk dengan jarak berjauhan. Mereka berdua pun saling pandang awalnya, sebelum akhirnya mereka serempak memalingkan wajah masing-masing.
Hening. Suasana kamar sunyi. Mereka tak saling bicara. Jujur saja, Faiz merasa canggung saat ini. Begitu juga dengan Humairah. Saat ini Humairah juga merasa malu berduaan di kamar sama Faiz. Ia gak tahu mau ngapain. Rasanya bergerak saja ia tak berani saking malunya.
"Maira, sebaiknya kamu istirahat," ucap Faiz memecahkan keheningan diantaranya dengan Humairah.
Humairah mengangguk ringan. Gak nyangka Faiz mau berbicara duluan. Ia kira Faiz akan mendiamkannya terus. Saat ini Humairah masih bingung. Kenapa Faiz menikahinya padahal Faiz bersikap dingin dengannya. Humairah penasaran sekali ingin tahu alasannya. Tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuknya bertanya karena Faiz pasti lelah.
Faiz melonggarkan dasinya dan melepaskannya. Ia juga mau melepaskan jasnya. Namun tiba-tiba Humairah berdiri dan menghentikan tangannya yang sedang ingin membuka jasnya.
"Biar aku bantu," tawar Humairah. Ia bermaksud baik. Mulai sekarang ia akan memperlakukan Faiz dengan baik karena Faiz telah menjadi suaminya. Sudah sepantasnya ia melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
"Tidak usah, aku bisa sendiri," tolak Faiz.
Penolakan itu membuat hati Humairah sakit. Kenapa Faiz begitu padanya? Padahalkan ia hanya ingin berbuat baik. Tapi kenapa pria itu malah menolak?
Humairah kembali duduk. Sesekali ia melirik Faiz yang sedang sibuk membuka pakaian dan menyisakan kemeja putih yang kancing atasnya terbuka dan terlihatlah d**a bidang Faiz. Saat melihat bagian tubuh Faiz yang terbuka itu Humairah menundukkan pandangannya.
"Maira," panggil Faiz.
Humairah yang merasa dipanggil itupun mendongakkan kepalanya untuk melihat Faiz yang ternyata sudah berdiri di hadapannya.
"Iya," kata Humairah agak gugup.
"Kenapa kamu menerima lamaranku?" tanya Faiz sangat ingin tahu jawaban dari wanita yang ditanyanya itu.
Pertanyaan macam apa itu, pikir Humairah. Tidak seharusnya Faiz bertanya begitu padanya.
"Jawab!" pinta Faiz. Logat bicara pria itu seakan memaksa Humairah untuk menjawab.
"Karena Noah," jawab Humairah. "Aku tau sesedih apa yang Noah rasakan tanpa ibu. Karena aku juga merasakannya. Bedanya dia masih kecil, dan aku ingin bisa membahagiakan anak itu."
"Jadi kamu menikahiku karena kasihan pada anakku?!"
"Bukan," sanggah Humairah cepat. Ia sama sekali bukan menikahi Faiz karena kasihan akan Noah. Tapi karena memang ia ikhlas melakukannya. Ia ingin memberikan kebahagiaan kepada Noah dengan tulus bukan semata-mata atas rasa kasihan.
"Terus karena apa?" tanya Faiz.
"Aku lah, yang harusnya bertanya Faiz. Kenapa kamu melamarku? Sepertinya kamu tidak menginginkan aku, tapi kenapa kamu menikahiku?" tanya Humairah.
****