Bab 16 : Cinta Tak Harus Memiliki

1591 Words
Reval membawa Vania ke rumah sakit. Dia khawatir terjadi sesuatu pada gadis yang telah lama menyita perhatiannya tersebut. Tak lama kemudian, tibalah Reval dan Vania di rumah sakit. Dengan sigap Reval membopong tubuh lemas Vania sambil berteriak minta tolong. Melihat ada yang butuh bantuan, seorang perawat laki-laki datang sambil mendorong brankar. Reval menerima dengan baik pertolongan tersebut. Diletakkannya Vania pada brankar itu, kemudian dia membantu mendorong sang perawat menuju UGD. Reval tak diizinkan masuk. Tentu saja dia cemas bukan main. Pasalnya, Vania terlihat begitu pucat dengan luka di wajah. Dia khawatir sekali pada gadis itu. Batinnya tak tenang sebelum mendengar kabar tentang gadis di dalam sana. Reval mondar-mandir tak keruan. Di sisi lain, ada Syeril yang tengah berdiri di tepi jalan. Dia menunggu Rafael yang katanya sudah on the way. Namun, sudah lebih dari setengah jam, pria chinese itu tak terlihat batang hidungnya. Syeril berdecak kesal. "Ke mana sih Kak Rafael? Katanya bentar lagi nyampek. Tapi sampe sekarang nggak keliatan." Bibir Syeril mencebik. Berkali-kali dia mencoba menghubungi Rafael, tetapi sama sekali tak bisa. Syeril ingat betul, kejadian seperti ini sama peris dengan kejadian beberapa hari lalu ketika akhirnya dia ditemukan Reval. "Jadi nggak, sih? Kalo enggak, kan, aku bisa pulang atau ke mana kek gitu. Nggak di sini kek kambing co'ngek gini. Sendirian lagi!" kesal Syeril sambil menendang-nendang bahu jalan. "Gi'la aja kalo sampe Kak Rafael nggak muncul! Berarti yang diomongin Reval bener," gumam Syeril sambil mengangguk-angguk. "Astaga! Kenapa juga semua itu harus benar? Kak Rafael, please! Datang sekarang juga. Sanggah tuduhan Reval tentang Kakak, dong!" Gadis ini masih berharap bahwa Rafael tidak seburuk yang dikatakan Reval. Tiba-tiba suara klakson membuat Syeril kaget, tubuhnya berputar hingga tanpa sengaja kakinya terpeleset bahu jalan. Keadaan itu dimanfaatkan oleh si penjam'bret untuk melancarkan aksinya. Jam'bret tersebut segera menarik tas Syeril, hingga gadis itu benar-benar terjatuh. Pun, tas Syeril yang bertali rumbai-rumbai seperti rantai itu membuat lengannya terluka, tepat di pergelangan tangan. Tentu saja hal itu membuat lengannya berdarah. Kepala bagian belakanhlg Syeril juga terantuk bahu jalan. Gadis ini tersungkur tanpa ada yang mengetahui kejadian tersebut. Dia tergeletak begitu saja tanpa ada yang tahu. Tak berselang lama, Syeril dibawa ke rumah sakit terdekat oleh pejalan kaki yang kebetulan lewat. Saat melintasi sebuah koridor rumah sakit, tanpa sengaja Reval seperti mengenal cewek yang berbaring di brankar. Pemuda ini bergegas mencari tahu, demia memastikan apa yang tadi dilihatnya. Reval menyibak beberapa pundak agar tak tertinggal dari pergerakan suster yang mendorong brankar, membawa tubuh Syeril ke UGD yang tak jauh dari tempat Vania tadi. Tubuh Syeril sudah lebih dahulu masuk ke ruang UGD, sebelum Reval berhasil melihatnya. Akan tetapi, ada seseorang yang bisa dia mintai info. "Maaf, permisi. Yang tadi masuk ke UGD itu ...." Reval menggantung kalimatnya, karena dia sendiri ragu dan takut apabila cowok di hadapannya tersinggung. Akan tetapi, rasa penasaran Reval tak dapat terhindarkan. Entah mengapa, tiba-tiba muncul rasa khawatir dan peduli terhadap Syeril. Kejadian yang menimpa gadis itu bersama Rafael membuatnya ingin mengawasi Syeril lebih ketat. "Itu tadi saya temukan di pinggir jalan dalam keadaan sudah tak sadar, Mas. Saya tidak kenal siapa dia. Tidak ada identitasnya." Reval berjengit. "Maaf, apa tidak ditemukan HP atau apa, gitu?" "Tidak ada, Mas. Saya berani sumpah. Dia tidak membawa apa-apa, Mas. Serius, dah." Reval jadi merasa tak enak hati. Pertanyaannya seakan-akan malah menuduh. "Maaf, maksud saya bukan menuduh. Saya hanya menanyakan saja, karena sepertinya saya mengenalnya," jawab Reval buru-buru dengan perasaan cemas dan tak enak. "Dia nggak bawa apa-apa, Mas. Saya temukan juga udah pingsan. Tadi ada teman saya yang ikut, dia masih di ruang resepsionis." Cowok gempal ini menatap arah kedatangannya. Reval turut serta, tetapi sepertinya belum ada tanda-tanda seseorang mendekat. Di balik obrolan kedua orang tak saling kenal ini, seorang dokter perempuan muncul dari ruang UGD. Reval yang melihat segera mendekat. "Gimana keadaan pasien, Dokter?" tanya Reval tak sabar. "Pasien hanya mengalami benturan ringan di kepalanya, dan juga luka di pergelangan tangan. Tidak terlalu dalam, sehingga darahnya masih normal." "Alhamdulillah," kata Reval, diikuti cowok yang tadi membawa Syeril ke rumah sakit. "Boleh saya masuk?" kata Reval lagi. "Tentu saja boleh. Tapi pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat bius. Tadi luka di tangannya sempat saya jahit." "Terima kasih banyak, Dokter," ucap Reval sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajah. "Sama-sama. Saya permisi dulu, ya." Selepas kepergian sang dokter, kini Reval mengajak cowok yang tadi menolong Syeril untuk ikut ke dalam, memastikan bahwa itu benar-benar Syeril. Saat pintu terbuka, mata Reval langsung tertuju pada wajah orang yang tengah lena di atas brankar hitam. Sudah dapat dia duga bahwa itu benar Syeril. "Syeril!" pekik Reval khawatir. Dia langsung mempercepat langkah agar bisa segera melihat kondisi Syeril dari dekat. "Mas kenal dia?" tanya cowok yang tadi ikut masuk bersama Reval. Tentu saja Reval mengangguk, karena memang benar adanya. "Iya, Mas." "Alhamdulillah, kalau begitu tugas saya sudah selesai ya, Mas." "Terima kasih banyak atas pertolongannya, Mas," kata Reval penuh ketulusan. "Sama-sama, Mas. Kalau begitu saya permisi." Cowok gempal hitam manis ini menyalami Reval. Kemudian dia melenggang hendak meninggalkan ruang UGD. Namun, Reval segera mencegah. Dia belum menganggi biaya yang dikeluarkan orang itu untuk Syeril. "Ini untuk ongkos pulang, Mas." Dengan sigap cowok itu menolak. Dia merasa tidak perlu menerima uang tersebut. Sebab, menolong adalah sebuah kewajiban selagi dia mampu melakukannya. "Sekali lagi terima kasih, Mas. Semoga Allah membalas kebaikan Mas." Cowok itu hanya mengangguk dan tersenyum kepada Reval. Detik berikutnya dia pergi bersama temannya yang ternyata sudah menunggu di luar UGD. Reval membersamai mereka keluar dari rumah sakit. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih atas bantuannya. "Terima kasih sekali lagi." Kali ini Reval sedikit membungkuk. Dua pemuda itu melandas dengan naik angkot yang kebetulan lewat di depan rumah sakit. Reval hendak kembali ke dalam, melihat kondisi Syeril yang cukup parah. Namun, dia ingat dengan Vania. Saat melintasi ruangan Vania, dia menoleh sebentar. Hendak melangkah, tetapi ragu. Sebab, dalam pikiran Reval sedang ada Syeril yang terbaring dengan kepala diperban. "Pak Reval!" Suara seorang laki-laki membuat langkah Reval terhenti. Dia menoleh, ternyata dokter yang tadi menangani Vania. Reval mengurungkan niatnya menemui Syeril, dia mendekat ke dokter tampan itu. "Iya, Dokter. Gimana kondisi teman saya, Dok?" "Alhamdulillah pasien sudah siuman, barangkali Anda mau lihat kondisinya." Reval mengusap wajah penuh syukur dan kelegaan. "Terima kasih banyak, Dok." "Saya permisi dulu," kata sang dokter sambil menepuk bahu Reval. Tentu saja Reval langsung menemui Vania ketika mendengar kabar baik itu. Dia tak akan sabar melihat kondisi gadis yang dicintainya. Pastinya dia akan ingin tahu keadaan Vania dengan segera. Meskipun dalam pikirannya masih terganggu oleh Syeril, tetapi dia mencoba menyingkirkannya lebih dahulu. Toh, Syeril masih pingsan. "Gimana keadaan kamu, Van?" tanya Reval ketika sudah berada di dekat Vania. Tentu gadis itu tersenyum, tetapi samar-samar. "Aku nggak apa-apa, Val. Cuma sedikit lelah aja." "Kamu bohong sama aku, ya?" Mata Vania membelalak. Dia takut kehamilannta diketahui Reval. Padahal, tadi dia sudah minta kepada dokter untuk merahasiakannya. "Maksudnya?" Vania mencoba memancing Reval. Dia masih berharap Reval tak menahu keadaannya yang sebenarnya. "Niko pasti habis nyakitin kamu," kata Reval tak tega. Dalam hati Vania berkata, "Untung aja dia nggak tau. Semoga sampai kapanpun tetap nggak tau." "Van!" Reval membuyarkan lamunan Vania. Gadis itu tergemap. "Iya, Val. Tapi seperti yang aku bilang, kamu nggak perlu ikut campur." "Sampai kapan, sih, kamu bertahan sama dia, Van?" "Sampai habis nyawaku, mungkin." Reval menggeleng, tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Vania. Bahkan, Reval sendiri tak mengerti dengan jalan pikiran gadis di hadapannya. Sudah disakiti setiap hari, tetapi masih bertahan. "Apa yang membuat kamu bertahan bersamanya?" tanya Reval. Terselip sedikit luka dalam hatinya ketika bertanya seperti itu. "Cinta, Val." Reval menatap tak percaya. "Kamu nggak akan pernah tau sebelum mengalaminya." Vania benar. Mungkin saja Reval belum mengalami apa itu cinta. Memang dia bisa merasakan cinta itu, tetapi sama sekali belum benar-benar menjalaninya. Cintanya kepada Vania bisa jadi hanya perasaan sementara. Hati Reval mulai ragu. Mungkinkah selama dia mencintai Vania, atau kagum belaka? Bila hanya kagum, kenapa rasa itu bertahan hingga dua tahun lamanya? Reval meraba kembali hatinya, barangkali menemukan jawaban yang tepat. "Kamu akan tahu sendiri gimana kita bertahan atas nama cinta." "Cinta itu nggak buta. Hanya manusia sendiri yang membutakan mata batin dan pikirannya karena tidak mau mendengarkan masukan orang lain." "Kamu bisa bicara seperti itu saat ini, Val. Tapi ingatlah, suatu saat nanti bila kamu mengalaminya sendiri." Lagi-lagi Reval terdiam mendengar setiap ucapan Vania. Gadis itu memang pantas untuk dia kagumi. "Kamu orang baik, maka akan mendapatkan seseorang yang baik juga. Lupakan perasaanmu kepadaku, Val." Reval tergemap. Dari mana Vania bisa mengetahui isi hati Reval? "Perhatian kamu, kebaikan kamu, kepedulian kamu, dan semuanya. Aku merasakan semua itu. Tapi maaf, aku nggak bisa balas." Reval tercengang. "Kita sama-sama udah dewasa. Kita bukanlah ABG labil yang baru mengenal apa itu cinta, sampai nggak peka dengan perilaku seseorang terhadap kita. Makasih banget udah memiliki perasaan itu buatku, tapi maaf. Aku nggak bisa balas." "Seperti apa kamu mencintai Niko?" tanya Reval kemudian. "Seperti air di lautan, yang tak akan pernah mengering meski diterpa kemarau panjang. Seperti bintang di langit, meski tak terlihat pun akan tetap ada." Reval tersenyum penuh kegetiran. "Kamu bahagia?" Mata Vania menatap Reval, ragu. Namun, Vania tak akan menarik kembali kata-katanya. "Sudah pasti. Kamu tau, kan, bahwa akan ada pelangi setelah badai? Ya, begitulah. Mungkin saat ini aku akan berduka, tetapi siapa tau besok, besok, besoknya lagi, atau lusa, lusa, dan lusanya lagi, minggu depan, bulan depan, tahun depan, atau sampai kapanpun, aku siap menunggu." "Good luck, Vania!" "Thanks a lot, Val. You are my best friend." Reval tak menanggapi apa pun, dia hanya bergeming sambil menatap mata Vania yang nanar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD