Setelah merasa Mama Ana sudah ada di kamarnya, Syeril mulai merutuki diri. Matanya mulai basah dengan air mata penyesalan. Dia langsung menuju kamar tanpa memedulikan barangnya yang berserakan di atas sofa. Sudah menjadi tugas Bi Odah membereskannya sebelum Mama Ana menegur.
Bi Odah menggeleng-geleng ketika melihat Syeril lari ke kamarnya. Bertahun-tahun kerja bersama keluarga Johan membuatnya sangat paham bagaimana sifat Syeril.
Bi Odah melakukan tugasnya dengan baik, meraupi semua barang-barang Syeril.
"Punya siapa itu, Bik?"
Tiba-tiba suara berat milik Papa Johan terdengar. Bi Odah cukup kaget atas kehadiran Papa Johan yang tiba-tiba itu.
"Punya Non Syeril, Tuan," jawab Bi Odah. Dia tampak gugup, takut kalau Papa Johan ikut memarahi Syeril seperti Mama Ana tadi.
"Syeril?" Papa Johan hampir tak percaya dengan apa yang dia dengar. Emosi mulai menyulut dirinya saat ini. "Anak itu benar-benar, ya!"
Ingin sekali Bi Odah melarang Papa Johan untuk tidak marah kepada Syeril, tetapi dia sendiri merasa tak memiliki hak apa pun. Sebab, menurutnya, Syeril juga sudah keterlaluan. Berkali-kali dihukum, tetapi seakan-akan tak memiliki jera sama sekali.
Dengan berat hati, Bi Odah membiarkan Papa Johan murka terhadap anak majikannya tersebut.
Papa Johan menggedor-gedor pintu kamar Syeril. Hal itu membuat Mama Ana terusik, sehingga beliau keluar kamar dan menemui sang suami.
Syeril yang baru saja hendak merebahkan diri pasca penyesalannya itu gagal. Dia kaget dengan intonasi suara sang papa yang sepertinya tengah terbakar api amarah. Pelan-pelan Syeril mendekat. Dia sampai gemetar menuju pintu. Pasti sang papa marah besar, duganya.
"Pa, udah nggak usah marahin dia. Mama tadi udah tegur dia, kok."
"Kita nggak bisa diam terus menerus, Mah. Anak itu harus diajari caranya menghargai sebuah janji," kata Papa Johan menggebu-gebu. "Syeril!" panggilnya sekali lagi dengan suara lantang.
"Pa, udah. Papa baru pulang. Papa istirahat dulu, ya. Bukan apa-apa, Mama khawatir sama kesehatan Papa. Ayo, Pa."
Semakin teririslah hati Syeril mendengar betapa sayangnya Mama Ana terhadapnya. Syeril memang yakin, bahwa sang mama sangat menyayanginya, begitu juga dengan sang papa. Namun, memang mungkin dia benar-benar sudah keterlaluan, sehingga kedua orang tuanya memberi hukuman perjodohan yang sangat konyol dan mustahil itu.
Bukan Syeril namanya bila kesedihan itu berlarut-larut. Sisi gelap gadis ini kembali bangkit. Dia merasa memang seharusnya sang mama membelanya dari amukan Papa Johan. Tidak seharusnya juga sampai harus sedih dan terpuruk. Toh, belanjaan itu tetap menjadi miliknya meskipun sudah ketahuan berbohong. Dia hanya butuh sandiwara sedikit saja agar mendapat belas kasihan sang mama.
Lihat saja, kini Syeril sudah kembali rapi dengan baju dan tas. Dia siap pergi bersama Rafael, karena sudah ada janji ketemuan untuk penjelasan kejadian waktu itu. Iya, kejadian saat Syeril tiba-tiba ada bersama Reval. Dia masih tak percaya dengan tuduhan Reval terhadap pria chinese yang telah membuat hati Syeril tertambat.
*
"Sekali ini aja aku mohon dengerin aku, Niko!" pinta Vania penuh harap.
Gadis itu terlihat sangat lemah dan tak berdaya. Wajahnya sayu, serta mata bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Tanpa menjawab, cowok bernama Niko mendorong tubuh Vania sekuat tenaga sehingga gadis di hadapannya itu terjengkang dan hampir saja jatuh. Untung saja dia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Berapa kali gue ingetin sama lo, jangan pernah datang ke tempat gue lagi, ha? Dasar mura'han!"
Niko meludah, hampir saja terkena ke wajah cantik Vania. Wajah yang semakin kuyu dan layu ketika berhubungan dengan Niko.
"Aku mohon, Nik! Ini demi—"
"Peduli se'tan sama lo! Perempuan gak tau diri! Gue ji'jik liat muka lo!"
Lagi, Niko berusaha meludahi wajah Vania. Namun, gadis itu masih mampu menghindar.
"Sedikit saja hargai aku, Nik. Kita pernah saling suka walaupun sekarang kamu—"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat manis di wajah mulus Vania. Tentu saja tamparan itu meninggalkan bekas dan luka, tak hanya di kulit wajah Vania, tetapi luka itu juga menembus dinding hatinya.
"Jangan pernah ungkit masa lalu! Gue nggak suka! Bagi gue, lo itu cuma pela'cur!"
Cowok bernama Niko ini meninggalkan Vania begitu saja. Namun, Vania tak tinggal diam, dia mengejar dan berusaha meraih lengan sang kekasih. Lagi-lagi Niko menepis tangan Vania yang sedikit lagi mampu merengkuhnya.
"Cewek mura'han nggak tau diri!"
Tiba-tiba Niko berhenti. Dia mencekal dagu Vania, menekan jemarinya di sana sehingga membuat gadis itu menge'rang kesakitan. Air mata Vania pun menjadi saksi betapa jahatnya Niko terhadap dirinya.
Sekuat hati Vania menahan kekejian yang Niko lakukan. Hal ini sudah biasa dia terima apabila memaksa Niko untuk menuruti setiap inginnya. Bagaimana tidak? Niko adalah ayah biologis dari bayi yang dikandung Vania, tetapi Niko mengelak. Cowok itu tak ingin nama baiknya hancur hanya gara-gara menghamili seseorang.
Niko selalu berdalih, bahwa Vania itu tidak hanya tidur dengannya, tetapi juga sudah bersama yang lain. Vania tak pernah terima dengan tuduhan itu, karena tak merasa melakukan hal gila tersebut selain bersama Niko, itu pun karena mabuk.
"Dengerin gue! Sampai kapanpun, gue nggak akan pernah sudi menganggap bayi itu anak gue! Paham kan lo? Jadi, mending lo jauh-jauh dari gue deh! Gue ji'jik liat muka lo!"
Lagi-lagi cowok itu meninggalkan cairan menjijikkan yang keluar dari mulutnya.
Vania menutup mata kuat-kuat ketika tangan Niko menghempaskan wajahnya sedemikan rupa, hingga gadis itu mundur beberapa langkah.
"Niko! Niko!" teriak Vania berbalut tangis. Dia mengusap wajahnya dengan bagian bawah dress selututnya itu.
Percuma, Niko tak menggubris teriakan Vania. Pemuda itu sudah raib bersamaan dengan lalu lalang mobil di sekitarnya.
Kini, tinggallah Vania seorang diri yang tiba-tiba merasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk dan dia tak sadarkan diri.
Orang-orang yang melintas tak berani mendekat. Namun, ada beberapa juga yang menyenggol tubuh Vania agar bergerak, tetapi sisa-sia.
Beberapa kali orang-orang itu melintas, akhirnya ada yang berbaik hati mengubah posisi Vania menjadi terlentang. Gadis itu masih belum mau siuman, meskipun pipinya sudah ditepuk-tepuk berkali-kali.
"Vania?"
Seseorang berhenti ketika seperti melihat orang yang dia kenal.
"Vania?" pekiknya ketika orang itu benar-benar dikenalnya.
"Ini kenapa? Ada apa sama dia?" tanya cowok ini, panik.
"Nggak tau, tiba-tiba udah pingsan di sini," jawab orang yang menolong Vania.
"Tolong bantu angkat dia ke mobil saya, Pak."
"Baik, Mas."
Akhirnya, tubuh Vania dimasukkan ke mobil di jok belakang. Sesaat kemudian mobil berwarna merah itu melandas, menembus jalanan penuh keterburu-buruan.
"Vania, bertahanlah. Kita akan segera sampai di rumah sakit. Sabar, Vania!" lirihnya penuh rasa iba.
Adalah Reval, yang tak henti memperhatikan Vania dari kaca spion yang menggantung di atasnya. Dia yakin, pasti tadi Vania bersama dengan Niko. Luka di wajah Vania tak bisa bohong.