"Syeril, ada sale nih! Diskon tujuh puluh persen loh. Sepulang sekolah kita ke sana, ya." Faivi berkata penuh semangat sambil menatap layar ponsel.
"Di mana itu, Fai?" tanya Adel antusias.
"Di tempat biasa kita nongkrong. Coba cek akunnya, deh."
Adel langsung berselancar di akun berlogo kamera. Matanya membelalak takjub. Sementara itu, gadis yang sejak awal diajak bicara itu malah seakan-akan tak mendengar ucapan sang sahabat.
"Syeril!" panggil Faivi yang membuat si empunya nama tercekat. "Diajak ngomong malah bengong lo."
"Sorry, gue lagi sibuk."
Jawaban Syeril otomatis membuat Faivi dan Adel saling pandang. Kedua sahabatnya sangat mengenal bagaimana Syeril bila ada diskon. Lalu, soal kesibukan itu, Syeril tak pernah memiliki kesibukan apa pun.
"Sekarang lo nggak asyik, apa gara2 Kak Rafael?"
Pertanyaan Faivi membuat Syeril memicing seketika.
"Serius, gue lagi sibuk. Bukan karena Kak Rafael, tapi memang gue lagi banyak tugas. Mama minta gue les."
Adel dan Faivi hampir meledaakkan tawa mendengar penuturan Syeril. Mereka memang tahu kalau Syeril dihukum oleh sang mama, tetapi bukankah kabur adalah jalan ninjanya?
"Please, deh! Sejak kapan lo jadi oneng begini? Lo bisa kabur kali!" kata Adel diselingi tawa.
Faivi mengusap sudut matanya. "Lo jadi lemot begini kenapa, sih? Kemarin ngelamun, sekarang lemot."
Seketika Syeril salah tingkah. Dia tak bisa menjawab pertanyaan kedua sahabatnya tersebut. Ketahuan sekali dia sedang berbohong.
"Udahlah, nanti pulang sekolah kita langsung berangkat," pungkas Faivi tanpa memedulikan lagi wajah Syeril yang masih bengong, sedangkan Adel kembali menekuri ponselnya.
Syeril tak bisa menolak dengan alasan-alasan tak bermutunya lagi. Dia hanya mendengkus pelan agar tak terdengar oleh kedua sahabatnya.
'Sebenarnya Syeril kenapa, ya? Dia aneh banget. Pasti terjadi sesuatu sama dia," batin Faivi sambil terus melihat gestur Syeril yang menampakkan gelagat aneh. Wajah cantik itu terlihat sangat gusar. Faivi langsung mengirim pesan kepada Adel, agar mencari tahu diam-diam perihal salah satu sahabatnya tersebut.
Akhirnya, setelah jam sekolah usai, ketiga sahabat ini langsung menuju ke tempat yang mereka bahas sebelumnya. Hampir sebulan mereka tidak menjajaki mall bersama. Padahal, biasanya setiap seminggu dua kali pasti mereka ada di sana. Faivi dan Adel termasuk orang kaya. Ayah mereka berdua adalah seorang pengusaha garmen, sedangkan papa Syeril baru saja melebarkan bisnisnya, bekerja sama dengan Pak Bratha. Dulu, papa Syeril memiliki bisnis kecil-kecilan dalam bidang kuliner, saat ini dia ingin membuka cabang di pelbagai daerah, sesuai dengan permintaan para pelanggannya yang luar biasa antusias.
Syeril tak membawa kartu ATM, karena masih disita sang mama. Jadi, dia tidak bisa belanja hari ini. Uang jajannya hanya cukup untuk makan siang di food court bila dia ingin. Namun, bukan Syeril namanya bila tidak tergoda oleh diskon. Apalagi diskonnya sebesar itu. Awalnya memang tak tertarik. Namun, setelah melihat barang-barang incarannya masuk kategori diskon, dia langsung tancap gas memborong semuanya. Syeril kalap.
Dengan semangat membara dia mengambil berbagai macam baju, tas, dan sepatu dalam list belanjaan. Tidak hanya itu, dia nekat meminjam uang Faivi demi memenuhi naf'sunya hari ini. Dia berjanji pada sahabatnya itu akan mengembalikan uang pinjaman setelah kartu kredit kembali ke tangannya.
Tanpa pikir panjang pun, Faivi langsung mengamini permintaan sang sahabat. Bahkan, dengan bangganya Faivi mengucapkan kata traktir pada kedua sahabatnya itu untuk makan setelah pu'as menghamburkan uang orang tua mereka.
Kini, paperbag dengan cap aneka brand sudah pindah ke tangan tiga gadis belia ini. Namun, belanjaan Syeril-lah yang paling banyak di antara kedua temannya. Sebab, telah lama dia tak belanja seperti tadi. Jadi, dia melam'piaskan keinginannya hari ini juga.
"Ah, seneng banget gue bisa belanja kayak kemarin lagi. Thanks ya, Guys!" kata Syeril penuh kebahagiaan.
"Lo, sih, diajak belanja sok nolak. Pakai acara galau lagi," kata Adel kesal.
"Ya, gue kan lagi dihukum sama orang tua gue." Gadis cantik ini melakukan pembelaan.
"Makanya, lo tu jangan bandel. Kapok kan lo?" seru Adel penuh kesenangan karena bisa mengolok-olok Syeril.
Sementara itu, Faivi hanya tertawa menanggapi perdebatan kedua sahabatnya. Mereka keluar dari toko sepatu bersamaan. Langkah-langkah itu kembali menyusuri mall, lalu naik eskalator untuk tiba di pujasera.
"Lo lagi menang lotre sampai nraktir kita, ya, Fai?" canda Syeril ketika kaki mereka menginjak lantai tiga gedung ini. Matanya mengedar, mencari tempat sepi.
"Emangnya elo! Faivi sering nraktir kita kali!" bela Adel dengan wajah kesal.
"Ih, gue juga sering kali!" Syeril tak terima, merasa traktirannya selama ini tak dianggap salah satu sahabatnya tersebut.
"Udah, udah. Apaan, sih? Nggak penting tau nggak?" Faivi langsung pindah posisi di antara kedua sahabatnya, tak ingin berdebatan bercanda itu berubah sengit. Sebab, Faivi sangat tahu bagaimana Syeril bila sudah disinggung hal-hal sen'sitif seperti itu.
*
Hari merambat petang, Syeril diantar Faivi setelah sebelumnya mengantar Adel. Namun, Syeril meminta agar diantar sampai depan rumah. Sebab, dia takut kalau sang mama memergokinya membawa terlalu banyak barang belanjaan. Jadi, bila diantar sampai rumah, Syeril bisa beralasan bahwa barang itu milik Faivi. Apa pun akan dilakukan Syeril untuk menutupi kesalahannya. Dia sangat yakin, Mama Ana akan marah besar bila mengetahui Syeril belanja sebanyak itu.
"Thanks, ya, Fai!" seru Syeril ketika sudah turun dari mobil.
"Urwel, Ril! See ya."
Faivi langsung tancap gas setelah melambai pada sang sahabat. Tak lupa senyum terukir di bibirnya sebelum lepas landas.
Syeril kembali melangkah, menapaki pelataran rumah dengan penuh kewaspadaan. Hari Selasa biasanya Mama Ana pergi arisan, tetapi bisa jadi juga dia tak ikut. Syeril masih waspada, dia berjalan santai hingga ke depan pintu. Tangannya siap membuka handle pintu, dia melongok sedikit ke dalam untuk memastikan tak ada orang di rumah selain Bi Odah.
"Sssstt! Sssst!! Bik, Bibik!"
Syeril terus mendesis sambil memanggil nama asisten rumah tangga di rumahnya yang tengah mengelap meja. Namun, sepertinya Bi Odah tak mendengar suara Syeril, sedangkan gadis itu masih dengan posisi sama seperti sebelumnya.
"Bi Odah! Bibik! Ish!"
Gadis ini masih berusaha memanggil sang asisten rumah tangganya. Namun, justru dia dibuat kesal karena Bi Odah tak kunjung menyadari kehadiran anak majikannya itu.
"Ish! Bibi dipanggil dari tadi juga nggak denger!" omel Syeril sambil mengentakkan kaki. Kali ini, dia sudah berada di dekat Bi Odah dengan tampang kesal.
"Eh, Non Syeril. Maaf, Bibi nggak dengar. Ada apa, Non?"
Gadis ini ingin marah sebenarnya, tetapi urung. Sebab, keselamatannya lebih penting daripada sekadar marah-marah tidak jelas.
Syeril memindai seluruh ruangan, sampai lantai atas yang dapat dia jangkau dengan pandangannya pun tak luput sasaran.
"Mama di rumah nggak?"
Bi Odah menoleh ke anak tangga. Seingatnya, Mama Ana sedang pergi saat dirinya sedang menjemur pakaian tadi pagi.
"Ada nggak, Bik?" Syeril seakan-akan memaksa Bi Odah untuk menjawab "tidak".
"Bibi, kok malah bengong, sih?" decak Syeril sambil menyenggol lengan Bi Odah.
"Syeril, dari mana kamu jam segini baru pulang?"
Ups!
Mama Ana baru saja membuka pintu dan mendapati Syeril masih memakai rok seragam sekolah, meskipun bajunya tertutup sweater rajut. Mata Mama Ana membelalak, kemudian menggeleng-geleng karena sangat tidak mengerti dengan putri semata wayangnya ini.
"Mama?" Syeril meme'luk sang ibunda. "Mama dari mana? Syeril cariin padahal."
"Jawab pertanyaan Mama, kamu dari mana? Kenapa baru pulang? Apa aja itu di tangan kamu? Uang dari mana kamu bisa belanja sebanyak itu? Bukannya ATM kamu ada sama Mama?" cerca Mama Ana bertubi-tubi.
Hal itu membuat Syeril tak berkutik. Namun, dia masih dengan rencana awalnya.
"Mama ini tuh punya Faivi sama Adel. Mereka nitip ke Syeril karena mereka lagi kena hukuman juga kayak Syeril, Ma."
Mama Ana menatap Syeril tak percaya.
"Serius, Ma. Mereka takut kalo dimarahin orang tuanya karena belanja sebanyak ini."
Mama Ana hanya menggeleng. "Jadi, kamu sampe lupa waktu karena asyik jalan sama temen-temen kamu, begitu?"
Syeril nyengir kuda, kemudian menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Abis gimana, dong, Ma? Syeril nggak enak kalo nolak ajakan mereka. Syeril hanya ingin menghargai mereka sebagai sahabat Syeril."
"Kamu menghargai mereka, tapi nggak menghargai Mama, begitu?"
Melihat adu mulut antara Mama Ana dan Syeril, Bi Odah memutuskan pergi ke dapur saja. Tak tega melihat Mama Ana memarahi Syeril, meskipun gadis itu sudah keterlaluan.
"Bukan gitu, Mama. Syeril cuma—"
"Cuma apa? Kamu bener-bener keterlaluan, ya, Syeril! Coba sini belanjaan kamu!"
Mama Ana merampas beberapa paper bag dari tangan Syeril, mengecek isinya. Sejurus kemudian, Mama Ana menatap Syeril penuh murka.
"Ini kamu bilang punya Faivi dan Adel?" Tangan Mama Ana menenteng box jam tangan bermerk. "Kenapa kamu diam? Jawab Mama!"
"Cuma itu, kok, punya Syeril." Gadis ini menunduk, merasa bersalah.
Mama Ana menggeleng. Dia tak puas dengan jawaban Syeril, lalu merampas semua paper bag yang dipegang Syeril.
Awalnya Syeril keberatan, tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa lagi selain pasrah.
"Mama itu—"
Mama Ana membongkar semua isi paper bag tersebut sambil berkata, "Ini yang kamu bilang punya Adel dan Faivi? Ini? Ini? Ini semua barang-barang kesukaan kamu, Syeril! Bisa-bisanya kamu bohongin Mama!"
Syeril semakin merunduk, dia tak berani menatap mata Mama Ana yang dibakar api amarah. Semua memang kesalahan Syeril, seharusnya dia bisa menjaga has'rat belanjanya, daripada harus kena semprot seperti ini.
"Maaf, Ma. Syeril cuma—"
"Cuma apa? Kamu ini bener-bener nggak ada kapoknya, ya, Ril." Mama Ana mendekat. "Mama heran sama kamu. Hukuman apa lagi yang harus Mama kasih supaya kamu jera?"
Syeril tak berani menjawab. Dia hanya terus menunduk, menyesali perbuatannya yang sudah pasti akan menambah deretan hukumannya saat ini.
Mama Ana melenggang begitu saja meninggalkan Syeril yang masih menunduk.