Setelahnya, pemuda ini kembali masuk apartemen dengan wajah gelisah. Dia juga tak habis pikir, bahwa Syeril bisa senekat itu membohongi Mama Ana. Apalagi sampai membawa-bawa namanya, ini sangat tidak baik. Untung saja Reval datang tepat waktu. Bila tidak, semuanya bisa runyam. Pemuda berengsek bernama Rafael itu hampir saja menghancurkan masa depan Syeril. Gadis itu pun terlalu buta oleh perasaannya.
Reval melempar tas Syeril begitu saja ke Sofa, lalu dia menuju dapur untuk membuat minuman hangat. Apartemen ini jarang dihuni, untungnya masih ada teh celup dan mi instan. Teh siap, asapnya mengepul ketika Reval membawa air berwarna khas tersebut ke meja makan. Aroma alkohol dari mulut Syeril tadi membuatnya mual.
Reval duduk, menyesap teh sambil menghidu aromanya yang menenangkan, tentu saja menurut Reval sendiri. Dia memikirkan cara bagaimana nanti menjelaskan kepada Mama Ana tentang apa yang terjadi pada Syeril. Gadis SMA itu pasti tak berpikir panjang sebelum masuk bar tadi.
Ponsel di atas meja berdering, sebuah panggilan datang dari Mama Ana. Reval terkesiap, tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Namun, pemuda ini tak akan mengabaikan panggilan begitu saja. Dia segera menggeser ke atas gagang telepon berwarna hijau yang bergerak-gerak.
"Reval kenapa nggak bales pesan mama?" tanya Mama Ana di ujung telepon. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai "mama", karena sudah menganggap Reval seperti anaknya sendiri.
"Maaf, Ma. Tadi Reval nggak fokus ke HP. Reval lagi nyetir tadi," jawab Reval, santai.
"Mama khawatir karena kamu nggak balas pesan, jadinya mama telepon. Maaf, ya."
Reval tersenyum, meskipun dia tahu Mama Ana tak akan melihatnya. "Nggak apa-apa, Tante." Pemuda ini masih belum terbiasa memanggil wanita di seberang telepon itu dengan sebutan "mama".
"Syeril di mana, Nak Reval? Kenapa ditelepon gak diangkat!?"
Reval bingung mau menjawab, jemarinya mengetuk-ketuk meja mencoba menggali jawaban.
"Lagi naik wahana, dia ngajak ke taman hiburan soalnya." Reval menjawab dengan apa yang terlintas di benak.
"Kok tumben? Biasanya dia paling nggak suka ke taman hiburan." Nada bicara Mama Ana terdengar tak percaya.
Reval pun tak menahu soal itu, dia merasa jawabannya tadi tidak tepat. Ini akan menjadi bumerang nantinya. Reval buru-buru mencari jawaban lain yang dia ketahui dari Syeril. Namun, sama sekali pemuda ini tak ingat apa pun. Sebab, memang dia dan Syeril sama-sama tak ada pembahasan di perkenalan tak sengaja mereka.
"Maksud Reval, di sini dia ngajak nonton konser, Tante. Kebetulan idolanya manggung di sini."
Biar tak kenal jauh, Reval mengingat bahwa Syeril mengagumi Rafael yang juga seorang penyanyi. Untung saja dia ingat hal itu.
Panggilan terputus setelah Mama Ana memastikan keberadaan Syeril. Reval kembali menikmati tehnya. Tangannya terulur, memijat kening yang mulai terasa berat. Leher belakang hingga ke pundak pun rasanya tak nyaman. Pemuda ini memutuskan istirahat. Tugas kampusnya sangat menguras tenaga, sehingga membuat tubuhnya lebih cepat lelah dari biasanya.
Sebelum itu, Reval ke kamar di mana dia meletakkan Syeril tadi. Dia ingin melihat kondisi gadis itu, sudah sadar atau belum. Reval juga membawakan teh hangat untuk Syeril, bila nanti terbangun bisa langsung diminum.
Sampai di kamar, Reval melihat Syeril masih pulas. Pengaruh alkohol ternyata begitu kuat, sehingga gadis itu sama sekali belum bergerak dari posisinya semula.
Setelah meletakkan teh di nakas, Reval mengambil buku di dekat teh tersebut. Buku yang lupa dia bawa saat terakhir singgah di apartemen ini, sebulan yang lalu. Dia lupa, waktu lalu menyelipkan sebuah surat untuk Vania, tetapi urung diberikan. Sebab, saat itu Vania sedang menggandeng seorang lelaki yang kini telah menjadi kekasih gadis tersebut. Reval patah hati saat itu juga. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba, mata Reval terpejam tanpa dia sadari. Tubuh lelahnya tak bisa diajak kompromi untuk terjaga. Dia tergeletak di lantai, dengan kepala bersandar pada sofa tak jauh dari ranjang Syeril.
Namun, siapa sangka jika Syeril mulai terbangun? Gadis ini terheran saat mendapati dirinya berada dalam sebuah ruangan asing. Buru-buru dia beranjak dari kasur, matanya menjelajah sekitar. Pandangannya dipertajam, karena rasa pusing itu masih melanda.
"Gue ada di mana nih?" pikir Syeril. Matanya kembali menjelajah ruangan luas ini. Satu tolehan membuat matanya terpatri. Seorang pemuda tengah tidur dalam posisi duduk sambil memegang kertas.
Syeril mencoba lebih mempertajam penglihatannya lagi. Itu jelas bukan Rafael.
"Oh my god! Itu, kan, Reval? Kok gue ...." Mata Syeril kembali memastikan ada di mana dirinya kini. Lalu, beralih ke tubuhnya yang masih mengenakan pakain lengkap. Hanya saja, tas dan sepatunya yang tanggal.
"Jangan-jangan dia ... awas ya lo!"
Gadis ini mendekati Reval. Sebelum itu, dia mengambil stik golf untuk senjata.
"Bangun! Bangun lo!" Syeril menyodok pelan paha Reval menggunakan stik golf. Saking pulasnya, Reval sampai tak merasakan benda tumpul itu menyentuh kulitnya. Akhirnya, Syeril memukulnya di tempat yang sama.
"Bangun!" bentak Syeril geram.
"Aduh! Sakit!" pekik Reval, diiringi kekagetan luar biasa.
"Lo pasti ngapa-ngapain gue, 'kan? Ngaku lo!" tuduh Syeril dengan menunjuk wajah Reval memakai stik golf.
Mata Reval langsung terbuka, tetapi warna kemerahan itu masih terlihat jelas di sana. Dia pasti masih mengantuk berat.
"Lo udah ngapain gue?" bentak Syeril dengan mata membola.
"Ngapain apaan, sih? Nyentuh lo aja enggak. Heran deh gue, sekali aja lo gak mikir negatif bisa gak, sih?" balas Reval tak kalah bengisnya.
"Buktinya lo bawa gue ke sini, apa namanya coba? Pake ngeles lagi lo!"
"Eh mulut mercon! Lo itu gak tau terima kasih banget, ya? Nyesel gue nolongin lo!" pungkas Reval.
Reval keluar dari kamar tersebut dengan bersungut-sungut. Niat baiknya yang ingin menolong malah dianggap salah. Apalagi gadis tersebut begitu keterlaluan, sampai memukuli Reval.
Syeril mematung, dia merasa sangat bersalah pada Reval. Seharusnya, dia tidak sekejam itu sampai menuduh Reval yang bukan-bukan. Tadi dia bersama Rafael, mabuk. Lalu, ketika sadar sudah bersama Reval di kamar ini. Syeril jadi bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi padanya, sehingga bisa berada sama Reval.
Gadis ini mengejar Reval. Dia ingin bertanya pada pemuda itu perihal apa yang terjadi.
"Reval, tunggu!" kata Syeril.
Namun, si empunya nama tak mengindahkan panggilan gadis itu. Dia terus melenggang menuju dapur. Tangannya tergerak membuka kulkas, mengambil air dingin untuk membuatnya merasa segar.
"Di mana Kak Rafael? Kenapa gue bisa sama lo?" tanya Syeril. Dia sudah menduga, Reval tak akan bisa diajak basa-basi.
"Buat apa lo mau tau itu semua, ha?" kata Reval sengak. Dia masih kesal habis dipukuli Syeril tadi. Belum lagi tuduhan gadis itu yang masih belum bisa dia terima.
"Ya ... ya gue wajib taulah. Seharusnya gue, kan, masih kencan sama dia!" geram Syeril. Dia kecewa telah melewatkan waktu bersama Rafael.
"Kalo gue ngomong, apa lo bakalan percaya?"
Syeril terdiam sejenak. Dia memang sangat mencintai Rafael, dan pemuda chinese itu tak mungkin berbuat jahat kepadanya.
"Udahlah, sia-sia juga gue ngomong."
Reval sudah duduk di kursi ruang makan, mengalihkan fokusnya ke ponsel yang sejak tadi dia geletakkan begitu saja. Ada dua pesan masuk ke nomornya, dari Mama Ana.
"Lo kabarin mama lo sana. Dia khawatir sama lo."
Syeril tersadar. Dia ingat dengan pamitnya tadi ke sang mama, bahwa dia akan pergi dengan Reval.
"Dia nelponin elo terus tapi nggak lo angkat katanya." Reval berkata tanpa ekspresi. Emosinya sudah mulai sedikit mereda.
"Mama ...." Gadis ini mencari tasnya.
"Tas lo di sofa," kata Reval sambil menggerakkan kepala, seakan-akan memberi petunjuk.
Syeril langsung mengambil ponsel, melihat isi gawainya. Ternyata Reval benar, ada banyak pesan dan panggilan tak terjawab dari sang mama. Dia langsung memberi kabar ke Mama Ana dengan menelepon balik.
"Maaf, Ma. Syeril ...." Gadis ini menggantung kalimatnya. Dia menatap Reval, seolah minta bantuan. Namun, Reval malas menjawab, dia justru mengalihkan pandangan.
"Syeril lagi sama Reval ini, Ma. Lagi makan," dusta Syeril sekenanya. Padahal sama sekali tak ada makanan di sana.
"Alhamdulillah, mama khawatir sama kamu. Tapi tadi mama udah nelpon Reval, dia bilang kamu ngajak nonton konser. Mama tenang jadinya."
Mata Syeril mengarah ke Reval. Dia merasa pemuda itu telah menyembunyikan sesuatu. Maksudnya, untuk apa dia melindungi Syeril? Jujur saja, jauh dalam lubuk hati gadis itu mulai ada simpati untuk Reval. Namun, berkali-kali dia sanggah.
"Eh, iya, Ma. Reval bener. Maaf, ya, Ma."
Syeril juga semakin bertanya-tanya kenapa dirinya bisa bersama Reval. Lalu, ke manakah Rafael? Apa pemuda itu meninggalkannya?
"Ma, udahan, ya. Nggak enak sama Reval, kami lagi makan."
Di seberang sana, Mama Ana tersenyum lega. "Iya, Sayang. Mama seneng, akhirnya kamu bisa menerima Reval."
Seketika perasaan Syeril kembali bagai ditusuk. Namun, dia tak mungkin mengatakan hal itu, karena sesungguhnya dia sendiri masih belum menerima perjodohan tersebut.
Panggilan selesai. Syeril mendekat ke Reval sambil menggenggam ponsel. "Kenapa lo bohong? Kenapa lo nggak bilang kalo gue jalan sama Kak Rafa?"
"Lo mau kehilangan kepercayaan dari mama lo?"
"Ya, kenapa lo nggak bilang aja kalo gue sama Rafael?"
Reval berdecak sebal, kemudian menggeleng tak paham akan apa yang ada dalam benak gadis di hadapannya.
"Ya udah, telpon Rafael sekarang. Minta dia jemput lo di sini! Dan bilang sama Tante Ana, kalo sebenarnya tadi lo itu bukan sama gue, tapi sama Rafael." Pemuda ini beranjak dari tempatnya.
"Satu lagi. Bilang juga ke Tante Ana, kalo lo hampir dipeerkosa sama dia!" tandas Reval tegas. Dia meninggalkan Syeril begitu saja.
Gadis ini mematung, tak percaya dengan apa dikatakan Reval.
"Kak Rafael nggak mungkin sejahat itu. Reval pasti bohongin gue."
Tanpa segan, Syeril mengejar Reval yang sudah tak tertangkap matanya. Pemuda itu ke luar apartemen. Syeril mempercepat langkah agar bisa mengejar Reval.
Pemuda tampak memasuki lift, Syeril secepat kilat mengejarnya. Lalu, dia menekan tombol agar pintu lift terbuka. Tepat! Syeril segera masuk dan berdiri di samping Reval. Pemuda itu sedikit terkejut ketika Syeril tiba-tiba ada di hadapannya tadi. Reval mendengkus, lalu menunduk.
"Maksud lo tadi apa?" tanya Syeril setelah lift bergerak. Tak ada siapa pun di dalam sana, selain mereka berdua.
"Kurang jelas?" tanya Reval tanpa mengubah posisinya.
"Lo ada bukti apa kalo Kak Rafael mau jahatin gue?" Nada bicara Syeril masih terdengar menghakimi. Seakan-akan Reval adalah pembual besar.
"Kalo lo nggak percaya, lakuin apa yang gue bilang tadi. Gue nggak mau nama baik gue tercemar oleh hanya gara-gara lo."
Reval memang benar, tetapi hal itu tak dapat diterima oleh Syeril. Dia merasa dituduh Reval.
"Maksud lo mencemarkan nama baik?"
"Kalo sampe terjadi apa-apa sama lo, gue yang akan jadi tersangka. Karena apa? Lo izinnya keluar sama gue. Sekali-kali kalo mau ngomong itu pake otak lo." Kali ini Reval menatap tajam ke Syeril, membuat nyali gadis itu menciut.
Syeril sedikit sadar akan kesalahannya. Dia bahkan menyesal sudah membawa nama Reval. Namun, dia masih belum bisa menerima kalimat Reval sebelum pergi tadi.
Reval menangkap tatapan Syeril. Dia berkata, "Nggak mungkin, kan, gue foto dulu sebelum nolong orang?"
Syeril tak dapat berkata-kata.
"Apalagi itu terjadi di depan mata gue. Kalo lo butuh bukti, pergi aja ke sana lagi. Minta lihat CCTV sama pemilik tempat."
Lift terbuka. Reval melenggang keluar dari lift, menyisakan Syeril dengan segala keterkejutannya. Dia tak menyangka, Rafael bisa sejahat itu padanya.
"Tunggu, Val!" kata Syeril sambil mengejar pemuda itu. Hampir saja lift tertutup.
"Lo mau pulang sendiri apa gue anter?" tanya Reval yang masih mau berbaik hati.
Hari sudah gelap, Syeril pun tak memiliki uang untuk menyewa taksi online. Namun, Syeril malu untuk mengiyakan atau sekadar mengangguk.
Reval malas menunggu jawaban Syeril, dia melenggang begitu saja tanpa peduli lagi pada gadis tersebut. Sementara itu, Syeril masih mematung dalam kebingungan. Reval sudah marah padanya, tak mungkin dia memanggil atau mengejar pemuda itu. Bisa malu nanti, pikirnya.
Beberapa detik kemudian, sebuah mobil berhenti di depan Syeril. Kaca mobil tersebut turun, lalu si pengemudi berteriak, "Naik!"
Syeril mengenal baik suara tersebut. Atas pertimbangan singkat yang dia lakukan, akhirnya Syeril menurut.
"Lo nggak usah GR, dan nggak usah berharap kata terima kasih keluar dari mulut gue buat lo!"
Kalimat yang begitu menyakitkan. Namun, sama sekali tak membuat Reval terusik.
'Gak tau kenapa gue selalu ngerasa benci banget sama lo, Val. Apa pun yang lo lakuin buat gue, selalu aja gue gak suka," batin Syeril haru sambil mencuri pandang ke Reval yang fokus ke jalanan.
'Tapi lo kenapa baik banget sama gue? Eh, enggak-enggak. Gue nggak boleh kayak gini. Dia itu yang dijodohin sama gue, dia penghancur masa depan gue. Jadi, wajar kalo gue benci banget sama dia.' Gadis ini masih merutuki kisah hidupnya yang pelik.