"Kenapa kamu nggak jujur aja sama Oma? Pasti dia ngerti perasaan kamu."
Reval masih belum menjawab, dirinya benar-benar kalut saat ini. Dia sampai mendatangi Arista, atau biasa dipanggil Riri oleh Reval. Mereka bersahabat sejak SMP, tetapi karena Riri sibuk mengurus kafe, mereka jadi jarang bertemu.
Reval juga jarang mengirim pesan atau menelepon sahabatnya itu. Jika butuh teman meluapkan uneg-uneg, barulah Reval menemui Riri. Untung saja Riri merintis karir di Bandung. Jadi Reval bisa dengan mudah menemuinya.
"Kamu tau sendiri, kan, aku sayang banget sama Oma dan Kakek?"
Riri tak bisa memutuskan, memang kasih sayang Reval begitu besar kepada dua orang pengganti mama dan papanya itu.
"Jadi, apa yang kamu permasalahkan sekarang?" tanya Riri yang membuat Reval bungkam.
Keluhannya tentang perjodohan tersebut sepertinya memang kurang tepat, bila dia sendiri menyandingkannya dengan kasih sayangnya pada orang yang membuat perjodohan itu terjadi.
"Apakah aku akan sanggup menjalani kehidupan rumah tanggaku nanti?" tanya Reval, pandangannya kosong.
"Aku yakin kamu pasti bisa. Memangnya calon kamu seperti apa, sampai kamu segalau ini?" Riri tampak prihatin melihat sang sahabat murung.
Reval menunduk. Ingin menjawab, tetapi malu. Sebab, sifat Syeril sangat barbar dan membuatnya harus terus menekan ego.
"Kamu, kan, belum menjalaninya, Val. Jadi, apa yang kamu khawatirkan? Bisa jadi nanti dia udah berubah. Iya, 'kan?"
Reval mencoba mengurai kalimat Riri. Dia merenung lebih jauh lagi.
"Nggak ada manusia sempurna di dunia ini, Val. Semuanya saling melengkapi. Apalagi soal jodoh, kita udah tau pasti Allah-lah yang menentukan. Kalo kamu lupa."
Reval masih merenung, pelan-pelan meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Arista.
"Apa kamu merasa udah sempurna, sehingga berharap dapat jodoh yang sempurna juga?"
Skak mat! Alis Reval langsung menaut mendengar ucapan Riri barusan. Dia seperti tertampar, karena kalimat itu membuatnya tersadar.
Dengan santainya Riri tersenyum ketika dipandang Reval sedemikian rupa. "Percayakan semua pada sang Khalik. Jodoh, rezeki, dan maut telah tercatat sejak kamu masih berupa gumpalan daging dalam perut."
Pemuda ini mengembuskan napas, tatapannya kembali sendu. Berkali-kali dia memejamkan mata, merutuki kebodohannya sendiri.
"Minum aja dulu biar hati dan pikiran kamu kembali dingin. Semua masalah akan terasa lebih berat kalau kamu nggak bisa mengambil sisi positifnya."
Semua yang dikatakan Riri benar, Reval sama sekali tak menyanggahnya. Bahkan, dia mulai sadar diri akan harapannya yang terlalu tinggi—memiliki istri baik dan lembut seperti Vania.
Seorang pramusaji perempuan mengantarkan segelas minuman dingin andalan kafe milik Riri ini. Reval mengucap terima kasih kepada pramusaji tersebut.
"Minum," kata Riri mempersilakan. Dia menggeleng melihat Reval yang tak seperti biasanya. Seakan-akan yang ada di hadapannya ini bukanlah Reval yang dia kenal.
"Kamu butuh banyak istirahat dan refreshing deh kayaknya, Val."
Reval kembali mendongak setelah mencampakkan sedotan. "Boro-boro refreshing, Ri. Pergi nonton aja nggak sempet."
Tawa Riri berderai. "Pantes muka kamu cepet tua gitu. Kebanyakan pikiran, sih!" cibirnya kemudian, masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Ya, gimana? Tugas kuliah numpuk, belum lagi mikirin skripsi. Itu kalo langsung lolos, kalo revisi lagi, makin sibuk, 'kan?"
Riri tertawa lagi. "Nikmati aja seperti air mengalir, nggak usah kaku-kaku banget gitulah."
"Kamu bisa bilang gitu, karena sekarang udah sukses." Pandangan Reval mengedar ke setiap penjuru kafe milik Riri ini.
Riri mengucap hamdalah penuh rasa syukur. "Berkat doa kamu juga, 'kan?"
Reval tersenyum. Sesaat kemudian, suasana menjadi hening. Reval dengan pikirannya, Riri pun terfokus pada hatinya sendiri.
"Kapan kamu mau menikah?" tanya Reval memecah keheningan.
Riri sempat sedikit terkejut. "Aku?" Dia menunjuk wajahnya sendiri.
Reval mengangguk. "Siapa lagi memangnya kalo bukan kamu?"
"Aku masih santai ajalah dulu. Nggak mua muluk-muluk, jalani aja dulu."
"Katanya mau nikah muda? Masa jadi aku yang duluan?"
"Aku kalo dijodohin juga mau, sih. Sayangnya, mana ada cowok yang mau sama cewek item dan jelek kayak aku?" Riri tertawa, tetapi terdengar begitu miris bagi siapa saja yang peka.
"Bohong banget! Kamu itu cerdas, sekarang jadi pengusaha pula. Pasti banyak yang antre," kata Reval serius. "Biarpun kamu memiliki kulit gelap, tetapi kecantikan kamu itu tetap terpancar."
Riri terbahak. "Mana ada? Kamu nggak inget, aku pernah di-Bully habis-habisan gara-gara warna kulitku?"
Memang, Riri adalah gadis keturunan daerah timur. Hanya saja, kedua orang tuanya sudah lama pindah di Jogja, sehingga mereka berdua bisa kenal dan bersahabat.
"Makasih udah jadi sahabatku, ya, Ri," ungkap Reval, tulus dari lubuk hatinya.
Riri mengangguk. "Kamu itu orang pertama yang mau berteman sama aku. Kayaknya, yang perlu berterima kasih itu aku, bukan kamu." Gadis ini melipat tangan di meja. "Terima kasih karena udah mau berteman sama aku selama hampir sepuluh tahun ini."
Reval tersenyum diiringi anggukan. Rasanya persahabatan mereka berlalu begitu cepat. Bahkan, keduanya sama-sama sudah dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing.
*
Libur sekolah membuat Syeril jenuh. Dia sudah selesai menjalani hukuman untuk tidak ke mana-mana. Namun, beban hatinya kian bertambah saja, untung ada Rafael yang selalu menemaninya, walaupun hanya lewat pesan dan telepon. Sesekali video call bila Syeril memaksa.
Lambat laun, Syeril mulai semakin tak bisa bila tak berbalas chat dengan Rafael. Seakan-akan dia mulai ketergantungan akan perhatian-perhatian kecil dari pemuda chinese itu. Ya, semua yang dilakukan Rafael menjadi can'du baginya. Bahkan, Syeril mulai mengoleksi video dan foto-foto pemuda tersebut.
"Kak, kita ketemuan, yuk! Aku bosen di rumah sendirian," rajuk Syeril ketika panggilan videonya tersambung.
"Sorry, Beib. Aku nggak bisa."
Wajah Syeril langsung cemberut. "Kenapa? Aku kangen sama Kakak."
Rafael mengarahkan kameranya ke samping, agar wajah bosannya tak terlihat oleh Syeril. Beberapa detik kemudian, wajah tampannya muncul lagi di layar.
"Kita ketemuan, ya. Please ...!" Gadis ini memohon agar Rafael menuruti keinginannya.
Sejujurnya, Rafael sendiri jengah dengan sifat manja Syeril. Dia pun sebenarnya malas jalan dengan anak SMA. Apa kata teman-temannya kalau sampai mereka tahu bahwa Rafael memacari gadis di bawah umur? Itu akan sangat merusak reputasinya di kampus, dan para penggemarnya akan risi nanti.
"Kak!"
"Eh, iya-iya." Rafael terkejut.
Syeril langsung melompat dari atas kasur karena saking bahagianya. Dia berencana mengungkapkan perasaannya hari ini. Dia ingin hubungannya dengan Rafael jelas.
Di seberang sana, Rafael terlihat gusar. Tadi dia tak bermaksud mengiakan, itu hanya spontan karena keterkejutan saja. Namun, sepertinya Syeril salah tanggap, dan itu membuat Rafael gelisah. Sebab, hari ini dia ada janji dengan kekasihnya. Pemuda ini mengacak rambutnya kasar.
Di ruangan berukuran cukup luas ini seorang gadis tengah menimbang-nimbang, manakah agaknya pakaian yang patut dia kenakan. Di kasur sudah bertumpuk dress dan pakaian lain yang gagal menjadi pilihannya. Jemarinya masih sibuk memilah dan memadupadankan warna dengan suasana hati yang ceria. Syeril tak ingin terlihat norak dan buruk di mata Rafael. Semampunya dia selalu terlihat sempurna untuk ditatap pemuda itu.
Akhirnya, Syeril selesai menjatuhkan pilihannya. Sebuah dress selutut warna baby pink berbahan ceruty dengan furing senada telah membalut sebagian tubuhnya. Tas kecil warna hitam pun turut menjadi pilihannya kali ini. Rambutnya tergerai dengan jepit kecil di anak rambut. Manis sekali. Langkahnya mantap menuruni anak tangga.
Di bawah sudah ada Mama Ana yang sibuk mencatat sesuatu pada buku tebal seukuran buku tulis biasa.
"Pagi, Mama!" sapa Syeril sambil meme'luk sang mama yang tengah duduk di meja makan.
"Mau ke mana kamu?" tanya Mama Ana curiga.
Syeril langsung memutar otak. Pasalnya, tak mungkin dia bilang akan jalan dengan Rafael, karena pasti Mama Ana tak akan memberi izin. Jalan dengan Faivi dan Adel? Oh, pastinya Mama Ana akan melakukan penolakan keras, karena ditakutkan Syeril akan belanja barang-barang tak penting lagi.
'Gimana, ya?' batin Syeril berbisik. Tiba-tiba sebuah ide muncul. "Mau jalan sama Reval, Mah."
Mama Ana langsung menatap Syeril penuh rasa tak percaya. Bukan apa-apa, awalnya sang anak menolak keras pemuda itu, lalu tiba-tiba akan pergi berdua. Ini sungguh aneh, pikir Mama Ana.
"Kamu nggak lagi bohongin mama, 'kan?"
Syeril yang tadinya berdiri, langsung duduk di depan sang mama, memasang wajah serius untuk meyakinkan wanita di hadapannya itu.
"Kita, kan, perlu saling mengenal, Ma. Emang salah, ya, kalo Syeril jalan sama Reval?"
Sungguh, Syeril mual membayangkan jalan berdua dengan Reval. Namun, dia harus tetap memasang wajah meyakinkan demi bisa keluar bersama Rafael.
"Ya, udah, Syeril batalin aja deh."
Ini bukan pilihan, karena bila Mama Ana tak mencegah, dia bisa batal jalan dengan Rafael.
"Dijemput, 'kan?" tanya Mama Ana.
"Mama, dia mana tau alamat rumah kita, sih? Dia belum pernah ke sini, kali."
Mama Ana tak menyanggah, karena Reval dan keluarga memang belum pernah bertandang.
"Kalo gitu hati-hati. Sampaikan salam mama untuk Reval, ya."
Syeril tersenyum ceria. Dia langsung menci'um pipi sang mama, kemudian melenggang pergi penuh sukacita.
Tiba-tiba langkah Syeril terhenti di dekat gerbang rumah, dia belum tahu janjian di mana dan jam berapa. Gadis cantik berkulit kuning langsat ini menghubungi Rafael melalui pesan singkat. Dia langsung naik taksi yang telah dipesannya sejak tadi sambil menunggu balasan dari pemuda chinese tersebut.
Tak sabar, Syeril menelepon langsung nomor Rafael. Setelah lima kali panggilan, barulah teleponnya terjawab.
"Lama banget ngangkatnya, Kak?" tanya Syeril ketika panggilan terhubung.
"Iya, ini lagi sibuk sedikit."
"Aku udah di jalan nih. Kita ketemuan di mana?"
"Kamu udah berangkat? Kita, kan, belum janjian jam berapanya."
Syeril tahu itu, tetapi dia hanya tak sabar saja menunggu hari spesial ini. Dia juga bosan di rumah terus menerus.
"Memang Kak Rafa bisanya jam berapa? Aku bisa nunggu kok."
Rafael menatap ponselnya gemas. Dia juga sedikit kesal, karena seakan-akan Syeril terlalu memaksanya.
'Anak ini udah jatuh dalam perangkap gue. Tapi ini terlalu cepat. Mana gue ada janji sama Bianca lagi,' dumal pemuda ini dalam hati.
"Aku kirim alamatnya, ya."
Syeril hanya menjawab, "Oke." Lalu, sebuah pesan masuk ke aplikasi bergambar gagang telepon miliknya.
"Pak, ke jalan Asmara, ya," pinta Syeril yang diangguki oleh sang sopir taksi.
Tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat tersebut. Syeril memperhatikan sekitar, hanya ruko berderet. Tempat ini juga sepi, walaupun banyak mobil dan motor terparkir.
"Non yakin mau ke sini?" tanya sopir taksi itu ragu.
"Menurut alamatnya sih bener ini, Pak."
"Hati-hati, Non. Ini bukan tempat untuk nongkrong anak remaja."
Syeril mendadak ragu. Namun, mana mungkin Rafael membuatnya kesasar? Setelah membayar argo, Syeril langsung turun dan menuju sebuah pohon sedang yang di bawahnya dilingkari pot buatan. Dia duduk di sana sambil menunggu pesan balasan dari Rafael.
Sudah lima belas menit berlalu, tetapi pesannya tak kunjung mendapat balasan. Padahal, sudah hampir dua puluh lima yang dia kirim. Pikiran Syeril mulai kacau, dia bangkit dan harap-harap cemas. Mobil dan motor semakin bertambah—ada juga yang mulai pergi—di sana. Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran sang pujaan hati.
Syeril dilanda kegelisahan. Dia mulai lelah dan kepanasan. Di sekitar sini tak ada penjual apa pun, tempat ini sepi sekali. Hanya ada orang-orang dewasa yang saling bergurau ketika masuk dan keluar ruko tersebut. Beberapa kali Syeril juga melihat perempuan seumuran dengannya tertawa dalam pelu'kan seorang laki-laki yang lebih pantas dipanggil "bapak".
"Kak Rafael mana, sih? Masa aku disuruh nunggu di sini? Ini tempat apa?" Syeril mengerak-gerakkan kaki penuh gelisah. Dia juga takut.
Dalam kecemasan gadis itu, tiba-tiba sebuah tangan menempel di pundaknya. Tentu saja hal itu membuatnya terlonjak kaget sambil berteriak, "Jangan!" Dia menghindar.
"Hai, ini aku!" kata seseorang tersebut.
"Kak Rafael?" Syeril langsung menabrakkan diri pada tubuh pemuda itu. Dia benar-benar ketakutan. "Aku takut, Kak. Kenapa Kakak lama sekali?" rengeknya dengan suara bergetar.
"Iya, tadi aku ada urusan sebentar." Rafael melepaskan pelu'kan Syeril.
Gadis ini membenahi rambutnya. "Tapi kenapa nggak bales chat-ku?"
"Aku lupa nggak bawa HP tadi. Udahlah, yuk kita masuk!"
Awalnya Syeril mengerutkan kening. Dia tak menyangka saja kalau diajak masuk ke tempat yang menurutnya menyeramkan itu. Dia pun masih belum bisa menerima penjelasan Rafael tadi. Apalagi pemuda itu sama sekali tak meminta maaf.
"Ki-kita ke sini, Kak?" tanya Syeril meragu.
"Iya, kenapa? Asyik kok tempatnya. Nanti kamu juga akan suka."
Rafael terus menggandeng bahu Syeril tanpa berniat melepaskan. Gadis itu pun
tak kuasa menolak. Dia mengikuti begitu saja ajakan Rafael.
Suasana terlihat lebih gelap di siang bolong seperti ini, tentu saja dengan hiasan lampu kelap-kelip yang khas. Rafael dan Syeril sudah duduk di depan meja bartender.
"Gimana, kamu suka?" tanya Rafael sambil memperhatikan wajah Syeril yang terpantul cahaya lampu warna-warni.
"Aku belum pernah ke sini, Kak," kata Syeril takut.
"Tenang aja. Nggak apa-apa, kok. Ada aku," kata Rafael meyakinkan. Dia mengusap punggung Syeril, membuat gadis itu merasa nyaman.
Berhasil! Syeril percaya sepenuhnya kepada Rafael. Jadi, dia mulai relaks dengan tempat dan suasana di tempat ini.
"Kamu mau minum apa?" tanya Rafael.
Syeril tampak berpikir, karena dia benar-benar awam soal nama-nama minuman di sini. Tak mungkin juga dia memesan es teh.
"Udah, biar aku yang pesanin, ya."
Akhirnya, Syeril memercayakan keputusan pada Rafael. Awalnya, tenggorokan Syeril seperti tercekat, tetapi setelah tiga kali tegukan, dia merasa biasa saja. Rafael memesan white wi'ne untuk Syeril.
Alunan musik dan suasana remang membuat Syeril hanyut dalam suasana. Apalagi sekarang dirinya sudah dikuasai minuman dur'jana itu. Rafael pun tampak sedikit ma'buk, tetapi dia masih bisa menguasai dirinya. Beda dengan Syeril yang sudah meracau tak tentu. Bicaranya melantur ke mana-mana.
"Kak Rafael ganteng. Aku cinta sama Kak Rafael dari dulu. Aku ingin jadi pacar Kakak. Kakak mau nggak?" Gadis ini bicara dalam keadaan tak sadar. Mungkin, dia akan tetap mengungkapkan isi hatinya, tetapi tidak sejelas itu. Bahkan, dia sampai menembak cowok di hadapannya tersebut.
"Kak Rafael, jawab dong!" rengek Syeril diiringi tawa kecil. Sejak tadi dia senyum-senyum tak jelas.
Diam-diam Rafael memperhatikan Syeril lebih dalam. Dia menyadari bahwa gadis di hadapannya itu sangat cantik. Tubuhnya juga seksi, apalagi dibalut dress dengan bahan tipis. Jiwa normal Rafael sebagai lelaki dewasa pun muncul.
"Aku rela kok ngelakuin apa aja demi Kak Rafa. Aku rela menyerahkan semuanya untuk Kakak."
Hal terbodoh yang pernah Syeril ucapkan sepanjang hidupnya. Tentu saja hal itu disambut baik oleh Rafael, yang memang sejak tadi sudah merasakan sinyal-sinyal ketegangan. Apalagi saat ini Syeril telah berada dalan dekapannya. Ya, gadis itu ambruk dan tak sadarkan diri.
Rafael membawa Syeril keluar dari tempat itu. Dia berniat membawa Syeril ke tempat lain yang sekiranya aman untuknya melakukan apa saja pada gadis polos tersebut. Namun, Rafael sudah tak tahan lagi, dia melampiaskan has'ratnya di luar mobil. Tubuh Syeril yang tak berdaya itu dia letakkan di atas kap dengan kaki masih menempel di tanah. Lidah Rafael bergerilya di leher Syeril, gadis itu tak bergerak sama sekali. Rafael sampai kesusahan memegang kendali tubuh Syeril karena gadis itu terlalu te'ler.
"Berengsek!"
Seseorang menarik baju Rafael dari belakang, lalu menghujani pemuda chinese itu dengan beberapa bo'gem mentah. Rafael yang tak berdaya mencoba melawan. Namun, tentu saja dia akan kalah oleh cowok dengan tingkat kesadaran sempurna. Rafael tersungkur setelah beberapa kali dipukul oleh Reval. Ya, pemuda itu datang tepat waktu setelah mendapat pesan dari Mama Ana agar Syeril diantar pulang nanti.
Awalnya, Reval mengerutkan kening, karena merasa tak mengajak atau janjian dengan Syeril. Namun, dia tahu kalau gadis itu sudah bisa dipastikan pergi dengan Rafael. Reval memang tidak tahu hubungan Syeril dengan Rafael sejauh apa, tetapi dia yakin kalau gadis itu pasti bersama Rafael.
Tepat sekali. Hampir saja Syeril kehilangan kehormatannya akibat kelakuan be'jat Rafael. Satu hal yang tak Syeril ketahui, Rafael bukanlah pemuda baik seperti yang ditunjukkan pada para penggemarnya. Reval mengetahui ini sejak lama, tetapi dia enggan ikut campur urusan teman kampusnya tersebut. Kali ini dengan terpaksa Reval turut tangan, karena namanya ada di balik izin Syeril kepada Mama Ana. Kalau sampai terjadi sesuatu pada gadis itu, nama Reval-lah yang akan tercantum sebagai pelaku utamanya.
Dengan sigap Reval membawa Syeril ke mobil di jok belakang kemudi. Setelah itu, Reval membawa Syeril ke apartemen milik sang papa. Tidak mungkin juga bila Reval mengantar Syeril pulang dalam keadaan mabuk seperti itu. Nanti Mama Ana akan terkejut dan menghujani Reval dengan banyak pertanyaan. Syeril melenguh dan berganti posisi. Reval menggeleng melihat gadis barbar tersebut, yang dengan mudahnya tertipu oleh mulut manis Rafael.
Tiba di apartemen, Reval terpaksa menggendong Syeril ke kamar. Gadis itu dia baringkan ke kasur berukuran king size. Tangan Syeril mengalung di leher Reval.
"Kak Rafael, i love you," kata Syeril sambil mempererat tangannya. Senyumnya pun berderai.
Hal itu membuat wajah Reval semakin dekat dengan Syeril. Aroma alkohol semakin mengganggu penciuman pemuda itu. Perlakuan Syeril itu pun hampir saja membuat Reval menciumnya. Namun, pemuda ini berusaha agar wajahnya tak menempel di wajah Syeril.
"Dasar, lagi mabuk aja masih sempat-sempatnya ngayal."
Reval melepas tangan Syeril dari lehernya perlahan. Sebelum menyelimuti tubuh Syeril dengan selimut tebal, Reval lebih dulu membuka sepatu dan mengancing baju Syeril yang tadi sempat dilepas oleh Rafael. Pemuda ini kembali ke luar untuk mengambil tas Syeril yang tertinggal di mobil.