Koridor sekolah sudah tampak ramai, banyak siswa-siswi melakukan kegiatan paginya masing-masing. Ada yang bercanda, menyapu, ada yang hanya membaca di kursi, di halaman sekolah ada yang main basket, dan lain sebagainya.
Syeril berjalan tanpa semangat. Wajahnya ditekuk, hati dongkol, dan kaki menendang-nendang lantai ketika menyusuri koridor sekolah. Hatinya masih belum terima dengan perjodohan tersebut, apalagi setelah tahu cowok yang akan dijodohkan dengannya.
'Kenapa harus dia, sih? Nggak ada cowok lain apa di dunia ini?' batin Syeril kesal.
Tanpa sengaja, ada yang menabraknya. Namun, dia hanya diam tanpa ingin memaki. Padahal biasanya, siapa pun yang mencari masalah dengannya akan kena makian, tetapi hari ini sangat berbeda. Bahkan, beberapa di antara mereka saling berbisik dan menanyakan kenapa Syeril aneh.
Dari kejauhan, Adel dan Faivi melihat gelagat aneh sahabat mereka itu. Keduanya mempercepat langkah untuk bisa mengejar Syeril.
Saat tiba di dekat gadis itu, Faivi dan Adel langsung menggandeng lengan Syeril, masing-masing di kanan dan kiri. Hal itu membuat gadis berambut sebahu ini mendengkus malas.
"Hai, Bosku! Kenapa lo?" tanya Adel sambil memperhatikan wajah Syeril.
"Dari kemarin gue perhatiin, kayaknya lo lagi ada masalah deh. Lo kenapa, sih? Cerita kali sama kita-kita," timpal Faivi tanpa niat melepaskan gamitan tangannya.
Mereka bertiga sudah tiba di kelas. Syeril dan Faivi langsung duduk di kursi masing-masing, sedangkan Adel menyeret kursinya agar dekat dengan kedua sahabatnya.
"Gak pa-pa kok gue."
"Gue gak yakin, sih. Tapi kalo lo gak mau cerita, ya nggak apa-apa. Iya, kan, Del?"
Adel mengangguk, lalu menopang dagu sambil menyimak.
"Lo itu udah lama kita perhatiin beda banget. Lo jadi pendiem, murung, kek orang kesambet tau nggak?"
Syeril mengembuskan napas berat. Rasanya memang terlalu tak adil saat dia tak menceritakan hal ini pada kedua sahabatnya. Namun, perjodohan ini adalah sebuah aib bagi Syeril yang tak akan dia umbar begitu saja. Apalagi dia masih sekolah. Pokoknya dia tak ingin menahan malu hanya karena perjodohan tersebut.
Tak berselang lama, Bu Osa datang dengan membawa setumpuk kertas. Guru wanita berkaca mata berperawakan gembul itu melenggang menuju mejanya. Adel langsung menyeret kembali kursinya ke tempat semula. Faivi dan Syeril pun mulai bersiap menerima pelajaran. Siswa lain pun melakukan hal sama.
"Hari ini ulangan Fisika," kata Bu Osa santai, membuat para siswanya bersorak karena ulangan mendadak.
"Sudah, diam semuanya!" Seketika siswa diam, tetapi ada beberapa yang bersorak "hu!" di tengah keheningan.
"Faivi, bagikan kertas ini pada teman-temanmu!"
Tanpa membantah, siswi peraih juara kelas dan menjabat sebagai sekretaris OSIS ini maju, lalu membagikan kertas ulangan sesuai perintah ibu wali kelas.
"Sial banget, sih! Pake ulangan segala lagi!" umpat Syeril yang didengar oleh Bu Osa.
"Kenapa, Syeril?"
"Oh, enggak, Bu. Bukan apa-apa."
Bu Osa memasang kembali kaca matanya yang sempat dia turunkan ketika menatap Syeril tadi.
*
"Lo pulang bareng kita, 'kan?" tanya Faivi kepada Syeril yang melintas begitu saja di hadapan kedua sahabatnya.
"Iya, Ril. Kita udah lama nggak nongkrong. Mas-mas di kafe itu sayang banget kalo dilewatkan."
Kedua gadis ini mengikuti langkah Syeril.
"Mas-mas siapa?" tanya Faivi ingin tahu.
"Eh, bukan. Gue nggak tau, sih, itu siapa. Pokoknya gue sering aja liat dia ke sana. Sayangnya, dia kalo ke sana pasti ketemu sama cewek itu. Gue nggak tau, sih, mereka pacaran atau enggak."
"Lo bahas siapa, sih?" Faivi masih belum mengerti, sedangkan Syeril sama sekali tak tertarik dengan pembahasan Adel.
"Syeril tau kok orangnya. Iya, kan, Ril?" Adel menyenggol lengan Syeril, tetapi gadis itu hanya melengos malas.
"Siapa? Gue lupa," jawab Syeril malas.
"Ah, lo nggak asyik banget sih, Ril!" cibir Adel kesal.
"Udah-udah, jadi gimana? Lo bareng kita, 'kan?" Faivi mengulang pertanyaannya.
Syeril hanya menggeleng malas menanggapi pertanyaan Faivi. Dia memang sedang malas ke mana-mana. Hari-harinya terasa tak ada harapan lagi.
Faivi dan Adel saling pandang, mereka semakin tak mengerti akan keadaan sang sahabat. Mereka menyimpulkan bahwa Syeril memang sedang dalam masalah besar.
"Ya, udah, deh. Kita duluan, ya."
"Lo hati-hati kalo pulang, Ril," pesan Faivi sambil menepuk lengan sang sahabat.
Syeril tersenyum kecil melepaskan kepergian kedua sahabatnya. Bukan menghindar, dia hanya ingin sendiri dulu dan tak ingin diganggu.
Gadis ini memutuskan jalan kaki dari sekolah ke halte busway terdekat. Pesan dari sang mama dia abaikan, padahal sudah diberitahu bahwa akan dijemput ketika pulang sekolah. Namun, Syeril memilih naik busway saja, atau nanti kalau berubah pikiran bisa naik taksi.
"Gue harus ngomong sama Reval. Dia harus menolak perjodohan ini. Gue nggak mau nikah sama dia. No, no!" Gadis ini mendumal lirih sepanjang jalan. Dia tidak akan pulang, lebih dahulu, melainkan ke kampus Reval untuk menemui pemuda tersebut.
Gadis ini batal naik busway, dia menyetop taksi untuk segera tiba di kampus Reval. Cepat-cepat menemui pemuda itu akan lebih baik, menurut Syeril.
Taksi berhenti tepat di pelataran kampus. Syeril keluar dan langsung mencari sosok bernama Reval. Dia lupa kalau sebenarnya tak menahu di mana kelas pemuda tersebut. Kemarin saat ikut ke sana, Syeril lebih memilih duduk di kantin sambil menunggu Reval selesai kelas.
"Maaf, kenal sama Reval?" tanya Syeril pada salah satu mahasiswi di sana setelah pasrah dalam mencari Reval.
"Ada dua Reval di sini, yang mana?"
Syeril menepuk jidat. "Pasaran!" umpatnya kesal.
"Kenapa?" tanya mahasiswi kurus itu yang samar-samar mendengar u*****n Syeril.
"Enggak, Kak. Bukan apa-apa. Makasih, ya, Kak."
Syeril segera pergi. Dia kembali mencari Reval sendiri. Mata gadis ini memindai setiap sudut koridor, tetapi tak dia tangkap sosok bernama Reval tersebut.
"Ke mana, sih, tu cowok? Kadang muncul tiba-tiba tanpa susah-susah gue cari. Ini, gue cariin malah gak keliatan batang hidungnya." Syeril semakin menekuk wajah.
"Kak, Kak, maaf mau tanya. Kenal Reval nggak? Yang tubuhnya agak kurus, rambutnya berponi, pipi rada tembam, terus kira-kira tingginya segini." Syeril mengukurkan tangan di atas kepalanya sendiri.
"Reval anak Teknis?"
Syeril cengo, karena dia memang tak menahu jurusan yang diambil Reval.
"Kamu lurus aja, di ujung sana kelas dia."
Syeril mengkuti arah telunjuk mahasiswa yang tadi dia tanyai. Tak lupa dia mengucap terima kasih pada mahasiswa tersebut, lalu melenggang cepat ke kelas Reval.
'Beneran Reval yang gue maksud bukan, sih?' batin Syeri mendadak ragu. Sebab, ada dua Reval di kampus ini, sedangkan Reval yang dia maksud itu entah siapa nama panjangnya.
Gadis yang masih mengenakan seragam SMA dengan hoodie pink ini mengintai dari kaca jendela yang tirainya terbuka. Dia pindai satu per satu wajah orang-orang di dalam sana, tetapi tak dia temukan juga manusia bernama Reval itu.
"Pasti Reval yang gue maksud nggak ada di sini. Uh!" Syeril mengentakkan kaki, lalu pergi dari sana.
Rasa putus asa sudah menjalari benaknya. Gadis ini memutuskan untuk pulang saja, daripada pusing mencari Reval di tempat yang tak seluas daun kelor ini.
Namun, kali ini dia harus benar-benar jalan kaki, karena uangnya sakunya sudah habis untuk naik taksi tadi.
"Sial banget, sih, gue? Berengsek!" umpat Syeril sambil mengayun-ayunkan tas sekolahnya.
Dari belakang, sebuah mobil berjenis sedan warna putih ini berhenti di depan Syeril. Sang pemilik keluar, lalu mendekati gadis ini.
"Hai!" sapa pemuda tersebut.
Jelas saja mata Syeril langsung berbinar ketika mendapati sang pujaan hati berdiri di hadapannya.
"Kaka Rafael?" kata Syeril dengan pupil melebar.
"Kok jalan sendirian, sih?" tanya Rafael sambil menyapu jalanan, tak ada siapapun yang membersamai Syeril.
Syeril hanya nyengir sambil berkata, "Iya, Kak." Nada bicaranya terdengar malu-malu.
"Terus, mau ke mana atau dari mana?"
"Dari ...." Tangan Syeril siap menunjuk, Rafael pun hampir mengikuti telunjuknya. Namun, gadis ini segera menarik tangannya kembali. Dia tidak mungkin bilang kalau sedang mencari Reval.
Kening Rafael mengerut. Syeril tahu kalau pemuda di hadapannya sedang menunggu jawaban darinya.
"Aku dari rumah temen tadi, kebetulan lewat sini. Sekarang mau pulang, sih, Kak." Gadis ini memainkan tali hoodie-nya.
"Pulangnya jalan kaki?"
Syeril mengangguk cepat.
"Gimana kalo aku antar aja?"
Bagai mendapat durian runtuh, Syeril langsung mengiyakan. Terlihat begitu murahan, tetapi memang dia juga sudah berharap diantar oleh Rafael sejak tadi.
"Rumah kamu di mana?"
Kali ini keduanya sudah ada di mobil, bahkan roda tersebut sudah menggelinding. Syeril menyebut alamat rumahnya, membuat Rafael mengangguk.
Suasana mendadak hening. Syeril merasa canggung dan nerfous ketika dekat dengan pemuda pujaan hatinya itu.
"Kamu kenapa?" tanya Rafael yang membuat Syeril menoleh gugup.
Gadis ini menggeleng.
"Gimana kalo kita makan siang dulu? Aku laper, nih."
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Syeril bahagia luar biasa saat ini. Ternyata, kesialannya berujung manis. Tanpa berharap, dia malah bertemu Rafael, diajak kencan pula.
'Eh, apa ini yang disebut kencan?' batin Syeril sambil menatap Rafael dengan bibir digigit.
"Kenapa ngeliatin aku kayak gitu?" ujar Rafael ketika merasa ditatap penuh nafsu oleh Syeril. Biar bagaimanapun, Rafael adalah pemuda dewasa yang mampu mengartikan gerak-gerik lawan jenisnya, apalagi ABG seperti Syeril.
"Enggak, Kak. Nggak apa-apa," jawabnya malu, dia menunduk.
Rafael tersenyum penuh arti. Dia mulai bisa membaca pergerakan gadis di sampingnya itu. Soal kecil kalau hanya untuk menilai isi hati anak bau kencur seperti Syeril ini. Sedikit perhatian darinya, pasti akan membuat sang gadis lumpuh dan jatuh dalam pelukannya.
"Kenapa? Kamu suka sama aku?"
"Hem?" Syeril langsung menoleh kaget. Bahkan, sama sekali dia tak membicarakan soal isi hatinya, tetapi cowok di sampingnya itu mampu mengetahui apa yang dia simpan.
Rafael tergelak melihat kepolosan Syeril. "Kamu itu lucu banget, ya."
Syeril merasa terbang dipuji seperti itu. Dia benar-benar bahagia saat ini. Ditraktir makan oleh Rafael, di antar pulang pula. Benar-benar sebuah keberuntungan tak terduga.
"Makasih udah ngajak aku makan, ya, Kak. Makasih juga udah dianterin pulang."
Rafael tersenyum setelah memperhatikan rumah Syeril. Pemuda ini berkata, "It's okay. Sama-sama, Syeril. Makasih juga udah nemenin makan siang aku, ya. Eh, nanti kita ...." Rafael membuka ibu dan jari kelingking, sementara jari lainnya tertutup, lalu menggerakkan tangan di dekat telinga.
Tentu saja Syeril mengangguk-angguk bahagia. Perasaannya saat ini tengah berbunga-bunga. Dia bahkan masih tersipu malu setelah mobil Rafael hilang dari pandangannya.
Saat berbalik badan, Syeril dikejutkan oleh seseorang yang ada di depannya. Dia hanya terbengong saat ini. Detik berikutnya, gadis ini salah tingkah. Mama Ana terus memperhatikan anak gadisnya tersebut.
"Siapa dia?" tanya Mama Ana penasaran.
Syeril menoleh ke belakang, maksudnya jejak Rafael seolah masih ada di sana. Gadis ini menggaruk tengkuknya.
"Em, itu, Mah. Dia ... temenku, Mah," jawab Syeril kikuk.
"Temen? Kalau temen kenapa muka kamu merah?" selidik sang mama.
Syeril tak dapat menjawab.
"Kamu harus jaga perasaan Reval. Doa itu calon suami kamu, jangan ulangi lagi, ngerti?" nasihat Mama Ana.
Seketika Syeril mengerucutkan bibir. Dia
sebal dan tidak suka diatur-atur seperti itu. Apalagi tentang Reval, Syeril begitu membencinya.
"Iya, ngerti," jawab Syeril seadanya sambil berjalan masuk rumah dengan kaki sedikit dientak-entakkan.
Mama Ana menggeleng-geleng melihat Syeril.
"Apa-apa diatur! Apa-apa Reval! Sejak dia datang dalam hidup gue, gue itu selalu aja ketiban sial! Belum nikah aja gue menderita, gimana kalau udah nikah nanti? Sebel gue!" dumal gadis ini sambil menaiki anak tangga.