Bab 10 : Pertemuan Keluarga

1703 Words
* "Reval, apakah kamu sudah siap?" tanya Oma Wening. Dia mendekati sang cucu yang masih sibuk mengenakan jaket. "Sebentar lagi, Oma," jawab Reval lemas. "Apa kamu berubah pikiran, Reval?" tanya Oma Wening yang menangkap sesuatu dari wajah sang cucu. Reval menatap Oma Wening, sejujurnya dia ingin berkata "iya", tetapi pasti itu akan sangat membuat orang yang dia sayang terluka. "Oma bahagia tidak?" kata Reval berikutnya. "Oma tidak akan bahagia kalo kamu pun sama." "Oma sayang sama Kakek?" Reval mendekat. Oma Wening menunduk. Perasaan berat bergelayut dalam dadanya. Di sisi lain dia ingin mewujudkan permintaan terakhir sang suami. Namun, di sisi lain dia juga berat melihat Reval terpaksa menjalani takdirnya. "Oma tenang aja, Reval bahagia kok. Reval nggak akan berubah pikiran," kata pemuda ini penuh kemantapan. Dipegangnya kedua bahu sang oma, lalu membawa wanita renta itu dalam dekapnya. 'Banyak hal yang harus kamu lewati, Reval. Maafin oma kalo ini menyakitkan,' batin Oma Wening. Dia mencoba menahan air matanya agar tak jatuh. Pertemuan dua keluarga pun tiba. Mama Ana, Papa Johan, dan Syeril sudah tiba di restoran yang mereka janjikan dengan keluarga Pak Brathayuda. Sementara itu, keluarga Pak Bratha baru saja sampai di tempat tersebut. Reval memarkirkan mobilnya. Sebenarnya dia bisa memakai jasa valet, tetapi di halaman restoran tersebut ada parkiran kosong. Jadi, Reval memutuskan parkir sendiri. Oma Wening, Pak Bratha, dan Mama Sonya memasuki restoran lebih dahulu. Mereka menuju meja yang telah dipesan Papa Johan. Wajah Mama Sonya sama sekali tak menyiratkan kesukaan. Bahkan, ronanya tampak murung dan kesal. Namun, dia tak dapat membantah keputusan yang telah dibuat oleh ibu mertuanya. Apalagi sang suami pun turut andil dalam hal ini, itu membuat Mama Sonya tak bisa berkutik. "Selamat malam, maaf kami terlambat," ujar Oma Wening. Dia langsung menjabat tangan Papa Johan, sedangkan kepada Mama Ana saling menempelkan pipi mereka. Semua saling berjabat tangan, kecuali yang sesama perempuan, mereka saling cipika-cipiki. "Mari, silakan duduk!" ujar Mama Ana dengan tangan tergerak. Karena sudah dipersilakan, Oma Wening sekeluarga duduk di tempat yang telah tersedia. Restoran mewah ini memberikan ruangan VIP bagi tamu yang menghendaki. "Lho, Si ...." Baru saja Mama Ana mau bertanya, tetapi Oma Wening sudah tahu apa yang akan ditanyakan wanita bertahi lalat di dagu tersebut. "Lagi markirin mobil, sebentar lagi juga datang," jawab Oma Wening. Mama Ana dan Papa Johan mengangguk paham. Mereka memesan makan dan minum sebelum membicarakan hal selanjutnya. 'Semoga aja tuh cowok gak ke sini. Kabur atau ke mana gitu. Gue gak mau dijodohin sama dia. Tuhan, bantu aku!' batin Syeril. Kegelisahan hati itu dia tepis dengan memainkan ponsel. Hitung-hitung mengusir jenuh juga. Perbincangan hangat terjadi antar orang tua. "Maaf saya terlambat," ujar Reval yang telah berdiri di dekat mereka. "Gak apa-apa, Nak. Silakan duduk!" kata Mama Ana. Pak Bratha dan Mama Sonya bergeser sedikit, memberi ruang pada Reval agar bisa bergabung. Syeril sama sekali tak menoleh, dia masih fokus pada gawainya. Reval pun tak terlalu memperhatikan, karena baginya bisa hadir di sini sudah bagus. "Syeril," panggil Oma Wening, yang membuat si pemilik nama menoleh. "Ini, kenalin dulu. Dia cucu oma, namanya Reval," lanjut Oma Wening ramah. Dengan malas Syeril menoleh pada sosok yanh ditunjuk Oma Wening. "Reval, ini Syeril," kata Oma Wening lagi Akhirnya, Syeril dan Reval saling tatap. "Elo?!" Mereka berkata kompak. "Jadi, kalian udah saling kenal?" tanya Oma Wening dengan binar bahagia. "Bagus dong kalau gitu, jadi kita gak repot lagi buat ngenalin kalian," tambah Mama Ana. Syeril masih cengo. Dia tak menyangka, cowok yang akan dijodohkan dengannya adalah Reval, pemuda yang belum lama ini dikenalnya. Meski begitu, hal ini tak membuat niat Syeril untuk menolak perjodohan menyurut. Justru, dalam hatinya seolah arang itu telah membara. Dia semakin nekat menolak. Bahkan, akan membuat perhitungan dengan Reval. 'Idih, amit-amit! Mimpi apa gue semalam? Bisa sial bertubi-tubi gue kalau gini ceritanya!' batin Syeril sebal. Sepertinya para orang tua sangat senang. Hanya saja Mama Sonya yang terlihat biasa saja. Memang dari awal dia tidak setuju dengan rencana ibu mertuanya tersebut. "Kalian udah lama kenal?" tanya Mama Ana. "Enggak kenal. Iya, nggak kenal kok," Syeril memasang wajah jutek. "Ya, udah. Lepas ini kalian pasti saling kenal. Bukan begitu, Han?" tanya Pak Bratha. Papa Johan mengangguk setuju. Oma Wening pun tersenyum simpul. Dia bahagia, akhirnya bisa mempertemukan Reval dengan Syeril. Itu artinya, sebentar lagi keinginan mendiang suaminya terlaksana. Reval memperhatikan siluet yang ditunjukkan sang oma, pemuda ini pun bahagia. Sangat beda sekali raut wajah itu ketika di rumah tadi. "Kita segerakan saja, gimana?" usul Mama Ana. Mata Mama Sonya langsung menyorot tajam ketika mendengar ucapan Mama Ana. Dalam tatapan tersebut tersirat sebuah kata, "Jangan!" Namun, lagi-lagi Mama Sonya hanya bisa pasrah. "Maksudnya?" Syeril pura-pura bingung mengartikan tujuan pembicaraan orang tuanya. "Iya, Sayang. Kamu sama Reval akan segera tunangan." Ucapan lembut sang mama membuat Syeril kembali kaget. "Tunangan? Sama dia?" Syeril menunjuk ke arah Reval. "Ini ... ini bercanda, 'kan, Mah?" Mata gadis ini menatap sang mama, Papa Johan, Pak Bratha, Mama Sonya, dan Oma Wening bergantian. Berharap salah satu dari mereka membenarkan bahwa apa yang tadi didengarnya adalah salah. "Ini serius, Sayang. Kita udah bicarain ini sejak lama," jawab Papa Johan. "Iya, untuk mempererat rasa kekeluargaan, maka kami memutuskan untuk menikahkan kalian berdua." Mama Ana tampak senang. Alih-alih tersenyum, Syeril justru menatap sinis pada Reval. Namun, pemuda itu tampak biasa saja, seperti tak ada perlawanan darinya. Itu pula yang membuat Syeril kesal. 'Dia memang cowok paling nyebelin yang pernah aku kenal! Awas aja lo!' batin Syeril penuh kegeraman. "Reval permisi ke toilet sebentar, ya," pamit pemuda ini. Sama sekali tak ada yang melarang pemuda itu untuk menghindari kontak batin dengan keluarganya. Reval. Dia menutup pintu toilet sesegara mungkin. Dia sandarkan punggungnya pada dinding toilet cukup keras. Kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Nyeri dalam hatinya begitu menyiksa, tetapi dia tidak bisa memudarkan rona bahagia di wajah Oma Wening. Fakta mengejutkan yang paling membuatnya tak terima ialah, cewek itu adalah Syeril. Salah satu cewek yang sama sekali tak membuatnya tertarik, bahkan bila boleh memilih, dia akan menjauhi gadis itu. Reval memang belum lama, bahkan tak terlalu mengenal Syeril. Namun, dia sudah mampu membaca bagaimana sifat dan tingkah laku gadis itu. Beberapa kali bertemu dengan Syeril mampu membuatnya menilai dengan mudah. Hati Reval sudah terpaut pada Vania, tetapi gadis itu lebih memilih tersiksa bersama Niko. Ini sungguh menyakitkan bagi Reval. Dia menghantamkan kepalan tangannya ke dinding, untung saja toilet sedang sepi. Jadi, tak akan ada yang mengetahui aksi pesakitannya dia dalam sana. Di luar toilet, sudah berdiri seorang gadis dengan wajah ditekuk. Dadanya berdegup hebat, seakan-akan amarah itu siap membuncah. Dia mondar-mandir di depan toilet. Bila ada yang menatapnya aneh, gadis ini langsung menyoroti orang-orang itu dengan tatapan membunuh. Kesalahan Syeril, dia sedang berada di depan toilet pria. Sementara itu, Reval masih terlihat gusar. Dia berdiri di depan wastafel, mencuci wajahnya. "Kenapa harus secepat ini? Apa aku tidak boleh memilih pendamping sendiri? Kenapa harus aku?" lirih Reval. Pemuda ini menatap bayangannya di cermin. Sesaat kemudian, dia membasuh wajahnya kembali, berkali-kali. Berharap penat itu luruh bersamaan dengan aliran air wastafel. Merasa selesai dengan keluh kesahnya yang tak akan berakhir hanya dengan air, Reval memutuskan keluar dari toilet. Di hadapannya sudah berdiri Syeril dengan memasang devil. Tentu saja hal itu membuat Reval mengangkat sebelah alisnya. "Ikut gue!" Syeril menarik paksa Reval. Pemuda ini pun menurut, karena memang Syeril menariknya cukup kuat. Setelah merasa cukup jauh dari keramaian, gadis ini menepis tangan Reval begitu saja. "Kenapa, sih, lo selalu aja jadi hantu di hidup gue? Kenapa harus elo?" Reval diam, karena masih belum paham kata "hantu" yang dimaksud Syeril. "Kenapa lo diam aja dijodohin kayak gini? Lo itu cowok, harusnya lo bisa dong berontak. Ceme banget, sih, lo!" Syeril membabibuta. Lagi-lagi Reval diam. "Apa lo nggak laku sampai lo mau nerima perjodohan ini? Dan sejak kapan coba rencana ini terjadi? Apa jangan-jangan lo udah tau sejak lama, iya? Ah, payah banget sih lo jadi cowok?" Lagi dan lagi, Reval tak berkutik. Dia masih menyimak dengan baik amukan demi amukan yang dilontarkan gadis di hadapannya itu. Seperti yang diduga Reval sebelumnya, bahwa Syeril tak akan berpikir panjang atas hal yang sebelum dia lakukan. "Ooh, gue tau. Lo, kan, kampungan akut. Makanya lo nggak laku, nggak ada cewek yang mau sama lo. Iya 'kan? Makanya lo nerima gitu aja dijodohin sama gue. Iya sih, gue emang cantik, makanya lo mau-mau aja. Ck, basi!!" Reval masih bungkam. "Lo itu cupu! Elo ...." Syeril mendorong d**a Reval dengan telunjuk. "Udah ngehancurin masa depan gue!" umpatnya di depan wajah Reval. Saat Syeril akan pergi, pemuda ini meraih lengannya dan menatap gadis itu intens. Pergerakan Reval membuat gadis di hadapannya itu tercekat, tetapi tetap saja dia menatap Reval tak suka. "Apa pun alasan gue, lo nggak akan pernah ngerti dan nggak perlu tau. Karena hidup gue cuma gue dan Tuhan yang tau. Paham lo?!" Reval melepaskan tangan Syeril dengan kasar. Kemudian, dia pergi begitu saja dengan tangan dimasukkan dalam saku celana. Syeril menatap nanar punggung Reval yang semakin menjauh itu. Terselip pertanyaan yang tak dia mengerti. Reval sudah membuat hatinya bergetar, entah getaran apa. Yang pasti, bukan cinta. Sebab, kebencian masih mendominasi perasaannya. Namun, dia menangkap kegetiran yang sama di mata teduh itu. Reval kembali ke meja semula. Air wajahnya tampak begitu tenang, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa dan hatinya baik-baik saja. "Nggak ketemu Syeril, Val?" tanya Pak Bratha. Semua menatap kepada Reval. "Tadi Reval lihat masih di belakang," jawab pemuda ini, santai. "Maaf lama, tadi toiletnya penuh," alibi gadis yang baru saja tiba. Dia berjalan tergopoh tadi. Sebelum duduk, dia menatap tajam ke arah Reval yang sama sekali tak memedulikan hadirnya. "Nggak apa-apa, Sayang. Duduk!" ujar Oma Wening penuh kasih. "Kalian sangat cocok, ya. Nggak salah kalau kita besanan, Han." Pak Bratha begitu antusias. Papa Johan tersenyum sambil mengangguk. "Kamu benar, Yud. Kenapa nggak dari dulu aja kita dipertemukan lagi, ya?" tawa Papa Johan berderai, diikuti Mama Ana. Oma Wening tersenyum, tangannya mengusap pundak Reval, yang dibalas tatapan dan senyum oleh pemdua itu. Makan malam ini berlangsung hangat dan kekeluargaan sekali. Syeril terus mencuri pandang pada Reval, tentu saja dengan tatapan sinis dan tak suka. Namun, yang dipandang tetap keep calm menghadapi itu. Memang sosoknya yang tenang selalu tak menampakkan kemarahannya, benci, atau bahkan muak. Sama sekali itu tak terlihat dari raut wajah Reval, padahal hatinya sudah retak mengetahui pada siapa nantinya perjodohan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD