Bab 9 : Reval is Hero!

2303 Words
* Hari ini, di sekolah Syeril tampak sangat berbeda dengan sebelumnya. Tadi, dia juga dipanggil Bu Osa untuk menemui beliau di ruangan guru. Tak seperti biasanya yang membantah dan menyanggah dengan segala alibi, tadi Syeril diam saja dan nyaris tak bicara. Bu Osa saja sampai keheranan melihat sikap Syeril yang berubah seratus delapan puluh derajat itu. Lihat saja, saat ini pun ketika diajak ke kantin oleh teman-temannya—ketika kembali ke kelas setelah dari ruangan guru juga—terlihat murung. Faivi dan Adel saling pandang, tak mengerti akan perubahan sikap sang sahabat. "Lo kenapa, Ril? Dari tadi kayaknya ngelamun terus? Di grup alumni SMP juga lo gak muncul dua hari ini." Faivi memberanikan diri bertanya pada Syeril. "Di grup kita juga lo gak komen apa-apa. Lo kenapa, sih? Lagi ada masalah apa?" timpal Adel. Namun, yang diajak bicara tak menggubris. Syeril asyik dengan lamunannya. Sebab, tinggal menghitung hari saja dia akan berubah status, dan itu adalah hal terbesar dalam hidupnya yang sama sekali belum pernah terpikirkan olehnya. "Syeril!" Teriakan Adel dan Faivi membuat si empunya nama kaget. "Enggak, enggak apa-apa. Gue lagi badmood aja." Jawaban Syeril membuat Faivi dan Adel tak berani bicara lagi. Mereka sudah sangat tahu bagaimana Syeril ketika mood-nya hancur. Sedikit disenggol saja dia akan menjadi buas. "Eh, Vi. Lo tau nggak sih berita yang lagi viral akhir-akhir ini?" tanya Adel pada Faivi. Dia tak ingin mengganggu Syeril yang sedang tak baik-baik saja. "Oh, yang cewek menikah di usianya yang masih enam belas tahun itu? Yang dijodohin sama kakek-kakek gara-gara sebuah wasiat?" Faivi larut dalam pembahasan yang diangkat Adel. "Iya. Gue kasihan, deh. Ya, kenapa orang tua segitunya, sih? Lagian masa sama kakek-kakek? Yang benar aja! Kalo masih sebaya sih gak pa-pa, atau maksimal beda sepuluh tahunlah. Lha ini masa bedanya dua puluh lima tahun? Gue juga ogah kali." "Lo bener, Del. Gue juga bakalan kabur dari rumah kalo calon suami gue udah kakek-kakek kayak gitu. Ih, no!" "Apa-apa? Kalian bahas apa tadi?" Syeril mulai tertarik dengan pembahasan kedua sahabatnya. Sebab, hal sama tengah dialaminya saat ini. Namun, dia tak akan membuka semua itu di hadapan Adel dan Faivi. Cukup dirinya sendiri yang tahu. "Ada cewek kabur dari rumahnya gara-gara dijodohin sama kakek-kakek. Dia dapat pembelaan gitu dari netizen. Lagi happening banget di sosmed, Ril. Masa lo gak tau?" jelas Adel panjang lebar. Bukan menjawab, Syeril justru mengangguk-angguk sambil menyeringai. Dia mendapat ide akan perjodohan paksa tersebut. Dia berencana kabur, sama seperti yang dilakukan gadis dalam cerita Adel dan Faivi. "Dih, nih anak gila kali, ya?" cibir Faivi sembari melirik ke Adel. "Tau, nih! Kesurupan apa sih nih bocah?" timpal Adel yang tak kalah herannya. Syeril sama sekali tak peduli dengan cibiran kedua sahabatnya. Dia masih tersenyum bahagia sambil meninggalkan kedua sahabatnya itu. "Tu, kan, dia gila beneran deh gue rasa, Del." Sepanjang jam pelajaran berlangsung hingga bel sekolah berdentang, pikiran Syeril masih saja pada rencana kaburnya. Serentet cara dia susun sedemikian apiknya. Mulai dari bagaimana dia kabur, lewat mana, lalu menggunakan apa, bawa apa saja, pokoknya semua telah rapi dalam benaknya. Hingga malam itu tiba, dia mulai melaksanakan rencana yang sejak pagi dia susun. "Pokoknya gue gak mau dijodohin, titik! Gue harus kabur. Iya, gue harus kabur." Syeril mencari tali, paling tidak sesuatu yang bisa dia gunakan sebagai tali untuk meloncat dari kamarnya yang berada di lantai dua. Setelah memutar otak, dia menemukan cara. Diikatnya setiap selimut dengan selimut lain sehingga menjadi sebuah tali panjang. Lalu, dia ikatkan tali itu pada pembatas balkon, dan dia pun mulai turun. Tak ada yang mengetahui hal tersebut. Dia paham betul jam-jam satpam kompleks keliling di blok-nya. Akhirnya, Syeril berhasil turun dengan bantuan tali, meskipun tadi sempat hampir jatuh dan terpeleset. Syeril melempar tali tersebut ke atas. Tak lupa tadi menutup jendelanya sebelum turun, agar tak dicurigai kedua orang tuanya. Cerdas! "Mau ke mana malam-malam gini, Neng?" tanya salah satu satpam yang tak sengaja bertemu Syeril di dekat pos satpam. Bukan perkara sulit, semua sudah dipikirkan Syeril matang-matang. "Beli camilan di depan, Pak." "Kok nggak naik mobil?" "Enggak, dekat aja di sana." Syeril menunjuk dengan matanya. Memang mini market tak jauh dari kompleks-nya, hanya butuh berjalan beberapa meter sudah sampai. "Hati-hati, Neng," kata pak satpam tanpa menaruh curiga, karena Syeril pun tak membawa apa pun selain tas slempang kecil berwarna putih tulang. Gadis ini berjalan terus tanpa arah tujuan. Tadinya dia berpikir akan tidur di rumah Adel atau Faivi, tetapi urung dilakukan. Sebab, nanti mereka akan curiga dan malah bertanya macam-macam. Bisa-bisa perihal perjodohan itu akan ketahuan. Syeril tidak mau itu terjadi. "Gue ke mana dong sekarang? Mana udah malem banget lagi." Gadis ini menatap sekeliling, sepi. Dia ingat kejadian ketika dihadang preman waktu lalu. Tiba-tiba rasa takut menyergap. Syeril buru-buru pergi dan mencari tempat yang lebih ramai. Namun, tempat mana yang ramai saat jam sepuluh malam seperti ini? Gadis ini terus melangkah, hingga sampailah dia di sebuah taman. Taman ini pun sepi, tetapi tempatnya lebih terang dari sebelumnya. Syeril duduk. Dia melampiaskan amarah pada bunga di depannya. Untung saja tidak ada orang, jadi dia puas bertingkah seperti orang gila di sana. Bonusnya, dia tidak dimarahi pengurus taman karena sudah merusak tanaman mereka. Apakah di sini ada kamera CCTV? Syeril mendongak, menyapu sekitar, mencoba mencari letak CCTV. Namun, dia tak menemukan benda itu di sana. 'Aman!' katanya dalam hati sambil mengusap dadaa. "Gue benci sama Mama dan Papa. Apa-apaan mereka sampai jodohin gue segala? Emangnya ini zaman Siti Nurbaya apa? Apa mereka nggak ingin liat gue sukses?" Gadis ini kesal sekali. Dia terus mendumal tak jelas sambil sesekali mengentakkan kaki dan memukulkan tangan ke kursi taman. Tubuh Syeril mulai menggigil. Dia merapatkan jaket yang dia kenakan tadi. Waktu kian merambat, tanpa terasa sudah satu jam lebih dia berada di taman tersebut. "Eh, by the way gue tidur di mana, dong? Gak mungkin gue tidur di sini. Bisa abis digigit nyamuk gue." Gadis ini celingukan sambil menggaruk lengannya yang baru saja digigit nyamuk. Dia morogoh sakunya. "Annjjir! HP pakai ketinggalan lagi. Siaal! Siial! Argh!" Syeril memukulkan tangannya ke bangku yang dia duduki. Karena merasa jenuh, akhirnya Syeril memutuskan untuk pergi dari taman. Di sana selain sudah sepi sekali, pun banyak nyamuk yang membuatnya tak nyaman. "Gue mesti ke mana nih? Ke rumah Faivi? Gak banget deh, ntar gue diledekin kan bisa ancur nama baik gue. Ke rumah Adel? Diih dia apalagi. Bisa-bisa dia kepoin gue ntar. Duuh gue harus ke mana dong? God, please help me!" Gadis ini berjalan begitu saja tanpa memedulikan sekitar. Pikirannya hanya terfokus pada masalahnya saja, sehingga tiba-tiba sebuah mobil yang melintas hampir saja menabraknya. "Awas woy, minggir!" teriak si pengemudi sambil menekan kuat klakson, karena tiba-tiba Syeril muncul hendak menyeberang tanpa melihat kanan kiri. Tentu saja Syeril berteriak sambil menutup mata dengan tangan tanpa berniat pindah dari tempat yang dia pijaki. Pengendara mobil jenis sedan berwarna hitam itu membanting setir ke kanan, sehingga tak sampai menabrak Syeril. Gadis ini masih dalam keterkejutannya, dia belum bergerak sama sekali. Si pengemudi keluar dari mobil setelah beberapa saat berdiam meredakan kekagetan dalam dirinya. Dia melihat Syeril masih berdiri di tempat dengan posisi semula. Setelah tiba di dekat gadis yang hampir saja dia tabrak itu, pemuda ini langsung naik pitam. Sebab, hampir saja dia masuk penjara atau bahkan masuk dalam Daftar Pencarian Orang karena melarikan diri dari tanggung jawab. Untung saja dia sigap membanting setir tadi. "Lo nggak pa-pa, 'kan?" tanya pemuda tersebut. Setelah memastikan bahwa dirinya baik-baik saja, Syeril membuka mata. Dia mengangguk-angguk menanggapi pertanyaan pemuda tadi. "Lo itu kalo nyeberang pakai mata, liat kanan dan kiri dulu, ada kendaraan apa enggak. Jangan main nyelonong aja lo kek bajaj tanpa rem. Lo kira ini jalanan nenek moyang lo?!" amuknya. "Maaf ...." Gadis ini merunduk. Antara kalut dan merasa bersalah. "Maaf-maaf aja lo. Untung lo gak kenapa-kenapa. Kalo lo sampai ketabrak gimana? Kalo lo mati gimana? Siapa yang disalahin? Gue juga, 'kan? Makanya, lain kali lo tu hati-hati, jangan seenak jidat lo gini. Lo pikir gue gak—" Pemuda itu berhenti mengomel ketika terdengar tangisan dari mulut Syeril. "Loh, kok jadi nangis? Eh, sorry-sorry. Gue gak ada maksud maki-maki lo kok. Udah dong jangan nangis," katanya panik. Dia menoleh ke setiap penjuru, tak ada orang. Tangisan Syeril semakin kencang. "Eh, eh, kok malah kenceng, sih? diem dong, ntar dikira gue ngapa-ngapain lo, kan, gak lucu. Diem udah, maafin gue deh, ya." Tiba-tiba saja Syeril memeeluk pemuda di hadapannya, sehingga membuat pemuda tersebut sedikit tersentak. "Kak Rafael," isak Syeril dalam dekapan pemuda bernama Rafael tersebut. Akhrinya, Syeril diajak pemuda itu ke mobil. "Maaf ya, gue gak ada maksud buat marahin lo tadi." "Iya gak pa-pa, Kak. Gue juga yang salah." "Emm emang lo mau ke mana, sih, malem-malem gini? Sendirian pula?" "Gue kabur dari rumah, Kak." "Kabur?" Rafael kaget. Syeril hanya mengangguk. Dia tak mungkin bercerita pada Rafael pasal perjodohannya, nanti Rafael bisa ilfeel, pikirnya. "Terus, rencananya lo mau ke mana sekarang?" Syeril menggeleng, karena memang dia tak tahu harus ke mana. Namun, dalam hati dia sangat bahagia karena kekaburannya dari rumah bisa membuatnya bertemu dengan sang pujaan hati. "Syeril ikut Kak Rafael, ya. Boleh, 'kan?" Tentu saja pertanyaan gadis tersebut membuat Rafael teperenyak. Mana mungkin dia membawa anak gadis orang ke rumah? Seplayboy-playboy-nya Rafael, dia belum pernah mengajak cewek ke rumahnya. Palingan ke hotel atau tempat nongkrong saja. "Eh, sorry. Gue nggak bisa ngajak lo ke rumah. Gue itu indekos, jadi gak bisa ngajak cewek ke sana. Sorry banget." Rafael beralasan. "Tapi, gue bisa kok nganter ke rumah lo atau ke mana gitu. Ke rumah temen-temen lo mungkin?" Syeril menggeleng kuat. Dia tak ingin kembali ke rumah, karena pasti akan dimarahi lagi oleh kedua orang tuanya. "Jadi?" Rafael menunggu kepastian dari Syeril. Akhirnya, Syeril memutuskan untuk di antar Rafael, tetapi bukan ke rumahnya, atau ke tempat teman-temannya. Dia asal saja menunjuk tempat, dan Rafael menurunkannya di depan sebuah rumah berpagar besi yang terbuka. "Makasih ya, Kak Rafael. Maaf udah ngerepotin." "Sama-sama. Gue duluan, ya." Rafael pamit begitu saja tanpa menunggu Syeril masuk. Gadis ini dilanda kebingungan. Dia tak tahu sedang berada di mana. Merasa tak seharusnya ada di sana, Syeril memutuskan meninggalkan tempat tersebut. Dia berjalan tak tentu arah, pikirannya sudah kalut, dan badannya mulai lelah. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, dan beberapa saat kemudian tubuhnya ambruk. "Siapa itu?" Seorang pengendara menghentikan laju motornya, kemudian membuka kaca helm untuk memastikan seseorang yang tergeletak tak jauh dari tempatnya berpijak. Sejurus kemudian, pemuda bernama Reval ini mendekati perempuan yang pingsan tersebut. Reval membalik tubuh perempuan itu. "Syeril?" Reval kaget ketika melihat wajah gadis yang dia ketahui namanya itu. "Dia kenapa? Kok malam-malam bisa ada di sini?" Reval celingukan mencari seseorang, tetapi tak dia temukan. Akhirnya, Reval membawa Syeril ke sebuah pos tak jauh dari tempat gadis itu pingsan. Syeril dibaringkan di pos ronda, lalu Reval mencari minyak angin dalam tasnya yang kebetulan selalu dia bawa. Lalu, sepenuh hati pemuda ini mengoleskan minyak tersebut ke pelipis dan hidung Syeril. Beberapa saat kemudian, setelah dibantu pijat ringan pada kaki Syeril, gadis itu mulai sadar. Syeril melenguh sambil menekan kening yang masih terasa pening. "Gue di mana?" tanyanya sambil mengubah posisi jadi duduk. "Elo ada di pos ronda," sahut Reval. "Kenapa lo bisa sampe di tempat ini?" Syeril terhenyak, dia mundur dalam posisi masih duduk. "Reval?" katanya tak percaya. "Elo ngapain di sini? Kok lo bawa gue ke sini, sih? Jangan-jangan lo berbuat aasusila, ya, sama gue? Lo mau meesumin gue, ya? Ngaku lo!" Bukannya berterima kasih, gadis ini malah menuding Reval bertubi-tubi. "Mulut lo emang mulut mercon banget, ya. Seenak udel lo aja kalau ngomong. Tadi, lo itu pingsan, dan gue bawa lo ke sini. Gak mungkin, kan, elo gue biarin tidur di tanah?" "Gue pingsan?" Syeril mengingat-ingat kejadian sebelum pingsan. "Kak Rafael mana?" katanya. "Rafael? Mana gue tau. Orang lo sendirian ngegeletak di bawah pohon," tukas Reval yang membuat Syeril melongo. "Lo ngapain, sih, malam-malam ada di sini?" tanya Syeril sinis. "Lo sendiri ngapain? Cewek kok keluyuran tengah malam," cibir Reval. "Ditanya malah balik nanya. Dasar begeng!" "Ye! Yaudah, kalau gak mau jawab gak usah nyolot juga kali." "Siapa yang nyolot coba?" "Ck, daripada gue debat sama lo yang gak ada ujungnya, mending gue pergi. Di sini angker." "Ye! Pergi aja sono! Gue gak butuh elu juga keleus," sombong Syeril. Reval kembali menaiki motornya dan bersiap memutar stang gas. "Apa katanya? Angker?" Syeril melihat sekeliling yang begitu pekat. "Mammpus gue. Eh tunggu!" Gadis ini bergegas memakai tasnya, lalu mengejar Reval. "Apaan?" jutek Reval setelah mengenakan helm. "Gue ikut lo dong, gue takut." Reval mendengkus sebal, tetapi dia tetap mempersilakan Syeril ikut dengannya. Untuk ke sekian kalinya, Reval menjadi pahlawan tak terduga bagi gadis itu. "Lo kenapa tengah malam bisa ada di sini?" tanya Reval ketika roda motornya mulai berputar. "Gue kabur," jawab Syeril sekenanya. Reval langsung menghentikan laju motornya. Dia menoleh ke belakang. "Lo gila, ya?" "Bodo amat! Gue nggak mau dijodohin, Val!" "Iya, tapi nggak gini juga cara lo protes. Lo bisa ngomong baik-baik, 'kan?" "Enggak. Gue terlanjur sebel sama Mama dan Papa." "Nggak semua masalah bisa lo selesaikan dengan kabur. Masalah itu ada bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi. Cari solusi." Sesaat Syeril diam. Dia mencerna setiap kata yang diucapkan Reval. "Lagian lo mau terlunta-lunta di jalan? Nanti kalo lo ketangkep satpol PP, lo bisa dipenjara. Di sana lo disuruh-suruh kayak b***k. Lo mau?" Syeril menggeleng kuat. Pastinya dia tak akan mau seperti itu. Reval tersenyum, berhasil juga dia membuat "anak manja" itu menyerah. "Sekarang gue anterin lo pulang. Ayo!" "Kalo gue dimarahin gimana?" Syeril masih khawatir menghadapi ribuan pertanyaan dari kedua orang tuanya. Lagi pula, dia pasti akan kena marah lebih dari kemarin. "Diem. Salah satu cara untuk tidak mendebat adalah diam. Lo salah, lo harus diam dan tak menjawab apa pun selain yang penting. Ingat, jangan mendebat orang tua." Entah, Syeril menurut saja apa yang Reval katakan. Padahal, dia benci sekali pada pemuda yang awalnya dinilai culun tersebut. Akhirnya, Reval mengantar Syeril pulang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD