Bab 8 : Hukuman Final

1323 Words
Mama Ana pun serius dengan keinginannya. Malam ini, dia ikut sang suami bertemu dengan Pak Bratha untuk membicarakan kelanjutan bisnis mereka. Mama Ana dan Papa Johan sudah menanti kehadiran Pak Bratha. Katanya, dia masih dalam perjalanan menuju restoran tempat janjian. "Reval bisa ikut, Pa?" tanya Mama Ana pada sang suami. Sempat Pak Bratha mengabarkan bahwa Reval tak bisa ikut, karena ada kegiatan kampus yang tak bisa ditinggalkan. Awalnya, pertemuan ini tak jadi diikuti Mama Ana, karena dia berpikir bahwa memang Reval anak baik. Namun, karena terjadi masalah dengan Syeril atas penilangan tadi pagi, pikiran Mama Ana berubah. Dia ingin segera memberi tanggung jawab besar pada sang anak atas segala tingkah laku buruknya. "Mama sudah yakin sama keputusan ini, Pa. Mama ingin Syeril berubah jadi anak baik." "Iya, dengan memberinya tanggung jawab seperti ini, papa berharap dia bisa banyak berubah, Ma." Di sisi lain, Reval tengah fokus pada kemudinya. Malam ini dia diminta sang papa untuk mengantarkannya bertemu dengan rekan bisnisnya. Reval tak pernah menolak permintaan sang papa, walau lebih sering meminta waktu agar sabar sedikit menunggunya. Tentu saja hal itu tak jadi masalah bagi Pak Bratha, karena memang tujuannya mengajak Reval adalah mengajarinya berbisnis. Padahal, jurusan kuliah Reval sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan dunia perbisnisan. Reval memiliki cita-cita sendiri, yakni menjadi arsitek. Dia memang suka sekali dengan arsitektur. "Gimana kuliahmu hari ini? Skripsi udah siap?" tanya Pak Bratha, dia memasukkan ponsel ke saku jas setelah membalas pesan dari Papa Johan. "Skripsi belum, Pa. Masih Reval kerjakan, sih. Sisa sedikit lagi. Mohon doanya ya, Pa." "Pasti." Pak Bratha menepuk bahu Reval. "Papa harap nanti kamu bisa menggantikan posisi papa di perusahaan." "Bukannya ada Kak Marvin, Pa?" "Kalian berdua. Papa harap kalian bisa saling membantu nantinya. Bisnis papa, kan, banyak." Reval menatap sang papa, tetapi tak menjawab apa pun. Pak Bratha juga kembali fokus ke depan, karena restoran sudah terlihat dari jaraknya saat ini. Pak Bratha turun lebih dulu, Reval memarkirkan mobil. Beberapa saat kemudian, keduanya berjalan beriringan memasuki pelataran restoran. Setelah memasuki tempat tersebut, Reval memberi ruang pada sang papa agar berjalan lebih dulu. Sementara itu, Reval sendiri mengikuti langkah sang papa menuju meja yang tadi dimaksud Papa Johan melalui pesan. Papa Johan dan Mama Ana menyambut orang yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Mereka saling berjabat tangan. "Apa kabar, Han?" "Baik, Yud. Kamu sendiri gimana?" Papa Johan memanggil Pak Bratha dengan sebutan akrabnya semasa dulu, Yuda. "Ya, seperti yang kamu lihat. Masih segar bugar." "Eh, silakan duduk, silakan duduk!" kata Papa Johan. "Selamat malam, Om, Tante." Reval menyapa tanpa perintah. Dia menjabat tangan Papa Johan dan Mama Ana bergantian dengan penuh takzim. Mama Ana tersenyum melihat kesopanan Reval. Ya, kesan pertama yang membuat Mama Ana mulai kagum. "Ini anak kamu yang dulu kecilnya suka takut sama kucing itu, Yud?" "Iya, Han." Pak Bratha menepuk punggung Reval. "Udah gede sekarang." "Wah, dia beda sama kamu, Yud. Lebih tampan Reval," tawa Papa Johan berderai. Mama Ana turut menyunggingkan senyum. "Lho, anak kamu mana?" tanya Pak Bratha. "Ini bukan lamaran, 'kan?" seloroh Papa Johan, membuat Pak Bratha terbahak. Sementara itu, Reval sama sekali tak mengerti dengan perbincangan kedua orang tersebut. Apalagi sejak tadi dia diperhatikan Mama Ana, perasaan Reval menjadi tak enak. Dia jadi serba salah diperhatikan seperti itu. "Ini anak kamu yang pertama, Mas Yuda?" tanya Mama Ana memastikan. Sebab, dia belum pernah melihat kedua anak Pak Brathayuda ketika dewasa. Dulu, Mama Ana mengenal baik keluarga Pak Brathayuda ketika anak mereka masih sama-sama kecil. Usianya pun masih di bawah sepuluh tahun. Ketika itu, Marvin—anak pertama Pak Bratha—berumur delapan tahun, Reval masih tujuh tahun, dan Syeril sendiri baru menginjak empat tahun. "Iya, Mbak Ana. Sudah besar sekarang. Mau skripsi ya, Val?" tanya Pak Bratha pada Reval. Senyumnya menyeringai. "Insya Allah, Pa." "Ambil jurusan apa kamu, Nak Reval?" tanya Papa Johan. "Dia mencintai arsitektur, Han. Beda jauh sama harapanku." "Iya, nih, Om. Tapi Reval sedang ambil jurusan teknik, sih." "Wah, kamu memang keren. Sama seperti kakekmu dulu. Beliau arsitek terkenal pada masanya. Ternyata menurun ke kamu, ya." Pak Johan mengangguk-angguk. Mama Ana masih mengamati Reval begitu rupa. Lagi-lagi dia senang, dan tak kecewa dengan perjodohan yang akan dia perkenankan bagi Syeril. Menurut Mama Ana, Reval akan mampu membawa Syeril pada jalan kebaikan. "Kalo Marvin ke mana sekarang dia, Mas Yuda?" tanya Mama Ana. Obrolan mereka terjeda oleh pelayan yang datang membawa makanan. Sebelumnya, tadi Papa Johan sudah memesan lebih dulu, dan menawari Pak Bratha. Namun, Pak Bratha lebih memilih ikut saja. "Dia di luar negri, memilih kuliah di sana. Ambil S1 management," jawab Pak Bratha, bangga. Mama Ana mengangguk-angguk. "Kenapa Reval nggak nyusul Marvin juga?" "Saya lebih senang di Indonesia, Tante. Lebih dekat sama Mama dan Oma. Apalagi, kan, Oma lumayan jauh sama Reval. Jadi, kalo Reval ke luar negri juga rasanya nggak mungkin." Lagi, Mama Ana kagum dengan sikap Reval. Ternyata dia penyayang, batin Mama Ana. Obrolan mereka berlanjut sambil menyantap hidangan di meja. Urusan bisnis antara Papa Johan dan Pak Bratha pun berjalan lancar. Perpisahan antara mereka yang cukup lama, sama sekali tak membuat keduanya canggung atau merasa asing. Suasana masih sama, hangat, penuh kekeluargaan, dan berselimut canda. Reval sesekali ikut menimpali obrolan ketiga orang tua di hadapannya itu. * "Syeril!!" panggil Papa Johan lantang. Gadis yang baru saja hendak menaiki anak tangga itu pun berhenti seketika. Dia sempat kaget karena ternyata kehadirannya diketahui oleh sang papa. "Dari mana kamu jam segini baru pulang? Anak gadis keluyuran sampe tengah malam begini." Papa Johan sudah berada di dekat Syeril. Gadis itu pun balik badan dengan harap-harap cemas. 'Pasti diomelin nih gue,' batin Syeril khawatir. "Mana mobil Mama? Udah dibilang jangan nyetir sendiri, masih aja bandel kamu!" omel Papa Johan, tegas. "Ma-maaf, Pa. Syeril udah telat tadi," jawab gadis ini tanpa merasa berdosa. "Terus, ke mana mobil Mama?" Pak Johan masih dengan ketegasannya. "Em ... anu, Pa. Itu. Em ... mobilnya itu. Em ...." "Kamu memang harus dihukum yang berat supaya jera, Syeril!" lantang Papa Johan. "Jangan, Papa. Iya deh iya, Syeril janji akan jadi anak baik. Maafin Syeril, please ...." "Nggak ada maaf-maafan! Ke mana tadi kamu sampe nggak masuk sekolah?" Papa Johan masih dengan amarahnya mengintrogasi sang anak. "Ta-tadi ... Syeril ke ...." "Sudah papa duga. Pasti kamu kelayapan. Iya, 'kan?" bentak Papa Johan dengan mata membola. "Udah ditilang polisi, ngebohongin polisi, nggak patuh sama Mama, melanggar perjanjian, ini malah bolos lagi!" "Ya, kalo ke sekolah percuma, Papa. Di sana pasti Syeril dihukum. Mending Syeril cabut aja, 'kan?" "Sudah salah, masih aja menjawab kamu! Mulai besok, Papa putuskan akan menjodohkan kamu dengan anak sahabat papa. Titik!" "Tapi, Pa?" "Nggak ada tapi-tapian. Ini hukuman buat kamu!" "Pa, jangan dong, Pa! Syeril masih sekolah." "Sekolah kamu bilang? Anak sekolah itu pasti nurut sama orang tuanya. Bukan seperti kamu!" "Mama, tolongin Syeril, Ma!" teriak gadis ini. Dia masih saja tantrum seperti anak kecil. "Siapa pun nggak ada yang bisa nolong kamu. Keputusan papa sudah bulat! Ngerti kamu?!" "Papa, Syeril mohon! Syeril nggak mau nikah. Syeril masih pengin sekolah." Gadis ini masih berusaha menyelamatkan diri dari perjodohan tersebut. Namun, semakin Syeril berusaha merayu sang papa, semakin kuat pula keputusan yang Papa Johan ambil. "Mama udah ngasih kesempatan berapa kali ke kamu? Tapi hasilnya apa? Sama aja, 'kan? Jadi, terima risikonya." "Sekolah Syeril gimana, Mama?! Syeril gak mau nikah, titik!" "Terserah! Keputusan papa udah final!" "Papa sama Mama jahat!" Syeril lari ke kamar sambil menangis. Tak menyangka jika dia benar-benar akan dijodohkan dengan seseorang yang sama sekali tak dikenalnya. "Gue harus gimana? Gue gak mau dijodohin! Gak mau!" Syeril menangis, meratapi dirinya sendiri. Semua ini terasa begitu berat baginya. Dia masih belum mau meninggalkan masa mudanya yang penuh kebahagiaan. Dia belum siap menapaki kisah rumah tangga, mengurus anak dan suami, mengurus rumah, dan kerjaan lain yang menjadi ciri khas ibu-ibu. No! Syeril menolak keras keputusan sang papa. Dalam benaknya, dia membayangkan jika dirinya berubah menjadi wanita gendut, rambut dan badan tak terawat, lalu direpotkan dengan anak-anak yang menangis. "Tidaaakk!!" Syeril teriak histeris atas khayalannya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD