Bab 7 : Lucky Girl

1484 Words
"Ayo, gue anterin lo pulang," kata Reval tiba-tiba. Dia bangkit. Syeril menghentikan tawanya. Dia mengikuti pergerakan Reval. "Lo duluan, deh. Gue nggak mau pulang. Gue takut dimarahi nyokap." "Jadi, lo mau ke mana? Gue nggak bisa ngebiarin lo sendirian di sini." "Memangnya kenapa?" tanya Syeril penasaran. Reval melengos. "Lo mau ketemu preman itu lagi?" Seketika Syeril terdiam. Dia memikirkan cara untuk pergi dari sini, tetapi tidak pulang sebelum jam sekolah usai. "Gue ikut elo boleh, 'kan?" Reval tergemap mendengar penuturan Syeril. Bahkan, sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu akan mengikutinya. Syeril menangkap gelagat penolakan dari mata Reval. Secepat kilat dia mengangkat kedua tangannya ke depan wajah dengan posisi telapak saling menempel. Tak bisa menolak, Reval mengembuskan napas lalu menaiki motornya. Mau tak mau, dia tetap mengajak Syeril. Tentu saja gadis tersebut melompat girang. * Semua mata mahasiswa di sana tertuju pada Reval dan Syeril. Ya, tentu saja mereka menjadi pusat perhatian ketika menapaki pelataran kampus. Karena merasa aneh dengan pandangan teman-temannya, Reval akhirnya menoleh pada Syeril yang ada di samping kirinya. Seketika dia menepuk jidat, baru sadar jika gadis itu masih memakai seragam sekolah, di jam sekolah pula. Reval berhenti, dia menyeret Syeril untuk pergi dari sana dalam beberapa waktu. Tentu saja hal itu membuat Syeril merasa aneh. Dia mengerutkan dahi, tetapi tetap mengikuti langkah Reval yang tergesa. "Ada apa, sih?" tanya Syeril tak mengerti. Reval melepas jaket dan memberikannya pada Syeril. "Pakai jaketnya. Lo, kan, masih pakai seragam sekolah. Gak enak diliatnya, ntar mereka ngira lo bolos," kata Reval. Syeril mengikuti instruksi Reval tanpa sedikit pun melakukan perlawanan. "Meskipun emang bolos, sih," sindir Reval, lalu pergi begitu saja. "Kammpret! Mau ngatain aja sok-sokan baik. Eh, tapi kalau dipikir-pikir ... ngapain juga gue ikut dia ke sini tadi? Ah, b**o!" umpatnya pada diri sendiri. Setelah memakai jaket dan tas punggungnya, Syeril mengejar Reval, menyamakan langkahnya dengan pemuda tersebut. "Kok lo ninggalin gue, sih?" protes Syeril yang tak dipedulikan oleh Reval. Pemuda ini terus berjalan, sesaat matanya menangkap seseorang di ujung sana yang tengah berdiri dengan wajah kalut. "Lo tunggu di sini sebentar, ya. Gue ada urusan." "Mau ke mana lo?" Tak ada jawaban. Reval pun sudah jauh. "Ish! Ngeselin banget, sih, tu cowok." Syeril mengentakkan kaki kesal. Dia memutuskan menunggu Reval di tempat, sambil terus memperhatikan pemuda itu yang kian menjauh. Reval tiba di depan seseorang yang tadi dia perhatikan dari jauh. Hendak mendekat, tetapi ragu. Namun, ketika gadis itu akan melangkah, secepat kilat Reval mencekal tangannya. Mengetahui kehadiran Reval, Vania langsung mengusap air matanya yang sebentar lagi menetes. "Kamu bertengkar lagi sama Niko?" Tanpa perlu dijelaskan, Reval sudah mengetahui apa yang membuat Vania sedih, bahkan sampai menitikkan air mata. "Kenapa kamu masih bertahan sama cowok kayak dia?" Vania masih tak menjawab, hanya air mata itu yang senantiasa menjawab setiap lukanya. "Berapa kali aku bilang, tinggalkan dia? Masih banyak cowok di luar sana yang bisa menghargai kamu sebagai wanita, yang sayang sama kamu." "Cukup, Val! Kamu nggak pernah tau hidupku dan hubunganku dengan Niko. Jadi, berhenti ikut campur!" "Aku tau itu, tapi kalo kamu setiap hari nangis kayak gini, aku gak bisa tinggal diam, Vania." "Cukup! Kamu itu bukan siapa-siapa. Jadi, cukup sampai di sini aja kamu sok tau dan mencampuri urusanku!" Vania pergi begitu saja tanpa memedulikan panggilan Reval. Tentu saja hati Reval hancur mendengar ucapan Vania tadi. Memang Reval bukan siapa-siapa bagi Vania, tetapi dia hanya ingin melindungi gadis itu dari tindak jahat Niko. Bahkan, memar-memar di wajah Vania membuat hati Reval bagai terguris. Dia tak tega melihat orang yang dia sayang menderita. Namun, lagi-lagi kenyataan menghempaskannya telak. Dengan perasaan kecewa, Reval kembali menemui Syeril. Namun, gadis itu sudah tak ada di tempat. Mata Reval mengedar ke segala penjuru, tetapi sosok gadis yang tadi ditolongnya itu tak terlihat. Reval berdecak kesal. "Ngerepotin aja tu anak!" sebalnya. "Kak Rafael?" Mata Syeril berbinar ketika melihat sosok yang tadi dia kira Rafael, tenyata benar adanya. "Jadi, dia kuliah di sini? Ah, mantap nih. Gak salah gue ikut tu cowok kemari," gumam Syeril sambil menjentikkan jari. Dia mulai mendekati lapangan, tempat Rafael bermain basket bareng teman-temannya. Syerli memperhatikan setiap gerak Rafael yang terkadang mencipratkan keringat. 'So sexy!' batin Syeril sambil menggigit bibbir. Sudah lama dia mengagumi Rafael. Pertama mengenalnya dari Faivi yang memang sering sekali melihat Rafael bermain musik sambil bernyanyi di panggung. Faivi pun mengetahui hal itu dari video di laptop sang kakak tanpa sengaja. Sejak saat itu, Faivi menceritakan pada Syeril tentang Rafael, hingga akhirnya Syeril mencari tahu sendiri siapa itu Rafael, dan sekeren apa sosoknya. Ketika melihat performa pentolan kampus tersebut, Syeril langsung jatuh cinta. Apalagi membaca biodata cowok chinese tersebut, Syeril semakin berdecak kagum saja. Siapa yang tak mengenal Rafael? Cowok ganteng bersuara merdu, pandai bernyanyi, main alat musik, kapten basket, berprestasi, dan bentuk badannya yang membuat kaum hawa melongo ketika melihatnya. Dia adalah idola di kampus ini, Reval saja tidak ada apa-apanya, kecuali memang soal prestasi Reval lebih unggul satu tingkat di atas Rafael. Namun, hal itu tak serta-merta membuat Reval dikagumi banyak gadis. Sebab, namanya kurang dikenal oleh siswi di kampus ini. Reval sering menarik diri dari khalayak, dia memang kurang suka menjadi terkenal. Beda dengan Rafael yang memang senang sekali menjadi sorotan. Siapa pun tak akan berhenti mengaguminya. "Ha, dia ke sini? Oh my god!" Syeril jadi salah tingkah saat Rafael berjalan menuju ke arahnya. "Ini, aku mimpi atau nyata, sih?" Gadis ini mencubit lengannya sendiri. Tentu saja dia berjingkat dan mengaduh, karena ini memang nyata, bukan halu, sulap, apalagi mimpi. "Hei, anak baru, ya?" tanya Rafael saat sudah berada di depan Syeril. Dia mengusap peluh dengan handuk kecil berwarna putih. Syeril menyisir rambutnya dengan tangan dan merapikan penampilannya agar Rafael terkesan padanya. "Bukan, Kak. A-aku .... Oh, iya. Kenalin, Kak. Namaku Syeril." Gadis ini mengulurkan tangan setelah mengusapnya tadi. Namun, belum juga sempat berkenalan, tiba-tiba Reval muncul. "Heh, dicariin malah di sini. Ayo, ikut gue!" kata Reval sambil memegang pergelangan tangan Syeril. "Ih, bentar kenapa, sih?" Syeril mencoba melepaskan tangan Reval. Namun, pegangan pemuda itu terlalu kuat. "Maaf ya, Kak. Aku permisi dulu, daaa!!" Syeril melambaikan tangan saat dia ditarik oleh Reval menjauh dari sang pentolan kampus tersebut. Di sudut koridor, Syeril menepis tangan Reval dari pergelangan tangannya. "Biasa aja kali, sakit tau!" pekik gadis ini sambil mengusap tangannya yang memerah. "Lo kecentilan banget, sih? Ingat ya, ini kampus gue, dan lo jangan bikin gue malu, ngerti?!" "Dih, sok banget, sih, lo! Apa hubungannya kecentilan gue sama lo coba?" Syeril bersedekap daada, kesal sekali pada Reval yang seenaknya. "Jelas ada. Lo ke sini sama gue, jadi gak usah macam-macam. Paham?!" tandas Reval, kemudian berlalu meninggalkan Syeril dengan kekesalannya yang memuncak. "Ish, lo itu emang nyebelin! Hih!" sewot Syeril sambil mengentak-entakkan kaki. Namun, lepas dari sikap Reval yang tak disukainya, Syeril cukup senang berada di kampus ini bersama pemuda itu. Sebab, dia bisa bertemu dengan Rafael. Betapa bahagianya Syeril ketika Rafael minta nomornya, serasa mengawang di udara kala itu. Untung saja Reval tak tahu, bisa-bisa Syeril dimaki-maki. Kini, Syeril tak perlu lagi menjadi pengagum rahasia bagi Rafael, karena dengan sekali klik saja dia bisa berbalas pesan atau bahkan mendengar suaranya. Lebih menyenangkannya lagi, Syeril bisa memantau Rafael dari story w******p. Benar-benar keberuntungan yang luar biasa. "Gue nggak nyangka bisa ketemu Kak Rafael di sini. Dia sekampus sama lo, ya?" tanya Syeril dengan mata berbinar-binar sambil menatap layar ponsel. "Menurut lo?" Reval berkata sangat dingin sambil menikmati kopi sussu di kantin kampus. "Ya, gue, kan, nggak tau kalo dia sekampus sama lo. Ih, gimana, sih, lo?" ketus Syeril. "Lo gegar otak, ya, akibat pingsan waktu itu?" Mendengar perkataan tersebut, Syeril melirik tajam ke Reval. "Ya, ampun! Gue baru inget. Iya, iya. Astaga! Seharusnya gue itu dapat pembimbing Kak Rafael saat itu. Eh, malah taunya dapat elo. Sumpah, sial banget gue, malah sialnya terbawa sampe sekarang." Syeril berkata tanpa merasa segan. Bahkan, dia bebas berekspresi di depan Reval. "Eh, ngomong-ngomong, cewek tadi pacar lo, ya?" Pertanyaan Syeril membuat Reval tersedak. Wajahnya sampai merah, pasti sakit sekali. Mencoba ditahan untuk tidak batuk, tetapi semakin menyiksa. Syeril menatap penuh keanehan pada Reval. "Beneran pacar lo?" kata Syeril lagi. Kali ini Reval mengembuskan napas perlahan, tak ingin degupan dalam daadanya didengar oleh gadis kepo di hadapan. "Enggak, bukan." "Enggak apa bukan? Yang jelas dong! Gimana, sih?" Syeril berkata sekenanya saja, tanpa peduli reaksi yang ditunjukkan oleh cowok di depannya tersebut. Gadis ini pun masih sibuk dengan layar ponselnya, menekuri foto Rafael yang dia dapat dari foto profil cowok chinese itu. "Kepo!" desis Reval. Tentu saja hal itu membuat Syeril tergemap. Pasalnya, dia sendiri lupa tadi bicara apa, sehingga Reval sesinis itu. "Ye, B aja kalek!" Mata Syeril memicing ke arah Reval. "Jangan-jangan, cinta lo bertepuk sebelah tangan, ya?" Sindiran Syeril berhasil membuat Reval tersedak. Bersama gadis itu, hanya akan membuatnya mati kutu saja. Seakan-akan perkataan gadis tersebut selalu benar dan tepat sasaran. Reval harap-harap cemas dengan ulah Syeril. Bisa-bisa pertahanannya menyembunyikan rasa pada Vania selama ini terbongkar bila Syeril terus menerus berkata ceplas-ceplos.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD