Syeril kembali dalam kesadarannya setelah pundaknya diguncang Papa Johan. Gadis ini melepas dekapannya, kesal. Dia melenggang begitu saja sambil mengentak-entakkan kaki. Tentu saja hal itu membuat Papa Johan dan Mama Ana mengernyitkan dahi. Ada apa?
Papa Johan dan Mama Syeril mengikuti langkah sang anak menuju ruang keluarga. Terlihat Syeril sedang duduk dengan wajah ditekuk berlipat-lipat.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Mama Ana yang sudah duduk di sebelah Syeril.
Papa Johan masih berdiri sambil melepas kancing kemeja pada lengannya.
"Papa sama Mama jahat ke Syeril. Syeril nggak mau dijodohin, Ma, Pa!" rajuk gadis ini sebal.
Mama Ana dan Papa Johan saling memandang, merasa seakan-akan Syeril mengetahui rencananya hari ini.
"Ini, kan, karena kamu sendiri yang nggak patuh sama Papa dan Mama," kata sang papa dengan tegas.
"Kamu selalu sesukanya, dihukum dan dinasihati berkali-kali nggak pernah mau dengar," timpal sang mama.
Syeril tak dapat membantah. Sebenarnya dia hanya ingin memancing sang papa untuk memberitahukan kepadanya tentang keputusan pembatalan perjodohan tersebut. Namun, sepertinya kedua orang tuanya tak lekas mengabari keputusannya.
"Iya, Syeril tau. Tapi sekarang, kan, Syeril udah berubah, Ma, Pa." Gadis ini melipat tangan ke depan da'da.
"Berubah apanya? Bukannya baru kemarin Mama pergoki kamu belanja? Ngutang sama Faivi lagi. Kamu pikir Mama nggak tau?"
Syeril hampir saja terlonjak karena kaget. Padahal, dia sama sekali tak menceritakan perihal itu kepada sang mama, tetapi kenapa Mama Ana bisa tahu kalau dia berutang pada Faivi?
Lagi dan lagi, Syeril tak berani berkutik. Bila dia membantah, bisa-bisa perjodohan itu tak jadi dibatalkan.
"Maafin Syeril, Ma. Nggak akan Syeril ulang lagi." Gadis ini menunduk, tentu saja dalam kepura-puraannya.
Papa Johan menggeleng, lalu menghela napas mencoba melapangkan hatinya.
"Renungkan, kenapa Mama dan Papa sampai berbuat sejauh ini sama kamu. Mama dan Papa hanya mau kamu jadi orang baik, Nak," kata Papa Johan. Beliau masih betah berdiri sejak tadi. "Papa masih hidup saja kamu susah diatur, kalau Papa nggak ada, gimana?"
Jleb!
Rasa hati Syeril seperti dihantam ribuan karang. Entahlah, dia merasa seakan-akan sang papa tak seperti biasanya. Ini sangat aneh bagi Syeril.
"Kamu anak Papa satu-satunya. Sebuah pintu bagi Papa antara surga atau neraka."
"Papa!" Syeril menabrakkan dirinya ke tubuh Papa Johan. Dia merasa sedih dengan omongan sang papa.
Jauh dalam palung hati kecil Syeril tak ingin menjadi beban kedua orang tuanya. Namun, lagi-lagi dia gagal karena tergoda keasyikan duniawi. Dia merasa masih muda, jadi harus bahagia sebelum hari tua datang menyapa.
"Papa jangan ngomong kayak gitu, Syeril jadi sedih," kata gadis ini sambil sesenggukan.
"Makanya, kamu jangan bandel, dong. Nurut apa kata Papa." Mama Ana memberi komentar.
"Syeril sayang sama Papa?" tanya Papa Johan lembut.
Syeril mengangguk cepat. Tanpa perlu ditanya pun dia pasti sangat menyayangi Papa Johan dan Mama Ana. Namun, sebagai remaja dia hanya masih ingin bersenang-senang dan menemukan jari diri. Caranya saja yang salah.
"Kalo gitu, Syeril akan nurut apa kata Papa dan Mama, 'kan?" Papa Johan bertanya lagi. Kali ini dia mengusap-usap punggung Syeril penuh kasih sayang.
"Iya, Pa. Syeril akan nurut. Tapi Papa juga harus turutin mau Syeril." Gadis ini mendongak.
"Syeril mau apa? Bukankah semua yang Syeril inginkan sudah Papa penuhi?"
"Iya, i know, Pa. Tapi maksud Syeril bukan itu."
"Syeril mau minta apa dari Papa dan Mama?" Mama Ana bangkit. Beliau mendekat ke Papa Johan, menyandarkan kepalanya di sana.
"Syeril nggak mau dijodohin, Pa, Ma." Syeril menatap Papa Johan dan Mama Ana bergantian.
Namun, yang ditatap justru saling pandang satu sama lain.
"Nggak bisa. Itu permintaan Kakek, Syeril," kata Mama Ana.
"Kenapa, Ma? Bukannya Reval itu nggak baik buat Syeril?" Gadis ini melepas pelu'kannya dari sang papa.
"Siapa yang bilang?"
"Ya, nggak ada. Syeril sendiri yang nilai, karena Syeril sering jalan sama dia."
"Apa yang tidak baik dari Reval menurut Syeril?" tanya Papa Johan sambil bersedekap.
"Em, ya, gitu, Pa. Reval itu petakilan, suka bohongin Syeril, suka marahin Syeril, dan suka-suka lainnya. Pokoknya banyak, Pa, Ma." Gadis menjelaskan dengan menggebu-gebu. Namun, hal itu justru membuat kedua orang tuanya ta percaya.
"Kamu yakin?" tanya Papa Johan.
"Jangan fitnah lho, Ril," kata Mama Ana.
"Serius, Ma, Pa. Kan, selama ini Syeril sering jalan sama dia. Buat apa memangnya? Ya, buat mengenal dia lebih jauhlah. Ternyata apa? Beneran, kan. Reval itu gak baik, Ma, Pa. Percaya deh sama Syeril. Dari awal jalan sama dia, Syeril udah dibentak-bentak." Gadis ini masih berusaha mengelabuhi kedua orang tuanya.
Sayangnya, semua itu sia-sia belaka. Sebab, Papa Johan dan Mama Ana sudah mengenal Reval lebih dahulu. Cerita Syeril sangat terlihat bohongnya, karena Mama Ana dan Papa Johan sangat tahu bagaimana sang anak. Gadis itu akan menggebu-gebu dalam berbohong. Itu sudah dapat ditangkap oleh Mama Ana dan Papa Johan dari awal.
Lagi pula, Syeril tak akan mau jalan dengan Reval bila sejak awal sudah tidak cocok. Namun, selama ini Syeril masih berasalan jalan dengan Reval. Sangat impossible apabila Reval seburuk yang diceritakan Syeril.
Justru, cerita Syeril tadi semakin memperkuat dugaan Papa Johan dan Mama Ana, bahwa selama ini gadis itu tidak jalan dengan Reval, melainkan orang lain.
"Kamu nggak lagi bohong, 'kan?" selidik Mama Ana penuh curiga.
"Ya, enggaklah, Ma." Syeril berkata cukup meyakinkan.
"Kalo dari awal Reval udah nggak cocok sama kamu, kenapa kamu mau jalan sama dia terus menerus?" tanya sang papa yang membuat mulut Syeril terkunci.
Pastinya dia tak akan dapat menjawab pertanyaan itu, karena dia sendiri memang sedang berbohong. Syeril tak bisa berkutik kali ini. Dia benar-benar diam seribu bahasa untuk menghindari kecurigaan kedua orang tuanya.
"Syeril, kan, pelan-pelan menyelidiki sifat dia, Pa, Ma." Gadis ini seakan-akan tidak menyerah.
Di sisi lain, ada Reval yang tengah duduk sendiri di kamarnya. Dia sedang merenungi nasibnya ke depan. Pemuda ini juga meraba kekuatannya untuk mengarungi bahtera rumah tangga bersama Syeril.
Dari arah belakang, muncul seorang wanita. Dia lalu mendekati Reval yang masih menatap kosong ke depan.
"Lagi ngapain, Val?" tanya wanita setengah baya itu.
Tentu saja merasa ada yang bertanya, Reval menoleh untuk memastikan kehadiran seseorang tersebut.
"Mama?" sambut Reval. Dia bergeser sedikit, memberi ruang kepada sang mama agar bisa duduk di sebelahnya.
"Lagi ngapain kamu?" ulang Mama Sonya.
"Enggak ada, Ma," jawab Reval lemah.
"Kamu terbebani dengan perjodohan ini, ya?"
Pertanyaan sang mama membuat Reval kembali menoleh. Tentu saja dia tak akan membiarkan keluarganya tahu tentang perasaannya yang sebenarnya. Apalagi kedua orang tuanya, orang tua Syeril, dan Oma Wening sangat bahagia. Jadi, dia tak akan merusak kebahagiaan itu begitu saja. Reval sangat menyayangi keluarganya sepenuh hati.
"Enggak, Ma. Reval ikhlas jalaninnya."
"Kamu beneran, 'kan? Mama nggak mau kamu merasa terbebani dan pada akhirnya malah nggak bahagia."
Senyum Reval tersungging manis, tentu saja hanya untuk menutupi luka hatinya semata.
"Doakan Reval selalu bahagia, ya, Ma."
Entah, baru kali ini Reval merasakan perhatian lebih dari sang mama. Biasanya, wanita itu tak peduli dengan apa saja yang bersangkutan tentang anak bungsunya tersebut. Apalagi sejak kecil Reval sudah tak bersamanya papa dan mamanya. Jadi, saat mendapat perhatian seperti ini saja Reval sudah merasa lebih baik. Namun, dalam sisi hatinya yang lain merasa aneh.
"Kakakmu juga akan pulang. Kamu mendahuluinya menikah."
Hati Reval tersentak. Jadi, benar sang mama perhatian kepadanya hanya karena kepikiran kondisi hati sang kakak? Benarkah dugaan Reval tadi?
"Gimana perasaan kakakmu kalo tahu?"
"Reval juga nggak ingin seperti ini, Ma. Tapi ini bukan kemauan Reval," jawab pemuda ini. Sedikit ada rasa kecewa dalam sisi hatinya. Namun, bukankah hal itu sudah biasa dia rasakan?
"Bukan, bukan seperti itu maksud Mama."
"Sudahlah, Ma. Reval mau istirahat dulu. Mama juga istirahat, ya." Pemuda ini mengusap pundak sang mama penuh perhatian.
Mama Sonya tak mencegah kepergian Reval. Dia sangat tahu bahwa anak bungsunya itu sedang dalam kekecewaan terhadap sikapnya yang terkesan pilih kasih. Entah, sejak kecil memang Mama Sonya lebih menyayangi putra sulungnya.