Bab 25 : Syeril Lari dari Rumah

1609 Words
** Setelah diberi kebebasan dua minggu oleh kedua orang tuanya, Syeril kembali pada kebiasaan buruknya tempo hari. Diam-diam dia mengambil uang di lemari sang mama, lalu pergi dengan Adel dan Faivi. Gadis itu mengajak para sahabatnya shoping. Bila kedua sahabatnya menolak, maka dia memutuskan pergi sendiri karena memang benar-benar bosan di rumah menjadi anak baik-baik. Itu bukan Syeril banget, katanya. Namun, bangkai tidak akan bisa tertutupi baunya bila telah lama membusuk. Begitu juga kebiasaan buruk Syeril. Mama Ana hampir setiap hari kehilangan uang. Hal itu membuatnya curiga. Terjadilah sebuah rencana untuk menjebak siapa pelakunya. Sebab, Syeril selalu mengelak, bahkan dia menuduh Bi Odah yang melakukan hal kotor tersebut. Mama Ana sama sekali tak percaya dengan omongan Syeril, karena Bi Odah orangnya polos dan jujur. Mengambil sisa uang belanja saja tidak pernah, apalagi mengambil uang di kamar. Itu sangat tidak mungkin. Diam-diam Mama Ana menjebak Syeril. Dia menyuruh Bi Odah libur secara rahasia, sehingga tidak diketahui oleh Syeril. Setelah itu, Mama Anak meletakkan uang satu juta dalam laci dengan bungkus amplop berwarna coklat. Sengaja Mama Ana meninggalkan Syeril sendirian di rumah. Ternyata, rencana Mama Ana berhasil. Syeril mengambil uang itu untuk memuaskan keinginannya. Dia pergi ke mall dan membeli barang-barang incarannya. Sayangnya, Syeril tidak mengetahui bahwa sang mama mengikutinya dari kejauhan. Mama Ana menggeleng melihat putrinya yang sama sekali tak ada perubahan. Rencana pernikahan yang semula menunggu Syeril selesai ujian nasional pun sepertinya harus dibatalkan. Menunggu gadis itu lulus akan semakin membuatnya menjadi-jadi. Terhitung sudah puluhan kali dia mengambil uang tanpa izin, sampai hampir saja Mama Ana bertengkar dengan sang suami. "Keterluan kamu Syeril," lirih Mama Ana sambil menekan da'da. Terasa pilu dan sakit. Dibohongi anak sendiri sampai sejauh ini. Mama Ana meninggalkan lokasi. Dia tak tahan lagi. Ingin rasanya marah langsung di hadapan gadis itu detik ini juga. Namun, semua itu tidak mungkin, karena hanya akan membuat malu. Mama Ana langsung menelepon Papa Johan, meminta sang suami pulang lebih awal. "Mama kenapa menangis?" tanya Papa Johan khawatir. "Syeril keterlaluan, Pa," adu Mama Ana. "Anak itu! Apa lagi yang dia lakukan?" geram Papa Johan. "Papa pulang dulu, cepat." "Baiklah, Ma. Papa siap-siap pulang." Papa Johan bersegera pulang atas permintaan sang istri. Pasti terjadi sesuatu dengan Syeril, duga Papa Johan. Pasti anak gadisnya berulah lagi, gumamnya. Akhirnya, Papa Johan sampai di rumah. Dia melihat Mama Ana kalut di teras dengan mata sembap. Tentu saja hal itu membuat Papa Johan cemas. "Mama, Mama baik-baik aja, 'kan?" tanya Papa Johan sambil memegang kedua pundak istrinya. Tanpa kata-kata, Mama Ana meme'luk sang suami, menumpahkan segala kepiluan di sana. "Syeril keterlaluan, Pa. Mama liat sendiri, ternyata memang dia yang ngambil uang itu. Mama ikuti dia diam-diam. Ternyata dia hambur-hamburin uang itu, Pa. Mama sedih karena gagal mendidik anak kita, Pa," tangis Mama Ana dalam dekapan lengan kekar sang suami. "Enggak, Ma. Mama nggak gagal, memang Syeril yang keterlaluan." Papa Johan melepas dekapannya. Dia mengusap air mata yang meleleh di pipi sang istri. "Mama tenang, ya. Kita harus memberi pelajaran ke Syeril supaya jera." * Sore itu, Syeril pulang diam-diam. Dia tahu pasti sang mama belum pulang arisan. Dia mengendap-endap, khawatir kalau tiba-tiba ada orang di rumah. Namun, gadis ini merasa aneh dengan rumahnya. Seperti ada yang kurang, tetapi entah apa. Gadis ini melenggang sambil menenteng barang-barang idamannya. Dia melewati anak tangga cepat-cepat supaya segera sampai di kamar. Dia tersenyum sebelum membuka pintu. Bayangan lemarinya penuh barang favorit sudah terngiang-ngiang. "Syeril!" Panggilan itu membuat Syeril melonjak kaget, barang-barang di tangannya jatuh. "Mama," lirihnya nyaris tak terdengar. "Keterlaluan kamu!" Mama Ana mendekat penuh kegeraman, tangannya sudah melayang ingin menampar anak gadisnya itu. Syeril menutup mata rapat-rapat, bersiap menerima puku'lan dari sang mama. Namun, Papa Johan segera datang menyelamatkan sang anak. "Mama, kekerasan tidak akan membuat dia jera," kata Papa Johan. Da'da Mama Ana naik turun menahan emosi. "Keterlaluan kamu! Bisa-bisanya kamu bohongin Mama dan Papa!" Syeril menunduk. Dia tahu, dia salah. "Masuk kamar kamu! Masuk!" ujar Papa Johan tegas sambil menunjuk kamar Syeril. Gadis ini masuk dengan hati gelisah. Dia meninggalkan barang-barangnya begitu saja. Papa Johan mengikuti Syeril. Setelah gadis itu ada dalam kamar, Papa Johan segera menarik kunci kamar dan merapatkan pintu dari luar. Klek! Klek! Pintu terkunci rapat, membuat Syeril berteriak minta dibukakan. Dia tidak mau terkurung di kamar seperti malam lalu. "Papa, Mama, Syeril minta maaf!" teriak Syeril sambil meronta. "Diam di kamar sampai Mama dan Papa maafin kamu!" teriak Papa Johan tegas. "Ampun, Pa! Ampun!" rayu gadis itu. Dia masih meronta dengan menggerak-gerakkan handle pintu. Namun, tak digubris oleh kedua orang tuanya, justru ditinggalkan begitu saja. "Ck! Si'alan banget, sih! Kenapa Mama sama Papa sampai tahu? Ahelah! Nggak asyik banget!" decak Syeril kesal. Dia membanting tubuh ke kasur. Syeril mulai terlelap, seharian belanja membuatnya kelelahan, sehingga dia tidur begitu saja seakan-akan lupa dengan kemarahan kedua orang tuanya. Gadis ini begitu pulas, seperti orang habis minum obat tidur saja. Hari mulai gelap, Syeril bangun dengan tergesa-gesa. Dia ingat kalau tak bisa keluar kamar, sementara perutnya melilit minta diisi. "Mama, Syeril lapar!" teriak gadis ini. Namun, sama sekali tak ada yang menjawab. "Mama sama Papa kok tega, sih, sama anak sendiri? Kalo Syeril mati gimana?" teriaknya lagi. Namun, masih tak ada yang menghiraukan. Tengah malam begini, Mama Ana dan Papa Johan sudah lelap. Pikiran mereka kacau menghadapi sang anak. Akhirnya, Syeril memutuskan kabur dari rumah untuk ke sekian kalinya. Dia memasang tali-temali untuk turun. Hal ini sudah pernah dia alami, jadi mudah saja baginya untuk kabur. Syeril lari ke jalan, mencari entah apa. Dia lupa tak membawa ponsel, sehingga tak bisa menghubungi teman atau siapa pun. Ingin naik taksi pun tak ada yang lewat. Jam di tangannya menunjuk pukul 23.00. "Ya, ampun! Gue cari makan di mana tengah malam begini? Kenapa perut gue bisa kelaparan tengah malam, sih? Nggak bisa apa besok pagi, gitu?" decaknga bermonolog. Syeril mengintip uang di tasnya. Sisa uang itu ternyata cukup untuk makan enak malam ini. Namun, restoran mana yang masih buka tengah malam? Syeril ingat, ada restoran cukup dekat dari rumahnya. Dia segera menuju ke sana, jalan kaki. Nekat! "Huft! Capek banget, sih," kata Syeril sambil membungkuk. Keringatnya bercucuran, dia kehausan. Setelah merasa cukup istirahat. Syeril melenggang kembali, restoran sudah di depan mata. Namun, keberuntungan sepertinya tak memihak kepadanya. Restoran itu tutup. Syeril menyumpah serapah. Dia memaki-maki sesukanya. Kakinya ia tendang-tendangkan ke pagar. "Maaf, Mbak. Ada apa, ya?" Seorang satpam restoran tersebut mendekat. Wajahnya garang, bak macan hendak menerkam. "Eh, enggak, Pak. Saya lagi kesal aja," jawab Syeril tak enak. "Silakan pergi dari sini, dan jangan membuat keributan!" tukas satpam tersebut yang kumisnya naik-turun. Segera Syeril melarikan diri sebelum kena amuk satpam garang tersebut. Syeril mengumpat tak keruan. "Udah kelaparan, restoran tutup, kena marah satpam lagi. Kurang ngenes apa lagi sih gue?" Gadis ini mengentak-entakkan kaki ke tanah. Sementara itu, perutnya semakin perih dan melilit. Dia tak kuasa menahan lapar yang menyerang sejak tadi, apalagi habis jalan jauh. Syeril juga sangat haus, tenggorokannya terasa begitu kering. Berkali-kali dia mencoba menelan ludah, tetapi hasilnya masih kehausan. "Gue harus ke mana dong?" kata Syeril sambil menoleh kanan-kiri. Dia bingung harus ke mana. Mau pulang juga rasanya sudah sangat jauh dia berjalan, tak kuat lagi kalau harus kembali jalan sejauh itu. "Mama, Syeril harus gimana?" rengeknya sambil meremas perut yang kian menyiksa. Saat akan menyeberang, tiba-tiba sebuah motor melintas dan hampir saja menabraknya. Tentu saja Syeril kaget bukan kepalang. Dia melonjak sambil menekan da'da karena kaget. "Woy! Naik motor ati-ati dong!" teriak Syeril. Dia tak peduli lagi dengan pengendara itu. Paling penting sekarang adalah keselamatan cacing-cacing dalam perutnya. Gadis ini meneruskan niatnya, menyeberang jalan untuk sampai ke warung di depan sana. "Makasih, Pak," ujar seseorang sambil menenteng kresek bening. Pemuda ini melenggang ke motor. Namun, langkahnya terhenti, dia menoleh ke belakang merasa tak asing dengan cewek tadi. "Ya, Pak. Saya lapar banget ini. Masa habis, sih?" kata Syeril sambil meremas perut. Kepalanya mulai terasa berat. "Maaf, Neng. Udah habis, beneran dah." "Dikit aja nggak ada, Pak?" Reval. Pemuda ini ingin mendekat, tetapi urung. Dia masih kesal dengan gadis itu. Dia memperhatikan saja dari kejauhan. Namun, lama-lama Syeril tampak terhuyung-huyung. "Neng! Neng kenapa, Neng?" Penjual nasi goreng itu gegas lari untuk menyelamatkan Syeril. Reval yang melihatnya pun langsung ikut lari, membantu menyelamatkan Syeril agar tak jatuh. "Syeril!" kata Reval sambil menepuk pipi gadis di pangkuannya. "Masnya kenal?" tanya penjual nasi goreng. "Iya, Pak. Dia teman saya. Tolong bantu angkat ke mobil saya, Pak." Reval membopong Syeril, dibantu penjual nasi goreng. Penjual nasi goreng itu membukakan mobil, Reval membaringkan Syeril yang terkulai lemas di jok. "Terima kasih, Pak." Reval bersegera membawa Syeril. "Mas, Mas! Nasi gorengnya, Mas!" Percuma. Reval sudah melaju. Dia akan membawa Syeril ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan pertama. Di tengah jalan, tiba-tiba Syeril tersadar. Dia melenguh dan merasakan perutnya kembali melilit. "Gue lapar," kata Syeril lirih sambil memegangi kening. Mendengar itu, Reval menatap spion yang menggantung di plafon mobil. Syeril meremas perut, membuat Reval menoleh. "Lo kenapa tiba-tiba pingsan?" tanya Reval. Dia tadi tak mendengar lirihan Syeril. "Gue di mana?" kata Syeril lemas. Pandangannya masih samar. "Lo di mobil gue. Tadi lo pingsan," jelas Reval yang masih fokus menyetir. "Gue laper, haus," kata Syeril lemah. Seakan-akan dia tak mampu bicara lagi. Melihat itu, Reval gegas membawa Syeril ke apartemen yang kebetulan dekat dengan jalanan ini. Tidak mungkin juga Reval membawa Syeril ke rumahnya, ini sudah tengah malam, bahkan hampir jam dua belas malam. Sampai di apartemen, Reval membuka pintu mobil. Syeril masih berbaring merasakan pening dan lapar sekaligus. "Udah sampe, lo bisa jalan nggak?" tanya Reval. "Di mana? Gue laper." Syeril masih lemah. Reval sudah tak sabar lagi. Dia juga kasihan melihat Syeril sedemikian rupa, langsung saja dia mengangkat gadis itu menuju apartemennya. Syeril juga tak melakukan perlawanan. Dia pasrah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD