Bab 26 : Dinner

1084 Words
ante, saya menemukan Syeril pingsan di jalan. Sekarang dia sama saya.] Reval mengirim pesan tersebut kepada Mama Ana. Tak lupa dia selipkan foto gadis itu. Setelah memastikan pesan terkirim, Reval meletakkan ponsel di meja makan. Syeril terbaring lemas di sofa, Reval memperhatikannya dari arah dapur sambil membuat su'su hangat untuk gadis itu. Benda cair berwarna putih dalam gelas sudah siap, Reval membawanya untuk diberikan pada Syeril. Pemuda itu meletakkan segelas su'su di meja, lalu membangunkan Syeril. "Hei, bangun." Penuh kelembutan Reval membangunkan Syeril. Dia menepuk pelan lengan gadis itu. Perlahan, Syeril mengerjap, rasanya dia tak memiliki tenaga untuk sekedar bergerak. Akhirnya, Reval membantunya duduk dengan bersandar pada bahu sofa yang sudah diberi bantal oleh Reval. "Minum dulu," kata Reval sambil menyodorkan gelas tadi ke mulut Syeril. "Pelan-pelan," imbuhnya setelah Syeril menyesap su'su hangat tersebut. "Udah," kata Syeril lemas. "Minun lagi, biar ada tenaga." Reval kembali mendekatkan gelas tersebut ke mulut Syeril. Gadis itu menurut, meski merasa dipaksa. "Gue laper banget," kata Syeril. "Di meja makan ada mi goreng sama telur ceplok kalau lo mau." Tadi Reval memang sengaja memasak untuk Syeril, karena gadis itu memang terlihat kelaparan. "Mau gue ambilin?" tanya Reval dengan senang hati. "Nggak usah, gue bisa sendiri." Syeril bangkit, tetapi tubuhnya yang lemas seakan-akan tak mampu berdiri sehingga dia hampir terpelanting. Untung saja Reval sigap menangkap tubuh Syeril. "Syeril!" pekik Reval terkejut. Akhirnya, Syeril jatuh dalam lengan Reval. Pandangan Syeril seakan-akan terpatri pada satu titik mata Reval. Dia memperhatikan jauh ke dalam mata elang Reval. Entah, degupan dalam da'da Syeril tak kuasa dia tolak. Degupan yang sama sekali tak ia harap. Namun, Syeril mencoba menepisnya kuat-kuat. "Lo nyari kesempatan, ya?" kata Syeril sinis. Tentu saja Reval melepasnya begitu saja, sehingga membuat tubuh Syeril jatuh tak terkendali menghantam lantai. "Aw!" pekik Syeril sambil memegangi tulang belakangnya yang terasa nyeri. "Lo tega banget, sih, sama gue?" amuk Syeril. "Tadi katanya gue cari kesempatan, giliran dilepas ngamuk." Reval berlalu tanpa peduli lagi pada gadis itu yang masih tergeletak di lantai. "Revaaal! Lo ngeselin benget, sih!" Gadis ini menjerit ketika diabaikan Reval. 'Kenapa gue bisa deg-degan gini? Mana beda banget lagi pas gue deket Kak Rafael. Gila! Enggak, enggak! Gue nggak mau suka sama dia!' jerit batin Syeril. Kini, keduanya sudah sama-sama berada di meja makan. Beberapa hari ini Reval memang sengaja tinggal di apartemen, karena ingin menenangkan diri. "Lo ikut makan juga?" tanya Syeril. "Iyalah. Memangnya lo doang yang laper?" "Ck! Nggak usah ngebayangin kalo kita lagi dinner, ya. Norak!" Reval menautkan alisnya mendengar penuturan Syeril. Sama sekali dia tak pernah berpikir sejauh itu, berkhayal ketemu Syeril saja tidak pernah. Malah, justru sering ketemu tanpa disengaja. "Jangan pernah berpikir kalo kita sedang belajar jadi suami istri!" "Nggak usah GR. Lo bukan tipe gue," jawab Reval sekenanya. Namun, hal itu justru memantik emosi gadis di hadapannya. "Apa? Cewek secantik gue sampe nggak masuk daftar tipikal cewek lo? Astaga! Kayaknya lo nggak normal, deh. Eh, tapi nggak apa-apa, itu artinya kita memang gak jodoh." Syeril tertawa. "Duh, seneng banget gue." Gadis ini melanjutkan tawanya, sehingga dia tersedak. Reval berinisiatif dengan menyodorkan air putih untuk Syeril. Gadis itu langsung menenggaknya hingga tandas. "Makanya, kalo mulut penuh sama makanan jangan ngomong." "Lo nyumpahin gue, ya?" hardik Syeril. Gadis itu tak terima dengan perkataan Reval. "Habis ini, gue anter lo pulang." Syeril menatap Reval penuh tanya. Maksudnya, dia tak berkeinginan pulang untuk sementara waktu. "Gue nggak mau pulang," kata Syeril sambil mengaduk-aduk mi. Intonasinya terdengar melemah, tidak seganas tadi. "Nanti orang tua lo nyariin," kata Reval. "Gue nggak mau lo tuduh yang enggak-enggak lagi." Syeril menatap Reval. Manusia di hadapannya itu memang sangat dia benci, tetapi kenapa selalu menjadi malaikat untuknya? Bahkan, kali ini dia berniat minta tolong ke Reval agar membiarkannya tinggal beberapa waktu. "Nggak. Nggak bisa. Lo harus pulang," kata Reval tegas. Dia mengusap mulut dengan tisu. "Gue mohon. Gue lagi dihukum sama Mama. Gue kelaparan, makanya gue kabur lewat jendela. Soalnya, pintu kamar gue dikunci. Please, Val. Gue mohon!" pinta Syeril sambil menangkupkan tangan. "Tetep nggak bisa. Mulut mercon lo nggak bisa dipercaya." "Gue serius, Val." Tiba-tiba gadis ini menangis sejadi-jadinya. Hal itu membuat Reval salah tingkah dan bingung harus berbuat apa. "Kok, malah nangis, sih? Udah, diem. Entar dikiranya gue ngapa-ngapain elo lagi." Bukan diam, Syeril semakin mengencangkan tangisnya. "Gue gak akan diam sebelum lo ngijinin gue tidur di sini," kata Syeril di sela tangisnya. "Iya, iya. Lo boleh nginep sini. Tapi diem dulu." Akhirnya, Syeril berhenti menangis. Ternyata ampuh juga dramanya, batin Syeril penuh kemenangan. Dia tersenyum. Reval menangkap kebohongan di wajah Syeril. Lalu, dia berkata, "Lo bohongin gue, ya?" Mendapati hal itu, Syeril kembali tergugu, tentu saja pura-pura agar Reval percaya. Akhirnya, Reval pun percaya dan membiarkan Syeril menginap. "Gue ngantuk. Kamarnya di mana?" tanya Syeril setelah perutnya terisi penuh. "Tidur di sofa, kamarnya buat gue," kata Reval santai. Syeril tak terima. Dia berkacak pinggang. "Lo jadi cowok gitu banget, sih? Gue kan cewek, butuh perlindungan. Masa lo tega ngebiarin gue tidur di sofa, sedangkan lo di kamar? Entar kalo ada yang nyu'lik gue gimana?" "Nggak akan ada yang mau nyulik lo." Reval menutup botol berisi air dingin, lalu memasukkannya kembali ke kulkas mini. "Memangnya kenapa? Gue kan cantik." "Karena lo makannya banyak. Orang pasti mikir seumur hidupnya buat nyu'lik lo." Reval melenggang ke kamar. "Kam,pret lo! Gue laper aja, makanya gue makannya banyakan," jerit gadis ini saat Reval sudah menutup pintu kamar. "Reval!" teriak Syeril, tetapi tak digubris oleh pemuda itu. "Ish!" Syeril melempar bantal sofa ke pintu kamar Reval penuh kekesalan. "Dasar cowok gak tau diri, gak punya hati, gak berperikemanusiaan, nyebelin, ngeselin!" Syeril memukul-mukulkan kepalan tangannya ke sofa, seakan-akan tengah memukul Reval. "Nih, biar lo nggak kedinginan." Reval melempar selimut tepat mengenai tubuh Syeril, sehingga gadis itu sedikit oleng. "Revaaal! Bisa nggak sih lo tu sopan sedikit?" jerit Syeril lagi. Namun, Reval sudah berlalu. "Dasar cowok culun! Bisanya bikin hidup gue berantakan doang. Gara-gara dia gue jadi sial terus kayak sekarang," dumal Syeril tanpa henti. "Awas kalo ada pesawat lewat mulut lo bisa kesamber." Syeril menatap tajam ke arah Reval yang menyembulkan kepala dari balik pintu. "Elo tuh, ya!" geram Syeril. Dia bergegas mendekat ke Reval, tetapi pemuda itu segera menutup pintu. Syeril mengetuk-ketuk pintu kamar agar Reval keluar. Namun, sama sekali gadis itu tak mendapat batang hidung Reval. "Awas kalo lo muncul lagi. Gue nggak segan-segan dobrak pintu ini. Camkan!" teriak Syeril menggebu-gebu. Dia menendang pintu kuat-kuat. Namun, sayangnya papan itu lebih kuat dari tendangannya, sehingga dia yang kesakitan. "Aduh!" rintih Syeril sambil kembali ke sofa. Dia berjalan pincang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD