bc

Masa Lalu yang Salah Alamat

book_age18+
15
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
family
HE
drama
sweet
lighthearted
bold
city
office/work place
like
intro-logo
Blurb

"Wanita sepertimu hanya tahu cara bekerja keras mencari pria yang bisa memberimu kehidupan mewah. Setelah aku hancur dulu, kamu pergi begitu saja. Dan sekarang, saat aku sudah sukses, kamu malah memilih sahabatku sendiri?"

"Aku tidak pernah tahu kalau Pandu adalah sahabatmu!" bela Aurel dengan mata berkaca-kaca.

"Kamu pergi begitu saja karena aku tidak lagi berguna untukmu, bukan?"

"Aku pergi? Sat, sadarlah! Aku tidak pernah meninggalkanmu! Aku menunggumu setiap hari, tapi kamu yang menghilang tanpa kabar! Kamu pergi tanpa sepatah kata pun seolah aku ini sampah yang tidak layak diberi penjelasan!"

"Aku punya bukti semua pesan dan teleponku yang tidak pernah kamu balas, Sat! Kamu yang pengecut!" suara Aurel meninggi, napasnya memburu.

"Cukup, Aurel! Jangan harap aku akan percaya pada mulut manismu itu lagi!" Satria mencengkeram tepi meja, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aurel.

"Aku ke sini bukan untuk bernostalgia, tapi untuk mengingatkanmu. Pandu adalah sahabatku. Aku tidak akan membiarkan dia berakhir tragis sepertiku karena ulahmu,"

chap-preview
Free preview
Buket Keberuntungan
"Sedikit sentuhan baby’s breath di sudut kiri, dan... selesai," gumam Aurel pada dirinya sendiri. Aurel mendongak, mendapati Pandu berdiri di sana. Setelan jas abu-abu gelapnya tampak rapi, namun senyum di wajah pria itu selalu berhasil meluruhkan kesan kaku seorang CEO. Pandu melangkah mendekat, mengabaikan jarak di antara meja kerja kayu yang penuh duri mawar yang baru dipotong. "Mas Pandu? Bukannya jam segini ada rapat koordinasi dengan divisi pemasaran?" tanya Aurel heran sembari melepas sarung tangan kerjanya. Pandu tidak langsung menjawab. Dia justru berjalan mengitari meja kerja kayu Aurel, lalu berdiri tepat di belakang gadis itu. Dia sedikit membungkuk, menumpukan dagunya di bahu Aurel sambil memperhatikan buket mawar putih yang baru saja selesai dirangkai. "Rapat bisa menunggu, Rel. Tapi hatiku tidak bisa," Aurel terkekeh kecil. "Mas selalu berlebihan," "Kenapa mawar putih lagi, Rel? Apa kamu sedang memberikan kode kalau kamu sudah siap memakai gaun warna senada dan duduk di pelaminan bersamaku?" goda Pandu dengan suara rendah yang membuat telinga Aurel memerah. Aurel tersipu, mencoba menjauhkan wajahnya yang mulai panas. "Mas, jangan mulai, deh. Ini pesanan pelanggan untuk acara syukuran, bukan untuk kode-kodean," Pandu terkekeh, tangannya perlahan meraih pinggang Aurel agar tetap di posisinya. "Tapi kalau dipikir-pikir, toko ini makin penuh bunga. Apa pemiliknya tidak merasa kesepian kalau hanya ditemani kelopak mati setiap hari? Bagaimana kalau mulai besok, aku kirim diriku sendiri ke sini secara permanen? Tanpa bunga, tapi bawa hati yang sudah siap dipetik," "Mas Pandu!" Aurel memukul pelan lengan Pandu, tertawa kecil. "CEO hebat kok bicaranya gombal sekali, sih? Memangnya tidak takut citranya jatuh kalau didengar karyawan di kantor?" "Di kantor aku boleh jadi singa, tapi di depanmu, aku cuma pria yang sedang mengemis perhatian perangkai bunga tercantiknya," Pandu mengecup kening Aurel dengan lembut, lalu melepaskan rangkulannya. Dia menatap mata Aurel dengan intensitas yang tiba-tiba berubah menjadi serius, namun tetap penuh kelembutan. "Aku serius, Rel," Pandu meraih tangan Aurel, mengusap bekas goresan kecil di ibu jari gadis itu. "Kita sudah bersama selama tiga tahun. Kamu menemaniku dari titik terbawah hingga aku berada di posisi sekarang. Toko bunga ini saksi bisu betapa sabarnya kamu menghadapiku," Pandu perlahan berlutut di atas lantai kayu yang berserakan daun kering. Dia mengeluarkan sebuah kotak beludru biru tua dari saku jasnya... "Aurel, ini bukan sekadar janji. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku melihatmu merangkai bunga setiap pagi. Maukah kamu menjadi tunanganku... dan selamanya menjadi rumahku?" Aurel terpaku. Seluruh kata-kata gombalan Pandu tadi mendadak hilang, berganti dengan debaran jantung yang menggila. Aurel menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak mampu berkata-kata. Satu detik... lima detik... sepuluh detik berlalu. Aurel masih dalam keadaan syok. Pandu, yang masih berlutut, mulai meringis kecil. Pandu melirik ke arah pintu ruang belakang toko, di mana tiga karyawan Aurel, Santi, Budi, dan Nia tampak melongokkan kepala dengan mata berbinar-binar, bahkan Nia sudah siap dengan ponselnya untuk merekam. "Sayang?" panggil Pandu, suaranya sedikit bergetar. "Jawaban iya nya bisa dipercepat sedikit tidak? Lututku sepertinya sudah mulai protes karena beradu dengan lantai batu keras ini," Aurel tersentak dari lamunannya, tapi dia masih terlalu emosional untuk bersuara. Pandu melirik para karyawan Aurel yang sekarang malah memberikan jempol dan bisikan semangat. Dia kembali menatap Aurel dengan tatapan memelas yang dibuat-buat. "Rel, aku sudah tidak muda lagi. Kalau kamu tidak jawab sekarang, mungkin aku butuh bantuan Budi untuk memapahki berdiri nanti karena sendi lututku kaku. Malu dong sama karyawanmu, masa CEO dilamar malah encok?" Tawa Aurel pecah di sela isak tangis harunya. "Kamu merusak suasana sekali sih, Mas!" "Habisnya kamu diam saja. Aku sudah gemetar, antara gugup ditolak dan menahan sakit lutut," Pandu terkekeh, namun matanya tetap memancarkan ketulusan yang dalam. "Jadi... bagaimana? Sebelum aku benar-benar butuh koyo, maukah kamu menjadi teman hidupku?" Aurel mengangguk mantap, mengulurkan tangan kirinya. "Iya, Mas. Aku mau!" Mendengar itu, sorak sorai pecah dari arah belakang toko. Santi dan Nia bertepuk tangan heboh. Pandu segera menyematkan cincin itu di jari manis Aurel, lalu berdiri dengan sedikit meringis sambil memegang lututnya sesaat, sebelum akhirnya menarik Aurel ke dalam pelukan hangat. "Terima kasih," bisik Pandu di telinga Aurel. "Sekarang Mas punya alasan resmi untuk datang ke sini setiap hari tanpa harus pura-pura beli bunga," Pandu memeluknya erat, membisikkan kata-kata cinta yang begitu tulus. Segalanya terasa sempurna. Terlalu sempurna. "Selamat ya, Mbak Aurel! Pak Pandu!" seru Nia antusias. Pandu melepaskan pelukannya, lalu menatap ketiga karyawan Aurel dengan senyum lebar. "Karena bos kalian sudah resmi jadi tunangan saya, hari ini toko tutup lebih awal. Kalian semua saya traktir makan siang sepuasnya di restoran steak di seberang kantor!" Mata Santi dan Nia langsung berbinar. "Serius, Pak? Wah, asyik!" Budi, yang biasanya paling kalem, mendadak maju selangkah dengan wajah penuh harap. "Anu, Pak Pandu... kalau boleh tahu, makannya cuma di sana atau boleh dibungkus juga? Maksud saya, boleh tidak kalau saya bawa pulang satu atau dua porsi untuk adik-adik saya di rumah?" Aurel tertawa kecil melihat tingkah Budi, namun Pandu justru menepuk bahu Budi dengan akrab. "Jangan cuma dua porsi, Bud. Kamu pesan saja lima porsi untuk dibawa pulang. Adik-adikmu harus ikut merasakan kebahagiaan Kakaknya yang punya bos baru sebentar lagi," jawab Pandu sambil mengedipkan mata ke arah Aurel. "Wah, makasih banyak, Pak! Bapak memang CEO paling peka sedunia!" seru Budi girang. "Sudah, sana cepat bereskan bunga-bunganya dan pasang papan closed di depan," perintah Pandu sambil terkekeh. Aurel menatap Pandu dengan tatapan penuh haru. "Mas, kamu terlalu memanjakan mereka," "Tidak apa-apa, Sayang. Kebahagiaan kita harus dibagi, kan?" Pandu mengecup punggung tangan Aurel yang baru saja dihiasi cincin. Namun, di tengah suasana penuh tawa itu, ponsel di saku jas Pandu bergetar hebat. Pandu merogoh sakunya, melihat layar ponsel, dan binar di matanya semakin terang. "Wah, pas sekali! Ini dari Satria, sahabatku yang baru mendarat dari London. Dia harus tahu berita bahagia ini sekarang juga," Aurel berusaha tetap tersenyum, namun nama itu, Satria, terasa seperti duri mawar yang tiba-tiba menusuk ulu hatinya. Perasaan tidak enak mulai menjalar, seolah-olah bayangan masa lalu yang kelam baru saja melangkah masuk tanpa izin ke dalam toko bunganya yang sedang penuh suka cita. "Halo, Sat! Kamu di mana? Aku jemput sekarang! Ada berita besar yang harus kamu dengar!" suara ceria Pandu di telepon terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Aurel. Dia menatap cincin di jarinya, berdoa dalam hati agar Satria yang dimaksud bukanlah pria yang pernah hadir di hidupnya dulu.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
6.3K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook