Perjamuan di Atas Bara Api

1105 Words
***** "Satria, kamu kenapa, Nak? Tante perhatikan dari tadi kamu gelisah sekali," tanya Widya dengan nada lembut. "Apa kamu juga ikut tidak sabar melihat calon menantu Tante? Atau jangan-jangan... kamu sedang menunggu seseorang yang sangat spesial?" Satria hanya tersenyum kecut. "Bahagia? Aku tahu kebahagiaan itu hanya tinggal hitungan menit sebelum aku sendiri yang meruntuhkannya. Rasa gelisahku bukan karena takut, melainkan karena aku tidak sabar ingin melihat bagaimana wajah Pandu saat kebohongan Aurel terkuak di depan Tante Widya," bathin Satria. Tiba-tiba, suara deru mobil terdengar berhenti di pelataran luas rumah itu. Widya langsung berdiri dengan wajah berseri-seri. "Nah, itu mereka! Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga," Ratna, mama Satria, tiba-tiba berdiri dari sofanya. Matanya yang tadinya ramah berubah menjadi tajam dan penuh kebencian saat menatap wajah Aurel. Dia tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya melihat wanita yang dianggapnya sebagai penghancur hidup putranya kini bersanding dengan putra sahabatnya. "Jadi... perempuan ini?" suara Ratna meninggi, memecah kesunyian. Dia menunjuk Aurel dengan jari yang gemetar karena amarah. "Widya, apa kamu sadar siapa yang akan kamu jadikan menantu? Dia ini perempuan matre yang meninggalkan Satria saat anakku sedang berada di titik terendah hidupnya!" Widya tersentak, wajahnya memucat. Dia menatap Aurel, lalu menatap Ratna dengan bingung. "Ratna, apa yang kamu bicarakan? Aurel ini tunangan Pandu, dia anak baik-baik..." "Baik-baik katamu?"Ratna tertawa sinis, langkahnya maju mendekati Aurel yang kini mematung dengan wajah pucat pasi. "Dia meninggalkan Satria saat Satria jatuh miskin, Wid! Dia membuang anakku seolah-olah Satria itu sampah karena tidak punya uang lagi. Dan sekarang, dia muncul di depanmu dengan wajah polos, mencoba masuk ke keluargamu karena tahu Pandu jauh lebih kaya?" "Aurel... apa itu benar?" suara Widya terdengar parau, sarat dengan kekecewaan yang mendalam. Aurel tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk, air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Tante Ratna, tolong jaga bicara Tante. Ini adalah rumah saya, dan wanita yang Tante hina adalah calon istri saya!" teriak Pandu, namun kalimat itu terdengar hambar bahkan di telinganya sendiri. Ratna melangkah maju dengan derap langkah yang penuh amarah. Dia berhenti tepat di hadapan Aurel, menatapnya dengan tatapan merendahkan, seolah-olah Aurel adalah kotoran yang menempel di lantai marmer mewah keluarga Pandu. "Jangan tertipu dengan wajah manisnya, Widya!" seru Ratna tanpa melepaskan pandangannya dari Aurel. "Dia memang terlihat seperti malaikat, selama pria di sampingnya bisa membiayai gaya hidupnya dan menjamin hari tuanya!" Ratna mencibir dengan nada jijik. "Tapi begitu Satria jatuh miskin, begitu anakku tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan padanya, dia pergi begitu saja tanpa menoleh! Dia membiarkan Satria berjuang sendirian berdarah-darah di negeri orang, sementara dia? Lihat dia sekarang!" Ratna menunjuk perhiasan yang melingkar di leher Aurel, pemberian Pandu. "Dia tertawa bahagia di atas kekayaan Pandu yang akan jadi miliknya setelah dia berhasil membohongi kalian semua dengan akting polosnya ini. Dia bukan mencintai Pandu, Widya. Dia mencintai angka di rekening Pandu!" "Tante... demi Tuhan, itu tidak benar," isak Aurel sambil memegang tangan Widya yang terasa kaku. "Aku tidak pernah meninggalkan seseorang karena harta. Aku membangun semuanya sendiri, aku bekerja keras... aku mencintai Mas Pandu bukan karena apa yang dia miliki, Tante. Tolong, percayalah padaku sekali ini saja," Widya hanya menatap Aurel dengan mata berkaca-kaca, bibirnya bergetar, namun sebelum beliau sempat mengeluarkan sepatah kata pun, suara tawa sinis Satria memotong udara. "Luar biasa," ujar Satria sambil bertepuk tangan pelan, langkahnya mendekat ke arah Aurel yang sedang bersimpuh. "Aktingmu tidak pernah berubah, Aurel. Dulu kamu juga menangis seperti ini saat mengatakan bahwa kamu terpaksa pergi demi kebaikanku. Padahal kenyataannya? Kamu hanya tidak siap hidup menderita bersamaku yang saat itu tidak punya apa-apa," "Jangan gunakan air mata untuk mencuci dosa masa lalumu. Di depan pria kaya seperti Pandu, kamu adalah bidadari. Tapi di depanku, kamu hanyalah wanita yang melarikan diri saat badai datang," Ratna tidak membiarkan Aurel bernapas. Dia menyambar kembali dengan kalimat yang lebih menyakitkan, seolah ingin memastikan Aurel tidak akan pernah bisa bangkit lagi. "Mencintai Pandu, katamu?" Ratna mencibir sambil melipat tangan di d**a. "Kamu hanya mencintai rasa aman yang diberikan oleh kartu kredit Pandu! Widya, jangan biarkan air mata buaya ini menipumu. Dia hanya takut kehilangan sumber uangnya. Dulu dia membiarkan Satria kelaparan demi mengejar kenyamanannya sendiri, dan sekarang dia mencoba melakukan hal yang sama pada putra tunggalmu!" "CUKUP!!!" "Ini rumahku! Dan kalian sedang menghina wanita yang aku pilih untuk menjadi pendamping hidupku!" desis Pandu dengan suara rendah yang berbahaya. "Tante Ratna, aku menghormati Tante sebagai sahabat Mamaku, tapi jangan pernah sekali lagi Tante menyebut calon istriku sebagai wanita matre di hadapanku!" "Kamu masih ingin menjadi pahlawan untuknya, Pandu?" sindir Satria dengan nada meremehkan. "Sadarlah, kamu hanya sedang memeluk duri. Dia diam bukan karena merasa difitnah, tapi karena dia bingung harus mengarang cerita apa lagi untuk menutupi kebusukannya. Berapa banyak kamu membayarnya malam ini agar dia mau berlutut dan berakting seperti itu?" Kalimat terakhir Satria adalah sumbu pendek yang memicu ledakan. Pandu tidak lagi bisa menahan diri. BUAKKK! Satu pukulan mentah dari kepalan tangan Pandu mendarat telak di rahang kiri Satria. Tubuh Satria terhuyung ke belakang hingga menabrak meja kaca, menimbulkan suara dentuman yang mengerikan. "Pandu! Astaga!" Widya menjerit histeris. Satria tersungkur di lantai, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar. "Kau memukulku demi wanita ini?" desis Satria sambil menyeka darah di bibirnya. "Bagus, Pandu. Kau baru saja menghancurkan persahabatan kita demi seorang pembohong. Mari kita lihat, siapa yang akan tertawa paling akhir saat kau menyadari bahwa setiap inci tubuhnya yang kamu puja pernah menjadi milikku!" "CUKUP, SATRIA! BERHENTI!" teriak Aurel, suaranya serak namun menggelegar. "Berhenti menghinaku! Berhenti merendahkan diriku seolah-olah aku adalah manusia paling hina di dunia ini! Kamu dan Mama kamu... kalian berdua tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!" Aurel melangkah mendekati Satria yang masih terpaku melihat ledakan emosinya. Dia menunjuk dadanya sendiri dengan jari yang gemetar hebat. "Terserah jika bagi kalian aku adalah wanita matre. Terserah jika di matamu aku pergi karena kamu jatuh miskin," ucap Aurel dengan nada yang mulai merendah namun penuh penekanan. "Tapi semua yang kamu katakan malam ini, semua hinaan yang kamu lemparkan padaku... itu hanyalah kebenaran yang belum terungkap sepenuhnya. Kamu hanya melihat apa yang ingin kamu lihat, Satria!" Aurel menoleh ke arah Widya yang masih syok, lalu kembali menatap Pandu. "Mas Pandu... aku minta maaf karena telah berbohong tadi di toko. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan mereka menulis narasi hidupku seolah-olah aku ini sampah," Dia kembali menatap Satria, kali ini dengan tatapan yang penuh rasa kasihan yang menyakitkan. "Kamu pikir kamu yang paling menderita saat itu? Kamu pikir hanya kamu yang berjuang sendirian? Kamu tidak pernah bertanya, Satria... kamu tidak pernah mencari tahu apa yang terjadi di hari aku pergi. Kamu hanya sibuk dengan dendammu sampai kamu buta bahwa kebenaran yang kamu yakini selama lima tahun ini adalah kebohongan yang sengaja diciptakan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD