*** "Pak Pandu, Bapak salah menandatangani dokumen penting ini tiga kali," tegur Nadia, sekretaris Pandu. Pandu hanya menatap kosong dan menjawab. "Lakukan saja apa yang menurutmu benar, karena aku sendiri sudah tidak tahu mana yang benar," Setelah mengatakan itu, Pandu segera berlalu dari meja Nadia, dan masuk ke dalam ruangannya. "Nad, ada apa dengan Pak Pandu?" tanya Bram dengan suara rendah, melirik ke arah pintu ruangan Pandu yang baru saja tertutup rapat. "Dia jalan seperti tidak menapak bumi. Apa ada masalah dengan tender baru di Surabaya? Wajahnya kusut sekali," Nadia menghela napas panjang, lalu menyodorkan sebuah map biru yang baru saja dikembalikan Pandu. Di sana, tertera tanda tangan Pandu di kolom yang salah, bahkan ada beberapa coretan tinta yang tidak perlu. "Bukan

