“Hei Alana! Bawa sendiri barang milikmu ini!” keluh Alvin yang membawa tas Alana lagi.
“Apakah kau tega membiarkan seorang ratu sepertiku membawa tas yang berat itu? Kau tega sekali. Bukankah kau sangat menghormati wanita?” tanya Alana dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.
“Tetapi pengecualian untukmu. Aku tidak menghormatimu,” jawab Alvin sambil menyeret malas tas Alana.
“Aku berjanji akan mengenalkanmu kepada putri bangsa Pixie. Jadi bawakan tasku dengan sebaik-baiknya,” perintah Alana. Alvin langsung berbinar. Bukan hanya Alvin. Aaron, Marco, dan Sean juga melakukan hal yang sama. Alvin langsung mendapatkan kekuatan yang berlimpah-limpah.
“Alana, aku rela kau perintah untuk membawa berton-ton tasmu atau apapun itu. Aku akan dengan senang hati membawanya. Alana, kau adalah ratu yang sangat baik. Bahkan terbaik yang pernah kami kenal. Aku mencintaimu Alana,” ucap Alvin dengan mata yang berbinar-binar bahagia. Ia sangat senang mendengar ucapan Alana yang akan mengenalkannya kepada bangsa Pixie. Bangsa para peri dan putri-putri idolanya.
“Kau juga akan mengenalkanku kepada mereka?” tanya Sean dengan penuh harapan. Ia bahkan mengedip-ngedipkan matanya kepada Alana memohon dengan sangat. Alana mengangguk menyetujui dan langsung saja Sean memeluk Alana dengan gembira. “Kau memang sangat baik Alana. Benar-benar sangat baik. Aku juga mencintaimu,” ucap Sean dengan kucuran air mata terharu. Alana dengan cepat menendang kaki Sean agar Sean cepat menyingkir darinya.
“Sekali lagi kau berani memelukku, aku akan melemparmu ke dunia bawah!” teriak Alana kesal. Namun, Sean tidak peduli, ia tetap memuji-muji Alana.
“Alana, jangan lupakan aku. Aku juga ingin berkenalan dengan mereka. Aku harus mengakhiri penderitaanku sebagai pria tampan nan memikat ini, tetapi tanpa pendamping. Aku harus menemukan putri dan cinta sejatiku. Aku akan melamar mereka lalu menikahinya. Aku tidak sabar untuk segera ke istana bangsa Pixie,” ucap Marco dengan penuh harapan. Alana menatapnya jengkel. “Alana, kenalkan kepadaku juga. Aku mohon,” sambung Marco lagi masih dengan mata memohon. Alana dengan pasrah mengangguk meskipun awalnya ia hanya bercanda, tetapi ia juga tidak tega menghancurkan kebahagiaan teman-temannya itu. Mereka cukup banyak membantu kerajaan Alana dan sekarang ia ingin membalas kebaikan mereka.
“Terima kasih, Alana. Cintaku, sayangku, ratuku, manisku, indahkuh!” ucap Marco dengan girangnya sambil mempraktikkan bibirnya mencium Alana padahal bibirnya itu hanya mencium udara kosong. Alana miris melihat ulah temannya itu.
“Jangan melupakan aku, prajuritmu yang paling tampan. Aku juga ingin dikenalkan kepada mereka. Aku akan menjaga temanmu yang nanti pasti tertarik kepadaku. Aku akan membina hubungan romantis dengannya nanti. Aku akan memberikan kecupan cinta kepadanya setiap hari. Aku akan menyayanginya segenap jiwa ragaku. Aku akan melindunginya dan menjadi pangeran di dalam dirinya.” Leo memutar bola matanya dengan perasaan kesal mendengar skenario yang diucapkan Aaron. Terlalu biasa mendengar khayalan Aaron yang sering berlebihan. Alana mengusap dadanya pelan.
“Aku mencintaimu, Alana. Sungguh sangat mencintaimu, nanti kita akan bersama-sama mempunyai anak lalu anak kita akan menikah. Aku mempunyai anak laki-laki lalu kau dan Leo akan mempunyai anak perempuan. Kita harus cepat-cepat membuat pertunangan anak kita!” kali ini khayalan Aaron sudah di luar batas. Alana langsung menutup mulut Aaron yang terus mengucapkan khayalannya. Wajahnya memerah karena tadi Aaron menyebut namanya dan nama Leo. Marco, Alvin, dan Sean sudah tertawa terpingkal-pingkal mendengar khayalan aneh khas Aaron yang biasa mereka dengar. Leo hanya bisa menghela napas dan tertawa pelan. Marco bahkan sudah berbaring di atas awan sambil memegangi perutnya karena tertawa. Alvin sambil menungging serta menahan perutnya karena tertawa terlalu keras dan itu membuat perutnya sakit. Sean berjongkok sembari tertawa sambil mengeluarkan air mata.
“Kalian semua jangan mencintaiku. Aku tidak mau dicintai oleh orang aneh seperti kalian!” kesal Alana sambil mengibaskan rambutnya. Ia malu sekali mendapatkan empat ucapan cinta dari keempat orang aneh seperti itu.
“Kau semakin cantik saat marah, Yang Mulia Ratu Alana Culver,” kata Sean yang tidak mempedulikan kekesalan Alana. Wajahnya masih berbinar-binar bahagia.
“Jadi kau ingin dicintai oleh siapa selain kami?” pancing Aaron dengan nada menggoda.
“Kau ini bodoh sekali. Bukankah tadi kau mengkhayalkan Alana bersama Leo. Tentu saja jawabannya Leo,” jawab Marco dengan wajah tanpa dosanya. Wajah Alana memerah kembali. Ia menatap kejam Marco. Alana sama sekali tidak berani menatap Leo yang saat ini berada di depannya. Perkataan Marco benar-benar membuatnya tidak nyaman. Detak jantungnya kembali bertalu-talu tidak berirama.
“Benar, jadi kita akan mempunyai pasangan masing-masing. Ah betapa bahagianya kisah percintaan kita nanti. Memiliki istri yang cantik. Anak yang lucu, cantik seperti ibunya, tampan seperti ayahnya. Istri berdada besar akan menjadi kelebihanku di antara kalian nanti. Aku tidak akan bosan dengan d**a besarnya.” Alvin kembali berpikiran kotor. Alana rasanya ingin menangis melihat ulah keempat manusia itu. Ingin pula rasanya ia mencuci otak mereka agar berhenti berpikiran tidak waras. Tidak henti-hentinya mereka berkata aneh dan bertingkah tidak wajar selayaknya manusia normal.
“Ya, aku senang mendengar ucapanmu,” ucap Leo tiba-tiba sambil menepuk pelan punggung Alvin lalu ia tersenyum kecil setelahnya ia berjalan lebih dahulu meninggalkan semua orang. Semuanya terdiam tidak mengerti dengan ucapan dan tindakan Leo. Terlalu ambigu bagi mereka berlima.
“Kau mengerti?” tanya Aaron kepada Alana, Sean, Marco, dan Alvin. Serempak semuanya menggeleng.
“Dia senang dengan ucapanku? Baru kali ini Leo senang dan setuju dengan ucapanku. Biasanya ia tidak menanggapi,” kata Alvin yang juga heran. Alana juga sibuk menerka-nerka apa maksud ucapan Leo. Ia penasaran setengah mati. Leo memang penuh dengan misteri tidak seperti keempat sahabatnya yang semua keburukan mereka telah terungkap.
“Apakah Leo juga menyukai wanita berdada besar?” tanya Sean dengan polosnya. Alana langsung membulatkan matanya dan ia langsung menurunkan pandangan matanya ke dadanya sendiri. Hanya ukuran standar dan tidak besar. Aaron melihat Alana yang memandangi dadanya dengan miris.
“Kau bisa meminta temanmu bangsa Pixie membesarkannya nanti. Jangan berkecil hati,” kata Aaron yang seolah dapat membaca isi pikiran Alana. Alana memandangnya kejam dan langsung saja Alana menarik rambut Aaron serta menyiksanya. Sean, Marco, dan Alvin memandangnya dengan tidak mengerti karena mereka memang tidak tahu apa yang terjadi antara Alana dan Aaron tadi.
“Aku tidak berpikiran seperti itu. Aku tidak akan melakukannya. Jangan berharap. Lagi pula siapa yang menyukainya dan ingin mengubah penampilanku deminya!” kata Alana sambil terus menarik rambut Aaron. Leo yang tadi berjalan di depan lalu menoleh ke arah Alana. Ia hanya memandangnya tanpa berniat ikut campur. Bertemu dengan Alana membawa banyak perubahan di dalam kelompok petarung itu dan juga diri Alana sendiri. Keceriaan mereka dan rasa persahabatan semakin kuat. Petualangan mereka bertambah dan rasa cinta yang muncul tanpa diinginkan juga turut hadir.
♜♜♜
“Bangsa Luciane itu kurang ajar. Mereka membantu Morani untuk mengalahkan Beowulf. Mereka juga baru saja mendapat persekutuan dari Yupiter. k*****t! Aku ingin segera membunuh pemimpin mereka. Tandukku sudah dia hilangkan dan aku akan menghilangkan nyawanya!” Minotaur dengan geramnya mengucapkan kata-katanya.
“Jangan terburu-buru. Kita mempunyai rencana yang matang. Kau jangan gegabah apalagi mereka sekarang telah mendapatkan persekutuan dari Yupiter. Akan merugikan apabila kita tidak merencanakan penyerangan dengan masak,” kata Wyvern dengan tenang. Wyvern adalah salah satu pengikut Ifrit yang paling logis berpikir. Ia mempunyai pemikiran yang matang di dalam otaknya. Dia adalah ahli pembuat strategi rencana dan pembuat strategi penyerangan. Dulu ia adalah raja yang hebat. Raja yang terkenal dengan taktik perangnya di kerajaan manusia. Kerajaannya dulu bersekutu dengan kerajaan Rhonda dan Sierra.
“Rencana apa yang kau punya?” tanya Tiamat. Kepalanya saling berlomba untuk mendengarkan jawaban Wyvern.
“Rencana haruslah tetap rahasia sampai batas waktu yang tepat akan diungkapkan,” ucapan Ladon itu terdengar oleh Tiamat. Beberapa dari mereka tidak terlalu setuju dengan ucapan Ladon.
“Kenapa harus merahasiakannya. Bukankah kita ini satu kelompok yang menginginkan kekuasaan di Mašte?” tanya Tiamat lagi. Kepakan sayapnya kembali terdengar.
“Rencana itu bukanlah sesuatu yang sudah tetap. Dia akan berubah mengikuti arusnya. Jadi karena itulah untuk saat ini rencana masih menjadi rahasia,” kata Ajatar yang menyetujui ucapan Ladon.
“Asalkan rencana itu bisa sesuai keinginan maka aku tidak akan masalah. Penguasa pasti menyetujuinya dan yang pasti kita akan memiliki kekuasaan Mašte seutuhnya,” ucap Ogre dengan tawanya yang mengerikan.
“Namun, sebelum rencana besar itu terlaksana. Kita akan menyiapkan strategi lain. Mereka pasti tidak akan siap dengan kedatangan hal yang mengejutkan. Aku yakin mereka tidak akan siap dengan serangan mendadak ini,” ucap Ajatar dengan tawanya yang mengerikan.
“Mereka akan mengarungi lautan. Aku sudah menyiapkan mereka untuk mengacaukan semuanya. Penguasa, bagaimana menurutmu? Apakah mereka akan segera bangkit?” tanya Wyvern kepada Ifrit.
“Keluarkan semuanya sesuai rencanamu. Kita harus menggagalkan segala cara untuk menghentikan persekutuan ini. Sudah seharusnya mereka keluar dan mengacaukan lautan. Musuh abadi Poseidon, Neptune, Oceanus, dan Triton. Mereka sudah cukup lama tertidur dan sekarang saatnya bangkit,” ucap Ifrit di kursi singasananya. Api keluar memenuhi alam gelap tersebut.
“Siapa mereka yang kaumaksud?” tanya Cyclops yang memang tidak mengetahui siapa yang dimaksud dengan mereka.
“Kau akan melihatnya dan tahu ketika ia sudah keluar. Kali ini mereka tidak akan sampai di lautan. Mereka tidak akan sampai di Bermuda Triangle. Mereka tidak akan sampai pada titik pertemuan para penguasa dunia bawah. Itu pun jika mereka bisa selamat pada serangan mendadak nanti,” jawab Ladon lagi. Suara tawa liciknya kembali menggelegar.
“Kita harus menang kali ini. Jangan sampai mereka menang. Atau aku yang akan turun tangan langsung!” Ifrit mulai marah. Penguasa mereka yang beringas itu menyemburkan api dari tangan dan tubuhnya. Suasana menjadi terang berkat api dari Ifrit. Mereka dapat melihat wujud satu sama lain lalu erangan mengerikan mereka buat dan sampai terdengar oleh prajurit-prajurit mereka.
♜♜♜
“Akhirnya aku bisa beristirahat,” ucap Alana sambil membaringkan tubuhnya di kasur. Mereka baru saja sampai di dunia mereka. Bangsa Ezio menjemput mereka dan mengantarkan mereka kembali ke istana dengan selamat. Alana langsung merasa lelah dan ia ingin beristirahat. Namun, baru saja ia ingin memejamkan matanya pintu kamarnya tiba-tiba diketuk.
“Siapa?” tanya Alana.
“Malkia, prajurit Leo ingin menemui Anda,” jawab prajurit yang menjaga di luar pintu kamar Alana. Alana langsung duduk di kasurnya ketika mendengar nama Leo. Ia langsung membenarkan rambutnya dan penampilannya. Gawat sekali, Alana tiba-tiba merasa panik dan tidak siap karena penampilannya kacau.
“Ya, persilakan dia masuk,” jawab Alana setelah ia siap. Ia menarik napasnya dan berusaha terlihat biasa. Leo lalu memasuki kamar Alana. Kedua tangannya ia masukkan di saku celananya. Ia menatap Alana yang sekarang juga sedang menatapnya.
“Ada apa?” tanya Alana gugup, tetapi ia enggan menunjukkannya.
“Aku hanya sebentar saja di sini, aku tahu kau lelah. Jadi aku akan langsung pada intinya,” kata Leo. Ia mulai akan berbicara lagi, tetapi Alana memotongnya.
“Tidak! Aku tidak lelah. Silahkan kau bicara sesuka hatimu. Perlahan juga tidak masalah. Jangan tergesa-gesa.” Alana langsung menyesali ucapannya yang mengebu-gebu. Wajahnya tampak memerah dan ia salah tingkah.
“Boleh aku duduk, Yang Mulia?” tanya Leo sambil menunjuk kursi dengan tangan satunya yang sudah keluar dari saku celananya.
“Ya, silakan. Terserah kau ingin duduk di mana. Di kasur, di bawah atau di kursi kau pilih saja,” jawab Alana dengan sedikit menggoda dan dia tidak munafik menginginkan Leo duduk di kasurnya.
Leo lalu memilih duduk di kursi kemudian menariknya ke arah tempat tidur Alana. Saat ini mereka duduk berhadapan. Bisa dibayangkan bagaimana jantung Alana bereaksi saat ini. Alana berusaha terlihat angkuh agar Leo tidak bisa melihat salah tingkahnya saat ini. Leo tidak bereaksi apa pun. Ia hanya menatap Alana yang sekarang sedang menenangkan jantungnya.
“Saturnus memberikan ini kepadaku tadi sebelum pulang.” Leo mengeluarkan satu tangannya dari saku dan di tangannya saat ini ada sebuah kalung bermata sapphire biru terang yang sangat cantik. Sama seperti warna mata Alana yang biru terang. Alana membulatkan matanya melihat kecantikan permata indah itu.
“Cantik sekali!” kata Alana dengan nada kagum.
“Ini untukmu. Ambilah,” ucap Leo. Alana langsung membulatkan matanya dan menatap Leo. Leo membalas menatapnya. “Anggap ini hadiah dariku untukmu,” sambung Leo. Tidak! Jantung Alana kembali kacau.
“Kenapa?” tanya Alana dengan sangat gugup.
“Karena aku tidak memakai benda sialan yang seperti ini. Dia memberikannya kepadaku sebagai hadiah karena aku bisa mengalahkan Beowulf sialan itu. Aku memberikan ini kepadamu sebagai hadiah. Karena tanpa mengingatmu mungkin aku tidak akan mempunyai semangat untuk terus menang,” aku Leo dengan jujur. Alana yakin hatinya penuh dengan bunga ketika Leo mengucapkan kata-kata itu. Ah! Ia ingin tersenyum, tetapi tidak ingin Leo melihatnya!
“Benarkah?” tanya Alana masih dengan wajah merona yang berusaha ia sembunyikan.
“Pakailah,” kata Leo sambil menyodorkan kalung cantik itu. Alana belum menyambutnya karena ia sedang memikirkan sesuatu saat ini.
“Maukah kau memakaikannya untukku?” pinta Alana setelah ia berpikir. Leo diam sesaat sambil menatap Alana lalu ia mengangguk kecil. Leo langsung berdiri dari duduknya kemudian ia memasangkan kalung di leher Alana. Alana terus menatap wajah Leo ketika Leo memasangkan kalung untuknya. Dia benar-benar sudah gila. Cinta membuatnya berani menatap mata tajam Leo yang berwarna hijau misterius itu. “Terima kasih, ini sangat cantik dan indah. Aku cocok memakainya?” tanya Alana dengan senyum terkembang dari bibirnya. Ia tidak bisa menahan senyumnya.
“Sangat cocok. Kau memang pantas memakainya,” jawab Leo dengan senyum kecil. Hati Alana kembali berdesir melihat senyum Leo itu. Senyum itu untuknya.
“Aku juga akan memberikan hadiah untukmu,” ucap Alana dengan sedikit malu-malu. Leo mengernyit sedikit. Alana lalu mendekat ke arah Leo dan ia langsung menyentuh wajah Leo dengan tangannya. Keduanya sama-sama terdiam sesaat. Alana dengan keberaniannya lalu mencium bibir Leo. Alana sudah benar-benar gila. Ia lebih dulu yang mencium bibir Leo. Ah, cinta memang bisa membutakan semuanya. Kali ini ciuman itu terjadi tanpa ada keempat pasang mata yang mengintip dan juga kehebohan.
Tidak ada tanggapan dari Leo. Dia hanya diam dan Alana langsung melepaskan bibirnya. Ia sangat malu dengan apa yang dilakukannya barusan. Wajahnya memerah seperti apel. Alana segera menyembunyikan wajahnya dengan cara menutupi wajahnya dengan bantal. Ia juga langsung berbaring dan memunggungi Leo. Sungguh itu adalah hal terberani yang pernah Alana lakukan bersama seorang pria. Biasanya jika ada pangeran dari kerajaan lain yang mendekatinya atau tertarik kepadanya dan ingin menciumnya Alana menolaknya mati-matian bahkan ia pernah menghajar satu pangeran dari kerajaan yang berani bertindak kurang ajar kepadanya.
“Tidak perlu merasa malu. Itu hanya sebuah hadiah. Terima kasih, aku menerimanya.” Alana semakin mengeratkan pelukan bantal di wajahnya. Ia menahan senyumnya. Leo menerima ciumannya itu dan tidak menolak meskipun tidak ada tanggapan. “Sekarang istirahatlah. Kau terlihat sangat lelah. Kita bertemu lagi nanti.” Leo berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati pintu kamar Alana. Alana masih dalam posisi tadi.
“Leo, tunggu!” Alana segera menghentikan langkah Leo yang siap membuka pintu kamarnya. Alana sekarang berbalik memandangi Leo. Ia kembali duduk.
“Ada apa?” tanya Leo sedikit heran.
“Malam ini, bisakah kau tidur di sini? Maksudku menemaniku! Oh tidak, hanya tidur. Tidak ada hal lain!” ucap Alana dengan terbata-bata, tetapi matanya menyaratkan ketegasan. Leo kembali heran.
“Untuk apa?” tanya Leo lagi. Ia mendapati sesuatu yang aneh di diri Alana. Tidak biasanya Alana seperti itu kepadanya. Dia itu gadis yang keras kepala dan sering bertindak sesukanya sendiri.
“Aku takut. Aku sedang diawasi dan itu berbahaya. Kau ingat kejadian kemarin. Mereka datang di saat semuanya sedang beristirahat,” jawab Alana. Ia sekarang sudah bertambah gila. Mengajak Leo untuk tidur di kamarnya dengan alasan ia takut. Benar-benar harga dirinya sudah tidak berharga.
“Baiklah, akan aku lakukan. Asalkan kau tenang. Sekarang istirahatlah. Matamu sudah lelah sekali. Istirahatlah sebaik-baiknya. Urusan istana serahkan kepadaku. Aku menjaganya untukmu,” ucap Leo. Alana mengulas senyum cantiknya. Perkataan Leo semakin membuatnya melayang. Ia memegang kalung pemberian Leo. Terasa seperti Alana memegang wajah Leo.
Setelah Leo benar-benar keluar dari kamarnya, hati Alana tidak bisa dibendung lagi. Leo sudah benar-benar menguasai hatinya. Laki-laki yang awalnya Alana tidak sukai itu kini memenuhi setiap ruang kosong di hatinya. Ia sudah benar-benar jatuh cinta kepada Leo. Lalu bagaimana dengan Leo. Apakah ia memiliki rasa seperti Alana?
♜♜♜
Leo menghampiri sahabat-sahabatnya yang sedang latihan di taman samping istana. Aaron sibuk dengan tombaknya. Marco dan Sean tengah berlatih pedang. Keduanya berperan sebagai lawan. Alvin saat ini sedang latihan memanah. Ia mengarahkan anak panahnya ke sebuah titik di dekat pohon trembesi yang tumbuh di sana. Mereka sedang dalam masa-masanya semangat berlatih. Alasan mereka berlati, pertama karena memang kesadaran dari diri sendiri. Kedua, karena mendengar betapa kuatnya penguasa Daegal itu. Lalu yang ketiga adalah karena iming-iming dari Alana. Alana akan benar-benar mengenalkan keempat sahabatnya itu kepada bangsa Pixie. Jadi itulah yang membuat mereka bersemangat.
“Kalian semangat sekali,” puji Leo sambil duduk di rumput. Ia melihat keempat sahabatnya yang sibuk berlatih.
“Kau tidak ikut latihan?” tanya Alvin sambil menghentikan latihan memanahnya.
“Tanpa aku latihan, aku lebih kuat dari kalian,” jawab Leo dengan nada sombong. Aaron menghentikan latihanya begitu pula dengan Sean dan Marco. Mereka lalu memandang Leo masih dengan ekspresi terdiam. Baru kali ini Leo terdengar sombong dengan ucapannya. Leo terkekeh pelan melihat ekspresi keempat sahabatnya. “Aku hanya bercanda. Aku akan latihan nanti,” ucap Leo setelah ia tidak tahan untuk tertawa.
“Kau sekarang banyak tertawa dan tersenyum. Ada apa denganmu? Biasanya kau seperti manusia yang antara ingin hidup dan ingin mati,” ucap Marco dengan ungkapan anehnya.
“Apakah salah jika aku tertawa dan tersenyum? Apakah itu terlihat aneh di mata sialan kalian?” tanya Leo penasaran. Ia penasaran karena tanggapan teman-temannya seperti itu. Apakah Leo memang selama ini seperti yang dikatakan mereka pikirnya sendiri.
“Tepatnya semenjak kau selalu dekat dengan Alana. Leo, ayolah katakan kepada kami bagaimana hubunganmu dengan Alana sebenarnya. Bagaimana perasaanmu?” tanya Aaron penasaran. Aaron adalah orang yang paling penasaran dengan hubungan Alana dan Leo.
“Sama seperti kalian. Dia sahabatku. Hanya berbeda jenis kelamin,” jawab Leo singkat. Sean tidak puas dengan jawaban Leo. Jawaban macam apa itu? Ia ingin mendengar jawaban yang memuaskan. Mereka memang sudah mengenal sangat lama, tetapi hanya Leo lah satu-satunya orang yang sulit dipahami. Mereka semua hampir tidak bisa menebak bagaimana perasaan Leo dan bagaimana Leo jatuh cinta. Leo pun bahkan sangat jarang mengungkapkan rasa bahagianya. Ia seperti mempunyai dunia sendiri meskipun mereka selalu berlima.
“Tidakkah kau menganggapnya lebih? Asal kau tahu saja, Alana menganggapmu lebih dari seorang prajurit, petarung, pelindungnya serta sahabatnya. Jika kau tidak paham apa maksudku. Aku akan mengatakannya langsung. Ia mencintaimu dan dia berusaha menyembunyikannya dari mata siapa pun. Namun, kami berempat mengetahuinya. Jangan tanyakan dari mana kami mengetahuinya. Jawabannya karena kami adalah orang yang selalu diidam-idamkan wanita. Melihat tatapan memuja, suka serta cinta itu adalah makanan kami. Benar apa yang aku katakan?” tanya Alvin kepada Sean, Marco, dan Aaron untuk mendukung ucapannya.
“Tentu saja sangat benar! Dengarlah Leo, dia mencintaimu dan jika kau pria sejati maka balaslah perasaannya. Kau beruntung mendapatkannya. Ya aku iri kepadamu. Kau benar-benar beruntung. Kuulangi, kau benar-benar beruntung!” sahut Marco yang tidak tahu lagi harus berkata apa terhadap tingkat ketidakpekaan milik Leo.
“Dia baru saja menciumku ketika aku memberikannya kalung,” aku Leo tiba-tiba. Masing-masing senjata yang mereka pegang terjatuh ke tanah. Aaron bahkan tidak merasakan sakit ketika tombak dari besi itu menimpa kakinya. Ia lebih terkejut dengan ucapan Leo. Mata Sean terbelalak. Mulut Marco terbuka lebar. Ekspresi Alvin sangat kaget. Mereka melewatkan acara ciuman Alana dan Leo. Pikiran mereka sama. Sama-sama ingin melihat adegan itu.
“Leo! Bagaimana itu bisa terjadi? Kalung apa? Kau memberinya. Itu sangat romantis. Dia menyukainya?” tanya Aaron penasaran. Ia dengan cepat menghampiri Leo dan duduk di depan Leo. Wajahnya berbinar bahagia. Marco, Alvin dan Sean juga melakukan hal yang sama seperti Aaron. Mereka mendekati Leo dan siap mendengarkan cerita dongeng Leo.
“Karena aku sudah memberinya hadiah jadi dia membalasnya. Aku hanya diam saja,” jawab Leo singkat. Alvin geram setengah mati. Bagaimana bisa Leo hanya diam saja. Jika dia yang menjadi Leo. Ia tidak akan melewatkan kesempatan itu.
“Mengapa kau hanya diam saja?” tanya Marco kesal.
“Aku takut jika membalasnya. Aku takut tidak bisa mengontrol diriku,” aku Leo lagi dan lagi-lagi membuat pernyataan mengejutkan. Leo benar-benar penuh kejutan. Mereka semakin penasaran mengenai perasaan Leo kepada Alana.
“Maksudmu?!” tanya keempatnya dengan keterkejutan yang tidak bisa mereka sembunyikan. Leo tampak biasa saja dan tetap berwajah datar.
“Kalian mengaku sebagai pemikat wanita dan paham wanita serta seluk beluk percintaan. Kalian tidak mengerti maksudku apa?” Leo mulai menunjukkan raut wajah heran.
“Tunggu, biar aku terjemahkan!” Alvin langsung menyuruh semuanya diam dan sekarang keempatnya menatap Alvin. “Kau takut membalasnya dan jika terjadi maka kau takut tidak bisa mengontrolnya. Oh tidak! Aku mengerti. Leo kau secara tidak langsung mengakui bahwa kau mencintai Alana!!” ucap Alvin dengan sukacita.
Aaron, Sean, dan Marco terbelalak serta ikut bersorak seperti Alvin. Sekarang mereka memaksa pengakuan dari mulut Leo. Sudah seharusnya sahabat saling tahu apa yang sahabat rasakan. Aaron langsung bahagia mendengar hal tersebut. Khayalannya bahwa Leo dan Alana itu saling mencintai akhirnya tersampaikan. Sean terharu karena Leo yang dingin, pendiam, dan tertutup itu bisa mencintai seseorang juga. Marco bahkan sudah berteriak-teriak tidak keruan menyuruh Leo untuk membuat pengakuan resmi kepada Alana.
“Hei tenanglah kalian semua. Aku tidak pernah membuat pengakuan bahwa aku mencintainya,” tidak ada yang menanggapi perkataan Leo karena keempatnya tengah sibuk bersukacita. “Aku tidak mencintainya. Aku juga pria normal yang apabila menerima perlakuan seperti itu bisa lepas kontrol. Aku tidak mencintainya!” kali ini Leo sedikit keras berkata dan itu sukses membuat keempatnya terdiam. Kekecewaan langsung tampak di wajah mereka.
“Kau sedang bercanda, kau hanya menutupi perasaanmu yang sebenarnya. Apa alasannya, Leo?” tanya Marco kepada Leo setelah mereka terdiam.
“Sudahlah tidak perlu membahas mengenai hal ini, yang perlu kalian tahu bahwa aku tidak memiliki rasa terhadapnya. Aku hanya melindunginya dan menjaganya sampai ia berhasil menyelamatkan Mašte.” Leo bangkit dari duduknya. Ia menghela napasnya dan langsung berjalan meninggalkan keempat temannya yang masih tidak memercayai pengakuan Leo.
“Kalian percaya?” tanya Sean.
“Tidak!” jawab ketiganya serempak. Keempatnya lalu saling pandang dan seolah pikiran mereka tersambung satu sama lain. Setelahnya mereka mengembangkan senyum yang penuh arti. Hanya keempatnya yang tahu arti senyum tersebut.
TBC...