“Malkia, hari ini Anda akan kedatangan pangeran dari kerajaan sss. Mereka mengatakan akan membuat persekutuan kepada Anda. Saat ini kerajaan manusia sudah tinggal kerajaan kita dan sss. Memang kerajaannya tidak sekuat kita, tetapi adanya persekutuan akan membuat kita berkesempatan semakin besar untuk menang,” kata Edmond, penasihat Alana yang memiliki julukan Leander.
“Ya, sambut kedatangan mereka. Kita memang harus membuat banyak persekutuan. Meskipun sedikit mereka akan tetap bermanfaat. Paman, kau sudah menyiapkan kapal untuk kami berlayar lusa nanti?” tanya Alana kepada penasihatnya itu.
“Ya, kapal telah siap di teluk Marigot. Besok kami akan menyiapkan perlengkapan untuk berlayar,” jawab penasihat Alana lagi.
“Terima kasih, Paman. Nanti selama kami pergi aku menitipkan istana kepadamu. Tolong jaga kerajaan kita dengan sebaik-baiknya,” pinta Alana. Edmond tentu saja menyanggupinya. Baginya melindungi Alana dan kerajaannya adalah prioritas utama. Itu adalah janjinya kepada sang raja sebelum ia mengembuskan napas terakhir.
“Tentu saja, Malkia. Itu sudah menjadi tugas saya semenjak raja meninggal. Saya mengabdikan hidup saya untuk Anda dan untuk kerajaan ini,” jawabnya dengan tulus. Alana tersenyum menanggapi kebaikan penasihatnya itu. Orang yang sudah dianggap Alana seperti paman kandungnya sendiri.
“Paman, boleh aku bertanya sesuatu kepadamu?” tanya Alana dengan ragu. Ia tidak tahu harus bercerita kepada siapa dan penasihatnya itu adalah orang yang mungkin saja bisa memecahkan pertanyaan yang selama ini berputar-putar di otaknya.
“Menanyakan hal apa, Malkia. Silahkan saja tanyakan. Saya akan menjawab sebisa saya,” jawabnya.
“Menurutmu, Leo itu orang yang seperti apa?” tanya Alana dengan ragu. Ia tidak melihat raut keterkejutan di wajah penasihatnya itu. Yang Alana lihat adalah seulas senyum kecil di wajahnya.
“Dia orang yang baik, pemberani, bertanggung jawab, sopan, jauh berbeda dengan keempat sahabatnya yang lain. Dia cenderung pendiam, tetapi dia memperhatikan semuanya. Saya sering mendapatinya menatap Anda, Yang Mulia,” jawab penasihat Alana dengan jujur. Wajah Alana langsung memerah dan detak jantungnya kembali berirama tidak selaras.
“Menatap seperti apa?” tanya Alana penasaran, tetapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan rasa penasarannya yang mengelora. Ia tidak ingin penasihatnya itu langsung tahu mengenai perasaan Alana.
“Saya sulit mengartikannya. Saya rasa Anda lebih tahu karena Anda cukup dekat dengannya. Boleh saya tahu satu hal, Malkia?” ucapnya mengajukan pertanyaan. Alana mengangguk. Ia masih terbawa suasana senang karena mendengar ucapan penasihatnya. “Bagaimana mengenai perasaan Anda kepadanya. Apakah ada sesuatu di hati Anda untuknya?” tanya penasihatnya dengan hati-hati takut hal itu menyinggung Alana. Sontak wajah merah Alana yang awalnya ia sembunyikan sekarang semakin memerah terang.
“Apakah dia pantas untukku?” pertanyaan itu menegaskan jawaban dari pertanyaan yang ditanyakan oleh penasihat Alana. Pada akhirnya Alana akan mengakui kepadanya bahwa memang ada hal lain di hati Alana yang membuatnya bertanya tentang Leo kepada penasihatnya.
“Dia sangat pantas untuk Anda. Tidak ada yang menyangsikannya bahkan itu orang lain yang tidak mengenal kalian,” jawab penasihatnya sambil tersenyum. Wajah bijaksananya itu benar-benar meyakinkan Alana dengan jawabannya.
“Paman, aku jatuh cinta kepadanya, tetapi aku tidak tahu bagaimana perasaannya kepadaku,” aku Alana akhirnya. Senyum yang lebih lebar terkembang di wajah penasihatnya.
“Anda sudah benar-benar dewasa ternyata. Anda sudah merasakan cinta. Saya sangat bahagia mendengarnya, Malkia,” ucap penasihatnya dengan terharu. Ia dari kecil sudah mengenal Alana sampai sebesar sekarang ini. Ia sudah menganggap Alana seperti anak dan keponakannya sendiri. “Mengenai perasaannya kepada Anda, jangan Anda khawatirkan. Saya yakin dia sebenarnya juga memiliki rasa yang sama, tetapi enggan mengungkapkannya. Mungkin ia punya alasan. Tunggu saat yang tepat pasti semuanya akan jelas,” nasihatnya.
“Paman, aku rasanya tidak kuat jika harus menahannya lebih lama lagi. Setiap bersamanya jantungku selalu berdetak kencang. Aku takut jika aku tidak bersamanya pada akhirnya hatiku akan hancur berkeping-keping. Perang besar di depan mata. Aku takut salah satu dari kami tidak akan selamat. Itu hanya ketakutanku yang coba aku sembunyikan, Paman,” aku Alana lagi sambil memegang dadanya.
“Jangan Anda pikirkan. Percayalah bahwa kita akan menang dalam pertarungan kali ini. Kita sudah mempunyai satu sekutu kuat. Dan kita harus membuat empat sekutu kuat lagi. Yakinlah, kita semua akan selamat dalam perang nanti. Jika pun akan ada nyawa melayang saya bersedia berkorban asalkan bukan Anda, Leo, dan sahabat-sahabat Anda, Yang Mulia.” Alana terdiam mendengar ucapan penasihatnya.
“Paman jangan seperti itu. Aku tidak ingin ada nyawa yang melayang. Kalian akan tetap hidup mendampingiku menjadi penguasa Mitjà dan penguasa Mašte. Kupastikan nyawa kalian selamat dan aku akan berusaha membuat persekutuan dengan dunia Mông. Apa pun caranya.” Alana bertekad tidak ingin kehilangan orang-orang penting di dalam hidupnya pada perang besar nanti.
“Semuanya harus kita usahakan. Semuanya harus dengan usaha. Barulah buah dari usaha kita akan terlihat,”Alana diam kembali. Ia sangat takut jika sudah membicarakan perang. Ia sudah berpikir akan banyak nyawa yang melayang. Alana paling takut Leo akan pergi dari sisinya. Ia tidak ingin itu terjadi.
♜♜♜
Alana mondar-mandir di kamar tidurnya. Sudah cukup larut malam, tetapi Leo belum juga ke kamarnya untuk menemaninya tidur. Alana gelisah, tetapi ia tidak ingin menemui Leo dan memintanya lagi secara langsung. Dia ingin Leo melakukannya dengan kesadarannya tanpa perlu Alana minta lagi. Memang cukup memalukan permintaannya tadi siang, tetapi mengingat musuh yang sudah sangat berani mengganggu ketenangan Alana, maka ia tidak punya pilihan lain.
“Apakah dia tidak ingin menjagaku saat tidur?” kata Alana sambil memain-mainkan rambutnya dan terus mondar-mandir.
“Apakah dia marah kepadaku karena aku menciumnya siang tadi?” pertanyaan Alana tiba-tiba berhenti setelah ia berpikir. “Ah tidak mungkin, karena tadi Leo mengatakan menerimanya.” Alana mulai mengacak-acak rambutnya. Ia tidak tenang.
“Apakah Leo malu bertemu denganku?” Alana diam kembali. Wajahnya langsung memerah sendiri ketika memikirkan kemungkinan tersebut.
“Kenapa dia harus malu? Apakah dia mempunyai rasa yang sama sepertiku?” Alana kali ini duduk di kasur kamar tidurnya lalu ia berbaring. Rona wajahnya memancarkan semburat merah yang nyata. “Bagaimana ini? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Kenapa dia belum datang ke kamarku?” pertanyaan-pertanyaan itu terus terlintas di kepala Alana.
Karena terlalu lama menunggu Leo yang tidak kunjung datang ke kamarnya Alana akhirnya tertidur lelap. Ia sangat nyenyak tertidur sampai ia tidak tahu ketika Leo memasuki kamarnya. Leo yang mendapati Alana sudah tertidur memutuskan mengambil kursi dan duduk di depan Alana. Ia lalu menatap wajah tidur Alana.
“Maaf aku datang terlambat. Tidurlah dengan nyenyak. Aku akan menjagamu di sini,” ucap Leo pelan sambil terus menatap wajah Alana. Tidak lama dari itu Leo juga tertidur di kursi itu.
Pagi telah datang. Sinar matahari menyinari wajah Alana. Sebenarnya ia tidak ingin membuka matanya dan akan melanjutkan tidur jika saja ia tidak melihat siluet wajah Leo di depannya. Alana langsung membuka matanya dengan lebar. Leo sudah bangun dan masih duduk di kursi.
“Sejak kapan kau ada di sini?!” tanya Alana masih dengan keterkejutannya.
“Semenjak kau tertidur,” jawab Leo singkat.
“Kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Alana lagi.
“Kau nyenyak sekali. Aku tidak tega,” jawaban Leo kembali singkat. Alana langsung duduk dan membenarkan rambutnya. Alana melihat dari sudut matanya Leo saat ini tengah menatap jendela.
“Terima kasih, kau pasti merasa tidak nyaman tertidur di kursi itu. Jika kau masih mengantuk, berbaringlah. Aku tidak keberatan kau tidur di sini.” Alana menawarkan kasurnya untuk Leo. Dia benar-benar gila.
“Tidak. Aku sudah biasa. Aku juga tidak mengantuk lagi. Tugasku sudah selesai dan aku akan keluar. Permisi.” Alana mengernyit heran. Leo terlihat sangat jauh berbeda dari beberapa hari yang lalu. Ia seperti tidak mengacuhkan Alana. Sedingin-dinginnya Leo, dia tidak pernah mengabaikan Alana bahkan biasanya Leo selalu mempedulikannya.
“Tunggu,” ucap Alana sambil meraih tangan Leo yang baru saja berdiri dari kursinya. Ia menatap Leo yang saat ini juga menatapnya. “Kau marah kepadaku?” tanya Alana dan tidak melepaskan tangannya dari tangan Leo.
“Untuk alasan apa aku marah kepadamu. Apakah kau berbuat salah kepadaku?” tanya balik Leo.
“Entahlah,” jawab Alana tidak yakin. “Tetapi aku merasa kau menghindariku. Mengapa?” tanya Alana benar-benar ingin tahu.
“Aku tidak menghindarimu. Jangan berpikiran seperti itu. Aku harus turun sekarang dan akan latihan. Sebaiknya kau segera mandi lalu sarapan.” Leo menatap tangannya yang dipegang Alana. Alana langsung melepaskannya.
“Maaf, aku hanya merasa kau menghindariku. Mungkin aku sedang terlalu banyak pikiran,” kata Alana sambil menarik tangannya.
“Aku keluar dulu, tidak enak dengan prajuritmu yang menjaga di depan pintu. Bisa-bisa mereka berpikir aku melakukan sesuatu denganmu di dalam kamar.” Alana sedikit membulatkan matanya dan wajahnya memerah mendengar ucapan Leo itu. Jika saja memang terjadi sesuatu pastilah Alana tidak akan meyuruh Leo untuk keluar dari kamarnya lagi. Ia akan menahan Leo dan terus bersamanya di sana berdua saja. Alana sudah benar-benar gila.
Leo keluar dari kamar Alana dan ia langsung menuruni tangga marmer berwarna keabuan yang pagi itu dibanjiri sinar matahari. Ia melangkah pelan sambil berpikir banyak hal. Namun, inti pikirannya tertuju kepada ucapan Alvin dan Marco di taman samping istana kemarin. Ucapan itu terus terngiang-ngiang sepanjang kemarin dan juga pagi ini.
“Tidakkah kau menganggapnya lebih? Asal kau tahu saja, Alana menganggapmu lebih dari seorang prajurit, petarung, pelindungnya serta sahabatnya. Jika kau tidak paham apa maksudku. Aku akan mengatakannya langsung. Ia mencintaimu dan dia berusaha menyembunyikannya dari mata siapa pun. Namun, kami berempat mengetahuinya. Jangan tanyakan dari mana kami mengetahuinya. Jawabannya karena kami adalah orang yang selalu diidam-idamkan wanita. Melihat tatapan memuja, suka serta cinta itu adalah makanan kami. Benar apa yang aku katakan?”
“Tentu saja sangat benar. Dengarlah Leo, dia mencintaimu dan jika kau pria sejati maka balaslah perasaannya. Kau beruntung mendapatkannya. Ya aku iri kepadamu. Kau benar-benar beruntung. Kuulangi, kau benar-benar beruntung!”
Saat pikiran Leo sedang memikirkan hal tersebut, tiba-tiba bunyi kuat dari depan istana langsung terdengar. Leo segera melihat apa yang terjadi dari jendela. Matanya membulat sempurna. Saat ini yang ia lihat bukanlah makhluk biasa peliharaan Ifrit. Mereka sekumpulan raja tamak. Minotaur sedang mengamuk sambil mengibaskan kapaknya. Erangan suaranya menggetarkan. Ogre juga memukul-mukulkan palu raksasanya ke tanah sedangkan Cyclops menghentakan kakinya ke tanah dengan kuat. Mereka membuat serangan dadakan yang bahkan tidak pernah bisa diprediksi oleh Leo.
“Mereka akhirnya menampakkan diri lagi,” ucap Leo dengan napas memburu. Di pikiran Leo saat ini adalah Alana. Karena Alana adalah kunci dari semua ini. Alana harus diselamatkan jika tidak, maka tidak akan ada gunanya membuat persekutuan dengan Yupiter tanpa ada persekutuan dari Poseidon, Neptune, Oceanus, dan Triton. Ia dengan gesit membalikkan tubuhnya dan menaiki tangga secara cepat menuju kamar Alana. Setelah sampai di depan kamar Alana, Leo langsung menyuruh para prajurit yang berjaga untuk turun agar mereka siap menyerang. Sebentar lagi perang akan dimulai. Perang mendadak diluar dugaan mereka. Leo langsung memasuki kamar Alana, tetapi tidak mendapati Alana di sana. Leo langsung membuka kamar mandi Alana. Alana yang sedang mandi membulatkan matanya saat melihat Leo berdiri di depan pintu kamar mandinya. Alana dengan cepat menutupi bagian tubuhnya. Dia tidak tahu apakah Leo melihat semuanya atau tidak.
“Alana! Gawat, kali ini tiga raja tamak yang muncul menyerang kerajaanmu!” Leo langsung berkata dengan tergesa-gesa. Ia kemudian mengambil kain dan dengan cepat menutupi tubuh Alana. “Maaf, aku tidak tahu kau sedang mandi. Cepatlah berpakaian. Mereka jauh lebih kuat dan berbahaya!” Leo dengan cepat membantu Alana memakai pakaiannya. Bisa dipastikan bagaimana perasaan Alana sekarang ini? Saat ini Leo sedang membantunya memakaikannya pakaian sedangkan Alana seperti membatu. Leo memakaikan Alana pakaian tetap dalam posisi Alana yang terbungkus kain dan Leo menutup matanya. Ia dalam situasi terdesak dan ini di luar perkiraannya. Leo tidak mencari kesempatan dalam kesempitan, dia hanya terdesak untuk menyelamatkan sang ratu yang merupakan kunci. Lagi pula dia menutup matanya agar menjaga kehormatan sang ratu.
“Cepatlah, kali ini kumohon kau bersembunyi. Bersembunyi di mana saja. Panggil bangsa Ezio. Sebaiknya kau ke Breen. Kumohon, kali ini bukan perang biasa. Nyawamu sangat terancam!” ucap Leo sambil memegang kedua bahu Alana. Menghadapkan Alana di hadapannya agar Alana yakin dengan ucapannya.
“Leo, tidak. Aku tidak ingin. Aku ingin ikut melawannya seperti kejadian kemarin. Kumohon bawa aku bersamamu!” pinta Alana memohon. Rambutnya yang basa dan berantakan tidak mengurangi kecantikannya.
“Tidak. Aku tidak akan sanggup membawamu bersamaku seperti kemarin. Ini lebih dari yang kau bayangkan. Ingatlah, kau adalah orang yang bisa menyatukan Poseidon, Neptune, Oceanus, dan Triton. Jika kau tidak selamat dalam perang ini. Siapa yang akan menyelamatkan Mašte? Kumohon sekarang panggil Merlin dan pergilah ke Breen. Nanti aku akan menjemputmu.” Leo melepaskan pegangan tangannya di bahu Alana. Ia takut. Sungguh sangat takut jika akan terjadi hal yang tidak di inginkan di kerajaannya terutama kepada Leo. “Aku berjanji padamu.” Leo memastikan ucapannya sekali lagi.
“Aku akan mengikuti perkataanmu dengan syarat kau berjanji akan menjemputku setelah perang usai. Kumohon Leo berjanjilah kepadaku. Berjanjilah kau akan selamat dan melindungi kerajaanku. Berjanjilah kita akan bersama-sama berpetualang ke dunia Mông bersama. Aku, kau, Marco, Sean, Alvin, dan Aaron!” ucap Alana dengan tergesa-gesa.
“Ya, aku berjanji kepadamu!” jawab Leo dengan mantap. Alana tanpa pikir panjang langsung mencium bibir Leo. Tanpa diduga oleh Alana, Leo membalasnya. Rasanya jika tidak ingat dalam posisi genting saat ini, Alana tidak ingin melepaskan bibir Leo. Ia benar-benar menikmatinya apalagi kali ini Leo membalasnya.
“Tunggu aku, nanti aku pasti datang menjemputmu,” ucap Leo lagi dan kali ini ia yang mencium bibir Alana. Alana kembali terhanyut, tetapi Leo tidak lama menciumnya. “Pangil Merlin sekarang juga. Kau harus segera ke Breen dan aku akan menghadapi mereka,” kata Leo yang sekarang menarik Alana untuk keluar dari kamar mandinya. Tidak lama dari itu bangsa Ezio datang. Mereka langsung hinggap di pagar pembatas kamar Alana. Leo langsung menyuruh Alana untuk pergi. Alana terus memandangi Leo yang menatapnya dari kejauhan. Setelah itu Leo dengan cepat berlari untuk mulai berperang. Ia memakai pakaian perangnya dan menunggang kudanya. Tiga makhluk raksasa itu masih belum menyerang. Mereka menunggu prajurit-prajurit di kerajaan Alana siap. Dilihat Leo dari kejauhan sahabatnya Sean, Marco, Alvin dan, Aaron sudah siap di posisi mereka masing-masing. Leo mendekatinya dan ikut bergabung.
“Ke mana Alana?” tanya Sean.
“Aku mengirimnya ke Breen. Nyawanya yang diincar. Di Breen dia akan selamat,” jawab Leo. Angin peperangan seakan menyelimuti kerajaan itu. Bunyi terompet yang menandakan para prajurit untuk siap telah terdengar.
“Ayo kita kalahkan mereka. Tidak akan ada yang boleh menyerah dan tidak akan ada yang boleh kehilangan nyawa. Kita harapan satu-satunya Mašte. Kita harus mengambil apa yang ada di alam semesta ini yang telah diambil oleh mereka. Berjanjilah kepadaku kita akan tetap hidup dan mengantar pada kemenangan,” ucap Leo kepada teman-temannya. Keempatnya mengangguk.
“Ayo kita habisi tiga makhluk bodoh itu. Akibat ulah mereka kita harus kehilangan kerajaan dan raja kita yang dulu,” ucap Alvin sambil mengarahkan anak panahnya. Tidak lama dari itu terompet tanda perang dimulai. Perang itu mempertaruhkan kemenangan.
♜♜♜
“Alana, ayo makanlah. Kau harus makan.” Isadora menawarkan lagi makanan yang telah ia antarkan ke kamar Alana. Dari tadi Alana belum menyentuh makanannya. Pikirannya tertuju kepada perang dan keselamatan semua orang yang ada di istananya.
“Terima kasih Isadora, tetapi aku tidak lapar,” jawab Alana dengan suara pelan. Di dalam pikirannya saat ini berkecamuk mengenai perang yang sekarang tengah terjadi di kerajaannya. Begitu Alana sampai di Breen, ia langsung disuruh beristirahat oleh putri-putri bangsa Pixie. Alana menuruti perintah mereka karena pikirannya sangat tidak tenang. Ia memikirkan bagaimana kerajaannya, bagaimana rakyatnya, bagaimana Leo, bagaimana sahabat-sahabatnya. Itu yang ada di dalam otaknya saat ini.
“Alana, aku tahu apa yang kau pikirkan saat ini. Aku tahu betapa khawatirnya kau sekarang. Aku tahu seberapa kuat musuh yang dihadapi, tetapi kau harus yakin dengan mereka. Kami memilih mereka bukan tanpa alasan. Ada alasan kuat mengapa mereka terpilih,” ucap Karin menenangkan Alana. Ia mengusap punggung Alana dengan pelan.
“Aku sangat khawatir, Karin. Sungguh sangat khawatir. Aku tidak bisa melakukan apa pun di sini. Sedangkan mereka tengah berjuang. Leo, aku takut membayangkan dia terluka. Sahabat-sahabatku, prajuritku, dan rakyatku. Aku takut hal tersebut memang akan terjadi cepat atau lambat.” Alana dengan resah mengembuskan napasnya. Sesak di dadanya tidak berkurang sedikit pun.
“Alana, tenanglah. Tenangkan pikiranmu. Kami tahu seberapa khawatirnya kau saat ini. Tenanglah, pasti akan ada keajaiban. Mereka itu petarung yang hebat. Kau yakin dengan janji Leo yang akan menjemputmu di sini? Jika kau yakin maka kau harus percaya kepadanya.” Maribel memeluk Alana dan mengusap kepala Alana. Menenangkan sahabatnya yang tengah gundah gulana.
“Ya, aku percaya kepada Leo.” Alana akhirnya mulai sedikit tenang. Ia percaya kepada Leo. Ia harus percaya dengan janji Leo kepadanya.
TBC...