Soter

1359 Words
“Semakin hari kedamaian dunia manusia semakin kecil. Heh, apakah kita bisa bertahan di dunia kelam ini?” keluh seorang pria yang sedang mengendarai kuda. Dia adalah Aaron Watson dan mempunyai julukan Eron. Dia laki-laki yang cukup menarik secara fisik, kulitnya sedikit coklat kerena terlalu sering terbakar matahari. Rambutnya berwarna mahoni terang dan dia sering memakai tombak untuk berburu mangsanya. Salah seorang Grimbold. Kumpulan para pemberani yang tengah berkelana. Ada empat pria lainnya yang saat ini sedang mengendarai kuda sama sepertinya. “Aku ingin cepat-cepat dunia ini damai lalu aku bisa tidur sepuasnya tanpa bertarung. Aku jadi mengantuk,” sahut Sean, nama panjangnya Sean Randall, dia memiliki rambut ikal berwarna hitam kemerahan, rambutnya tidak terlalu panjang, tetapi itu justru membuatnya terlihat lebih muda dari umur yang sebenarnya. Ia adalah orang yang selalu suka tidur dan makan, tetapi di balik itu dia adalah sosok yang sangat hebat jika sudah bertarung. Julukannya adalah Daxter di kelompoknya. Ia menggunakan pedang sebagai senjatanya. “Pikiranmu hanya tidur. Lebih baik makan. Kapan aku bertemu makanan yang enak. Aku bosan memakan roti gandum tanpa rasa. Aku sekarang sedang membayangkan sup kentang dengan daging rusa yang empuk lalu diberi peterselie dan dimakan dengan roti bawang. Membayangkannya saja membuatku lapar.” Marco Herwin berbicara sambil membayangkan makanan di pikirannya. Tanda bahwa ia begitu menginginkan makanan tersebut. Dilihat dari wajanya pun orang-orang akan tahu dia memiliki kepribadian yang hangat. Garis wajahnya tidak terlalu tegas dan matanya selalu terlihat nakal, tetapi penuh dengan kepedulian yang tinggi. Dia mempunyai julukan Kardos. Ia salah satu pendekar pedang terbaik di kelompoknya. “Aku menginginkan semua yang kalian ucapkan. Tidur, damai, dan makan. Itu hal yang paling menyenangkan di dunia ini. Tidak lupa dengan wanita-wanita cantik. Itu salah satu yang aku inginkan,” kali ini Alvin Hazel yang berbicara. Ia adalah seseorang yang sangat menghormati wanita dan juga sangat memujanya. Dia memang berwajah cukup tampan, tetapi bisa sangat menggemaskan di lain waktu. Rambutnya hitam pekat dengan potongan yang rapi. Dia suka bergaya rapi di setiap kesempatan. Julukannya adalah Kyler. Satu-satunya pemanah di kelompok Grimbold dan orang yang paling menyukai tebar pesona kepada banyak wanita. Keempatnya bercengkerama dengan ceria. Keempatnya memang memiliki sifat yang sangat suka bercanda. Mereka berempat juga adalah sekumpulan orang yang sering bertingkah konyol bahkan terkadang sering bertindak bodoh. Sering melakukan hal apa pun untuk menghibur diri mereka yang sedang bosan ketika dalam perjalanan berkelana. Namun, di antara itu semua ada satu orang lagi yang paling berbeda dari keempatnya. Dia sosok yang sangat tertutup. Paling pendiam dan sangat jarang berinteraksi, tetapi dia adalah pemimpin pasukan mereka. Dia sangat pemberani dan julukannya adalah Morani. Sesuai julukannya, ia orang yang sangat tidak segan-segan bertarung jika itu dianggapnya perlu. Mereka berlima berasal dari Sierra. Tempat kerajaan penguasa pegunungan dulu pernah ada. Sebuah tempat yang dulunya makmur, tetapi sekarang kekuasaannya sudah berganti. Dunia itu sudah hilang dan disembunyikan potongannya oleh penguasa raja-raja jahat. Mereka berlima adalah sisa prajurit kerajaan yang dulu pernah ada di Sierra. Mereka berhasil meloloskan diri setelah raja mereka dibunuh di depan mata mereka. Sierra sekarang hanyalah sebuah kerajaan semu karena keberadaannya sendiri telah disembunyikan dari Mašte. Entah di mana kerajaan itu berada sekarang. Tujuan mereka sekarang adalah ingin mengambil kembali kerajaan mereka yang tersembunyi lalu membangkitkan kejayaan mereka yang pernah padam. “Hei lihat itu!” Sean langsung menghentikan laju kudanya dan yang lainnya juga menatap arah pandangan mata Sean. Mereka melihat sebuah gerbang besar yang pinggirannya berselimut dahan-dahan merambat. Gerbangnya bukan terbuat dari bahan batu atau kayu-kayuan. Gerbangnya terbuat dari kristal berwarna perak bercampur kilauan keemasan. Memancarkan sinar berkilauan yang membuat mereka terkagum. Dua patung kuda jenis Friesian berwarna putih, bersayap, dan berbulu lebat pada punggung serta ekornya itu adalah simbol keanggunan. Tempat yang mereka lihat sekarang adalah istana para bangsa Pixie. “Breen, istana bangsa para Pixie,” ucap Leo Vinzel sambil sedikit mendekat ke arah gerbang istana. Tiba-tiba gerbang istana terbuka dengan sendirinya. Tanah di sekitar mereka yang awalnya adalah semak-semak serta rerumputan sekarang berubah menjadi hijau dari daun bunga semanggi. Seolah membentuk jalan mereka untuk memasuki istana. Semerbak wangi bunga menyapa penciuman mereka. Kelimanya saling pandang dengan heran. Mereka belum melangkah masuk ke dalam istana. Masih mematung di tempat semula karena mereka harus tetap waspada. Tiba-tiba angin halus menerpa tubuh mereka. Mendorong kuda-kuda mereka untuk memasuki istana megah itu. Akhirnya mereka berjalan perlahan memasuki gerbang masih tetap dengan kewaspadaan tinggi. Angin yang berembus tadi menghilang dan hamparan bunga semanggi juga menghilang. Gerbang tertutup kembali. Berbagai jenis pohon super besar tumbuh di dalam halaman istana. Entah di mana ujungnya mereka tidak bisa melihat dengan kasat mata. Semuanya seolah saling berbicara melihat kehadiran manusia memasuki kawasan istana bangsa para Pixie. Banyak hewan berbentuk aneh di dalam hutan itu. Seperti rusa yang mempunyai tanduk berbentuk ranting pohon yang sangat lebat menandakan betapa tuanya umur sang rusa, tubuhnya berwarna keperakan dengan bulu lebat di lehernya. Ada juga burung-burung merak yang berwarna putih bersih. Tubuhnya bersinar seperti memancarkan warna pelangi. Ada mahkota kecil di kepalanya. Lalu ada lagi kuda putih dengan ukuran yang sangat besar. Sayap-sayap mereka terlihat kokoh. Mereka mempunyai tanduk panjang seperti mata tombak. Rambut pada tenguk dan ekornya sangat panjang serta berwarna keemasan. Keanggunan semua mahluk itu cukup membuat kelima petarung berdecak kagum. “Apakah aku sedang bermimpi?” tanya Aaron sambil menepuk-nepuk pipinya beberapa kali. “Aku akan menjadi gila. Bayangkan! Aku memasuki istana bangsa Pixie! Hal yang dulu selalu aku impikan! Banyak makanan enak dan peri cantik yang akan menyambutku!”Alvin mulai bertingkah aneh. Ia membenarkan tatanan rambutnya lalu merapikan bajunya. Alvin melihat banyak peri Pixie perempuan yang berada di sekitar mereka menatap heran. Sungguh sangat jarang bangsa manusia bisa memasuki tempat mereka kecuali Alana. Sang Ratu. “Lihat, mereka memandang terpesona kepada kita.” Sean juga melakukan hal yang sama seperti Alvin. Ia bahkan beberapa kali berusaha membuat dirinya terlihat memesona. “Sean, bagaimana penampilanku. Apakah aku terlihat tetap tampan? Bagaimana pakaianku? Tidak kusut? Rambutku sudah rapi? Wajahku tetap memesona?” Marco juga tidak ingin ketinggalan bertingkah seperti ketiga temannya. Namun, di antara keributan itu hanya satu orang yang tidak peduli dan terus berpikir mengapa mereka bisa masuk ke istana tersebut. “Diamlah, bangsa para peri sedang mengawasi kita.” Leo menyuruh keempat temannya untuk diam. Namun, bukannya diam seperti yang Leo harapkan, justru keempatnya semakin bertambah histeris. Apa yang bisa Leo harapkan dari teman-temannya itu? Sepertinya tidak ada. “Kau dengar! Peri-peri cantik itu sedang mengawasi kita. Aku yakin mereka sedang memuji ketampanan kita dan sedang memilih di antara kita siapa yang cocok untuk menjadi pasangan mereka!”Alvin sangat semangat mengucapkannya dan tidak lupa dengan wajah yang berbinar-binar. Wajah menariknya memang tidak diragukan untuk mendapatkan perhatian lebih. “Aku tidak sabar ingin melihat mereka. Rasanya mataku akan menangis terharu jika saja putri dari istana itu menyapaku lalu mengajakku untuk menikah.” Marco menyahut dengan perasaan yang sama seperti Alvin. Keempatnya tengah sibuk membahas tentang keterpesonaan para peri yang belum tentu benar adanya. Hanya Leo seorang yang sekarang berjalan lurus melewati jembatan penuh dengan tumbuhan merambat dan bunga-bunga kecil sebagai penghiasnya. Ia tidak tahu mengapa mereka seolah diundang masuk ke dalam istana bangsa peri. Seperti yang dulu pernah Leo dengar dari cerita-cerita di masyarakatnya, bangsa Pixie adalah bangsa yang abadi dan sangat kuat, tetapi mereka memiliki aturan tersendiri. Mereka tinggal di pedalaman hutan Yardvine dan tidak banyak manusia yang bisa melihat istana mereka. Hanya orang-orang terpilihlah yang bisa melihat istana mereka apalagi memasukinya. “Pemimpin pasukan Grimbold, Leo Vinzel alias Morani, mantan petarung kerajaan Sierra. Kuucapkan selamat datang di kerajaan kami,” seorang peri pria menyapa Leo ketika ia sudah melewati jembatan. Dia muncul secara tiba-tiba. Perawakannya sangat tampan. Memakai pakaian yang sangat mewah. Mahkota berlian dengan bentuk kuda-kuda kecil bersayap lalu hiasan bulan serta bintang menghiasi kepalanya. Tubuhnya bersinar keemasan menandakan dia adalah salah satu penguasa istana Breen. Semua terkagum seakan apa yang dilihat hanyalah ilusi semata. Termasuk Leo yang tidak menampakkan kekaguman secara tergurat. “Aku adalah Tyrone di kerajaan para bangsa Pixie. Kedatangan kalian sudah sangat dinantikan oleh kami,” semua yang ada di sana seolah memberikan hormat kepada raja tersebut. Daun-daun berbisik dalam bahasa mereka, kupu-kupu memampilkan tarian di udara, para bunga bermekaran menyajikan semerbak wewangian yang menggoda, pohon-pohon bergoyang seolah tertiup angin, air terjun menjadi tenang, dan semua hewan juga seolah memberi hormat. Kelimanya lalu turun dari kuda mereka dan memberikan hormat kepada raja tersebut. Sang raja memang harus dihormati. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD