Pistis

1293 Words
“Terima kasih atas sambutan Anda, Yang Mulia,” ucap Leo memberi hormat. “Ayo ikut aku menuju istana. Ada hal yang perlu kalian tahu,” kelimanya mengikuti sang raja berjalan, langkah kakinya tenang dan berwibawa. Dia adalah raja di kerajaan bangsa Pixie. Nama aslinya adalah Ivan Osborn. Kakak tertua dari Isadora, Valda, Karin dan Maribel. “Kau lihat! Raja bangsa Pixie yang menyambut kita langsung. Tidakah kau merasa bahwa kita adalah tamu istimewa?” kata Aaron sambil berbisik kepada Sean. “Benar,” jawab Sean dengan antusias. “Apakah artinya kita akan dikenalkan kepada para putri lalu menikahkan mereka dengan kita?” sambung Sean. Pikiran liar menghampiri keempatnya dengan bebas. “Aku ingin memilih putri yang berdada besar!” kata Alvin tanpa sadar. Marco segera menutup mulut Alvin yang sembarangan berbicara agar Ivan tidak mendengar ucapannya. “Kau sungguh gila! Hilangkan pikiran kotormu itu. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana membuat putri-putri yang terkenal akan kecantikannya itu jatuh hati kepada kita.” Marco melepaskan dekapan di mulut Alvin. Alvin hanya mampu tersenyum tanpa rasa bersalah. “Aku turut berduka mendengar kematian raja kalian. Dia raja yang berjuang untuk rakyatnya,” ucap Ivan di dalam perjalanannya menuju istana. “Terima kasih, Yang Mulia,” jawab Leo dengan hormat. Hanya dia yang sepenuhnya sadar keadaan mereka. “Kejahatan dan ketamakan semakin hari semakin kuat. Satu persatu kerajaan damai yang dulu berhasil membelot dari dunia kelam itu sekarang mulai kalah dan kekuasaannya diambil. Kerajaan-kerajaan itu bahkan tidak diketahui di mana keberadaannya. Bangsa manusia sedang dalam kondisi yang memprihatinkan.” Leo sadar apa yang disampaikan sang raja benar adanya. Mereka pun kekurangan sekutu untuk mulai berjuang. Mengandalkan mereka berlima terasa seperti harapan kosong. Sudah cukup lama mereka berkelana, tetapi belum menemukan sekutu yang dapat membantu. Bertemu bangsa peri Pixie seakan memberi mereka udara segar. “Kami hampir tidak pernah bertemu sekutu selama masa perjalanan kami,” kata Leo dengan suara serak khas yang ia miliki. “Seperti mencari jarum di tumpukan jerami,” sahutnya pada perkataan Leo. Sekarang mereka telah sampai di pintu istana. Pintu itu terbuat dari batu amber. Warna keemasannya sangat cantik dan mewah. Saat memasuki istana, terlihat kekaguman dari wajah kelimanya, tetapi lagi-lagi hanya empat dari kelimanya yang terlihat paling antusias bahkan lebih cocok untuk disebut memalukan. Mereka bertingkah konyol dan itu cukup membuat Leo terganggu. Seperti Alvin yang saat ini mengitari pandangan matanya untuk mencari di mana para putri bangsa Pixie berada. Aaron yang sibuk memperhatikan atap istana yang seolah tanpa ujung. Ada awan di sana beserta bulan, bintang, galaxy, matahari, meteor, komet, dan yang paling mengerikan lubang hitam pun ada di sana. Lilin-lilin kecil seolah melayang-layang sebagai lampu. Aurora berperan sebagai tirai besar semakin memperindah istana bangsa Pixie. Marco dan Sean juga melakukan hal yang sama. Mereka mengendus-enduskan hidung mereka ketika mencium aroma nikmat makanan. Mereka kelaparan, makan roti gandum kering yang hambar selama beberapa minggu terakhir membuat mereka haus akan makanan lezat. Ivan sekarang duduk di kursi rajanya. Para dayang serta prajurit yang berada di istana semua menghormatinya kemudian ia menyuruh salah seorang pengawal untuk memanggil adik-adiknya. Sean terlihat gugup karena sebentar lagi ia akan melihat dengan mata kepalanya sendiri putri bangsa peri yang terkenal akan kecantikannya. Alvin bahkan sudah memasang senyum terbaiknya. Aaron serta Marco tidak ingin ketinggalan untuk mengeluarkan semua pesona yang mereka miliki. Aaron menyisir rambutnya dengan sisir kayu yang selalu ia letakkan di saku celanannya, kemudian Marco meminjam sisir milik Aaron. Ketika semua putri bangsa Pixie keluar dan menemui raja mereka, keempatnya seperti menelan ludah mereka bulat-bulat. Betapa tidak, semua putri sangat cantik bahkan lebih dari yang mereka bayangkan. Perawakan mereka menyilaukan mata. Pesona mereka bak lubang hitam yang bisa menarik siapa saja untuk tunduk. Tatapan mata mereka lembut, tetapi mematikan dan bisa membius siapa pun yang menatap mereka. Hanya satu orang yang masih tidak peduli dengan itu semua karena ia lebih fokus melihat satu orang aneh. Dia bangsa manusia di antara bangsa peri. Dia tidak kalah cantiknya dari bangsa Pixie, bahkan dia mungkin berada di tingkatan yang sama dalam hal kecantikan. Pandangan mereka saling bertemu untuk pertama kalinya. Saling bertanya satu sama lain di dalam hati masing-masing, siapa dia? “Ini keempat adikku, Isadora Osborn, Valda Osborn, Karin Osborn, dan Maribel Osborn. Lalu satu orang lagi dia adalah bangsa manusia, dia adalah ratu di kerajaan Rhonda, Alana Alexandra Culver. Salah satu penguasa kerajaan manusia yang tersisa. Dan hanya satu-satunya ratu di kerajaan manusia,” semuanya menunduk memberi hormat kepada Alana termasuk Leo. “Aku akan mengatakan inti permasalahan mengapa aku mengundang kalian masuk ke dalam istanaku,” semua menyimak perkataan Ivan meskipun Aaron, Sean, Marco, dan Alvin selalu mencuri pandang mata mereka ke arah Isadora, Valda, Maribel, dan Karin. “Seperti yang telah diramalkan adikku, Karin. Akan ada lima petarung yang melewati hutan ini. Mereka adalah orang-orang terpilih yang akan membantu ratu di kerajaan Rhonda,” sambung Ivan. “Maaf, Yang Mulia, mengapa kami harus membantunya?” tanya Leo tanpa basa-basi. “Benar, kenapa mereka harus membantu kerajaanku? Aku punya banyak prajurit hebat,” ucap Alana sekenanya. Mata Leo menatap tajam Alana yang juga sedang menatapnya. Alana adalah salah satu manusia yang tidak menghormati Ivan. Ia berpikir untuk apa ia menghormatinya karena Alana menganggapnya teman bukan raja. “Karena hanya merekalah yang akan menemanimu menghadapi perang besar nanti. Rhonda adalah salah satu kerajaan yang tersisa dari segelintir kerajaan. Kerajaanmu adalah yang terkuat di antaranya. Sangat baik jika menambah kekuatan. Jangan meremehkan kekuatan lima orang petarung ini. Satu dari mereka adalah yang terkuat dan calon penguasa kerajaan manusia,” ucapan Ivan membuat kelimanya bingung termasuk Alana. “Calon penguasa kerajaan manusia? Maksudnya salah satu dari mereka akan merebut takhta kerajaanku? Atau salah satu dari mereka akan menikah denganku?” tanya Alana langsung tepat sasaran. Semua yang mendengar terkejut dengan ucapan Alana. Isadora, Maribel, Karin, dan Valda bahkan tertawa tertahan mendengar ucapan Alana yang bernada cemas. “Itu akan menjadi rahasia. Kau akan tahu semua pada akhirnya nanti,” jawab Ivan sambil tersenyum. Alana menjadi semakin penasaran. Ia lalu menatap satu persatu dari kelima prajurit di depannya. Untuk keempatnya, mereka membalas tatapan Alana dengan senyum ramah meskipun lebih menjurus ke tebar pesona. Sedangkan Leo hanya melengos tidak suka. Alana memelotot kaget melihat reaksi Leo yang tidak suka padanya. Tidak pernah ada orang yang berprilaku seperti itu kepadanya karena selama ini ia selalu dihormati. “Baik Yang Mulia, jika itu bisa membuat kedamaian dan mengembalikan potongan-potongan dunia yang hilang ini. Kami akan mengabdi kepadanya.” Leo memutuskan menerimanya. Apa pun yang terbaik untuk umat manusia, Leo akan melakukannya. Karena memang tujuan mereka adalah mencari sekutu. “Leo membuat keputusan yang tepat. Ini artinya kita akan kembali tinggal di istana, bisa tidur nyenyak dan makan enak,” bisik Sean kepada Marco. “Kau benar, dan yang paling penting kita bisa dekat dengan ratu itu. Mungkin saja akulah yang akan menikah dengannya nanti dan menjadi rajanya.” Marco membalas bisikan Sean lalu keduanya tertawa pelan. Ivan hanya tersenyum kecil melihat Sean dan Marco yang berbisik. Ia bisa mendengar obrolan mereka. Orang-orang yang lucu pikir Ivan. “Bagus jika kau menyetujuinya. Aku hanya sebagai orang yang menyampaikan apa yang aku tahu. Bangsa kami berbeda dengan bangsa manusia. Kami tidak bisa serta-merta membantu perang besar yang mungkin saja akan segera terjadi. Kami memiliki aturan tersendiri. Melanggar akan memiliki konsekuensi yang tidak ringan. Tapi kami akan berusaha melindungi para manusia dan memperoleh dunia mereka kembali,” ucap Ivan. Raut wajahnya yang tegas dan berwibawa memang pantas membuatnya menjadi raja di kerajaan peri. Leo mengarahkan pandangan matanya ke arah Alana kembali. Pandangan mereka bertemu untuk yang ketiga kalinya. Jika Alana yang melihat pandangan mata Leo merasa kesal dan tatapannya itu berapi-api seolah mengatakan kau harus tunduk kepadaku. Namun, tidak dengan Leo, ia sedang meneliti ratunya. Meneliti apa yang bisa dilakukan Alana sebagai ratu. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD