“Kalian bisa makan sepuasnya di istanaku dan juga tidur sepuasnya, asalkan kalian tidak mengatur hidupku seperti penasihat kerajaan,” titah Alana kepada kelimanya ketika mereka berjalan melewati hutan untuk kembali ke istana Alana. “Yang paling penting jangan memanggilku dengan sebutan ratu atau julukanku. Aku tidak suka, cukup panggil namaku. Alana, itu namaku,” sambung Alana sambil berjalan di depan. Ia menunggang kuda putih kepunyaannya yang ia panggil untuk menjemputnya. Mereka melewati hutan-hutan oak dan juga hutan-hutan sequoia berpohon raksasa.
“Kau ratu yang hebat. Kau keren!” puji Sean terkagum-kagum.
“Tentu saja, karena aku tidak suka hal-hal yang kaku. Itu membosankan. Aku bosan mendengar orang-orang memanggilku Malkia, Ratu, Yang Mulia. Itu terdengar sangat tidak bersahabat.” Ia memelankan langkah kudanya dan sekarang memilih berjalan di tengah.
“Hei, kau bisa mengenalkan kami kepada para putri Pixie? Aku tertarik kepada mereka semua.” Alvin langsung berbicara tanpa basa basi. Ini kesempatan yang baik untuk memulai obrolan yang sudah ia pikirkan sedari tadi. Bagaimanapun, hanya pria yang tidak waras bila tidak terpikat dengan kecantikan bangsa peri Pixie.
“Kau tertarik? Tetapi sayang sekali. Mereka itu bangsa peri dan kau tidak akan bisa memiliki mereka. Terima saja kenyataan menyakitkan itu.”
“Hanya mengenalkan saja, hanya mengenal. Teori dari mana kau mengatakan bangsa manusia tidak bisa bersama bangsa para Pixie?” tanya Marco kali ini.
Gemeresik suara daun dari pepohonan seolah menjadi lagu di tengah hutan tersebut. Memenangkan setiap langkah kaki mereka.
“Pokoknya tidak bisa, kau jangan memaksa. Jangan mencoba menggoda teman-temanku. Jika kau menggoda mereka atau mencoba berkenalan dengan mereka maka aku tidak akan memberikan makan sepuasnya lalu tidur sepuasnya untukmu! Jika aku tahu kau melakukannya aku akan membuatmu tidur bersama Cerberus!”
“Hanya dia yang tidak boleh melakukannya, berarti kami berempat masih boleh menggoda teman-temanmu itu!” Sean tertawa dengan puas. Ia lalu mengedipkan sebelah matanya kepada Alana. Mereka tenggah menunggangi kuda sambil masih bisa bercanda.
“Tidak! Kau, kau, kau, dan kau tidak boleh melakukan hal itu semua!” Alana menunjuk Sean, Aaron, Alvin serta Leo bergantian. “Jangan coba-coba. Mereka mempunyai kriteria yang tinggi. Para putri selalu mempunyai kriteria seperti tampan, memesona, memikat, mempunyai senyum malaikat, pangeran. Oh Tuhan! Aku juga ingin yang seperti itu,” kata Alana sambil tersipu malu. Wajahnya merona.
“Apakah aku masuk dalam kriteriamu?” tanya Alvin dengan wajah berbinar. Ia memasang senyum terbaiknya.
“Tidak ada satu di antara kalian pun yang masuk ke dalam kriteriaku. Jadi jangan berharap banyak,” jawab Alana sambil tersenyum manis dan detik berikutnya ia mencibir Alvin.
Selama di perjalanan mereka terus bercanda. Mereka cepat sekali bisa akrab. Mereka juga cukup tidak menyangka bahwa Alana adalah orang yang sangat menyenangkan. Tidak terlihat perawakan bahwa ia adalah seorang ratu. Penampilannya sangat sederhana dan pembawaannya juga tidak kaku seperti pemimpin lain. Tidak ada sopan santun yang harus diterapkan di dekatnya dan ia juga sangat sederhana. Mereka kembali bergurau sambil melanjutkan perjalanan dan hanya Leo yang berjalan lurus tanpa peduli dengan teman-temannya. Dia juga tidak terlalu menanggapi obrolan kelima orang di belakangnya.
Ketika mereka tengah bercanda tiba-tiba saja Leo menyuruh mereka untuk berhenti berjalan lalu diam. Semuanya langsung waspada. Rerumputan di sekitar bergoyang-goyang dengan keras kemudian tidak lama dari itu keluarlah sembilan ekor Sabertooth dengan ukuran besar. Mata mereka berwarna kemerahan, tubuh mereka seperti macan, taring mereka sangat panjang. Cakar mereka mengerikan serta kuat dan mereka memperlihatkannya agar timbul rasa takut bahwa mereka mampu mencabik-cabik daging manusia dengan mudahnya. Tubuh mereka berwarna kecoklatan dengan loreng-loreng khas. Mereka mengepung keenamnya. Mereka sangat lapar dan enam manusia itu adalah santapan untuk perut mereka yang kosong. Raungan khas kucing besar tersebut bisa membuat gentar siapa saja, tetapi tidak bagi para petarung. Kecuali Alana yang tampak panik. Segerombolan Sabertooth itu bukan teman-temannya. Mereka adalah musuh yang mengerikan.
“Hati-hati, mereka sangat buas!” ucap Leo waspada. Ia mengeluarkan pedangnya. Kuda mereka tampak ketakutan dan gelisah. Alana panik. Ia tidak membawa pedangnya.
“Bagaimana ini! Sialan! Aku tidak ingin mati di hutan! Rakyatku maafkan aku! Aku akan mati karena Sabertooth!” teriak Alana dengan penuh ketakutan. Ia sangat takut sampai-sampai ia tidak tahu harus melakukan apa.
“Kami akan melindungimu. Jangan jauh-jauh dari jangkauan kami, Alana!” teriak Sean. Alana mengarahkan kudanya mendekat dan ia memilih untuk berada di tengah. Sekarang hewan-hewan buas tersebut mengelilingi mereka. Membentuk lingkaran yang siap menerkam siapa saja yang lengah. Semuanya awas menjaga tengkuk belakang mereka karena kucing besar biasanya mengincar titik buta manusia.
“Jangan menyerang! Tetaplah waspada!” Leo menghunuskan pedangnya ke arah Sabertooth yang siap menyerangnya.
Tidak perlu menunggu lama karena perut hewan-hewan buas itu sudah lapar. Mereka langsung menyerang dengan beringas. Sekarang Alana tahu mengapa mereka disebut sebagai petarung. Mereka sangat lincah menghadapi hewan buas meskipun sedang terkepung dan di hutan yang merupakan wilayah mereka. Alana tidak ingin tinggal diam, ia juga bisa bertarung, tetapi sayangnya ia tidak mempunyai senjata. Dia sudah diajarkan bagaimana menggunakan senjata semenjak kecil.
“Aku pinjam senjatamu!” Alana langsung mengambil pedang Aaron yang berada di punggungnya. Aaron menggunakan tombak untuk menyerang Sabertooth yang saat ini tengah mengincar kakinya.
“Alana, hati-hati! Dia bukan hewan buas biasa. Mereka adalah predator yang sangat ganas!” teriak Aaron sambil terus menyerang Sabertooth yang saat ini sedang berusaha melumpuhkan kuda Aaron agar Aaron terjatuh.
“Aku tahu!” Alana langsung mendekat ke arah Leo.
Karena melihat Leo yang sedikit kesulitan. Ia dikepung oleh tiga ekor Sabertooth sekaligus. Alana mengarahkan pedangnya dan ia langsung melukai tubuh hewan buas yang tadi mengepung Leo. Tubuh hewan itu memang terluka, tetapi tidak membuatnya lemah. Sekarang ia beralih menyerang Alana. Leo melihatnya sekilas dan ia kembali fokus menghadapi lawannya. Alvin berhasil melumpuhkan satu Sabertooth setelah ia memanah matanya lalu menusuk Sabertooth tersebut secara bertubi-tubi hingga mati. Aaron juga berhasil setelah ia menusukkan tombaknya tepat di leher Sabertooth sambai menembus tengkuknya. Tidak jauh dari sana mereka melihat Marco yang baru saja berhasil menebas leher Sabertooth dengan pedangnya. Sean masih bertarung. Ia sedikit mengalami kesulitan karena lawannya kali ini sangat lincah. Dua Sabertooth menyerangnya secara bersamaan. Sepertinya salah satu yang menyerang Sean adalah pemimpinnya.
Alvin menembakkan anak panah beberapa kali ke arah Sabertooth pemimpin itu, tetapi tidak mengenai sasaran yang tepat karena ia sangat lincah. Aaron saat ini tengah menghadapi satu lagi Sabertooth yang tadi juga menyerangnya. Alana mengalami kesulitan melawan Sabertooth yang dihadapinya karena ia tidak leluasa dengan pakaiannya. Alana hampir beberapa kali terjatuh dari kudanya karena hewan buas itu juga menyerang kudanya. Leo melihat dari sudut matanya dan ia tahu bahwa harus membantu.
“Marco. Ambil alih dia!” Marco dengan sigap langsung mengarahkan kudanya untuk membantu Alana.
Saat ini Marco yang bertarung dengan Sabertooth tersebut. Alana membantunya, tetapi tidak banyak. Tangannya sempat terluka karena cakaran. Ia lengah beberapa saat ketika melindungi kudanya. Luka cakaran di lengan tangannya tidak terlalu besar dan dalam karena Alana langsung menghindar dengan cepat. Alana melihat lagi Leo yang sedang bertarung dan ia sudah mulai melumpuhkan salah satunya.
“Jangan menyerang pengawalku seenaknya!” teriak Alana sambil mengayunkan pedangnya lalu menebas leher Sabertooth yang tadi menyerang Leo. Darah segar langsung mengotori gaun milik Alana. Satu lagi hewan buas sudah berhasil ia lumpuhkan dengan tusukan bertubi-tubi. Sekarang hanya tinggal tiga Sabertooth. Aaron, Alvin, Marco, dan Sean menghadapi dua Sabertooth sedangkan Alana bersama Leo menghadapi satu hewan buas yang sangat lincah.
“Jangan membantuku! Aku bisa menghadapinya sendiri, sialan!” ucap Leo kepada Alana karena Alana berusaha membantunya.
“Aku juga bisa bertarung! Kau jangan meremehkanku!” teriak Alana tidak terima.
Leo tidak menanggapinya. Ketika bertarung pedang Alana terjatuh. Alana tiba-tiba menjadi panik. Apalagi saat ini posisi hewan buas tersebut sedang mengarah ke arahnya. Leo dengan cepat menyerangnya lagi. Ia melindungi Alana. Bagaimanapun ia harus melindungi wanita terlebih dia adalah seorang ratu di kerajaan.
“Sudah kukatakan. Kau keras kepala, k*****t!” teriak Leo sambil terus menghadapi Sabertooth. Saat ini Sabertooth itu sudah mulai melemah. Luka di tubuhnya sudah cukup banyak. Namun, erangannya menandakan ia belum ingin kalah. Sean dan Aaron berhasil menumbangkan satu lagi Sabertooth. Tinggal dua yang tersisa.
“Mundurlah ke belakang. Aku akan menghadapinya sendirian. Aku ini petarung jadi aku tidak perlu dibantu. Jika aku mati dalam pertarungan itu adalah kehormatan.” Alana mundur ke belakang sesuai perintah Leo. Saat ini Alana melihat Leo yang sudah banyak terluka karena cakaran dari hewan buas tersebut mengenainya. Namun, ia tetaplah seorang petarung yang tangguh.
“Alana mundurlah, kau tidak perlu membantunya. Dia bisa menghadapinya. Leo tidak suka apabila mangsanya diganggu oleh orang lain. Miliknya tetap akan menjadi miliknya.” Alvin berkata. Hewan buas itu hanya tinggal satu. Marco dan Alvin baru saja selesai menumbangkan pemimpinnya. Saat ini mereka tengah melihat Leo yang sedang bertarung satu lawan satu dengan hewan buas itu.
“Tapi bagaimana jika ia terluka?” tanya Alana dengan wajah cemas.
“Luka bagi kami adalah hal biasa. Jangan membantunya lagi. Kau lihat, kami pun hanya menonton karena kami tahu jika membantunya maka sama saja kami akan menjadi seperti hewan itu. Kami harus menghadapinya,” jawab Sean. Ketakutan terlihat di raut wajahnya.
“Kau jangan khawatir. Dia petarung yang hebat.” Alana menatap Aaron yang mengucapkan kata-kata itu. Memang jika dilihat lagi dan diperhatikan, Leo seperti mesin pembunuh. Tubuhnya sudah luka, tetapi ia terus maju.
Alana menatap sekelilingnya. Sabertooth itu sudah mati dan tergeletak. Darah-darah mereka membanjiri tanah. Baju Alana pun tidak luput dari darah. Kuda putihnya juga sudah terluka dan berdarah. Alana memutuskan untuk memanggil teman-temannya dari bangsa lain. Bunyi gemuruh tanah tiba-tiba terdengar. Lolongan yang menakutkan memenuhi hutan oak tersebut.
“Jangan takut. Itu adalah teman-temanku,” kata Alana menenangkan. Sean, Marco, Alvin, dan Aaron saling pandang heran.
“Apa maksudmu?” tanya Sean.
“Mereka bangsa Wulf (serigala dari bahasa Anglo-Saxon). Aku menyuruh mereka berpesta.”
“Berpesta? Maksudmu memakan semua daging-daging hewan buas ini?” tanya Marco sambil menunjuk-nunjuk bangkai binatang yang baru saja mereka lumpuhkan.
“Benar, daripada daging-daging ini mubazir lebih baik kuberikan kepada teman-temanku,” jawab Alana tanpa beban.
Keempatnya menghela napas pelan. Tidak habis pikir dengan ucapan Alana.
Beberapa detik setelahnya mereka mendengar suara erangan pelan. Semua langsung menoleh dan melihat Leo yang meringis. Ia baru saja terkena cakaran dan gigitan taring Sabertooth yang cukup dalam pada punggungnya. Namanya adalah Sabertooth yang berarti gigi parang, jadi taringnya bisa sangat berbahaya jika sudah melukai. Darah segar langsung mengalir. Alana cemas melihatnya. Leo yang tidak terima dengan hal itu langsung menyerang Sabertooth tersebut dengan membabi buta sampai akhirnya hewan buas itu kalah. Leo kesakitan, tetapi ia menahannya. Alana segera menghampirinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Alana dengan cemas. Ia mencoba menutupi luka di bahu Leo dengan tangannya agar darah Leo tidak keluar.
“Ini hanya luka kecil.” Leo menepis tangan Alana. Ia menahan sakitnya sekuat tenaga. Ia tidak ingin terlihat lemah. Saat itu juga bangsa Wulf datang. Mereka banyak sekali sampai-sampai membuat Sean, Aaron, Marco, dan Alvin merinding.
“Makanlah semua ini dan jangan ganggu mereka. Mereka adalah temanku,” kata Alana berbicara kepada serigala-serigala itu. “Ayo kita segera bergegas ke istana. Lukanya harus segera diobati. Kita harus cepat. Dia bisa kehabisan darah.” Alana menjalankan kudanya. Keempatnya mulai mengikuti langkah kaki kuda Alana yang cepat. Hanya Leo yang masih diam tidak peduli. Alana yang melihatnya pun marah.
“Kau sebut dirimu sebagai petarung, tetapi kau menahan sakit lukamu! Kau itu bodoh! Kau belum pantas disebut petarung. Kenapa kau tidak peduli dengan nyawamu sendiri. Cepatlah bergegas kita pergi. Aku akan mengobati lukamu!” marah Alana. Leo hanya menatapnya tajam.
“Minggirlah sialan, aku akan berjalan sendiri.” Leo menjalankan kudanya dengan pelan. Tidak menuruti perkataan Alana. Alana yang kesal akhirnya memilih turun dari kudanya dan berusaha menaiki kuda Leo.
“Apa yang kaulakukan!” marah Leo karena ulah Alana.
“Kau tidak ingin menuruti perkataan ratumu maka dengan terpaksa aku melakukannya. Kau sekarang adalah prajurit untuk kerajaanku jadi turuti perintahku!” Alana berhasil menaki kuda Leo dan sekarang ia duduk di belakang Leo. Ia langsung mengambil alih kuda Leo dan menjalankannya dengan cepat. Keempat teman Leo hanya mampu melihat hal itu. Tidak menyangka Leo bisa dikuasai oleh Alana. Mereka akhirnya memutuskan mengikuti lari kuda Alana. Kuda Alana juga berlari meskipun tidak ada penunggangnya. Mereka meninggalkan hutan tersebut dan bangkai hewan buas yang sedang dimakan oleh serigala.
TBC...