“Leo hati-hati. Ekornya selalu mengarah kepada kita!” ucap Alana panik. Dari tadi ia mewaspadai ekor kalajengking makhluk itu. Seperti yang Leo katakan untuk selalu berwaspada.
“Cepatlah selesaikan mengurus kakinya. Setelahnya kita akan mengurus ekornya. Itu salah satu senjatanya yang berbahaya!” Leo terus menebas kaki makhluk itu dengan pedangnya. Satu tangannya yang terluka ia gunakan untuk menunggangi kuda. Makhluk itu terus mengamuk. Kakinya terus berusaha mencengkram mereka, tetapi selalu gagal.
Setelah cukup lama bermain dengan kaki makhluk itu, Leo dan Alana yang berdua memang lebih unggul bisa menyelesaikannya lebih dulu. Aaron, Sean, dan Marco masih berusaha membuat ketiga kaki hewan itu lumpuh. Alana dan Leo sekarang menuju ekor hewan tersebut. Leo sangat berhati-hati dan ia mengandalkan kehebatan kudanya yang gesit dalam menghindari ekor sang makhluk sombong. Kudanya bernama Bluno, kuda jenis Akhal-Teke yang merupakan kuda warisan dari sang raja. Kuda berwarna emas dengan rambut ekor yang juga berwarna emas.
“Alana, lakukan!” perintah Leo. Alana dengan cepat mengarahkan pedangnya dan menebas ekor kalajengking itu. Suara nyaring lagi-lagi terdengar ketika Alana menebas ekor kalajengking itu. Luka besar ia dapatkan, tetapi belum sepenuhnya ekor itu putus. Makhluk itu kini mulai terbang kembali, tetapi Alvin tidak tinggal diam. Ia menembaki satu lagi mata makhluk itu agar ia tidak bisa bebas terbang.
“Dengan membunuhmu maka akan menjadi tiga rekor yang akan kami dapatkan,” gumam Alvin sambil terus mengarahkan anak panahnya.
Hiruk pikuk suara pedang terdengar. Suara jeritan, suara kepakan sayap, suara lengkingan, suara kuda, suara semburan api, suara derap langkah, suara anak panah yang ditembakan, suara beberapa meriam terdengar di halaman depan istana. Ini hanyalah perang kecil yang terjadi. Entah bagaimana perang besar nanti akan terjadi di Mašte. Tidak ada manusia yang bisa membayangkannya.
Makhluk itu mulai lemah karena bertubi-tubinya serangan yang ia terima. Keempat kakinya mulai lumpuh. Ia tidak bisa berdiri dengan nomal lagi. Kakinya sudah terluka parah akibat serangan. Alana dan Leo memanfaatkan kesempatan itu untuk mengakhiri ekor kalajengking tersebut. Leo berhasil menorehkan luka lagi di ekor kalajengking itu dengan tangan kirinya. Lalu ia mengarahkan kudanya lagi dan kali ini Alana yang melukainya. Belum cukup berhasil untuk benar-benar memotongnya. Kulit kalajengking cukup keras dan sayangnya pedang mereka belum cukup bagus untuk sekadar memotong dagingnya.
“Sekali lagi, kita akan memotongnya!” ucap Leo mengarahkan kudanya mendekati ekor kalajengking itu. Alana kembali mengarahkan pedangnya dan siap mengayunkannya. Namun, yang terjadi di luar perkiraan. Makhluk itu mengamuk sejadi-jadinya dengan sisa kekuatannya. Ia mengibas-ngibaskan ekornya dengan kuat dan sembarangan. Leo sulit memprediksi pergerakannya. Kudanya terus menghindari dan ekor makhluk itu semakin jadi mengincar Alana serta Leo.
“Leo hati-hati. Dia sangat cepat!” ucap Alana dengan takut. Alana mengarahkan pedangnya untuk menjangkau ekor kalajengking yang sedang mengamuk itu. Ia mencoba peruntungannya. Beberapa kali mereka berhasil menghindar, tetapi makhluk yang mengamuk itu lebih unggul karena badan besarnya.
Kejadian itu begitu cepat sampai Leo sendiri tidak menyadarinya. Ia baru menyadari ketika tubuh Alana tiba-tiba terkulai lemas dan pedangnya terjatuh. Sengatan kalajengking itu berhasil mengenai d**a kanan Alana. Ada beberapa celah di baju besi itu untuk membuat lubang udara agar yang memakai tidak terlalu merasa gerah dan di sanalah sekarang tertancap racun dari kalajengking tersebut. Racun dari makhluk itu sangat berbahaya. Dapat menyebabkan kematian.
“Alana!” seakan suara di sekitar mereka mendadak hilang. Leo menatap tidak percaya tubuh Alana yang terkulai lemas menyandar di dadanya. Tangannya menahan tubuh Alana agar tidak jatuh. Wajah Alana langsung berubah pucat. Kemarahan Leo benar-benar bangkit. Ia tidak peduli dengan lukanya sendiri dan dengan kemarahannya ia mengamuk. Alana masih di dalam pelukannya ketika Leo menghabisi makhluk itu sendirian. Ia mengeluarkan semua sisa-sisa tenaganya sampai akhirnya makhluk itu tumbang. Leo berhasil memotong ekornya dan tidak ketinggalan Leo menebas lehernya dengan membabi buta.
Kemenangan akhirnya menjadi milik mereka, tetapi tidak bagi Leo. Ia gagal melindungi Alana. Semua orang yang bersorak atas kemenangan itu tiba-tiba berhenti karena melihat Leo yang sekarang menurunkan Alana dan membaringkannya di tanah. Wajahnya benar-benar cemas. Seperti tidak ada aliran darah yang berani main ke daerah wajahnya. Pucat, itulah kondisi yang tengah terjadi pada Leo saat ini.
“Apa yang terjadi?” tanya penasihat Alana mendekat. Raut kekhawatiran memenuhi wajahnya. “Malkia, ada apa dengannya?” tanya penasihatnya cemas. Ia mempunyai firasat bahwa sesuatu yang tidak baik akan terjadi.
“Dia terkena sengatan racun makhluk sialan itu!” teriak Leo dengan rasa bersalah dan cemas. Ia cepat-cepat membuka baju besi Alana dan kini Leo dapat melihat luka itu telah membuat d**a Alana membengkak. Warna hijau kebiruan akibat racun itu mulai menyebar. Wajah Alana sangat pucat.
Penasihat Alana sama seperti Leo. Ia cemas. Beberapa tabib langsung mendekat dan memberikan pertolongan pertama untuk Alana. Leo merasa sangat bersalah tidak bisa melindungi Alana seperti janjinya. Ia bahkan ingin menangis karena kesal merasa gagal melindungi ratunya. Dia teringat ketika kehilangan rajanya. Rajanya juga mati karena sengatan makhluk itu dan ia tidak ingin hal itu terulang lagi kepada siapa pun yang ia kenal.
“Racun itu hanya bisa disembuhkan oleh madu bunga semanggi berdaun empat!” Sean yang baru datang langsung memberitahu Leo. Ia sama cemasnya seperti Leo. Aaron, Marco, Sean, dan Alvin bisa melihat kekhawatiran yang begitu jelas di wajah Leo. Ini sudah kedua kalinya mereka melihat Leo cemas seperti itu. Yang pertama adalah ketika raja mereka meregang nyawa dan akhirnya harus pergi. Dan kedua, melihat Alana yang terluka.
“Di mana aku bisa mendapatkannya! Itu jenis bunga yang langka, sialan!” teriak Leo frustrasi sambil terus berusaha membuat Alana sadar. “Kumohon Alana sadarlah!” Leo menepuk-nepuk wajah Alana yang tanpa ekspresi. Bibir indahnya mulai kehilangan warna alaminya.
“Istana Breen, istana bangsa para Pixie!” Marco yang ingat tentang bunga semanggi sewaktu pertama kali mereka memasuki istana bangsa para Pixie.
Seolah mendapat pencerahan, Leo dengan cepat mengangkat tubuh Alana. Ia tidak peduli orang memandangnya seperti apa. Yang ia inginkan adalah menyelamatkan Alana. Ia tidak ingin gagal dua kali dalam menjalankan tugasnya. Leo bahkan mengabaikan luka yang ia miliki. Ia tidak ingin kerajaan Alana sama seperti kerajaannya yang kehilangan pemimpin. Baginya sekali tugas, tetaplah tugas yang akan ia emban sampai titik darah penghabisan nyawanya. Itulah yang dinamakan petarung dan pelindung sejati kerajaan.
“Aku akan membawanya ke istana bangsa Pixie. Aku harus cepat. Tidak ada waktu yang tersisa atau Alana tidak bisa selamat. Sean, Aaron, Marco, Alvin kalian tetaplah di sini, lindungi kerajaan Rhonda. Aku akan kembali secepatnya,” setelah mengucapkan itu Leo langsung melesat pergi dengan kudanya. Semua yang ada di sana cemas, tetapi merasa terharu ada seorang yang sangat tulus melindungi ratu mereka.
Penasihat kerajaan Alana menangis melihat ratu yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri itu harus merasakan sakit demi melindungi rakyatnya. Namun, di satu sisi ia bersyukur ada kelima petarung hebat yang membantu mereka. Terutama Leo yang sudah berusaha segenap jiwa raganya menjaga Alana dan melindungi kerajaan mereka. Ia tidak bisa melakukan apa pun kecuali berharap kepada Leo dan bangsa para Pixie untuk nyawa Alana.
“Dia seperti Anda Yang Mulia, dia sangat bertanggung jawab dan berani. Dia melindungi anak Anda dengan seluruh kekuatannya. Saya seperti menemukan diri Anda di dalam dirinya. Seorang pemimpin yang hebat,” gumam sang penasihat Alana sambil menatap kuda Leo yang menjauh dari pandangannya.
TBC...