Leo tidak peduli dengan lukanya yang terbuka lagi. Ia tidak peduli dengan darahnya yang mungkin saja habis. Yang ia pedulikan saat ini adalah nyawa wanita yang ada di dalam pelukannya. Ia teringat bagaimana bersikerasnya Alana ingin mengobati lukanya waktu itu dan sekarang Leo ingin membalasnya.
“Kumohon bertahanlah Alana,” ucap Leo di antara kecemasannya. Perjalanan memasuki hutan oak itu tidaklah berjalan mulus. Leo tahu ada beberapa makhluk buas yang berusaha mengikutinya di antara rimbunnya hutan. Darah dari luka Leo yang membuat mereka seolah terpanggil. Leo semakin mempercepat langkah kudanya. Ia tidak ada waktu dan tidak ada sisa tenaga untuk menghadapi makhluk-makhluk tersebut.
Liger dan Tigon adalah dua makhluk yang mengejar Leo. Liger adalah makhluk buas yang ukurannya sangat besar. Ia adalah keturunan campuran dari singa jantan dan harimau betina. Ukuran tubuhnya bahkan lebih besar dari singa maupun harimau itu sendiri. Wajahnya perpaduan antara singa dan harimau. Tubuhnya berwarna coklat muda dengan loreng harimau yang tidak terlalu tampak. Rambut di tengkuknya menandakan mereka adalah Liger jantan. Tigon merupakan keturunan campuran dari harimau jantan dan singa betina. Tubuhnya tidak sebesar Liger, tetapi ciri fisiknya hampir sama persis. Yang membedakan mereka adalah ukuran tubuhnya.
Saling kejar terus terjadi. Mereka bertambah banyak dan Leo semakin lelah karena lukanya yang terbuka semakin lebar ditambah tamparan dari angin dan juga ranting-ranting pohon tajam yang membuat lukanya semakin perih. Ia terus memeluk Alana meskipun tangannya sangat sakit. Leo hampir kehabisan harapan. Ia rela seandainya meninggalkan Alana bersama kudanya dan meneruskan perjalanannya ke Breen sedangkan dirinya menjadi mangsa makhluk-makhluk buas yang kelaparan. Namun, ketika Leo hampir kehabisan harapan keajaiban itu terjadi. Pohon-pohon seolah saling sahut-sahutan dalam bahasa mereka yang tidak Leo mengerti. Ranting-ranting dan dahan-dahannya seolah bergerak untuk menghalau apa pun yang terjadi di depannya. Leo semakin cemas dengan keadaan yang terjadi. Semakin banyak rintangan yang ia hadapi. Pohon-pohon yang bergerak-gerak langsung mengeluarkan akar-akar panjangnya dari tanah. Dahan-dahannya seolah mengibas-ibas seperti tangan raksasa. Satu persatu makhluk itu terpental jauh entah ke mana. Leo menolehkan kepalanya ke belakang. Ia melihat akar-akar dan ranting-ranting pohon seolah menutupi jalan untuk makhluk buas itu lewat. Leo tidak bisa mencerna apa yang terjadi, tetapi ia merasakan keuntungan. Ia meneruskan langkah kudanya semakin cepat. Waktunya tidak banyak atau nyawa Alana taruhannya.
“Alana, bertahanlah kumohon. Kumohon bertahanlah,” ucapan Leo itu terus keluar dari mulutnya. Setelah beberapa saat perjalanan dari kejauhan Leo melihat kilauan keemasan. Leo tahu istana para bangsa Pixie itu sudah dekat dan ia bisa sedikit bernapas lega. Hamparan bunga semanggi segera menyambutnya ketika sudah mendekati pintu gerbang. Pintu gerbang yang terbuat dari kristal itu pun terbuka lebar. Leo langsung melesat masuk dan menuju istana. Merak, rusa, kuda, dan bangsa para Pixie memperhatikan kejadian tersebut. Tiba di depan gerbang istana Leo langsung menghentikan kudanya dan ia mengendong tubuh Alana yang masih tidak sadarkan diri. Wajahnya semakin pucat. Warna hijau kebiruan dari racun itu mulai menyebar luas.
“Cepat bawa Alana masuk!” suara Isadora langsung menyambut Leo di pintu gerbangnya. Leo membawanya dan tidak peduli dengan lukanya sendiri. Tiba di kamar Leo langsung membaringkan Alana. Ia memburu napasnya yang seakan sulit untuk ia tangkap.
“Kumohon selamatkan dia,” ucap Leo dengan lemah. Lalu setelahnya ia terduduk lemas. Lukanya semakin banyak mengeluarkan darah.
“Kau juga harus dirawat. Tenang saja, kami akan menyelamatkan Alana,” jawab Maribel. Setelah itu Leo juga tidak sadarkan diri karena kelelahan. Namun, satu yang ia senang sebelum ia tidak sadarkan diri. Alana masih bisa tertolong.
♜♜♜
“Bagaimana keadaan Alana dan Leo?” tanya Sean kepada Marco. Marco menggeleng tanda ia tidak tahu. Belum ada kabar dan ini sudah pagi. Rencananya mereka akan menyusul pagi ini ke istana bangsa para Pixie jika masih belum ada kabar.
“Anda tidak perlu cemas, mereka akan baik-baik saja.” Aaron menepuk-nepuk pelan punggung penasihat Alana yang wajahnya tampak muram serta lelah. Ia begitu khawatir dengan keadaan ratunya.
“Jika saja aku tahu di mana istana bangsa Pixie, aku akan langsung menyusul ke sana,” gumam sang penasihat. Alvin mengernyitkan dahinya mendengar perkataan penasihat Alana, mereka memang tidak banyak tahu mengenai sejarah bangsa para Pixie. Bahkan hampir semua manusia tidak tahu mengenai sejarah semenjak kapan dan bagaimana sebenarnya bangsa peri Pixie tersebut. Hanya orang-orang terpilih yang boleh mengetahui sejarah kehidupan mereka.
“Anda tidak tahu? Benarkah?” tanya Alvin heran. Ia mengangguk.
“Mereka memilih orang yang pantas untuk bisa melihat mereka dan mengetahui di mana istana mereka. Mereka bukanlah bangsa manusia seperti kita. Mereka memiliki aturan tersendiri. Mereka tidak ingin melibatkan diri mereka dengan urusan manusia terlalu jauh. Itu hukum alam mereka. Saya sangat terkejut ketika mengetahui Malkia mengenal mereka dan bahkan sering bermain bersama bangsa mereka di hutan. Saya juga sangat terkejut mengetahui bahwa Malkia berteman dengan banyak bangsa selain bangsa Pixie. Beliau sering menceritakannya kepada saya, tetapi saya selalu menyuruhnya untuk tidak terlalu sering bermain di hutan karena saya sangat menghawatirkannya. Hanya dia yang saya tahu bangsa manusia berteman dengan bangsa para Pixie dan sekarang saya juga baru mengetahui bahwa kalian juga mengenal dan terpilih oleh bangsa para Pixie,” cerita penasihatnya panjang lebar.
“Kau dengar! Tidakkah itu keren! Tidakkah kau merasa kita ini hebat!” Sean berucap dengan mata yang berbinar-binar.
“Kita memang hebat. Tepatnya aku lebih hebat darimu,” jawab Aaron sekenanya.
“Hei aku juga hebat. Kau ingat kejadian kemarin. Siapa yang membuat makhluk itu turun dari terbangnya? Itu aku! Aku yang memanah matanya. Jadi akulah yang terhebat karena pertama kali menaklukanya!” Alvin tidak ingin kalah. Mereka mulai berdebat hal yang tidak penting. Penasihat kerajaan Alana mau tidak mau menyunggingkan sedikit senyumnya melihat cara mereka menghibur diri.
“Kau jangan melupakan apa porsiku. Aku yang menusuk lehernya dengan tombakku!” Aaron tidak ingin kalah begitu saja.
“Apa yang kalian ributkan? Pada kenyataannya kita tidak lebih hebat dari Leo. Dia berkuda berdua bersama Alana, lalu dia yang berusaha menyelamatkan Alana dan dia memeluk Alana!” Marco tidak rela mengucapkan semua keberuntungan yang Leo peroleh. Seketika mereka serempak membuang napas.
“Kau benar, Leo lebih hebat daripada kita,” ujar Alvin lesu.
“Alana pun terpesona kepadanya,” sambung Aaron yang juga lesu.
“Lalu mereka jatuh cinta,” sambung Sean.
“Dan mereka menikah lalu Leo menjadi raja,” kali ini Marco juga ikut menyambung perkataan teman-temannya. Beberapa detik setelah sambung menyambung kalimat itu mereka serempak tersadar dengan ucapan mereka.
“Tidak! Itu artinya Leo yang akan menjadi penguasa di antara kita! Dia akan menjadi raja dan kita adalah bawahannya!” keempatnya mengucapkan hal tersebut secara serempak lalu mereka saling menoleh.
“Itu tidak boleh terjadi! Kita tidak boleh menjadi bawahan Leo b******k itu!” Alvin mengucapkannya dengan berapi-api.
“Apa yang kaupikirkan? Bukankah sekarang kita ini bawahannya dan dia adalah pemimpin kita,” ucap Sean dengan sekenanya.
“Heh, jika seperti itu bagaimana kalau kita mengejar bangsa Pixie saja? Alana sudah ada yang punya dan kita tidak bisa mengganggunya atau kita harus berhadapan dengan Leo.” Aaron berbicara dengan nada lesu.
“Aku lebih baik berhadapan dengan Sabertooth daripada berhadapan dengan Leo,” keluh Marco. Ketiganya langsung mengangguk setuju.
Penasihat Alana menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan keempat petarung muda di depannya. Di balik kehebatan mereka yang telah teruji dan keberanian mereka menghadapi hal mematikan, tetapi tetaplah keempatnya adalah orang yang sangat suka bercanda dan bertingkah bodoh. Di dalam pikiran mereka hanya ada makan, tidur, tebar pesona, gadis cantik, cinta, bercanda, dan bertarung. Mereka melupakan bahasan awal mereka mengenai bagaimana keadaan Alana dan Leo sekarang ini.
Ketika mereka masih melanjutkan candaanya. Tiba-tiba mereka medengar suara burung elang. Mereka segera keluar dan membawa senjata mereka. Bersiap siaga jika saja elang itu adalah makhluk seperti kemarin. Namun, ketakutan mereka langsung sirna sesaat setelah elang tersebut memberikan sebuah kertas yang ia cengkram di cakarnya.
“Surat dari istana Breen,” ucap Sean yang dengan cepat membuka surat itu.
Mereka semua membacanya termasuk penasihat kerajaan Alana. Napas lega langsung menghinggapi mereka. Surat itu mengabarkan bahwa Leo dan Alana baik-baik saja setelah mereka rawat. Sekarang keduanya masih belum sadarkan diri karena kondisi tubuh mereka yang masih lelah.
“Saya harap Malkia secepatnya kembali ke istana,” penasihat Alana sangat lega mendengar ratunya baik-baik saja. Semua prajurit yang mendengar juga merasa lega ratu mereka selamat. Keempat teman Leo gembira mengetahui teman seperjuangannya selamat.
TBC...