Fax

1117 Words
“Ayo kita masuk,” ajak Alana kepada semua yang ada di sana. Alana mulai berjalan melangkahkan kakinya untuk memasuki istana. Namun, saat itu juga Leo mencegahnya. Keempatnya terdiam dan menatap Leo dengan pandangan bingung. “Ayo kita masuk bersama-sama. Kita pergi bersama-sama jadi kita masuk bersama-sama,” bisik Leo kepada Alana. “Dan kita harus masuk dengan sedikit melompat ketika sampai di pintu. Melompat dengan dua kaki.” Alana menatapnya bingung, tetapi Leo langsung menggengam tangan Alana kemudian ia menyamai langkah kakinya dengan Alana. Tangan Alana satunya memegang bunga dandelion yang sekarang terbang tertiup angin. Keempat temannya menatap Leo dan Alana tanpa kedip lalu pandangan mereka langsung turun ke arah kaki Alana dan Leo sesaat kaki mereka memasuki bagian dalam istana. Keduanya masih saling tatap dan terus melangkah. Tidak mempedulikan apa yang terjadi kepada keempat temannya. “Jadi siapa yang menang?” tanya Sean dengan wajah bingung. “Kita kalah semua. Taruhan ini gagal!” Aaron menghela napasnya kesal. Ia sekarang melihat Leo dan Alana yang berjalan saling bertatapan lalu berpegangan tangan dan tangan satunya yang memegang bunga. Mereka terlihat seperti pasangan pengantin yang memasuki gereja dan siap menuju altar. “Mereka melangkah bersamaan dan dengan kedua kaki mereka. Pilihan kita semua salah,” jawab Alvin yang juga menatap Leo serta Alana. “Pemandangan di depanku sekarang ini membuat hatiku terluka dan sakit. Leo menggagalkan taruhan kita. Dia sudah tahu isi otak kita.” Marco menepuk-nepuk punggung Alvin dengan pelan. Seolah menenangkan Alvin yang sedang sedih. “Ayo kita masuk dan makan. Bukankah kita menunggu saat-saat ini. Saat-saat untuk menyantap makanan. Taruhan atau tidak taruhan, makanan di sana akan menjadi milik kita!” hibur Marco. Serempak ketiganya kembali bersemangat lalu mereka seperti anak kecil masuk ke ruang makan istana. Keempatnya berlari dan berlomba siapa yang lebih dulu sampai ke meja makan. Alana dan Leo sampai tersadar dari kegiatan mereka. “Apa yang terjadi?” tanya Alana bingung. Penasihat Alana yang sudah berada di belakangnya tersenyum menjawab pertanyaan Alana. “Tidak ada, Yang Mulia. Sebaiknya sekarang kita makan. Kami sudah memasak makanan kesukaan Anda,” jawabnya. Alana dengan girangnya berjalan dan ia melepaskan genggaman tangannya dengan tangan Leo. Ia lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Leo serta penasihatnya. Ia menyusul Sean, Aaron, Marco, dan Alvin untuk menghabiskan makanan. “Terima kasih telah menjaga Yang Mulia. Saya benar-benar berutang banyak kepada Anda,” ucap Edmond kepada Leo. “Tidak masalah. Itu memang sudah menjadi tugasku. Aku senang melindunginya,” jawab Leo yakin. Tiba-tiba penasihat Alana berhenti berjalan dan Leo juga ikut menghentikan langkahnya ketika ia melihat tatapan Edmond yang ingin menanyakan sesuatu kepadanya. “Maaf jika saya lancang, tetapi saya hanya ingin tahu…” ucapnya terputus. Ia terlihat ragu untuk bertanya. “Tanyakan saja, aku akan menjawabnya selagi aku bisa,” ucap Leo mencoba menghilangkan keraguan di mata penasihat itu. “Mengenai hubungan Anda dengan ratu. Maksud saya, apakah Anda mempunyai hubungan yang lebih dengannya. Ah, tidak maksud saya apakah kalian saling menyukai? Mencintai?” tanya sang penasihat dengan sedikit hati-hati. Leo diam beberapa saat sebelum menjawabnya. Penasihat masih menunggu jawaban Leo. “Aku hanya melindunginya. Aku tidak ingin serakah memiliki perasaan sialan seperti itu. Kuharap kau mengerti. Aku tidak ada maksud lain mendekatinya. Aku hanya melindunginya yang sedang dalam bahaya.” Edmond mengangguk mengerti lalu ia tersenyum. Kemudian ia mengajak Leo untuk melanjutkan lagi langkah kaki menuju ruang makan. Ketika sampai di ruang makan, Leo langsung mendapati keempat sahabatnya yang makan dengan rakus. Dan ada satu orang lagi yang melakukan hal serupa seperti keempat temannya. Alana juga melakukannya. Mulutnya penuh dengan makanan. Dia benar-benar tidak tampak seperti seorang ratu. Sifatnya yang tidak ingin dikekang dan apa adanya itu membuat dia unik sebagai seorang pemimpin. “Aku tidak akan kalah dari kalian,” ucap Alana sambil menggigit daging ayam lalu mengunyahnya secara kasar. Para pelayan perempuan cemas melihat cara makan Alana. Mereka takut ratu mereka itu tersedat makanan. Saat ini kelimanya sedang mengadakan taruhan makan. Alana yang mengajaknya karena melihat keempat sahabat Leo sangat antusias terhadap makanan. “Kami pun juga tidak akan kalah darimu!” jawab Aaron bersemangat. “Benar, kemampuan memakan segala makanan kami sudah teruji secara nyata. Di kerajaan kami dulu, kami memegang rekor sebagai yang terbaik dalam menghabiskan makanan. Sebaiknya kau menyerah sebelum bertanding,” ucapan Sean membuat Alana kesal. Bagaimanapun caranya dia akan membungkam mereka dan menang. “Di sini akulah yang terbaik! Kalian akan kalah telak!” Alana sekarang mengambil potongan ayam ke enamnya. “Yang Mulia, hati-hati jangan sampai memakan tulangnya,” ucap pelayan yang panik melihat Alana. “Sebaiknya menyerah saja. Aku kasihan pada tubuhnu nanti bertambah gemuk!” Alana melempar satu tulang ayam ke arah Alvin yang berhasil dihindari Alvin dengan baik. “Gemuk dan tidak gesit,” tambahnya membuat Alana semakin murka. “Akan kukalahkan kalian!” ucapnya sambil melanjutkan makan. Alana tiba-tiba batuk dan para pelayan menjadi panik. Ia menyingkirkan semua tangan pelayan yang sekarang sibuk mengurut punggungnya agar tersedatnya hilang. Alana langsung meminum banyak air putih lalu melanjutkan makannya. Harga dirinya sebagai seorang ratu tidak akan kalah dari para prajurit. “Dia gila! Baru kali ini aku melihat seorang ratu dengan cara makan seperti itu dan porsi makan seperti itu!” Sean menghentikan gerakan mengunyahnya karena melihat Alana. Ia takjub luar biasa. Omongannya bukan sekadar bualan semata. “Pokoknya aku tidak boleh kalah dari Alana!” Aaron tidak peduli dan tetap melanjutkan makannya. Akhirnya pesta penyambutan Alana dihabiskan untuk lomba makan kelimanya. Leo hanya menonton dari kursinya sambil menikmati makannya. Dia tidak tertarik untuk bergabung. Saat Alana masih berlomba makan ia melihat bunga dandelion pemberian Leo tadi tergeletak di depannya. Ia berhenti sejenak dan memandangi bunga itu lalu Alana meminta pelayanannya untuk mengisi gelas minumannya lagi. Setelah terisi Alana langsung memasukkan rangkaian bunga dandelion ke dalam gelasnya. Kau tidak boleh mati. Kau adalah bunga harapanku. Pemberian dari prajuritku. Aku akan menggunakanmu nanti jika saat yang tepat aku menginginkan harapanku. Batin Alana sambil tersenyum kecil. Ia melanjutkan makannya lagi. Ia bertambah lahap dan rakus. Sebagai seorang ratu ia tidak ingin kalah dari para prajuritnya khususnya keempat prajurit aneh yang sedang bertanding bersamanya saat ini. Ia sangat menikmati keberadaan mereka karena istananya tidak pernah sepi dan ia mempunyai teman. Pipi Alana dipenuhi dengan berbagai macam saus, tetapi ia tidak peduli. Wajah cantiknya benar-benar lucu. Sean, Aaron, Marco, dan Alvin masih belum menyerah melawan Alana. Harga diri mereka sebagai seorang petarung tidak akan mereka biarkan dikalahkan oleh Alana dalam hal makanan. Ketika Alana sedang mengunyah ia tidak sengaja menoleh ke arah Leo yang saat ini tengah melihatnya. Alana membulatkan matanya dan cepat-cepat mengalihkan pandangannya lagi. “Jangtungku kembali berdetak kencang lagi,” gumam Alana sambil menelan makanannya dengan terpaksa. Ini sudah benar-benar gawat pikir Alana. Racun itu menguasainya. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD