Beo

1129 Words
“Oh Tuhan! Aku yakin aku akan kenyang memakan semua hidangan ini. Mataku sampai ingin menangis melihat betapa lezatnya semua makanan ini!” Marco tidak bisa melepaskan pandangan matanya dari semua makanan yang tersaji di depan matanya. Air liurnya sudah mencair karena ingin menyantap semua makanan lezat yang terhidang di atas meja. “Aku ingin makan kalkun bakar itu. Ingin makan sup daging rusa itu. Ingin makan lasagna itu. Semuanya ingin kumakan!” Alvin juga melakukan hal yang sama seperti Marco. Mereka sudah lama sekali tidak bertemu dengan makanan lezat karena selama melakukan perantauan, mereka hanya makan seadanya dan kebanyakan rasa makanan mereka hambar karena kurang bumbu. “Alana dan Leo lama sekali datang. Aku tidak sabar ingin segera memakan semuanya!” Sean menatap satu persatu makanan yang menggoda mulutnya. Ia sudah memilih apa saja makanan yang akan dimakannya dan berapa porsi yang akan dimakannya. “Bagaimana jika kita taruhan?” Aaron mencetuskan ide. Semuanya menoleh ke arah Aaron. “Kita taruhan. Siapa yang masuk lebih dulu antara Leo dan Alana di pintu masuk. Menggunakan kaki kanan atau kiri,” sambung Aaron. Semuanya berpikir sebentar. “Apa hadiahnya?” tanya Sean. “Jatah makan yang kalah harus diberikan kepada yang menang. Ayo kau memilih siapa?” tunjuk Aaron kepada Sean. “Aku memilih Alana dan ia pertama kali melangkah masuk dengan kaki kanan!” jawab Sean. Aaron kemudian menunjuk Marco. “Aku, Leo dengan kaki kiri,” jawab Marco lalu Aaron beralih ke Alvin. “Alana dengan kaki kiri. Berarti sekarang kau, Leo dengan kaki kanan,” ucap Alvin. Aaron mengangguk. “Setuju!” sahut keempatnya bersamaan. Sekarang mereka tengah menunggu Leo dan Alana datang. Penasihat Alana yang mengusulkan untuk mengadakan pesta penyambutan dan atas rasa syukur karena ratu mereka selamat. Ia juga mengadakan pesta dansa. Pertunjukan seni teater oleh prajurit serta pelayan-pelayan yang ada di istana semua berpartisipasi. Semua melakukannya sebagai bentuk sukacita. Alana dan Leo berhasil keluar dari hutan oak. Kawanan bangsa Wulf langsung berhenti melangkah ketika mereka sampai di bibir hutan. Alana mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya. Alana melihat istananya yang berada di atas bukit. “Ayo kita pulang. Semuanya sudah menunggu kita.” Leo kembali menjalankan kudanya. “Tunggu,” ucap Alana menghentikan Leo melajukan kudanya. Ia lalu memegang tangan Leo yang melingkar di perutnya. “Kurasa sudah tidak perlu. Ini bukan di hutan lagi,” jawab Alana dengan angkuh. Leo langsung melepaskan tangannya. “Ya aku setuju,” balas Leo. Ia lalu menjalankan lagi kudanya dengan pelan. Rambut Alana yang terurai melambai-lambai karena tiupan angin. Wanginya hinggap di hidung Leo. Alana yang berada di depan sekarang tengah mengatur detak jantungnya. Walaupun kuda mereka tidak berjalan dengan cepat, tetapi detak jantung Alana masih sama seperti langkah kuda sewaktu ia berlari. Perlahan Alana memegang dadanya. Ia takut mengapa jantungnya seperti itu. Apakah pengaruh racun dari sengatan kalajengking yang membuat jantungnya seperti itu? Leo mempercepat langkah kudanya. Mereka menaiki bukit-bukit yang penuh dengan bunga dandelion. Serpihan dandelion menyambut datangnya Alana dan Leo. Serpihannya terbang dan hinggap di rambut Alana. Menamhah kecantikan Alana. Leo membiarkannya tanpa berniat membersihkannya. Semilir angin sore itu sangat tenang. Leo menghentikan kudanya dan itu membuat Alana heran. Leo juga turun dari kudanya. “Kau mau ke mana?” tanya Alana heran. “Tunggulah sebentar,” jawab Leo. Leo lalu menunduk dan mengeluarkan pisaunya. Ia memotong beberapa bunga dandelion dan membentuknya menjadi seikat penuh dandelion. “Ini untukmu.” Leo memberikannya kepada Alana. Alana menatap bunga dan Leo bergantian. “Mereka sangat cantik. Sesuai untuk penggambaran dirimu,” ucap Leo lagi. Alana menatapnya kembali. “Bunga harapan. Kau bisa mengucapkan harapanmu sambil meniupnya. Harapanmu akan terbang jauh bersama serpihan bunga sialan ini. Aku mengambilnya banyak karena aku tahu harapanmu sangat banyak.” Alana akhirnya mengambil bunga itu dan ia tersenyum kecil. “Terima kasih, tetapi untuk sekarang aku belum ingin mengucapkan harapanku. Aku akan menyimpan bunga ini. Bunga dari prajuritku,” ucap Alana. Leo tidak menjawabnya dan ia kembali menaiki kudanya. Mereka akhirnya sampai di gerbang istana. Sorakan dari rakyatnya langsung memenuhi telinga Alana. Begitu sukacitanya menyambut ratu mereka. Kelopak-kelopak bunga beterbangan menyambutnya. Alana menangis terharu. Begitu sayangnya rakyatnya kepadanya. Para prajurit juga langsung memberi hormat kepadanya. Keempat teman Leo dan penasihat kerajaan Alana melihat hal tersebut dari pintu depan istana. Istana mereka memang berada di puncak bukit jadi mereka bisa melihat apa yang terjadi di gerbang kerajaan mereka dari atas. Rumah-rumah penduduk berada di bawah istana. “Aku seperti melihat upacara pernikahan mereka,” keluh Aaron. Ia kemudian bersandar di tiang dengan lesu. Tidak bersemangat. “Mengapa posisi mereka seperti itu lagi. Aku iri melihatnya berkuda berdua bersama Alana.” Alvin menghela napasnya panjang. “Aku baru tahu Leo memiliki sisi lain yang tersembunyi selama ini. Dia sepertinya lebih ahli dari kita dalam memikat wanita.” Sean hampir menangis terharu mengetahui sisi lain Leo yang selama ini lebih banyak diam. “Aku penasaran dengan apa saja yang sudah terjadi kepada mereka. Aku sudah pernah melihat mereka berpelukan dan sekarang aku penasaran apakah mereka sudah berciuman,” serempak semuanya menoleh ke arah Marco termasuk penasihat Alana. “Benarkah? Kapan kau melihat mereka berpelukan? Aku tidak bisa membayangkan mereka berciuman. Aku akan benar-benar menghajar Leo!” kali ini Aaron terlihat sangat antusias mendengar ucapan Marco. “Bukankah kalian juga melihatnya? Sewaktu kita akan berperang,” jawab Marco sambil terlihat heran. Semuanya mengingat-ingat dan kemudian mengangguk lalu keempatnya lesu kembali dan bersamaan membuang napas mereka. “Ratu kami sangat hebat ternyata. Saya akan menghormati apa pun pilihannya dan keinginannya selagi itu membahagiakan untuknya,” ucap penasihat kerajaan sambil tersenyum. “Hei taruhan kita! Ayo kita bersiap di depan pintu. Aku akan memastikan bahwa akulah yang menang!” Marco dengan cepat menempati posisi di pinggir pintu. Ketiganya mengikuti tingkah Marco. Penasihat Alana menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah mereka tidak berbeda jauh dengan ratu mereka jadi dia sudah biasa menghadapinya. “Selamat datang Yang Mulia. Saya sangat senang Anda kembali dan selamat,” ucap penasihatnya sambil memberi hormat. Ia tidak bisa menahan harunya. Alana mendekatinya lalu memeluknya erat. Penasihatnya itu tidak menyangka jika Alana akan memeluknya, tetapi ia membalasnya dengan erat. “Terima kasih, Paman. Terima kasih karena mengkhawatirkanku dan menjaga kerajaan selama aku pergi,” ucap Alana sambil menatap mata penasihatnya. “Tidak perlu berterima kasih. Itu adalah tugas saya di sini. Bagaimana keadaan Anda sekarang, sudah sangat sehatkah?” tanya penasihatnya lagi. Alana mengangguk dan tersenyum. “Ayo kita masuk. Kami sudah menyiapkan pesta penyambutan Anda, Yang Mulia,” sambung penasihatnya. Alana tersenyum lagi dan ia benar-benar melepaskan pelukan dari penasihatnya. Sekarang ia menatap teman-temannya yang lain. Mereka tersenyum aneh. Tersenyum dengan arti yang tidak Alana ketahui maksudnya. Senyum antara senang dan juga cemas menanti siapa pemenang dari taruhan mereka lebih tepatnya. Leo menatap keempatnya sambil menggeleng kecil. Ia tahu apa yang ada di otak teman-temannya itu. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD