"Kamu tunggu di sini saja! Jangan banyak gerak dan kamu perhatikan dari kejauhan aja. Ingat! Jangan bandel!" tegas Nalendra, seraya mengacungkan jari telunjuknya, menandakan bahwa ia tidak main-main dengan ucapannya. Amel mengangguk pelan, "iya. Aku akan memperhatikan kamu dari sini." "Bagus. Itu, baru namanya istri penurut. Aku sayang kamu." Nalendra tersenyum lebar. Setelah berpesan demikian, dia lantas bergegas pergi. Nalendra mengeluarkan bahan-bahan dari dalam lemari pendingin. Sayur asem yang baru dibeli tadi, lalu tempe dan lainnya. Setelah dikeluarkan, Nalendra meletakkannya di atas meja. Amel memperhatikan suaminya dari kejauhan. Di sana, sosok yang sedang berkutat di depan komputer, dia pria yang sama, yang selalu ada untuknya ketika sedang bersedih. Amel memiringkan kepala

