SATU MINGGU KEMUDIAN. Amel pun sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter, yang merawatnya. Keadaan Amel kian membaik, membawa angin segar bagi Nalendra. "Sayang. Kira-kira, apa yang harus kita lakukan setelah ini? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" tanya Nalendra sambil mendorong kursi roda, melewati koridor rumah sakit. Amel duduk di kursi roda itu. Padahal dia sudah bisa berjalan sendiri, tetapi Nalendra tidak memberinya izin untuk berjalan. Alasannya, karena Nalendra takut ia akan kelelahan lagi. "Bagaimana, kalau kita makan di restoran bintang lima dulu, Sayang?" tawar Nalendra, membujuk. "Kalau kita makannya di rumah aja bagaimana? Aku kangen makan di rumah," jawab Amel terdengar merdu di telinga Nalendra. "Kamu enggak keberatan kan?" tanyanya memastikan. Dia cukup cemas saat m

