Suasana di dalam ruang tamu apartemen kecil itu mendadak membeku. Tiga pria berbadan besar utusan Mark saling melempar pandang. Langkah kaki dari arah koridor luar yang awalnya terdengar santai, kini berubah menjadi derap yang tegas dan mengintimidasi. Aura di sekitar tempat itu mendadak turun drastis, menjadi sangat dingin dan mencekam.
Brak!
Pintu apartemen yang sudah setengah rusak akibat dobrakan sebelumnya, kini ditendang hingga terlepas sepenuhnya dari engselnya.
Empat pria berpakaian setelan jas hitam rapi dengan tubuh yang jauh lebih tegap dan terlatih melangkah masuk. Di tangan mereka, masing-masing memegang senjata api berperedam suara yang langsung diarahkan dengan presisi ke kepala anak buah Mark. Gerakan mereka begitu cepat, sunyi, dan taktis—menandakan bahwa mereka bukan sekadar preman sewaan, melainkan tentara bayaran kelas profesional.
Di posisi paling depan dari barisan pria berjas itu, berdiri Ryan. Kepala keamanan Moretti Enterprises tersebut menatap tiga utusan Mark dengan tatapan meremehkan.
"Siapa kalian?! Jangan ikut campur urusan Tuan Mark!" gertak pemimpin anak buah Mark, meskipun suaranya bergetar saat melihat moncong senjata hitam yang mengarah tepat di antara kedua matanya.
"Tuan Mark kalian hanyalah serangga kecil yang tidak punya hak untuk menyebut namanya di sini," jawab Ryan datar. Ia melirik sekilas ke arah anak buahnya dan memberikan satu isyarat tangan yang dingin. "Bersihkan mereka. Jangan buat kegaduhan yang bisa mengganggu kenyamanan Nona Watson."
Sebelum anak buah Mark sempat menarik senjata mereka sendiri, dua pria berjas hitam maju dengan gerakan kilat. Dalam hitungan detik, ruang tamu itu dipenuhi suara hantaman fisik yang diredam. Anak buah Mark dilumpuhkan tanpa ampun—lengan mereka dipatahkan dengan sekali sentak, dan tubuh besar mereka dihantam ke lantai hingga tak sadarkan diri dalam waktu kurang dari satu menit.
Aria berdiri mematung di sudut ruangan, tangannya masih mencengkeram vas bunga kaca dengan erat. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut pada anak buah Mark yang baru saja tumbang, melainkan karena ia menyadari satu hal: orang-orang berjas hitam ini memiliki lambang pin perak berbentuk serigala di kerah jas mereka.
Itu adalah lambang keluarga Moretti. Dinasti bisnis paling ditakuti yang menguasai roda ekonomi dan hukum kota ini.
Bagaimana bisa mereka menemukanku? Apakah pria dari malam itu adalah bagian dari mereka? batin Aria tegang.
Ryan melangkah mendekat, lalu menundukkan kepalanya dengan sangat sopan di hadapan Aria, sebuah kontras yang luar biasa dari tindakan kejam yang baru saja ia perintahkan.
"Nona Aria Watson. Nama saya Ryan," ucapnya dengan nada formal. "Tuan kami telah menunggu Anda. Kami di sini untuk memastikan keselamatan Anda dari gangguan pria tidak berguna seperti Mark."
Aria menyipitkan matanya, mencoba menekan kepanikan di dalam dadanya dengan keangkuhan yang biasa ia tunjukkan. "Siapa tuanmu? Dan atas dasar apa dia mencampuri urusanku?"
Ryan tersenyum tipis, sangat profesional. "Anda akan segera mengetahuinya, Nona. Mobil kami sudah menunggu di bawah. Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk Anda. Orang-orang Mark akan terus berdatangan, dan saya rasa Anda tidak ingin membuang waktu berharga Anda untuk melayani mereka."
Aria melirik Maya yang masih gemetar di belakangnya. Ia tahu Ryan benar. Mark sudah gila karena dipermalukan di altar, dan pria itu tidak akan berhenti sampai bisa menyeretnya kembali. Menolak bantuan orang-orang ini sama saja dengan menyerahkan diri pada takdir yang lebih buruk di tangan Mark.
"Sahabatku harus ikut bersamaku," tuntut Aria tegas.
"Tentu saja, Nona Watson. Kami akan memastikan keselamatan sahabat Anda juga," jawab Ryan sembari memberi jalan bagi Aria.
Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil Mercedes-Benz antipeluru berwarna hitam pekat melaju membelah jalanan kota yang mulai diguyur hujan deras. Aria duduk di kursi belakang dengan pandangan lurus ke depan, sementara Maya memegang tangannya dengan erat, masih syok dengan semua kejadian yang berlangsung terlalu cepat hari ini.
Mobil itu tidak menuju ke bandara atau ke luar kota seperti rencana awal Aria. Sebaliknya, kendaraan mewah tersebut memasuki kawasan elit terisolasi di puncak bukit, melewati gerbang besi raksasa yang dijaga ketat, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman megah berarsitektur modern minimalis—Moretti Mansion.
"Kita sudah sampai, Nona Watson," ucap Ryan dari kursi depan.
Pintu mobil dibukakan dari luar. Aria menarik napas dalam-dalam, menguatkan mentalnya. Ia melangkah keluar dari mobil, mengabaikan rintik hujan yang menerpa wajahnya, dan berjalan masuk ke dalam lobi mansion yang luas dengan langit-langit tinggi berlapis marmer hitam.
"Nona Maya akan diantar ke ruang istirahat tamu untuk menyegarkan diri. Sementara Anda, Nona Aria... Tuan kami sudah menunggu Anda di ruang kerja pribadinya di lantai dua," kata Ryan dengan sikap hormat.
Aria menatap Maya, memberikan anggukan menenangkan agar sahabatnya itu tidak perlu cemas. Setelah itu, dengan langkah kaki yang sengaja dibuat tegap, Aria menaiki tangga melingkar menuju lantai dua, dipandu oleh salah satu pelayan.
Pelayan itu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati besar berlapis perunggu, mengetuknya sekali, lalu membukakannya untuk Aria.
Aria melangkah masuk. Ruangan itu sangat luas, didominasi oleh aroma maskulin yang mahal—perpaduan antara kayu cedar, tembakau premium, dan... wangi yang seketika membuat bulu kuduk Aria merinding. Wangi tubuh pria yang semalam mengunci tubuhnya di atas ranjang sutra.
Di ujung ruangan, di balik meja kerja kaca raksasa yang menghadap langsung ke pemandangan kota di bawah hujan, seorang pria sedang duduk dengan santai. Ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sikut, menampilkan otot lengannya yang kokoh. Jemari tangannya yang panjang sedang memainkan sebuah gelang perak berbandul lili kecil.
Pria itu mendongak. Sepasang mata abu-abu yang tajam dan sedingin es langsung mengunci pandangan Aria.
Dante Moretti.
Aria terkesiap, jantungnya seolah melompat keluar dari dadanya. Pria kejam yang memimpin Moretti Enterprises, pria yang ditakuti oleh seluruh pebisnis di negara ini, ternyata adalah pria asing yang ia seret ke dalam ranjangnya semalam sebagai alat balas dendam.
Dante meletakkan gelang lili itu di atas meja marmer dengan bunyi dentingan halus. Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya, tatapan matanya dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang mutlak dan berbahaya.
"Kita bertemu lagi, Nona Watson," suara bariton Dante menggema rendah, mengirimkan getaran aneh di sepanjang tulang belakang Aria. "Atau haruskah aku memanggilmu... pengantin pelarian?"