1
Suara tawa yang rendah dan desahan napas yang terengah-engah itu seharusnya tidak terdengar dari balik pintu ruang rias pengantin.
Aria Watson berdiri mematung. Buket bunga lili putih di tangannya gemetar. Hanya tinggal dua jam lagi sebelum dia berjalan menyusuri lorong gereja untuk mengucap janji suci dengan Nathan, pria yang telah bersamanya selama tiga tahun. Namun, apa yang dia dengar sekarang menghancurkan dunianya menjadi kepingan tajam.
"Oh, Nathan... pelan-pelan. Bagaimana jika Aria masuk?" Suara itu—manja, melengking, dan sangat familiar.
Itu suara Chloe. Saudara tirinya.
"Jangan khawatirkan dia, Sayang," suara Nathan terdengar berat oleh gairah. "Aria terlalu naif. Dia bahkan tidak mau membiarkanku menyentuhnya sebelum malam pernikahan. Dia membosankan. Tidak seperti kau."
Aria tidak bisa menahannya lagi. Dia menendang pintu hingga terbuka lebar. Pemandangan di dalamnya jauh lebih buruk dari imajinasinya. Nathan, dengan tuksedo pengantinnya yang sudah setengah terbuka, sedang menindih Chloe di atas sofa beludru.
Kedua orang itu tersentak. Chloe segera menarik gaun pendeknya ke bawah, berpura-pura terkejut meskipun matanya memancarkan kemenangan yang dingin.
"Aria! Ini... ini tidak seperti yang kau lihat," Nathan tergagap, mencoba merapikan kemejanya.
Aria menatap pria yang hampir menjadi suaminya itu dengan tatapan kosong. Rasa sakitnya begitu dalam hingga berubah menjadi mati rasa. "Tidak seperti yang kulihat? Kau sedang meniduri adikku di hari pernikahan kita, Nathan. Apa lagi yang perlu kujelaskan?"
"Ayolah, Aria. Kau tahu sendiri kau terlalu kaku," Nathan tiba-tiba mengubah nada bicaranya menjadi defensif. "Kalau saja kau tidak bertingkah seperti biarawati, aku tidak akan mencari pelarian pada Chloe."
Chloe bangkit, berjalan mendekati Aria dengan senyum tipis. "Maafkan aku, Kak. Tapi kau tidak bisa menyalahkan cinta, bukan? Nathan butuh wanita sungguhan, bukan pajangan kaca sepertimu."
Aria merasakan panas menjalar di wajahnya. Tanpa peringatan, dia melayangkan tamparan keras ke pipi Chloe.
*Plak!*
"Itu untuk pengkhianatanmu," ucap Aria dingin. Dia kemudian beralih ke Nathan dan melempar cincin pertunangannya tepat ke wajah pria itu. "Dan itu untuk waktuku yang terbuang sia-sia."
"Aria, tunggu! Kau mau ke mana?" teriak Nathan.
"Ke tempat di mana aku bisa melupakan bahwa aku pernah mengenal monster seperti kalian," jawab Aria tanpa menoleh.
Dia berlari keluar dari gedung gereja, mengabaikan tatapan bingung para tamu undangan yang mulai berdatangan. Dia merobek bagian bawah gaun pengantinnya yang panjang agar bisa bergerak lebih bebas, lalu masuk ke dalam taksi yang sedang melintas.
"Ke mana, Nona?" tanya sopir taksi.
Aria menghapus air matanya dengan kasar. Matanya berkilat dengan kemarahan yang baru. "Bawa aku ke bar paling mewah di kota ini. The Azure Club."
Malam ini, Aria Watson yang penurut dan "kaku" telah mati. Dia tidak ingin menjadi wanita baik-baik lagi. Jika Nathan menginginkan wanita liar, maka Aria akan membuktikan bahwa dia bisa menjadi jauh lebih liar dari yang bisa dibayangkan pria itu—hanya saja, bukan dengan Nathan.
Di bawah lampu neon The Azure Club yang remang-remang, Aria memesan minuman paling keras yang ada di menu. Dia tidak sadar bahwa di sudut ruangan yang paling gelap, sepasang mata predator berwarna abu-abu gelap sedang mengawasinya.
Pria itu adalah Dante Moretti. Dan malam itu, dia baru saja menemukan mangsa yang paling menarik dalam hidupnya.