2

619 Words
Musik di The Azure Club berdentum rendah, getarannya terasa hingga ke tulang belakang Aria. Aroma alkohol mahal dan parfum maskulin memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus asing bagi wanita yang selama ini hidup dalam aturan yang kaku. Aria duduk di kursi bar, memutar-mutar gelas berisi cairan amber di tangannya. Gaun pengantin yang telah ia robek hingga sebatas paha kini terlihat seperti gaun pesta yang berani dan liar. Rambutnya yang semula tertata rapi dalam sanggul elegan kini tergerai berantakan, membingkai wajahnya yang memerah akibat kemarahan dan alkohol. "Lagi," ucap Aria pendek kepada bartender, suaranya serak namun tegas. "Nona, ini sudah gelas keempat Anda dalam tiga puluh menit," bartender itu memperingatkan dengan sopan. Aria membanting lembaran uang seratus dolar ke atas meja. "Aku tidak memintamu untuk menghitung, aku memintamu untuk menuang." Di sudut paling gelap klub, di area VIP yang tidak bisa diakses sembarang orang, Dante Moretti sedang memperhatikan setiap gerak-gerik wanita itu. Dari posisinya, Dante bisa melihat profil samping Aria—garis rahang yang tegas, bibir merah yang gemetar menahan tangis, dan mata yang berkilat dengan api pemberontakan. Dante biasanya membenci wanita yang mabuk dan mencari perhatian. Baginya, mereka hanyalah gangguan. Namun, wanita ini berbeda. Ada sesuatu yang mentah dan jujur dalam keputusasaannya. "Cari tahu siapa dia," perintah Dante dingin kepada asistennya yang berdiri di belakangnya. "Baik, Tuan Moretti. Namun, Anda memiliki pertemuan dengan dewan direksi besok pagi—" "Batalkan," potong Dante tanpa melepaskan pandangannya dari Aria. "Aku menemukan sesuatu yang lebih mendesak." Di bar, Aria merasa kepalanya mulai berputar. Saat ia mencoba berdiri, keseimbangannya goyah. Seorang pria asing dengan senyum licik tiba-tiba mendekatinya dan menangkap lengannya. "Hei, Cantik. Kau sendirian? Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang lebih... tenang?" bisik pria itu dengan napas berbau alkohol murah. Aria mencoba menarik tangannya, tapi pria itu mencengkeramnya terlalu kuat. "Lepaskan aku!" "Jangan malu-malu, Sayang. Kau jelas mencari kesenangan malam ini, bukan?" Tepat saat Aria bersiap untuk menendang tulang kering pria itu, sebuah bayangan besar menyelimuti mereka. Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi sangat dingin, seolah-olah predator puncak baru saja memasuki wilayah tersebut. "Dia bilang lepaskan," sebuah suara bariton yang dalam dan penuh otoritas memecah kebisingan. Pria asing itu menoleh, bersiap untuk memaki, namun wajahnya langsung memucat saat melihat siapa yang berdiri di sana. Dante Moretti berdiri dengan tinggi badan hampir 190 cm, mengenakan setelan jas hitam yang membalut tubuh atletisnya dengan sempurna. Matanya yang abu-abu gelap berkilat mengancam. "T-Tuan Moretti... saya tidak tahu dia bersama Anda," pria itu tergagap, segera melepaskan tangan Aria dan melarikan diri ke dalam kerumunan tanpa menoleh lagi. Aria mendongak, matanya yang sayu mencoba fokus pada pria di depannya. Pria ini sangat tampan—tipe ketampanan yang berbahaya dan mematikan. "Siapa kau?" gumam Aria, suaranya hampir hilang ditelan musik. Dante menatap Aria, memperhatikan butiran keringat di lehernya dan kemarahan yang masih tersisa di matanya. Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang menyentuh dagu Aria dengan lembut namun posesif. "Seseorang yang bisa membantumu melupakan pria bodoh yang membuatmu menangis malam ini," jawab Dante pelan. Aria tertawa pahit, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Melupakan? Itu tidak mungkin." "Semuanya mungkin bersamaku, Piccola," bisik Dante, wajahnya mendekat hingga napasnya yang beraroma mint menerpa wajah Aria. "Tapi ada harganya." "Aku tidak peduli harganya," tantang Aria, didorong oleh rasa sakit hati dan alkohol yang membakar keberaniannya. Ia meraih kerah jas Dante, menarik pria itu mendekat. "Bawa aku pergi dari sini. Sekarang." Dante tersenyum tipis—senyuman predator yang baru saja mendapatkan mangsanya. Tanpa kata, ia mengangkat tubuh Aria ke dalam gendongannya, membawanya keluar dari klub menuju penthouse pribadinya yang akan menjadi saksi bisu malam yang akan mengubah hidup mereka selamanya. Aria tidak tahu bahwa malam ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan awal dari sebuah obsesi yang akan mengikatnya selama sisa hidupnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD