3

649 Words
Lift pribadi itu meluncur ke lantai teratas dengan kecepatan yang membuat perut Aria semakin mual. Keheningan di dalam kotak logam itu sangat kontras dengan dentuman musik klub yang baru saja mereka tinggalkan. Aria masih berada dalam gendongan Dante, menyandarkan kepalanya di d**a pria itu. Ia bisa mendengar detak jantung Dante yang tenang dan berirama—sangat kontras dengan jantungnya sendiri yang berpacu liar. Pintu lift terbuka, menyingkapkan sebuah penthouse dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. Dante menurunkan Aria di atas lantai marmer yang dingin. Aria sedikit terhuyung, namun tangan Dante yang kokoh segera menahan pinggangnya. "Masih ingin melupakan, Piccola?" Aria menatap mata abu-abu itu. Dalam keremangan cahaya ruangan, Dante tampak seperti malaikat maut yang sangat menggoda. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kau bahkan tidak tahu namaku." "Nama tidak penting malam ini," bisik Dante. Jemarinya mulai menelusuri bahu Aria yang terbuka, menyentuh kulitnya yang halus. "Yang penting adalah kau di sini, bersamaku, dan kau ingin berhenti merasa sakit." Aria memejamkan mata saat sentuhan Dante membakar kulitnya. Pengkhianatan Nathan masih terasa seperti luka terbuka di dadanya, tapi sentuhan pria asing ini... sentuhan ini memberikan jenis rasa sakit yang berbeda. Rasa sakit yang menuntut. "Buktikan," tantang Aria, suaranya bergetar. "Buktikan bahwa kau bisa membuatku lupa." Dante tidak menunggu lama. Ia merengkuh tengkuk Aria dan menciumnya. Itu bukan ciuman yang lembut; itu adalah klaim yang penuh gairah dan rasa lapar. Aria membalasnya dengan keputusasaan yang sama, tangannya meremas rambut gelap Dante, mencoba menarik pria itu sedekat mungkin. Dante mengangkat Aria kembali, membawanya menuju kamar tidur utama yang luas. Di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela besar, mereka saling menanggalkan sisa-sisa pelindung diri. Saat Dante melihat robekan gaun pengantin Aria yang masih melekat, matanya menggelap. "Siapa pria bodoh yang membiarkan wanita sepertimu melarikan diri?" tanya Dante parau. "Pria yang sudah mati bagiku," jawab Aria pendek. Malam itu menjadi pusaran gairah yang tidak pernah Aria bayangkan sebelumnya. Bersama Dante, ia menemukan sisi dirinya yang selama ini ia tekan demi menjadi "calon istri yang sempurna" untuk Nathan. Dante adalah kekasih yang dominan, memperhatikan setiap reaksi tubuh Aria, dan memastikan bahwa setiap inci kulit Aria menjadi miliknya. Dalam pelukan Dante, Aria benar-benar lupa. Ia lupa pada Nathan, lupa pada Chloe, dan lupa pada hidupnya yang hancur. Yang ada hanyalah aroma maskulin Dante, keringat yang menyatu, dan puncak kenikmatan yang meledak berkali-kali. Namun, di tengah-tengah keintiman itu, Dante membisikkan sesuatu yang tidak sempat Aria cerna karena kesadarannya yang mulai memudar akibat kelelahan. "Kau milikku malam ini. Dan aku tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milikku." Keesokan Harinya... Cahaya matahari pagi yang menusuk mata memaksa Aria untuk terbangun. Kepalanya terasa seberat batu, dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Ia mengerang, mencoba menarik selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya. Ingatan tentang malam tadi menghantamnya seperti kereta api. Aria tersentak duduk, mengabaikan rasa pening di kepalanya. Ia menoleh ke samping dan mendapati sisi tempat tidur itu sudah kosong. Namun, bantalnya masih menyisakan cekungan dan aroma parfum Dante yang khas. Di atas nakas, terdapat selembar cek kosong yang sudah ditandatangani dan sebuah catatan singkat. Tuliskan angka yang kau inginkan. Aku harus pergi untuk urusan mendesak. Jangan pergi sebelum kita bicara. — D.M. Aria menatap cek itu dengan perasaan terhina. Apakah pria itu menganggapnya wanita bayaran? Meskipun ia yang meminta dibawa pergi, harga dirinya tetap terasa terluka. Ia melihat gaun pengantinnya yang sudah hancur di lantai. Dengan terburu-buru, Aria bangun, memungut pakaiannya, dan menemukan kemeja putih milik Dante di lemari kaca untuk menutupi tubuhnya. Ia tidak bisa tinggal di sini. Ia harus menghilang sebelum pria itu kembali. Aria mengambil sebuah pulpen di atas meja, lalu membalikkan catatan dari Dante. Di sana, ia menuliskan tiga kata sebelum melangkah keluar dari penthouse itu selamanya. "Simpan saja uangmu." Aria Watson pergi pagi itu tanpa menyadari bahwa ia membawa "suvenir" permanen dari malam panas tersebut di dalam rahimnya. Sebuah rahasia yang akan menjadi bom waktu di masa depan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD